PILU SI GADIS PENGABAI SENJA

PILU SI GADIS PENGABAI SENJA

Senja tengah menepis awan untuk bergeser dari peraduannya untuk meletakkan dirinya disana. Matahari seakan tengah menertawai nasibku kini. Seakan ingin pergi mengadu ke orang yang dapat merasakan luka yang kurasakan saat ini. Seperti orang tidak waras, bahkan aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu nasibku. Terkadang aku merutuki diriku sendiri mengapa dilahirkan ke dunia ini. Takdir tetaplah tadir yang menjadi plan hidup seseorang yang tak bisa diubah. Pena telah tertulis namun tidak untuk dihapus kembali.

Sabtu,14 Agustus 2017

            Jam telah menunjukkan pukul 06:30 itu tandanya aku harus pergi ke sekolah walau masih ada waktu setengah jam lagi. Sekarang aku tengah berkutat di dapur untuk sarapanku kali ini. Bukan karena terpaksa atau hal lain, memang sewajarnya aku lakukan ini. Bukan sekali tapi sudah sering dan hampir setiap hari kulakukan mengingat kondisi ku saat ini. Ku ambil roti dan membuat teh untuk sarapanku kali ini. Di atas meja makan, ada catatan dari ibuku.

Beli aja apa yang kamu mau

Duit nya udah mama letakin di meja

Seminggu lagi mama pulang

~Mama

            Pesan singkat yang nyaris membuatku menangis. Kurutuki diriku sendiri, untuk apa kamu menangis karena hal ini. Toh, hal ini sudah kerap kali terjadi. Jangan sia-siakan energi seorang Zahrah untuk ini. Kubersihkan air mata di pelupuk mataku, ku buang catatan itu dan memberikan uang yang jumlahnya lumayan banyak kepada Bi Ima dan Pak Dimas.

            “Ni Bi, Pak saya titip uang, kebetulan ada titipan. Buat bantu di kampung nanti Bi, Pak. Oh ya, Pak Dimas antarin Zahra sekolah yuk pak. Bentar lagi masuk nih!” Tukasku kepada Bi Ima dan Pak Dimas.

            “Aduh non, semalam juga dapet segini, ini malah lebih lagi. Yang semalam aja belum habis non. Kita jadi segan nih sama non geulis.” Ucap Bi Ima membantah. Aku hanya senyum sambil mengangguk mengajak Pak Dimas pergi.

 

MTs Harapan Bangsa, 07:00

            Bel berdentang keras hingga membuat lamunanku buyar, saat tiba Bu Rizka memasuki kelas yang dikenal sebagai guru killer.

            “Pagi anak-anak.” Ucapnya.

            “Pagi bu!” Jawab anak-anak serempak.

            “Ibu bawa pengumuman penting dari kepala sekolah, jadi pada saat tanggal 17 Agustus ini sekolah mengadakan acara Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia sekaligus perpisahan kelas 9, jadi ibu harap kalian membawa orang tua masing-masing.” Ucapnya panjang lebar. Mulutku hampir ternganga mendengar perkataanya. Mengajak papa dan mama? Huh, mimpi dari mana aku mengajak mereka. Jangankan mengajak, melihatku untuk sebentar saja pun mereka tak sempat. Bu Rizka melihatku melamun seolah mengerti posisiku saat ini, setelah bel reses berbunyi ia memanggil namaku.

            “Zahra Zakiya, ibu tunggu kamu di ruangan musik ya. Ada yang ingin ibu sampaikan.” Sapanya lalu pergi. Aku mengernyitkan dahi, untuk apa ia mengajak untuk menemuiku? Apa aku berbuat salah di jam pelajarannya? Perasaan aku tidak tertidur hanya saja sedikit melamun. Pertanyaan seperti itulah yang menghantui pikiranku. Aku bergegas ke ruang musik untuk menemuinya.

            Sesampainya di ruang musik, aku melihatnya tengah memainkan piano. Melodinya sedikit enak, hanya saja temponya yang tidak beraturan. Menyadari akan kehadiranku disana, ia segera menghentikan permainannya.

            “Sudah lama menunggu ya?” Tanyanya melihatku yang berdiri di depan pintu.

            “Tidak sama sekali bu. Saya baru saja sampai.” Jawabku kala itu.

            “Ayo silahkan duduk.” Ajaknya untuk duduk di sampingnya. Aku segera mengambil kursi dan duduk di sampingnya.

