DEHIDRASI SPRITUAL (KEKERINGAN JIWA)

DEHIDRASI SPRITUAL (KEKERINGAN JIWA)

Kekeringan yang melanda diakibatkan kemarau yang panjang sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Kekeringan yang  terjadi di muka bumi ini secara proses alamiah diakibatkan ketidak-maksimalnya standar curahan hujan. Al-Qur’an pada surat Ar-Rum deretan ayat ke 48 telah menjelaskan bagaimana proses standarisasi curah hujan yang memberikan kegembiraan bagi seluruh individu di muka bumi.  Dalam ayat itu dijelaskan bahwa Allah Swt menggerakkan angin untuk membawa gumpalan awan  yang akan menjadi embrio tetesan hujan yang membasahi bumi.  Kapasitas  curahan hujan menjadikan air yang mengalir dari pegunungan menuju deretan sungai-sungai. Aliran  sungai dari  hulu ke hilir akhirnya bertemu pada titik muara dan berintegrasi dengan laut. Panas dan teriknya matahari mengakibatkan penguapan di langit yang nantinya berubah menjadi gumpalan awan. 

Kapankah kemarau itu terjadi? Secara alamiah (naturalistik) kemarau diakibatkan minimnya pasokan air di muka bumi. Kekeringan atau kemarau yang terjadi memberikan problem bagi kelangsungan hidup manusia. Betapa tidak, kekeringan atau kemarau  tentunya akan melahirkan berbagai dampak negatif, mulai dari paceklik, penyakit, hingga kecemasan dalam kesehariannya.  Ringkas kata, apabila kekeringan melanda, maka manusia di atas muka bumi ini mengalami kesusahan. 

Pada hakikatnya, manusia merupakan mikrokosmos dari alam. Artinya, ada kesamaan antara manusia dengan alam.  Kalau alam mengalami kekeringan maka manusia juga bisa mengalami kekeringan, yakni kekeringan jiwa.  Proses kekeringan jiwa (dehidrasi spritual) bukan dalam bentuk kekurangan air, melainkan kekurangan pasokan dalam memenuhi kebutuhan jiwa (soul).  Sehingga kalau alam mengalami kekeringan, semua manusia takut dan khawatir. Namun kalau jiwa mengalami kekeringan manusia tidak merasa khawatir dan takut.  Padahal konsekwensi dari kekeringan spritual itu sungguh sangat terasa dalam kehidupan manusia. Akibat kekeringan jiwa itu adalah tumbuh dan berkembanglah rasa berkekurangan (pure in the life), kecemasan dalam menjalani kehidupan, ketidak tenangan hidup, kegelisahan, serta  hidup selalu dikejar bayang-bayang.

Realitas kehidupan pada zaman sekarang tergambar dari banyaknya berbagai penyakit jiwa.  Hidup  dalam kemewahan namun tetap berada dalam kekurangan.  Hidup bergelimang materi namun tetap berada dalam kekhawatiran.  Kekhawatiran yang berlebihan akan mengantarkan kepada berbagai penyakit  psikologis yang tidak mempan dengan obat kimia, tidak bisa diselesaikan dengan psikiater.  Namun sebagai salah satu obat yang paling ampuh adalah berkomunikasi dengan Sang Yang Punya Jiwa  ini, yaitu Allah Swt.

Pada dasarnya untuk mengidentifikasi apakah seseorang sedang  terjangkit dehidrasi spritual  (kekeringan jiwa) itu bisa dianalisa dengan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Jauh dari Sang Khaliq

Salah satu seseorang terindikasi terjangkit dehidrasi spritual adalah  ikatan bathin dan hatinya longgar kepada Allah Swt. Allah yang diyakini merupakan Tuhan yang menguasai dirinya hanya dalam ucapan bibir saja. Tidak dalam hati dan jiwanya.  Betapa banyaknya manusia yang menyatakan iman kepada Allah Swt namun dalam kenyataan hidupnya  tidak menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung (Q.S. Al-Ikhlas:2), tidak menjadikan-Nya tempat mengabdi dan minta pertolongan (Q.S.Al-Fatihah: 4).  Sehingga kecintaan sebagai bukti keimanan kepada Sang Khaliq tidak menjadi bagian dari hidupnya.   

2. Jauh dari ibadah

Indikasi ini dinyatakan dengan mudahnya seseorang tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajiban selaku hamba-Nya. Perintah shalat, puasa, dan sebagainya seolah-olah hanyalah perbuatan yang tidak membekas bagi dirinya. Kadang-shalat dan terkadang tidak shalat. Tidak ada rasa bersalah apabila tidak melaksanakan apa yang menjadi kewajiban selaku makhluk-Nya. Kalaupun ibadah itu dilakukan itu hanyalah sebatas rutinitas saja.  Ungkapan yang sesuai dengan ini adalah menganggap sepele/enteng akan ibadah yang diperintahkan Allah Swt.

3. Jauh dari nilai-nilai kebaikan.

Banyak sebenarnya pekerjaan yang bernilai kebaikan di muka bumi ini. Mulai dari hal yang kecil hingga bernilai besar.  Namun, disisi lain kebaikan-kebaikan itu seolah-olah ditukar dengan kerugian secara finansial dan aktifitas. Untuk apa membantu orang lain kalau nantinya juga akan memberikan kerugian bagi diri kita. Ini semacam kilah yang menjadi alasan untuk tidak jadi berbuat baik.  Untuk melakukan kebaikan terlebih dahulu memikirkan apakah kebaikan itu menguntungkan bagi dirinya atau tidak. Jadi kebaikan yang akan dilakukan selalu dikaji dari sisi untung rugi. Padahal setiap kebaikan itu selalu member dampak kepada keuntungan pribadi baik masa di dunia apalagi masa akhirat kelak.

Kenalilah indikator dari dehidrasi spritual itu. Gejala-gejala di atas merupakan pertanda bahwa kekeringan jiwa telah melanda diri. Kalau sudah ada indikasi di atas segeralah kembali memperbaiki diri dengan prinsip mendekatkan diri kepada Allah Swt, selalu dan cinta akan ibadah, serta gemar melakukan kebaikan. Wallahu a’lam bish shawab.

Oleh : Dr. Abdusima Nasution, MA

(WKM HUmasy MTsN Barus)

161 DIBACA

Kemenag Palas Adakan Manasik Haji Reguler Serentak

Kakanwil Kemenagsu Minta BP4 Kabupaten/Kota Digalakkan Kembali

Kakankemenag Tanjungbalai Jadi Narasumber Manasik Haji Tingkat Kecamatan

Keluarga Besar Kemenag Samosir Gelar Halal Bi Halal

Permintaan Nama Calon Peserta Diklat Pengawas PAK Tingkat Dasar