Introvert

Introvert

Kadang aku berpikir bagaimana jika apa yang telah kubaca itu menjadi kenyataan. Novel teenfiction,novel fantasi, dan apa pun itu semuanya aku sangat suka membacanya, apalagi buku-buku yang ada di aplikasi Wattpad itu. Aku pernah membaca salah satu novel yang menyinggung kata bullying, lebih tepatnya menceritakan tentang seseorang yang menjadi korban bullying. Inilah yang aku maksudkan, bagaimana jika itu semua terjadi padaku? Dijauhi oleh sahabat yang kita sayangi, dicaci maki, tidak ada yang ingin berteman dengan kita, bahkan sampai ada rasa ingin langsung mengurus surat pindah, tidak peduli kalau sudah menginjak kelas tiga. Apakah kita akan tetap bertahan? Apakah kita akan tetap memaafkan mereka? Apakah kita akan sekuat si tokoh utama dalam novel itu?

Sekarang langit tengah menumpahkan kesedihannya. Aku menutup jendela bis Sepadan agar airnya tak dapat menjangkau keberadaanku. “Huh..“ aku menghela nafas sembari mengingat apa yang telah aku lalui hari ini. Memainkan ponsel adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan rasa jenuh karena berada di dalam bis Sepadan yang sesak ini.

Jari-jariku tertuju pada ikon Instagram, sekali klik aku langsung membaca satu kata yang sebelumnya tidak pernah aku dengar,Ambivert?

“Pak pinggir ya!” Segera bis Sepadan yang kutumpangi  ini menepi. “Huh..“ aku menghela nafas lagi karena telah berhasil keluar dari jeratan asap rokok, sungguh menyebalkan berada di sana.

Aku berjalan santai sambil menikmati bau khas setelah hujan. Beberapa novel yang pernah kubaca, tokoh utamanya sangat menyukai hujan dan bau khas ini. Ternyata seperti ini yang mereka rasakan, tenang, nyaman dan segar. Butuh sekitar sepuluh menit untuk sampai di rumah, tidak jauh tapi cukup melelahkan untukku karena aku baru saja pulang dari sekolah. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang sangat aku sukai, walaupun bentuknya sederhana tapi itu sudah cukup mengurangi rasa lelah.

“Ana..!! Cepat keluar makan siang sudah jadi!“ aku mendengar teriakan ibu dari arah dapur, segera aku mengganti seragam sekolah dengan kaos santai. “Hari ini ayah tidak makan siang bareng kita lagi?“ aku bertanya sambil meletakkan nasi ke atas piring yang aku pegang. “Sudah jangan banyak tanya tentang ayahmu, sekarang yang penting bagi ibu hanya kamu Ana. Ayo dimakan!“ Memang seperti ini sekarang keadaan keluargaku semenjak perusahaan ayah bangkrut. Ayah pulang larut malam, bahkan jarang pulang. Kadang dia mampir hanya untuk makan siang dan memberikan ibu uang belanja. Aku tahu sekarang ibu sangat sedih dengan perubahan ayah, aku juga sekarang sedang bingung karena kedua sahabatku sepertinya mulai menjauhiku. Apa itu hanya perasaanku saja? Tapi nyatanya mereka benar-benar berusaha menghindar dariku. Kalian tahu? Ternyata apa yang sedang aku alami sangat persis seperti di dalam novel yang telah kubaca dua hari yang lalu. “Bu, biar Ana yang cuci piringnya ya,“  ibu hanya mengangguk dan kemudian melenggang pergi.

Seperti ini memang, tidak ada lagi kegiatan yang harus aku lakukan setelah pulang sekolah. Biasanya ponselku akan terus berdering karena ulah sahabatku, sekarang tidak.

Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu tapi aku masih setia duduk di bangku kelas. Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari-cari di mana keberadaan sahabatku, Nanas dan Juju. Selain mereka berdua aku tidak memiliki teman yang akrab, hanya sekedar mengenal dan berbicara dengan mereka ketika ada sesuatu yang penting. Menjadi seorang introvert memang sulit untuk bergabung dengan orang-orang baru. Aku mengenali tawa itu, suara khas itu milik Nanas. Kadang aku merasa sedikit iri dengannya, dia cantik, pintar, banyak disukai orang-orang karena sifatnya yang mudah bergaul. “Nanas, Juju, kalian dari mana?“ aku bertanya saat jarak di antara  kami semakin dekat. Dapat aku lihat Nanas memutar bola matanya pertanda tak suka jika aku memanggil. “Dari kantin,“ jawab Juju singkat kemudian tangannya digeret langsung oleh Nanas untuk menjauhiku dan mendekati kerumunan gadis-gadis yang ada di kelas ini.

“Ana..? Kamu ada di dalam kamar?“ tanya ibuku yang sukses membuatku berhenti memikirkan kejadian di sekolah siang tadi. Ibu sampai di depan pintu kamarku lebih dulu, “Ana, ibu mau keluar sebentar. Kunci pintu, jangan ke mana-mana dan jangan biarkan siapa pun untuk masuk!“ kata ibu. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan kemudian ibu pergi meninggalkanku sendirian di rumah.

***

Aku sudah siap dengan seragam sekolah, aku juga sudah selesai membuat sarapan untuk aku dan ibu. Aku tahu kemarin ibu pergi hanya untuk menghindar dari ayah yang pulang ke rumah.

Pintu itu diketuk kuat sekali, membuat aku terburu-buru untuk membukanya. “Ayah?” hanya satu kata yang berhasil keluar dari bibirku. “Kenapa hanya diam di sana? Kamu tidak suka kalau ayah pulang?“ “Bukan tidak suka, hanya saja aku sedikit terkejut.” Ayah tersenyum samar kemudian mengacak puncak kepalaku, “maafkan ayah, Ana“.

Sudah kuduga ayah datang hanya ingin memberikan ibu uang belanja untuk memenuhi kewajibannya. “Ayah mau makan dulu? Aku buatkan telur ceplok ya,“ aku hanya berusaha ramah dengan ayah karena tidak mau jadi anak yang durhaka. “Tidak usah Ana, ayah sudah makan sebelum kemari,“  kata ayah kemudian menyeruput kopi yang aku buat tadi. “Oh iya  Ana, kamu masih sering menulis?“ aku menengadahkan kepalaku mendengar ucapan ayah karena sebelumnya kepalaku menunduk. “emm.. ti tidak yah, sudah lama aku tidak melakukan itu“. Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Bagus, memang seharusnya kamu meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat itu.” “Tapi yah, itu hobiku.”  “Ayah tidak peduli Ana, kamu harus belajar supaya kamu tidak seperti ayah. Lihat sekarang perusahaan ayah bangkrut,“ nada bicara ayah semakin tinggi, tidak ada raut wajah yang ramah lagi. “Ayah, belajar itu memang tugasku sebagai pelajar tapi biarkan aku tetap pada hobiku. Belajar terus menerus juga akan membuat otakku lelah,“ aku berbicara dengan nada sendu. Braaak.. ayah menggebrak meja membuat kopi yang ada di meja tumpah. “Pokoknya ayah tidak mau tahu dengan hobimu yang  tidak berguna itu.”  Setelah mengatakan itu ayah pergi. Aku tahu aku sudah kelewatan berbicara seperti itu pada ayah, tapi aku hanya ingin ayah mendengarkan apa yang aku inginkan.