            “Kamu sudah besar ya. Sayang sekali ibu tidak melihatmu. Orang tuamu pasti sibuk kan?” Tukasnya saat aku sedang duduk. Aku sedikit tertegun mendengar perkataanya, tapi aku tepis untuk jangan khawatir.

            “Oh tidak sama sekali bu. Orang tuaku sangat memperhatikanku.” Lirihku menghindari tatapannya yang dapat sekali kulihat bahwa tatapannya itu adalah tatapan untuk orang yang menyedihkan.

            “Jangan bohong Zahra, ibu tau siapa kamu dan alasan mengapa kamu seperti ini.” Ucapnya melirikku tajam. Seolah tiada celah untuk bersembunyi, nyaris saja air mataku jatuh. Ya, sudah sering kali begini aku tidak mempunyai siapapun untuk berbagi kisah dan tentang keluargaku yang amat menyedihkan. Sebenarnya, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak mau ikut acara perpisahan karena tidak ada yang ingin mendampingiku kesana. Apa kata teman-temanku nanti, jika melihatku pergi seorang diri. Aku tidak ingin kejadian di tahun-tahun sebelumnya terjadi. Melihat diriku dengan tatapan iba tetapi dibuat-buat oleh mereka.

            “Mengapa ibu mencampuri urusan saya? Ada apa ibu memanggilku kesini, kalau tidak ada apa-apa lebih baik saya permisi bu.” Jawabku lugas menghindari dirinya, saat hendak berdiri dari kursi, ia menarik tanganku.

            “Zahra , ibu tahu masalahmu. Pasti kamu tidak ingin ikut karena orang tuamu tidak punya waktu kan? Ibu bukan hanya sekedar gurumu di sekolah, namun adik dari ibumu!” Tegas bu Rizka. Bagaimana bisa ibuku memiliki saudara kandung sedang ia merupakan anak tunggal dari keluarganya.

            “Maaf bu, mungkin ibu salah orang. Ibuku tidak memiliki adik ataupun kakak karena ia merupakan anak tunggal dari keluarganya.” Jawabku menengahi. Ia menggeleng sambil sesunggukan menahan air matanya.

            “Tidak mungkin ibu salah, kamu adalah Zahra dari keluargia Pak Wijaya, kakekmu. Aku merupakan saudara kandung ibumu yang hilang 5 tahun yang lalu.” Ucapnya tertatih-tatih. Sejujurnya aku tidak terlalu percaya, walaupun yang dikatakan Bu Rizka memang benar adanya. Bagiku, seluruh air mata merupakan tetesan kepura-puraan yang telah menipu banyak orang. Jangan tanyakan mengapa aku berani mengatakannya, sebab jauh di dalam hatiku aku pernah dikecewakan oleh tangis palsu seseorang. Ia menangis dengan derai hujan yang deras agar orang melihatnya tidak menangis, padahal ia sendiri tertawa dengan girangnya akibat ulah yang ia kerjakan. Jangan suruh aku mengulang kisah lampau. Jangankan mengingat, membahasnya saja aku sudah malas.

            “Lalu, ada keperluan apa ibu memanggil saya kesini?” Tanyaku dengan wajah datar. Sebenarnya agak berat mengatakannya, tapi melihat kondisiku disini hanya duduk termangu, terpaksa aku harus mengatakannya mengingat sebentar lagi akan masuk.

            “Kamu anak ibu!” Jawabnya setengah berteriak. Kalimat yang sedikit, namun singkat, padat dan juga jelas. Seakan duniaku berhenti, deru jantungku semakin memburu. Kakiku sedikit bergetar. Bagaimana bisa ia mengatakan ia ibuku sedang aku punya ibu tapi tak pantas disebut ibu karena menelantarkannya anaknya seperti ini.

            “Oh, maaf bu. Mungkin ibu salah orang. Mungkin ibu mencari Zahrah yang lain bukan saya. Saya permisi bu.” Ucapku mengakhiri pembicaraan dengan bu Rizka. Aku keluar dari ruang musik dengan napas memburu. Dapat kulihat dari ekor mataku, bu Rizka sedang menangis sejadi-jadinya. Seperti orang yang tengah divonis menjadi tersangka. Aku memasuki kelas tepat pada waktunya sebelum Pak Hakim melangkah lebih dulu.

            “Dari mana aja sih? Udah lama aku nungguin.” Gerutu Charissa kepadaku.

            “Dipanggil bu Rizka bentar.” Sahutku datar. Tak bisa dipungkiri, Charisa begitu gesit melihat perubahanku.

