Rindu

Rindu

Malam musim panas, 28 Juni 2013.

“Kenapa?

“Kenapa harus secepat ini?” tanyanya dengan wajah khawatir.

“Aku harap Ibu bisa mengerti.Aku ingin melihat dunia, Bu. Aku ingin bisa menyaksikan indahnya semesta dan belajar darinya.Lagipula, anakmu ini sudah cukup dewasa untuk dapat menentukan langkahnya sendiri.Ibu cukup menunggu dan berbahagialah di rumah ini.”

“Kau pikir bagaimana Ibu bisa bahagia tanpa adanya dirimu?Bagaimana Ibu bisa terus hidup sampai engkau kembali?”Wanita itu tampak mulai terisak dan menangis perlahan.

“Sesungguhnya engkau selalu bisa mendapatkan bahagia, Bu. Selama ini Ibu selalu bisa tersenyum bahkan meski Ayah sudah tiada-“

“Karena itulah kau menjadi satu-satunya pria yang kumiliki,” potongnya setengah menjerit.Sesak dalam dadanya seolah tak bisa lagi tertahan.“Aku tidak ingin kehilangan Satu Kebahagiaan lagi.Cukup Ayahmu saja.

“Berjanjilah dirimu akan kembali, Sayang.Bersumpahlah kau akan baik-baik saja,” isakku semakin keras.

“Aku berjanji dan aku bersumpah, atas nama malam pencipta takdir kita.Jadikanlah aku alasanmu untuk Satu Kebahagiaan yang ingin terus kau peluk dalam keabadian, Bu.

“Dan jadikanlah aku alasanmu untuk pulang, Nak.”

***

Bahagia.

Apakah artinya?Apakah maksudnya?

Manusia terus mencarinya.Ke sudut-sudut dunia, ke penjuru-penjuru semesta.Banyak yang menemukannya.Banyak pula yang menciptakannya.Namun, hanya sedikit yang mau berbagi indahnya.

Orang-orang bilang bahagia itu sederhana. Motivator berkata ia ada dalam diri kita. Para pejabat berujar ia ada pada uang negara. Dan para agamawan berucap ia adalah surga di langit sana.

Semudah itukah bahagia?

Bisa benar, bisa pula tidak.Aku bisa mendapatkannya semudah menunggu sesuatu. Menunggu sesorang yang sayangnya hanya bisa berjanji akan pulang setelah semua urusannya selesai. Tetapi entah kapan ia akan menepati kata-kata manisnya. Itulah bagian sulitnya.

Sudahbertahun-tahunyang terasasepertiselamanya, sejak anak semata wayangku merantau ke negeri seberang.Dan selama itu pula aku berusaha untuk tidak memutus kontak.Dua kali seminggu, atau paling tidak itulah jadwal rutin yang kami buat agar selalu terhubung.

Ia benar, aku selalu bisa tersenyum dengan cara yang berbeda. Tak bisa kupungkiri bahwa menjalani hari-hari tanpanya membuat dadaku sedemikian sesak, hampir-hampir meledak.Butuh tiga-empat hari agar perihnya rindu dapat terobati, ketika akhirnya aku bisa mendengar suara beratnya di telepon.Dan di saat itulah dunia bisa melihatku tersenyum kembali.

Namun, rasanya berbeda sekali beberapa minggu ini.

Ini minggu keempat sejak telepon terakhirnya. Tepat setelah tiga tahun ia pergi. Tak dapat dikatakan betapa cemasnya aku. Suara-suara dalam kepala pun terus menyanyikan lagu yang sama selama dua puluh delapan hari ini. Lagu tentang rindu, was-was, hingga melodi bernada putus asa.

Mungkin takdir berpikir masih belum cukup kadar kekhawatiranku padanya. Berita tentang konflik berdarah di negeri tempat anakku mengadu nasib menyebar dengan cepat di minggu kedua.Para pemberontak berusaha menguasai Ibukota. Tak sampai di situ, musibah juga diikuti berbagai tindak kriminal yang mereka gaungkan atas nama kemerdekaan dan perdamaian. Semakin ironis saja dunia ini.

Kupikir, ah, bodohnya aku.Bertanya pada diri sendiri tak ada gunanya.Bergumam pada tenangnya kamar ini pun tak berbuah apa-apa.Hanya itu, sampai sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk.

From : My Son (08xxxxx)

Time : Monday, June 28th 2016 / 08.20 pm

Bu, aku dalam perjalanan pulang.Negeri itu kini tak lagi aman.Sudah tiga hari aku terapung di atas kapal.Doakan aku selamat.

 

Hampir-hampir aku menjerit karena senangnya.Akhirnya aku bisa bernafas lega.Tak lagi kupedulikan kebiasaan anakku yang tak pernah mengirim pesan singkat.Mungkin aku juga harus bersiap menyambut kepulangannya.

 

From : My Son (08xxxxx)

Time : Monday, June 28th 2016 / 08.30 pm

Sepertinya aku pulang lebih cepat.Pelabuhan lengang sekali malam-malam begini. Beberapa menit lagi aku akan sampai. Love you,

 

Pesan kedua yang kuterima.Sepertinya aku sedikit mengerti kenapa dia tak menelepon selama hampir sebulan.Anakku mungkin memiliki hobi baru berkirim pesan, entah sejak kapan. Aku tak terlalu memikirkannya dan mengalihkan perhatian pada potongan ayam goreng dadu, makanan kesukaannya, yang akan menjadi kejutanistimewasebentarlagi.

Ting tong!

Suara bel itu.Itu pasti dia. Itu pasti anakku.Dia yang selalu kutunggu dalam penantian penuh cinta.Dia yang selama ini menjadi alasanku untuk berbahagia.

“Selamat datang, sayang!” sambutku sembari membuka pintu.

Tapi tidak ada siapapun.Hanya ada sebuah peti mati dengan sebuah ponsel berisi pesan singkat yang belumdikirim di atasnya.

To : My Mom (081xxxxx)

Time : Monday, June 28th 2016 / 08.40 pm

Bu, aku pulang.

***

Karya : M.Da’i Kuncoro

Siswa MAN 2 Model Medan Kelas 12 IPS 2

121 DIBACA

UMN Al Washliyah Pastikan Pelaksanaan PPL Mahasiswa di MAN Sibolga

Jamaah Haji Penderita Diabetes Melitus Sebaiknya Melaksanakan Tawaf di Malam Hari

301 CJH Kabupaten Asahan Tuntas Vaksin Meningitis dan Influenza

Kakankemenag Asahan : Tingkatkan Kesabaran Saat Menjalankan Ibadah Haji

Kemenag Samosir Gelar Rapat Koordinasi