Terorisme dan Jihad dalam Pandangan Islam

Terorisme dan Jihad dalam Pandangan Islam

Akhir-akhir ini terorisme menjadiisu global dan aktual yang banyak diperbincangkan di kalangan publik. Perbincangan tentang hal itu sering dibahas baik di forum-forum resmi maupun tidak resmi, di institusi yang berskala nasional maupun internasional.

Pada skala nasional, isu terorisme banyak dibicarakan melalui berbagai liputan media cetak dan media elektronik. Aksi terorisme sering diklaim sebagai gerakan kekerasan yang diwarnai dengan peristiwa pengeboman yang memakan korban jiwa dan merusak berbagai sarana dan prasarana yang kesemuanya mengakibatkan kerugian dan musibah yang dialami banyak orang. Aksi tersebut sudah seringkali terjadi di Indonesia, seperti pengeboman berbagai gedung dan rumah ibadah.

Selanjutnya dalam skala internasional, perbincangan tentang terorisme telah diprakarsai oleh PBB semenjak tahun 1972, bahkan PBB telah membentuk Dewan Khusus Terorisme Internasional. Atas dasar inilah dunia internasional yang diprakarsai oleh Amerika Serikat telah menjadikan terorisme sebagai musuh bersama.

Secara lebih lanjut, tulisan ini akan menganalisis perbandingan antara konsep terorisme dan jihad, guna meluruskan pemahaman di kalangan umat yang sebagian masih mengklaim terorisme merupakan bagian dari bentuk jihad.

 

Pemaknaan Terorisme

 

Kesepakatan liga bangsa-bangsa Arab mendefenisikan terorisme sebagai “setiap perubahan berupa aksi-aksi kekerasan atau memberi ancaman dengannya, apapun pemicu dan maksudnya. Aplikasinya terjadi pada suatu kegiatan dosa secara individu maupun kelompok, dengan target melemparkan ketakutan di tengah manusia, atau memberikan bahaya pada kehidupan, kebebasan atau keamanan mereka, atau melekatkan bahaya pada suatu lingkungan, fasilitas, maupun kepemilikan (umum atau khusus), atau menduduki maupun menguasainya, atau memberikan bahaya pada salah satu sumber/aset negara” (Jabbar, tt.: 20).

Lembaga Fikih Internasional Al-Majma’ al-Fiqh al-Islamy pada tanggal 10 Januari 2001 dalam sidangnya mengeluarkan defenisi tentang terorisme. Hasil keputusan tersebut menyatakan “terorisme adalah suatu permusuhan yang ditekuni oleh individu-individu, kelompok-kelompok, atau negara-negara dengan penuh kesewenang-wenangan terhadap manusia (agama, darah, akal, harta, dan kehormatannya). Terorisme mencakup berbagai bentuk pemunculan rasa takut, gangguan, ancaman dan pembunuhan tanpa haq serta apa yang berkaitan dengan bentuk-bentuk permusuhan, membuat ketakutan di jalan-jalan, membajak di jalan dan segala perbuatan kekerasan dan ancaman” (Qararat, tt.: 355-356).

Selain defenisi di atas, masih banyak defenisi terorisme lainnya yang tidak begitu penting untuk dipaparkan dalam tulisan ini. Hal demikian karena kebanyakan dari defenisi tersebut hanya memberikan batasan sesuai dengan tujuan dan kemaslahatan untuk pihak tertentu saja, sehingga kalau ada negara atau komunitas yang terzalimi membela diri mereka dengan pihak musuh yang merampas tanah dan kehormatan mereka seperti yang terjadi di Palestina, Afganistan, Irak, dan lainnya, maka hal tersebut masih tergolong terorisme dalam sebagian defenisi di atas. Bahkan belakangan ini setiap muslim yang teguh menjalankan agamanya sesuai dengan tuntunan yang benar juga dianggap teroris.

Dalam ajaran Islam, aksi teror dilancarkan umat Islam  disebut irhab.  Secara etimologi (bahasa), irhab adalah melakukan sesuatu yang menyebabkan kepanikan, ketakutan, membuat gelisah orang-orang tertentu, menyebabkan kegoncangan dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dan menghentikan aktivitas mereka.