            “Muka kamu kok abis liat setan, merah gitu?” Tanyanya polos. Hampir saja air yang kuminum muncrat kemana-mana.

            “Duh belajar lawak darimana, garing banget!” Jawabku datar dan sedikit terkekeh.

            “Ih, aku serius lho. Kamu dari mana sih? Mukanya kok merah gitu, abis berantam ya?” Tanyanya kembali. Aku menghiraukannya dan melihat penjelasan Pak Hakim yang mengajar pelajaran Sejarah. Aku tidak bisa fokus dengan pelajarannya. Mataku kabur, pikiranku berkunang-kunang, kurang dari 5 menit aku sudah jatuh dari kursi. Aku lupa, aku mempunyai penyakit maag dan lupa makan di kantin akibat berbicara dengan Bu Rizka.

***

            Perlahan kubuka mataku, tetapi heran aku berada di kamar yang bernuansa pink. Duh, bodohnya aku, tadi kan aku pingsan mungkin Charissa membawaku pulang ke rumah kulihat kompresan ada di kepalaku. Hanya demam, lirihku. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore, biasanya mama pulang jam segini. Kubungkam pikiran itu jauh-jauh, lagipula walaupun ia cepat ataupun lama datang ke rumah. Hal itu tak akan menjadikan aku bahagia karenanya. Cepat-cepat aku beranjak dari ranjangku, tetapi mataku tertohok dari asal suara di balik pintu.

            “Kamu itu ngurus anak yang bener, masa anak sakit aja ribet!”

            “Jangan sok kamu, selama ini kamu kemana. Seharusnya kamu yang harus urusin anak itu!”

            “Mana ada laki-laki ngurus anak, seharusnya itu kamu yang jadi ibu. Jadi ibu aja gak bener!”

            “Lancang mulut kamu, selama ini kamu kemana,oh sama selingkuhan baru kamu ya?!”

            “Berani-beraninya kamu ngomong gitu, seharusnya dulu kamu gak usah sok ngadopsi-ngadopsi anak. Anak orang diadopsi bikin ribet aja. Seharusnya kamu biarin si Rizka ngurus tu anak, bikin susah hidup aja tau gak!”

            “Bukannya kamu yang pengen anak perempuan, biar jadi pewaris kamu nanti?!”

            “Halah, bodoh amat!”

            Deg! Aku anak adopsi? Bukan anak kandung keluarga ini? Aku tengah mendekap telingaku dengan bantal, tak bisa kupungkiri suara mereka masih bisa menyelubungi lubang telingaku yang kuyakini suara mereka amat memekakkan. Aku berpura-pura bangun dan membuka kenop pintu.

            “Hoaaaaahm... Bu kenapa sih rebut-ribut, Zahrah jadi bangun.” Ucapku meniru orang yang baru bangun tidur.

            “Oh enggak kok, tadi kucing tetangga ngadopsi kucing lain, iyakan pa?” Ucap mama ragu-ragu. Papa hanya mengangguk tanda iya.

            “Oooh, kirain apaan.” Jawabku datar. Mama dan papa hanya manggut-manggut dan beranjak pergi ke kamar mereka. Bahkan mereka tidak menanyai kabarku sekarang, huh sudahlah aku kan anak angkat. Hah, anak angkat? Mengapa aku lupa soal perkataan Bu Rizka, apa benar aku ini anaknya? Aku bergelayut dalam pikiranku hingga lupa senja telah masuk menelusuri kamarku.

‘oh senja, mengapa kau datang setiap batinku tertekan? Serupa apa diriku saat ini?’


***

            Pagi telah tiba, aku bangun dari angan panjangku yang kelam, suara teriakan yang memekakkan indra pendengaranku telah bergema di balik pintu.

            “Papa pergi aja selamanya, aku mau cerai!” Amarah mamaku yang kini sedang memuncak. Tak sadar, Kristal bening tumpah di pipiku.

            “Dasar istri kurang ajar!” Plak! Papa melakukannya, ya papa menampar mama hingga jatuh lunglai di lantai. Tak pantas disebut lelaki karena telah melukai derajat wanita. Tak mungkin urusanku pula apa yang membuat mereka seperti ini. Tiba-tiba suara ambulance datang disaat bersamaan. Aku bergegas keluar rumah dan melihat keranda di depan.

            “Ada apa ini pak?” Tanyaku dengan bibir bergetar.

