Moderasi Beragama dalam Ajaran Islam

Moderasi Beragama dalam Ajaran Islam

Istilah “moderasi” sering dikaitkan dengan sikap menengahi suatu masalah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “moderasi” diartikan dengan“pengurangan kekerasan” atau “penghindaran keekstriman”. Secara umum, istilah moderasi sering dipahami sebagai aktivitas memandu, mengarahkan, dan menengahi komunikasi interaktif yang terjadi antara beberapa pihak dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dengan kata lain, moderasi adalah suatu tindakan atau sikap yang mampu menjadi penengah (washith) dalam upaya penyelesaian persoalan antara kedua belah pihak atau lebih, sehingga persoalan itu menemukan solusi dan kedamaian dengan mereduksi potensi kekerasan atau keekstriman.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) melaluiwahyu Al-Qur’an telah menempatkan posisi umatnya (kaum muslimin) sebagai umat yang washathan, yakni mampu menjadi penengah (washith) dalam menyikapi persoalan terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia sebagaimana yang tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 143:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang menjadi penengah(washathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa umat Islam disebut ummatan washathan, umat penengah yang serasi dan seimbang, karena mampu memadukan dua kutub agama terdahulu, yaitu sikap keberagamaan Yahudi yang terlalu membumi dan Nashrani yang terlalu melangit. Ayat tersebut juga berkaitan erat dengan bukti nyata kesiapan mental umat Islam menerima ketetapan Allah saat terjadinya perpindahan arah kiblat yang asalnya menghadap Masjidil Aqsha di Palestina berpindah menjadi menghadap Masjidil Haram di Makkah. Hal ini  membuktikan kemandirian dan kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. bisa menjadi penengah, tidak terpengaruh oleh sikap keberagamaan umat terdahulu yang mengagungkan Masjidil Aqsha.

 

Moderasi Ajaran Islam

Di samping Al-Qur’an menjelaskan posisi umat Islam sebagai umat penengah yang menjadi penyeimbang dari sikap keberagamaan umat Yahudi dan Nasrani, hakikat ajaran Islam itu sendiri sejatinya telah mencerminkan “moderasi” dalam seluruh ajarannya. Sebagai contoh dalam aspek akidah; ajaran Islam menjadi penengah (washith) antara keyakinan kaum musyrikin yang tunduk pada khurafat dan mitos, dan keyakinan sekelompok kaum yang mengingkari segala sesuatu yang berwujud metafisik. Dalam hal ini ajaran Islam menjadi penyeimbang, karena selain manusia beriman kepada yang gaib, juga mengajak akal manusia membuktikan ajarannya secara rasional. Ini membuktikan ajaran Islam dapat menjadi penengah dan relevan dengan fitrah kemanusiaan.

 

 Dalam aspek ibadah, Islam mewajibkan penganutnya untuk melakukan ibadah dalam bentuk dan jumlah yang sangat terbatas, misalnya shalat fardhu lima kali dalam sehari, puasa Ramadhan sebulan dalam setahun, dan haji sekali dalam seumur hidup; selebihnya ajaran Islam membuka peluang dan kesempatan bagi umatnya untuk melahirkan berbagai kreativitas dan karya serta bekerja untuk mencari rezeki Allah di muka bumi.

 Selanjutnya pada aspek akhlak, ajaran Islam hadir untuk memberi keseimbangan kebutuhan yang harus terpenuhi pada jasad dan ruh manusia.  Unsur jasad pada tubuh manusia diberi kesempatan untuk menikmati kesenangan dan keindahan yang dianugerahkan Allah untuk kenikmatan duniawi, sedangkan unsur ruh didorong untuk mematuhi aturan-aturan Allah agar dalam menikmati dunia dengan tidak melupakan persiapan bekal menuju akhirat.