Secara terminologi (istilah), irhab adalah segala sesuatu yang menyebabkan goncangan keamanan, pertumpahan darah, kerusakan harta atau pelampauan batas dengan berbagai bentuknya (www.ahlussunnah-jakarta.com). Adapun istilah irhab yangterdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya pada  Surat Al-Anfal ayat 60 lebih dipersempit maknanya dengan “membuat gentar musuh-musuh Allah dan musuh-musuh umat Islam melalui persiapan kekuatan militer, seperti latihan bersenjata dan membuat senjata”, sebagaimana yang dapat dipetik maknanya pada ayat berikut ini:

 

Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-Anfal: 60).

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa irhab ada yang dibolehkan dan ada pula yang diharamkan. Irhab yang “dibolehkan” dalam syariat Islam adalah yang menyangkut keberadaan kita mempersiapkan diri, menambah kekuatan, latihan senjata (militer), membuat senjata dan menyiapkan kekuatan yang membuat ‘gentar’ musuh, sehingga tidak lancang terhadap kita, agama, akidah dan individu-individu umat. Hal seperti inilah sebenarnya yang disyari’atkan dan dituntut keberadaannya pada kaum muslimin. Sedangkan irhab yang “diharamkan” adalah segala bentuk tindakan yang mendatangi orang-orang yang dalam keadaan aman dan tentram yang tidak mempunyai urusan dengan masalah peperangan dan kezaliman, lalu diserang secara tiba-tiba dengan pembunuhan, perusakan harta benda, atau menimbulkan ketakutan lainnya, baik dari kalangan kafir atau dari kalangan muslim.

 

Terorisme Bukan Jihad

 

Untuk mengetahui posisi terorisme apakah termasuk dalam kategori jihad atau tidak, terlebih dahulu perlu didudukkan defenisi jihad dalam arti yang sesungguhnya.

Dalam Kamus Lisan al-‘Arab diuraikan kata jihad berasal dari kata kerja jahada, yujahidu, jihadan. Kata jahada dibina di atas wazan fi’il mufa’alah. Karena itu, kata ini merupakan bentuk kata kerja jahada-yajhadu-juhdan wa jahdan. Kata ini diartikan oleh para ahli bahasa dengan al-masyaqqah wa al-thaqah, yaitu menempuh jalan yang susah dan penuh tantangan (Ibn Manzur, tt.: 133).

Sedangkan terorisme yang dalam bahasa Arab disebut irhab berasal dari kata kerja muta’addi (transitif) “arhaba-yurhibu-irahaban”. Kata ini dalam Lisan al-‘Arab diartikan dengan akhfa wa azja’a, yaitu sebagai bentuk menakut-nakuti dan menimbulkan rasa tidak aman (Ibn Manzur, tt.: 436).

Al-Raghib al-Ashfahany menjelaskan bahwa “jihad adalah bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan dalam melawan musuh dengan tangan, lisan, atau apa saja yang ia mampu. Jihad itu ada tiga perkara, yakni berjihad melawan musuh yang nampak, syaithan dan diri sendiri” (Al-Harby, tt.: 8).

Selanjutnya Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa “Jihad dapat dengan hati seperti berniat dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya, atau dengan berdakwah kepada Islam dan syari’atnya, atau dengan menegakkan hujjah (argumen) terhadap penganut kebatilan, atau dengan ideologi dan strategi yang berguna bagi kaum muslimin, atau berperang dengan diri sendiri, maka jihad wajib sesuai dengan apa yang memungkinkannya”.

Kemudian dengan bahasa yang ringkas, Ibn Hajar Al-Asqalany mengatakan bahwa “jihad adalah mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir”. Menurut beliau, awal disyari’atkan jihad adalah setelah hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah menurut kesepakatan para ulama (Ibn Hajar, tt.: 6).

Dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan kesimpulan para ulama fikih bahwa jihad secara istilah adalah aksi kaum muslim memerangi orang-orang kafir yang tidak terikat dalam perjanjian damai, setelah didakwahi dan diajak kepada Islam, guna meninggikan kalimat Allah. Tidak ditemukan perdedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan para ulama tentang disyari’atkannya fi sabilillah dalam rangka memerangi orang-orang kafir yang memusuhi Islam. Para ulama umumnya berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah yang berisi dalil-dalil yang tegas menunjukkan adanya syari’at jihad.

