THE BEST PERSAMI EVER

THE BEST PERSAMI EVER Tasya Amelia

Karya  : Tasya Amelia

Kelas   : X MIA-1

 

            Hi, namaku Bella Amanda, biasa dipanggil Bella. Tinggi kurang lebih 150 cm, dengan berat 42 kg, kulit kuning langsat serta bermata empat. Aku ingin menceritakan pengalaman Persami yang kuikuti pertama kalinya dalam hidupku. Pengalaman yang takkan pernah bisa kulupakan.

Katanya, masa-masa SMA merupakan masa-masa yang terindah dalam siklus kehidupan seorang remaja. Masa pencarian jati diri, masa teralay , masa sok cantik yang suka bisik-bisik tetangga alias gosip massal di sudut-sudut blok sekolah. Buset dah…

Tapi, aku memiliki pandangan dan perspektif berbeda tentang “masa terindah ini”. Hmmm… Aku ini tergolong anak yang pintar, ansos, kudet untuk gossip yang kuanggapmembosankan, dan selalu minim dalam sumber daya teman, plus aku mengenakan kacamata yang tebalnya sudah melewati minus 5, dan dialah sahabat sejatiku.

Tidak seperti anak pada umumnya, aku masuk MAN pada usia yang lebih muda dari teman-temanku. Aku juga gadis dengan baju paling longgar terbalut hijab yang selalu terjebak suasana awkward ketika bertemu teman. Jika sudah berpapasan aku biasanya tidak melihat kiri dan kanan melainkan atas dan bawah lewat terus melaju pantang mundur toh mereka juga tidak merasakan keberadaanku.

Apa kalian pernah merasakan sakitnya menjadi sebongkah upil? Susah payah dicari, eeeehh… pas ketemu langsung dibuang. Hal seperti itu juga sering kurasakan. Aku yakin, mereka pasti tau kalau aku ini termasuk tipikal anak cupu, (ehemm) dan…. Seorang anak cupu biasanya  fall in love dengan Logistik. jenis mapel horor yang dibumbui dengan guru killer pula. Seperti matematika, fisika, bahkan kimia. ASHIAAP! Disaat bapak atau ibu guru sedang asyik menerangkan, setengah manusia di kelasku tertidur pulas dengan mata terbuka bagai mendengar nyanyian bidadari….. dan ketika selesai, jika ada sesi pertanyaan bagi yang kurang paham, TAPI anehnya tidak ada satupun yang ingin bertanya. Maka pelajaran itupun akan dianggap tuntas dan tugaspun diberikan. Nah.. saat-saat ini nih, meja belajarku bergoncang bak gempa tsunami 6,5 SR, sangat dahsyat karena teman-temanku berkerumun dan sibuk bertanya. Lah, tadi pada kemana aje… hedeeeeh…

Dan tibalah saat EKSKUL, marak-maraknya masalah persiapan kegiatan Persami di sekolahku. Kami diarahkan ini diarahkan itu, membawa barang pribadi juga bumbu untuk masak seperti cabe, bawang, tomat, beras dan sebagainya. Begitu pula di kelasku, X Mia –1. Beberapa ada yang merasa overexcited , galau, dilemma, benci, bahkan ada juga yang bereaksi masa bodo sampai rasa mati kutu seperti perasaanku.

Aku pun bernostalgia nyengir sendiri, hayalan yang keluar dari kepala berputar berkeliling 360 derajat diatas kepalaku. Aku terkenang masa-masa ketika SD juga SMP dimana aku bisa berkilah untuk absent dan gak mau ikut bidang yang satu ini, tapi apa mau dikata, sekolah yang satu ini bukan kaleng kaleng, dan akhirnya   aku ikut serta dan inilah kali pertamaku mengikuti Persami. Jujur saja, khayalan ku kembali berputar diatas kepalaku, dalam bayanganku, Persami itu menyeramkan. Temanku bilang, “ketika Persami ada siswa yang telinganya kemasukan kecoa.. ih serem”. Aku selalu bergidik membayangkannya. Mengingat bahwa kecoa adalah salah satu nightmare bagiku. Rumornya, kalau kita melawan apa yang dikatakan para kakak tingkat, dijamin bakal dihajar habis – habisan.. OMG.. terlalu berlebihan bukan??

Sepulang sekolah aku menyerahkan selembar kertas, “nah yah.. tandatangani” kataku dengan nada agak kesal. Dan sebenarnya, aku sama seperti ayahku. ayahku tidak pernah setuju dan tidak pernah rela aku mengikuti kegiatan ini. Katanya Selain ribet, ia juga khawatir tentang diriku yang masih kekanakan dan belum mandiri ini. Sebaliknya, jika ditanya dari pihak mama, beginilah jawabannya, “baguslah! Biar makin dewasa kau dikit, nak! Biar tau kau bagaimana rasanya berteman dan bergaul itu . Sakit dan senang dilalui bersama-sama. Pokoknya Mama mau Bella berkembang, jangan jalan di tempat aja”. Hatiku hancur berkeping – keping mendengarnya. Jika komandan alias mama telah bicara seperti itu, mau tak mau aku harus ikut Persami itu. Hadeehhh… aku dan ayah hanya bisa berpandangan dan saling nyengir menaikkan alis.