Ternyata benar Nanas dan Juju menghindar dariku. Sekarang aku kesepian, tidak ada yang mau berteman karena aku seorang introvert. Dan memang benar isi dari novel yang pernah kubaca menjadi kenyataan. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdiri di balkon kelas sambil memandang dia yang tak kutahu namanya. Salah satu kebiasaanku adalah memandang dia yang sedang mendribel bola pada jam istirahat. Tapi ada satu hal yang aneh darinya, kenapa dia sendirian di sana, kenapa tidak bermain dengan teman-temannya? Pikiranku buyar saat melihat Nanas dan Juju mendekat. “Nas, Juju, kalian kenapa kok menghindar dariku?“ aku mengatakan itu dengan suara sendu. “Menghindar? Kayaknya enggak deh, kami ke mana-mana memang selalu berdua. “Nanas mengatakan itu dengan nada datar. “Aku  masih nggak ngerti, Juju kenapa?“ “Stop panggil aku Juju, Alana. Namaku Azura,“ kata Azura dengan penuh penekanan di setiap suku kata.  Setelah mengatakan itu mereka berdua pergi, meninggalkan aku yang masih kebingungan. Apalagi Juju yang tiba-tiba memanggilku dengan Alana. Hanya orang-orang terdekatku yang memanggilku dengan Ana. Bahkan dia tadi bilang tidak ingin dipanggil dengan Juju, padahal sebelumnya dia sangat menyukai panggilan itu karena terkesan imut menurutnya.Aku menghela nafas kasar menyadari bahwa sahabatku sudah tidak ingin berteman denganku lagi. Setidaknya mereka bisa memberi tahu kesalahanku apa agar aku bisa meminta maaf. Justru ini yang membuatku bingung, aku bersikap seperti biasa dan tidak ada melakukan kesalahan apa pun tapi mereka menjauhiku. Bagus, sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi.

***

Sekarang aku ingin mengistirahatkan pikiranku. Dengan membaca cerita yang ada di Wattpad pasti aku akan merasa lebih baik. Cerpen yang aku pilih adalah tentang roh hujan yang bernama Regen. Dia ditugaskan oleh tuhan untuk mengatur hujan, tapi dia terlanjur jatuh hati dengan seorang gadis manusia. Tuhan menghukumnya karena telah melanggar salah satu peraturan yaitu mencintai seorang manusia. Regen tidak dapat lagi bertemu dengan gadis itu, karena Tuhan telah mengambil kekuatan Regen untuk dapat berwujud manusia. Tak lama aku menyelesaikan acara membacaku karena bel telah berbunyi.

Pelajaran terakhir hari ini sudah berakhir dengan diiringi bel pulang sekolah. Tapi aku belum mau beranjak dari sini, masih tergambar jelas sikap mereka berdua yang acuh padaku. Sedih, ketika ayah menentang keras hobiku dan perginya kedua sahabatku.

Aku berjalan keluar kelas dengan tertatih, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku menengadahkan kepalaku melihat langit yang tengah menumpahkan kesedihan. Bagaimana caranya aku pulang? Aku jadi teringat dengan cerpen yang kubaca tadi. Di sana diceritakan gadis itu tak dapat pulang karena hujan tengah mengguyur kotanya. Tiba-tiba datang seorang pemuda melindunginya dengan payung transparan miliknya. Dan akhirnya gadis itu bisa sampai ke rumah. Aku menarik nafas perlahan, menghembuskannya dengan perlahan juga kemudian aku mengucap syukur Alhamdulillah. Itu adalah caraku untuk senantiasa tetap berbahagia meski datang beberapa masalah. Setelah itu,  apa ini? Ada seseorang yang memayungiku? Apakah dia seperti Regen? Tidak Ana, ini dunia nyata. “Alvito?“ tanyaku ketika mengetahui siapa empunya. Dia Alvito ketua OSIS di sekolahku. “Ayo aku antar pulang, hujannya sangat deras. Akan lama kalau kamu menunggu,“ aku mengangguk sebagai jawaban karena memang benar apa yang dia ucapkan. Saat di dalam mobilnya tidak ada percakapan di antara kami. Aku seorang introvert, tidak mungkin untuk memulai percakapan dengan orang hanya aku tahu namanya. Aku menghilangkan fantasiku tentang Regen karena aku tahu itu hanya ada di dalam cerita. “Terima kasih,“ ucapku setelah sampai di depan rumah dan dia hanya mengangguk kemudian segera melesat pergi. Hujan sudah berhenti, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk berlari ke arah pintu.