Keseimbangan (moderasi) antara pengamalan untuk dunia dan akhirat itu telah digariskan Allah dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

 Bila dipahami dengan cermat, ayat di atas memberikan tuntunan kepada umat Islam untuk mengimplementasikan moderasi dalam 3 (tiga) pesan utama, yakni (1) menyeimbangkan antara persiapan ibadah menuju kebahagiaan akhirat dengan perolehan kenikmatan duniawi yang dilandasi pada keridhaan Allah; (2) menyeimbangkan antara kebaikan berupa nikmat yang telah diberikan Allah dengan upaya membalas nikmat Allah dengan berbuat baik terhadap sesama manusia; (3) menyeimbangkan antara penciptaan dan pemeliharaan Allah terhadap alam semesta dengan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.

Upaya untuk mewujudkan keseimbangan di atas dapat dicapai dengan baik apabila pada diri setiap umat Islam benar-benar istiqamah mengaktualisasikan keimanan dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari serta senatiasa diiringi dengan do’a memohon bantuan Allah sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

 Do’a memohon kebaikan di dunia dan di akhirat secara seimbang merupakan sikap tawakkal umat Islam untuk menyempurnakan ikhtiar yang telah dilakukan dalam merealisasikan keimanan dan amal saleh dalam wujud nyata. Salah satu wujud nyata realisasi do’a tersebut adalah keaktifan umat Islam dalam memelihara keseimbangan hubungan antara hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dengan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablum minannas). Dalam Surah Ali Imran ayat 112  Allah swt. menegaskan:

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”

 Dalam upaya mewujudkan keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, umat Islam juga dituntut memiliki sikap moderasi dalam berinfak atau bersedekah, yakni memilih jalan tengah antara tidak bersikap menghambur-hamburkan harta (boros) dan tidak pula kikir. Dalam Surah Al-Furqan ayat 67, Allah swt. menegaskan:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah (qawâman) antara yang demikian.”

Dalam ayat di atas, Allah swt. menjelaskan kepada kaum muslimin tentang panduan infak dan sedekah secara umum. Allah menyatakan bahwa tanda seorang `ibâdur raḥmân (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih), yaitu suka berinfak, tetapi tidak berlebihan (israf), dan tidak pula pelit (taqtir). Allah swt. menjelaskan bahwa di antara kedua sikap buruk tersebut ada kebaikan atau dalam Alquran disebut dengan qawwâm yang berarti adil atau tegak (istiqamah). Dikatakan adil atau tegak, karena sikap tersebut berada di antara dua posisi (moderat), tidak berlebihan dan tidak pelit.

Arti kata “qawâman” pada ayat di atas juga bermaknamoderasi (tengah-tengah) dan proporsional, yaitu adanya keseimbangan antara dua titik, sehingga tidak berat sebelah. Ada dua jenis infak, yaitu infak yang terpuji dan infak yang tercela. Infak terpuji adalah infak yang dikeluarkan dengan baik dan sesuai dengan perhitungan, yaitu sesuai dengan syari’at,  seperti sedekah wajib dan infak untuk keluarga. Adapun infak yang tercela terbagi ke dalam dua bagian, yaitu menghambur-hamburkan dan memubazirkan harta serta bersikap pelit, baik dalam jumlah atau bilangan material maupun dalam praktiknya.

Dari penjelasan ayat demi ayat di atas, dapat dipahami bahwa ajaran Islam bersifat universal (rahmatan lil’alamin) dan bercorak seimbang/moderat (washathiyah) yang mengajarkan umatnya berpikir, berperilaku, dan berinteraksi yang didasari sikap tawazun (seimbang) dan tidak bertentangan dengan akal sehat dan fitrah kemanusiaan.

 

Moderasi Beragama dalam Islam

Moderasi beragama merupakan suatu perilaku, sikap maupun pemikiran yang mampu menjadi penengah (washith) dalam upaya menyikapi atau menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama, baik pengamalan ajaran agama yang dianut oleh pemeluknya maupun terhadap perbedaan atau pertentangan yang berhubungan dengan masalah antar agama yang berbeda, sehingga persoalan yang dihadapi itu menemukan solusi (jalan keluar) dengan menghindari kekerasan atau keekstriman.