            “Ini nak, Bu Rizka ditabrak mobil dan katanya dia adalah keluarga dari rumah ini.” Sahut bapak itu. Serasa dihantam batu, ulu hatiku terasa nyeri. Dadaku bergemuruh tanda ada yang ingin menyeruak dari dalam. Perutku serasa bergulat di dalam. Deru mataku tumpah ruas hingga sampai membasahi bajuku. Tapi perasaan apa ini yang membuat rupaku sesedih ini.

            “Kamu anaknya? Katanya beliau ingin member surat ini.” Seru bapak itu. Aku buka surat itu dengan jiwa bergetar.

            ‘Bahagialah selalu anakku, ibu selalu ada disisimu’

            ‘Pergilah engkau ke rumah kakekmu’

            ‘Ibu telah menabuh cinta disana’

 

            -Rizka Adiwiyata Wijaya

            Sepucuk surat dengan kertas yang lusuh dan dengan darah yang menitik pula sampai pada tangan si puan. Tidak kupungkiri mengapa aku menghindar darinya? Padahal dia adalah ibuku sendiri? Mama dan papa berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah dan heran mengapa ramai orang di rumah si tuan. Aku berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Mengapa aku terlahir begini, mengapa harus kesedihan yang datang silih berganti? Kuratapi diriku, tapi tidak menghalau pikiranku untuk pergi dari rumah yang seram ini. Kuambil koper dan memasukkan seluruh bajuku kesana. Kini aku tak perduli hendak membawa apa. Kuambil handphoneku yang masih ter-charger dan tabunganku untuk jaga-jaga jika ada hal yang diperlukan. Dengan melangkah mantap, aku keluar rumah dengan orang-orang yang berjasa tadi.

            “Ayo pak, kita pergi ke rumah kakek saya dan mengkebumikan jasad ibu saya!” Tegasku kala itu. Mama dan papa, lebih tepatnya disebut sebagai orang tua angkatku merasa tertampar oleh perkataanku. Mereka seakan tak percaya, lingkar matanya seakan berkata ‘dari mana ia tahu?’ tapi semua telah terbaca di hatiku. Mereka menghalau tanganku yang hendak pergi. Kutepis kasar tangan yang mengenggam erat pergelangan tanganku. Dengan cepat aku pergi bersama orang itu. Meninggalkan mereka yang tak tahu jelas nasibnya seperti apa.

            Hingga sampailah kami di rumah besar nan megah disambut oleh satpam penjaga rumah. Aku segera berlari dan masuk ke dalam, kulihat kakekku yang memakai pakaian serba hitam. Sepertinya mereka telah mengetahui kabar kematian ibuku.

            “Kesini cucuku, aku membawa kisah baru yang telah kusuguhkan untukmu. Tetaplah disini temani kami dan nenekmu dalam kesedihan ini. Takdirmu telah diatur oleh yang diatas sebagai perempuan mandiri, jangan pernah bersedih.” Ucap pria yang wajahnya mengendur itu. Tangisku pecah di kakinya saat ia menggunakan kursi roda. Rona mataku menghitam sebab menangis sedari tadi. Dadaku bungkam mendengar penuturannya, kepalaku pusing penglihatanku kabur. Kutepis rasa sakit yang mengerogoti tubuh kecilku. Sangat kecil dan bisa rapuh sewaktu-waktu. Ibu, senjamu telah sampai ke puan. Senjamu tenang menghanyutkan. Seperti dirimu, aku menghalau pekikanmu tanpa kutahu, bahwa itu menjadi kata-kata terakhir yang terucap dari lekuk indah bibirmu. Akibatnya aku menghindari bahkan melihatnya sekilas, atau membiarkannya saja. Tanpa kutahu, bahwa senja itu tak akan dapat aku lihat lagi. Sama seperti dirimu, ternyata kata-katamu tidak bisa terulang dan didengar lagi akibat aku lalai terhadap dirimu. Kau senja yang menghanyutkan. Kau pergi tanpa bilang-bilang dan kau pergi meninggalkan sejumput kenangan.

 

KARYA : NAZWAH ZAKIYA ZAHRAH PARDOSI

SISWI KELAS VIII A MTs NEGERI 1 TAPANULI TENGAH

260 DIBACA

Nurkhalishah Sampaikan Rasa Bangga Kepada Rafi dalam Bahasa Inggris

Bupati Palas Berikan Bantuan 100 Riyal per Calhaj

MAN Pematangsiantar Laksanakan Diklat MGMP Guru se KKM

Siswa MIN Sidikalang Ikuti Kegiatan PERSAMI

Untuk Adiwiyata, Minggu Bisa Jadi Hari Kerja