Aku sudah sampai di rumah, dan beginilah rasanya, sepi, sunyi. Aku melangkah gontai menuju kamarku, kemudian menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Huh, sangat melelahkan.

“Ana? Kamu sudah pulang?“ aku langsung saja keluar dari kamar ketika mendengar suara ibu. Aku lihat ibu pulang dengan membawa banyak barang belanjaan. “Untuk siang ini biar Ana yang masak ya bu.“ “Ana, ibu tahu ayahmu kemari dan memaksamu untuk menuruti kemauannya. Ingatlah Ana! Ibu akan tetap mendukung apa pun yang kamu lakukan, ibu tahu anak tersayang ibu sangat mengerti dengan apa yang harus dilakukan,“ ibu mengucapkan itu dengan sayang sambil mengelus lembut pipiku. “Ana akan berusaha untuk tidak mengecewakan ibu, ibu benar Ana tahu apa yang harus Ana lakukan.“ Aku memeluk ibu dan aku sangat bersyukur. Aku berfikir apa aku harus memberitahukan ibu tentang Nanas dan Juju, mungkin sebaiknya tidak karena aku takut ibu khawatir. “Oh iya, ibu tak pernah melihat kamu punya teman,” aku menghela nafas mengingat aku tak pernah menceritakan apapun tentang sekolah. “Aku punya teman, tapi aku tak punya niat membawa mereka kemari,” ‘karena sekarang mereka sekarang menjauhiku,’ ucapku dalam hati kemudian melangkahkan kaki menuju kamar tidur.

***

Byuuuurr…… Air itu meluncur bebas membasahi seluruh tubuhku. Apa ini? pembulian? sahabatku sendiri yang melakukan ini, tapi kenapa? Aku tidak tahan lagi untuk tidak menjatuhkan air darimataku.

“Mau kamu apa sih Alana? kamu merebut Alvito dari aku?” aku sukses membulatkan mata mendengar ucapan Nanas. aku mendongakkan kepala ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin sore. ”Apa? kamu mau menyangkalnya? Sudah jelas apa yang aku lihat kemarin sore.” “Nas, dia hanya menawarkan tumpangan karena kemarin sore hujan,” aku membuka suara berusaha meyakinkan Nanas bahwa apa yang dilihatnya itu adalah salah paham.

Bajuku sudah basah, aku berusaha mentupi bagian yang mungkin tembus pandang dan dapat dilihat oleh orang lain. Tapi tidak lagi saat jaket hitam digunakan untuk menutupi bajuku yang basah, Alvito yang memberikannya. ”Apa yang dikatakan Alana benar, aku hanya memberikan tumpangan tidak ada maksud lain,”  kata Alvito.

“Tapi kenapa Al?Aku tidak menyukai kamu melakukan itu.” “Tidak apa Anas, aku tidak akan mungkin tertarik dengan gadis introvert seperti dia. Aku hanya kasihan, yang terpenting aku tidak mau kamu menjadi seorang yang suka membuli.”

Aku sudah tidak tahan lagi, perkataan Alvito membuatku sakit. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju rooftop sekolah. Tidak peduli dengan sekeliling yang sedang menertawaiku.

“Apa yang salah dengan introvert? Kenapa aku tidak bisa seperti mereka yang begitu supel dalam bergaul?” aku menumpahkan semua rasa kekesalanku kepada angin. Meneteskan air mata yang sudah tidak dapat terbendung lagi. “Kenapa aku ditakdirkan sebagai seorang introvert?”

“Karena kamu adalah orang yang special.” Aku  menoleh ke kanan mencari sumber suara itu. “Siapa?” Aku sepertinya pernah melihat wajahnya, tapi dimana? Astaga dia adalah pemuda yang senang sekali main basket sendirian.

“Aku Regen, yang sering kamu lihat dari balkon kelas pada jam istirahat,” dia mengatakan itu sambil memainkan alisnya. Aku menundukkan kepala karena malu, ternyata dia mengetahui selama ini aku suka memperhatikannya.