Bila dirujuk pada uraian sebelumnya (tentang irhab), maka dapat dipahami bahwa terorisme  memiliki makna ganda. Terkadang terorisme bermakana positif dan pada saat lain bermakna negatif. Terorisme bermakna positif (irhab), ketika diarahkan untuk tujuan damai dengan cara menakut-nakuti musuh Allah dan musuh umat Islam melalui persiapan militer, pelatihan perang, dan sebagainya. Aktivitas seperti ini merupakan bagian dari “jihad” yang diperintahkan Allah di dalam Surat Al-Anfal ayat 60.

Bila bergeser dari tujuan tersebut, maka makna teror berubah menjadi negatif, yakni ketika aksi yang dilakukan ditujukan untuk menciptakan kekakacauan politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya, seperti membunuh orang yang tidak bersalah, melakukan penculikan, dan semisalnya. Aksi terorisme seperti itu dilarang dalam syari’at Islam bahkan digolongkan dalam dosa-dosa besar.

Adapun aksi terorisme (negatif) yang yang dilakukan oleh sebagian umat Islam dengan mengatasnamakan jihad telah mendiskreditkan konsep jihad yang sesungguhnya. Kendatipun tidak dapat dipungkiri bahwa jihad juga memiliki substansi teror, akan tetapi teror tersebut bukanlah tujuan jihad. Pada intinya, jihad mempunyai tujuan mulia, yaitu meninggikan agama Allah dan dilakukan dengan cara-cara yang diridhai Allah.

Oleh sebab itu, pemahaman komprehensif dan integratif tentang jihad harus dilakukan agar tidak mencampuradukkan antara jihad yang positif dengan terorisme yang negatif. Walaupun membunuh musuh merupakan salah satu aksi jihad, namun pembunuhan tidak boleh dilakukan terhadap orang-orang yang tidak ikut terlibat langsung dalam peperangan.

Antara jihad dan terorisme dapat diibaratkan seperti “umum dan khusus”. Di dalam unsur jihad terdapat unsur teror, tetapi dalam unsur terorisme tidak terdapat unsur jihad. Kekeliruan dalam memahami konsep jihad yang sesungguhnya dapat dilatarbelakangi oleh kekeliruan memahami defenisi jihad, kekeliruan memahami seputar hukum jihad, kekeliruan memahami tahapan-tahapan jihad, bahkan keliru dalam memahami target jihad.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jihad bukanlah terorisme. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari konsep dan manifestasi jihad itu sendiri.  

 

Penutup

Terorisme tidak dapat dikatakan jihad yang sesuai dengan ketentuan syar’i,  karena aplikasi terorisme sangat jauh berbeda dengan konsep jihad. Terorisme bertujuan untuk menakut-nakuti dan menimbulkan rasa tidak aman, sedangkan jihad bertujuan damai. Klaim untuk menjustifikasi terorisme sebagai bagian dari jihad tidak beralasan kuat dan tepat dalam  kajian syari’at Islam yang sesungguhnya.

Atas dasar demikian, jihad tidak dapat dipersamakan dengan terorisme, walaupun dalam unsur jihad terdapat juga unsur perlakuan teror. Namun unsur teror tesebut dikategorikan kepada irhab yang mubah  sebagai usaha defensif umat Islam dalam mewaspadai serangan musuh, agar tidak semena-mena menyerang dan merusak Islam.

Oleh: Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag

 (Staf pada Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara)

 

 

145 DIBACA

Marching Band MAN Sidikalang Adakan Perekrutan Anggota Baru

Kakankemenag Tapsel Lantik Pengawas Penmad Tingkat Menengah

Bersyukurlah Masih Berada di Lingkungan Pendidikan

Anggota Paskibra MTsN Rantauprapat Gelar Latihan Persiapan HUT RI ke 72

Dinas Kesehatan dan BKKBN Adakan Penyuluhan Konseling Remaja di MAN 1 Medan