Sabtu,2017-06-03,11:24:48

HALAL BERSOSMED

HALAL BERSOSMED

Sosial Media atau yang biasa disingkat ‘sosmed” adalah media untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan secara online tanpa ada batasan ruang dan waktu. Kapan dan dimana saja seseorang dapat mensosialisasikan dirinya maupun berkomunikasi dengan orang lain melalui media yang terhubung dengan jaringan internet.

Dengan kemudahan teknologi informasi dan komunikasi ini tentunya memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat bagaikan dua sisi mata uang yang sama memiliki dua dampak yang saling bertentangan Kemaslahatan atau kemudharatan.  Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya hingga kemudian menshare ke berbagai media yang digunakan.

Setiap teknologi pasti memiliki dampak kemaslahatan (manfaat) bagi umat manusia walaupun juga berbanding lurus dengan dampak kemudharatan (keburukan). Keburukan dari penggunaan sosmed ini terkadang tidak disadari oleh pengguna sosmed yang dapat menimbulkan dosa sambung menyambung. Seseorang dapat dengan mudah menerima dan menyebarkan berita/info yang tidak memiliki sumber yang jelas dan kebenaran isi  berita. Barangkali seseorang berpikir dengan menshare sebuah informasi akan memberikan manfaat baginya dan orang lain, atau seseorang berpikir bahwa dia sebagai orang nomor satu sebagai pemberi informasi atau dan lain-lain.

Beberapa penyebab penyebaran berita yang tak berdasar ini dapat cepat menyebar setidaknya disebabkan yang pertama mayarakat keranjingan dalam bersosmed, sosmed merupakan sesuatu yang baru terkhusus di masyarakat kita. Yang kedua adalah literasi pengguna sosmed yang kurang dalam memilih dan memilah berita. Yang ketiga tidak memahami dampak dari penyebaran berita itu sendiri. Padahal dalam keadaan seperti itu bahaya dosa mengintip tanpa disadari. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujrat ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Seringkali para pengguna sosmed menshare sebuah info/konten tak berdasar hanya karena dianggap lucu atau benar sesuai perasaan padahal sangat berdampak buruk bagi diri sendiri dan oranglain. Sebagai contoh sebuah gambar seseorang yang diedit tanpa seizin orang tersebut hingga menghasilkan gambar lucu dan tersebar ke berbagai media, dan kemudian dengan mudah kita sebarkan pula, coba dibayangkan apabila kita/ibu/ayah/kakek/nenek atau saudara kita yang digambar tersebut?. Contoh yang lain adalah sebuah informasi yang diterima di medsos yang tidak memiliki sumber dan referensi yang standar atau dengan kata lain disebut kabar burung, apabila benar belum tentu ada untungnya namun apabila salah tentunya dapat menjadi suatu musibah bagi diri sendiri maupun orang lain sebagaimana Allah menggambarkannya pada surat Al-Hujrat tersebut, Tabayyun adalah sebuah pegangan bagi kita.

Tabayyun adalah Akhlaq mulia, begitu pula dalam kehidupan sosial masyarakat seseorang akan selamat dari salah paham  atau perselisihan bahkan dari pertumpahan darah karena melakukan Tabayyun. Ajaran Islam itu sendiri dapat kita amalkan dengan benar hingga sekarang disebabkan Tabayyun para Ulama kita secara turun temurun.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian Menyebarkan berita burung (katanya-katanya), Menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya.

(HR. Bukhari 1477 & Muslim 4582)

Salah satu yang dibenci Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Rasul mewanti-wanti kita Sehingga sebelum menyebarkan berita dipastikan kebenarannya. Mari ditanamkan dalam diri menyebarkan berita bukan prestasi, yang prestasi adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 11 Allah berfirman :“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.

Allah mendidik umatnya dengan tidak terlalu mudah menyebarkan berita yang tak berdasar sama sekali karena Allah akan menimpanya azab yang besar. Dengan demikian berita yang kita terima biarlah berhenti sampai pada diri kita dan akan mati dan terkubur  dengan sendirinya. Namun banyak kaum muslimin yang kurang konsisten dengan pendidikan Allah ini. Sehingga seorang munafik yang menyebarkan kabar burung akan segera tersebar dimasyarakat dari mulut ke mulut seakan akan tanpa melalui telinga.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur :15 : (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Ayat ini mengajarkan kaum mukminan agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan tidak mengekor kepada para pendusta. Mengekor pada pendusta sama halnya dengan mengikuti langkah-langkah syaitan yang selalu menyuruh manusia mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.

Bohong tidak saja hanya dimaknai sesuatu yang tidak benar, Nabi bersabda : “Cukup seseorang dinilai berbohong dengan mengatakan  setiap yang dia dengar”.

Nabi menjelaskan prinsip dalam mengelola Setiap berita yang diterima sekalipun benar tidak menjadi alasan untuk disebarkan apabila tidak penting dan bermanfaat. Bohong juga dapat dimaknai dengan tergesa-gesanya dalam  setiap penyebaran berita yang didengar sebagaimana hadits Nabi tersebut menjelaskan.

`Sejalan dengan ini pemerintah Republik Indonesia juga telah membuat aturan jelas tentang penyebaran berita bohong (hoax) melalui media sosial tertuang pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 28 ayat 1 dan 2. Apabila berita itu bohong si penyebar bisa dikenakan pidana.

Dalam menjalani tahapan proses pembuatan atau penyebaran informasi, hendaknya seorang muslim berkomitmen menjauhi berbagai larangan agama, seperti mengolok-olok orang lain atau kelompok, agama, termasuk melakukan plagiasi atau pecemaran nama baik pihak lain.
Dalam peyebaran tulisan/kiriman orang lain di media sosial, hendaknya seorang mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menghindari tulisan gunjingan atau ghibah, tulisan mengandung tuduhan zina (qadzaf), dan pembeberan rahasia orang atau kelompok. Sesuatu berita yang benar bukan menjadi alasan untuk dibeberkan, karena berita benar belum tentu bermanfaat.

Berita/konten yang diterima dimedsos secara berantai baik Facebook, tweeter, atau yang penomenal saat ini WhatsApp yang biasanya melalui forum grup tentunya harus disikapi dengan tuntunan yang telah digariskan pemerintah terlebih tuntunan Allah SWT agar diri kita dan orang lain selamat dari berita yang tak berdasar. Mari bersosmed dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat bukan berita yang tidak jelas asal-usulnya, orang bijak  berkata “Think before click or share”.

 

Oleh :

A. Munir Sirait

 

612 DIBACA
Sabtu,2017-06-03,11:24:33

MIN Sukaramai Berikan Hadiah Pemenang Perlombaan

Sabtu,2017-06-03,11:18:24

MIN Sukaramai Melaksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila

Sabtu,2017-06-03,11:13:31

Upacara Gabungan Hari Lahir Pancasila di MTsN Siantar

Sabtu,2017-06-03,11:06:35

Upacara Hari Lahir Pancasila, Kakankemenag Sergai Bertindak Sebagai Pembina

Sabtu,2017-06-03,10:58:12

Kepala KUA Tanjung Beringin Ikuti Upacara Hari Lahir Pancasila


0 Komentar :