“Oke lupakan tentang itu kita bisa membahasnya nanti.” Dia hanya menatap lurus kedepan, aku tak menyangka bisa berada sedekat ini dengannya. Sekarang air mata ini sudah tidak keluar lagi, bahkan bajuku yang basah kini sudah setengah kering karena angin.

“Kenapa kamu bilang orang yang memiliki kepribadian introvert itu special?” dia nampak berfikir sebelum menjawab pertanyaanku. “Karena bikin penasaran, soalnya enggak ada yang tahu kamu itu tipe periang, cuek, penyayang, manja atau pemarah. Introvert itu pandai sekali menyembunyikan apa yang ada di dalam dirinya. Jadi menurut aku introvert itu misterius.” Apa yang Regen bilang ada benarnya, aku tidak pernah curhat dengan siapapun termasuk sahabatku.

“Jadi sahabatmu itu kemana? Mereka tahu kamu ada di sini?” dia mulai bertanya lagi. “Eh, kamu tahu aku punya sahabat?” aku bertanya begitu karena siapapun tidak ada yang tahu kalau Nanas dan Juju adalah sahabatku. “Waktu itu kamu lagi ada di balkon liatin aku, ya aku pura pura gak tahu aja, terus aku lihat kamu diajak sama sahabatmu itu, menurutku kamu diajak kekantin tapi kamu malah menolak dan lebih memilih tetap ada di balkon.” Ada sedikit rasa malu saat dia menceritakan itu, dan dia tertawa pelan , apanya yang lucu?

“Aku rasa kamu perlu meminta maaf sama mereka, karena kamu sering mengabaikan ajakan mereka, dan kamu malah memilih menikmati kesendirianmu,” setelah Regen mengucapkan itu aku baru sadar ternyata aku sering mengabaikan mereka.

Sekarang  Regen mengubah posisinya untuk berhadapan denganku, raut wajah kini menjadi lebih serius. “Menjadi seorang introvert itu enggak ada yang salah Ana, hanya saja kamu harus pintar membagi waktu antara dirimu dan orang yang kamu sayangi. Aku rasa mereka kesal dengan sifatmu yang selalu menyendiri, dan mereka mengambil kesimpulan kalau kamu tidak perlu dengan kehadiran mereka,” aku menyimak satu persatu apa yang dikatakan Regen, iya Regen memang benar.

“Kamu benar, aku akan minta maaf pada mereka.” Dan sekarang Regen mengubah kembali posisi duduknya menjadi menghadap kedepan. Astaga, aku baru ingat kalau namanya sama dengan si roh hujan, kali ini apa yang kubaca benar-benar jadi nyata. “Kenapa? Aku bukan si roh hujan yang ada di dalam cerpen yang kau baca itu.” Eh, kenapa dia tahu aku membaca cerpen tentang roh hujan? Seperti cenayang yang bisa membaca pikiran, dia langsung menjawab pertanyaan yang ada di kepalaku.

“Beberapa hari yang lalu aku melihatmu di perpustakaan sedang membaca, karena kamu terlalu fokus jadi aku dekati saja dan kamu tidak menyadari hal itu. Dan pada saat itu juga aku tahu kalau kamu ternyata adalah orang yang sangat suka memperhatikanku dari balkon. Aku juga sempat membaca apa yang kamu baca,” dia tertawa sebelum melajutkan kalimatnya. “Kamu fokus sekali dan tidak menyadari waktu itu aku ada di belakangmu, lihatlah sekarang pipimu menjadi semerah tomat,” apa? Astaga aku sangat malu, rasanya ingin aku cepat menghindarinya.

Dia kembali menatapku, menggenggam tanganku, matanya indah dan teduh. Aku baru tahu kalau dia setampan ini. “Aku tahu kalau aku sangat tampan,” astaga kenapa dia gampang sekali merusak suasana? “Ana, tidak ada yang salah pada dirimu, tidak ada yang salah menjadi seorang introvert karena apa yang diberikan oleh tuhan pasti adalah yang terbaik untukmu. Kamu hanya perlu pandai membagi waktu,” aku mengangguk menyetujui ucapannya.