 Dalam hal yang berkaitan dengan pengamalan ajaran agama yang dianut oleh pemeluknya, umat Islam dituntut untuk menjiwai ajaran agamanya dengan  mengedepankan berpikir, berperilaku, dan bersikap yang didasari sikap tawazun (seimbang), sehingga merasakan keasyikan dan kenikmatan dalam mengimplementasikan ajaran agamanya.  Sementara terhadap umat yang berbeda agama, umat Islam dituntut untuk mengembangkan sikap menghargai perbedaan keyakinan, toleransi, menghormati cara beribadah, menghindari kekerasan dan bersikap ekstrim yang berdampak memojokkan (pejoratif) terhadap penganut agama lain. Karena itu dalam berdialog atau berdiskusi dengan umat yang berbeda agama, Islam melarang berdebat dengan sikap kasar dan argumen yang menyudutkan serta menyakiti perasaan umat yang berlainan agama. Dalam Surah Al-Ankabut ayat 46 dijelaskan:

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik...”.

Selain itu, ajaran Islam juga melarang menjelek-jelekkan, menghina, dan memaki Tuhan yang disembah oleh penganut agama lain guna menghindari terjadinya ketersinggungan dan tindakannegatif yang melampaui batas dari penganut agama yang dihina, sebagaimana peringatan Allah swt. dalam Surah Al-An’am ayat 108:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Selanjutnya Islam juga membuka peluang dalam mewujudkan toleransi kepada umat yang berbeda agama dengan berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka, selama mereka memelihara dua hal utama, yakni tidak memerangi umat Islam karena agama dan tidak mengusir kaum Muslimin dari negeri yang sah mereka tempati. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Di samping itu pula, sikap moderasi beragama  yang luhur  dalam Islam adalah perintah kepada umatnya untuk senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, termasuk membela keadilan untuk umat yang berbeda agama demi tegaknya kebenaran. Secara umum, perintah tersebut termaktub dalam Surah Al-Maidah ayat 8:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 Dengan mencermati kandungan dalil-dalil Al-Qur’an sebagaimana dipaparkan di atas, dapatlah dipahami bahwa moderasi beragama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Kemuliaan sikap dan perilaku umat Islam di hadapan Allah ternyata tidak saja dinilai berdasarkan kesalehan pribadinya menjalankan ibadah mahdhah kepada Allah, tetapi juga dinilai sejauh mana kesalehan sosialnya dalam memelihara hubungan baik di masyarakat, termasuk terhadap umat yang berbeda agama.

 

Penutup

Ajaran Islam yang bersifat universal (rahmatan lil’alamin) mengajarkan umatnya berpikir, berperilaku, dan berinteraksi yang didasari sikap tawazun (seimbang) dalam dimensi duniawi dan ukhrawi. Islam juga meletakkan dasar ajaran untuk mengimplementasikan sikap moderasi beragama, termasuk di dalamnya menghargai perebedaan agama, menghormati keyakinan dan cara beribadah umat yang berbeda agama, bersikap toleransi, dan berlaku adil terhadap semua umat beragama.

Meskipun demikian sikap moderasi beragama dalam Islam tidak berarti bahwa umat Islam yang dianggap moderat dilarang berpegang teguh dan bertindak istiqamah dalam batasan-batasan yang justru wajib dipertahankan sebagai pemeliharaan identitas keimanannya kepada Allah.  Karena itu, menuduh umat Islam yang komitmen terhadap agamanya sebagai “kelompok radikal” adalah kegagalan total dalam memahami makna moderasi beragama. Pengakuan segelintir umat Islam mengedepankan jargon “moderasi beragama” sementara sikap pribadinya merendahkan ajaran Islam, justru itulah sikap “kemunafikan” yang dibungkus atas nama moderasi. Wallahu A’lam bish-Shawab!

Oleh: Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag

 

275 DIBACA

Pramuka Sebagai Cara Pengembangan Karakter Pendidikan Siswa

Tim Pengawas Madrasah Kemenag Simalungun Memberikan Bimbingan di MTsN Bandar

Kakankemenag Tapsel Monitoring Pelaksanaan MTQ

Siswa MAN 2 Tanjung Pura Masuk Ke Final Duta Remaja Genre

MAN 2 Tanjung Pura Gelar Pemilihan Pengurus Baru Komite Sekolah