***

Pertemuanku dengan Regen sukses mempengaruhi pikiranku. Ternyata semua ini salahku, aku tak pandai membagi waktu antara diriku dan orang yang aku sayangi. Ajaibnya setelah aku minta maaf, aku jatuh pingsan dan tidak tahu apa penyebabnya. Tapi ada satu keanehan sebelum aku tak sadarkan diri, aku melihat Regen tersenyum kepadaku sambil mengacungkan jempol kearahku.

Aku bangun dari tempat tidur dan berusaha keluar dari kamar. “Selamat pagi anak ibu! Sudah bangun ternyata, ayo cepat siap-siap! Berangkatnya nanti barengan sama ayah,” apa ayah? Ayah datang kesini pagi-pagi? Sontak aku langsung melebarkan mata yang awalnya masih mengantuk. “Sejak kapan ayah ada di sini?” hanya itu yang aku lontarkan karena biasanya ayah datang siang hari untuk memberikan uang belanja. “Kenapa bicara begitu? Ayo cepat mandi Ana! Nanti kamu terlambat loh.” Mereka pikir aku masih bermimpi, sudah jelas ayah sekarang ada di meja makan menyeruput kopi sambil membaca koran.

Keanehan itu bukan hanya terjadi di rumah tapi juga terjadi di sekolah, saat aku mau mengembalikan jaket milik Alvito dia malah bertanya kapan aku meminjam nya dan kapan dia meminjamkannya padaku. Tapi ya sudahlah yang penting adalah keluargaku kembali seperti dulu dan aku mendapatkan sahabatku kembali. Dan yang terpenting sekarang aku bisa membagi waktu antara duniaku dan dunia untuk orang-orang disekitarku.

Masih ada satu hal yang membuat aku bertanya-tanya. Kenapa Regen tidak pernah lagi bermain basket di lapangan? “Aku anak  jurusan bahasa, jika ada perlu datang saja!” aku ingat Regen pernah mengatakan itu, aku langsung berlari menghampirinya.

Semua mata tertuju kearahku, anak-anak jurusan bahasa itu menatapku aneh. Wajar saja mereka menatapku begitu, karena tidak ada anak jurusan IPA atau IPS yang mau singgah kemari. Aku mencari keberadaan Regen di segala sudut tapi tak kutemukan kehadirannya. “Cari siapa?” tanya seorang gadis anak jurusan bahasa. “Aku mencari Regen, apa dia ada?” aku dapat melihat gadis itu mengerutkan dahi bingung. “Tidak ada yang namanya Regen di sini, mungkin jurusan lain,” kemudian gadis itu pergi.

 “Aku juga merindukanmu,” aku menoleh kebelakang mendapati Regen yang sedang tersenyum, dia selalu tahu apa yang aku pikirkan dan langsung saja menjawabnya. Aku memang sedang merindukannya. “Kenapa dia tadi bilang tidak ada yang namanya Regen di sini, mereka tidak mengenalimu?” aku menanyakan itu sambil berjalan bersama ke arah rooftop sekolah. “Bukan, tapi karena mereka tidak bisa melihatku. Hanya kau yang bisa melihatku, Ana.”

Ternyata ini tujuan Regen muncul di kehidupanku, hampir sama dengan si roh hujan. Dia membantu menyelesaikan masalah yang pernah aku ciptakan, masalah yang datang karena ego kepribadian introvert yang kumiliki.

 

Karya : Windu Nafijah Putri

Siswi MAN Asahan

222 DIBACA

Berhenti Karena Tidak Mampu, Kamus Pendidikan yang Harus Dihapus

Pendidikan Adalah Kewajiban, Perintah Langsung dari Tuhan

MTQ Momen Menyampaikan Syiar Islam

Sisihkan Tunjangan Sertifikasi, Para Guru Berbagi Dengan Alumni

Persaudaraan Itu Bukan Manis Dibibir Saja