Kegiatan dalam pelaksanaan persamipun diumumkan. Wow.. ada kegiatan Perlombaannya, ada  perlombaan seperti yel – yel, paduan suara juga pidato. Kalau ditanya perlombaan, aku adalah salah satu manusia yang merasa rugi jika tidak ikut ambil bagian di dalamnya. Secara gituloh.. perlombaan yang diadakan di PERSAMI kali ini adalah salah satu perlombaan yang aku suka. Hmmm.. nafasku kutarik sangat panjang. aku masih mengingat kejadian beberapa pekan lalu, ketika diadakannya perlombaan debat dan aku sudah mempersiapkan semuanya namun tidak jadi diutus dikarenakan alasan yang tidak kumengerti sampai saat ini.. seperti lagu ”sakitnya tuh disini”. “hey bella, ngelamun aja. Kamu puisi ya”. Kata wali kelasku mengagetkan ku.

Nah, cerita wali kelasku. Dia adalah sesosok guru yang mengajarkan kami di mapel bahasa inggris. Dengan penampilan yang menarik walau sedikit bertubuh big body, tetap saja dia cantik dan berwibawa. Siapa yang melawan intruksinya… ASHIIIAAAP… cas cis cus cus cus cas dan cos keluar dari mulut ma’am ‘Lisa’. Ya.. ini nama guru wali kelas ku. Walau cerewet dia yang paling peduli keadaan kami semua.

Dan akhirnya aku merupakan perwakilan kelas dibidang pidato  Bahasa Arab dan Indonesia. Biasanya, jenis-jenis perlombaan diberitahukan beberapa minggu sebelum hari - H. Tapi, lain ceritanya jika bagian pidatoku yang satu ini. Awalnya, aku diberitahu bahwa perlombaan yang akan diadakan merupakan puisi. Puisi ber lafal bahasa arab itupun ku hafal, dan selang 3 hari sebelum Persami tepatnya hari Rabu, aku kembali diberitahukan bahwa perlombaan puisi itu digantikan dengan pidato. “WHAAAAAATTTTTSS” .. Aku bingung dan agak kesal, Apa artinya kuhafal setumpuk puisi itu lengkap dengan gerakannya yang telah kuatur sesempurna mungkin, jika akhirnya aku harus menghafal lebih banyak lagi dalam waktu yang sangat singkat ini??. Tapi Alhamdulillah..  Untung aja, aku yang desperate itu mendapat bantuan dari mama. Sehingga aku hanya perlu menghafal pidato itu. Ya.. mama sering membantu ku didalam kesulitanku.

Selain pidato, aku dan teman sekelas  juga lumayan sering berlatih yel – yel yang dirancang oleh sang ketua kelas ‘Daniel’ serta wali kelas tercinta ‘Ma’am Lisa’. Entah mengapa, jika latihan yel – yel dimulai, kami para warga kelas akan berusaha sekhusyuk dan semaksimal mungkin. Mungkin karena ada ma’am Lisa kali ya… atau karena kami semua tau pada jenis lomba yang satu ini terjadi saat kami pembekalan di hari Jumat. Artinya.. latihan kilat alias dadakan..

 Ada seorang kakak tingkat yang mencoba menambah dan mengubah yel – yel kami. Dengan PD alias percaya diri full tank Alhasil.., kakak itu diberi pembekalan yang lebih dahsyat oleh mam Lisa panjang kali lebar. Cas cis cus ces ces cooos… Seisi kelas menyoraki kakak-kakak itu Ditambah mereka tidak memperkenalkan diri kepada Mam Lisa terlebih dahulu, dan bagaimana tidak ma’am lisa  bertambah kesal. Akhirnya, merekapun diberi julukan ‘kakak balinat plus lambing’ hehehehehe…

Dan lomba yang terakhir….. PADUAN SUARA. Dalam bidang ini kami dibina oleh guru Biologi kami, Ibu Kiky. Ia memiliki hobi bernyanyi. Ia juga memiliki suara yang nyaring. Ia mengorbankan 2 jam mapel-nya untuk melatih kami. Baik buanget kan? Ma’am Lisa pun mengunjuk 11 orang di antara kami untuk menjadi anggota padus yang akan menyanyikan lagu Hymne Pramuka, dan Mars Madrasah. Dalam waktu 2 jam itu, kami merasa bahwa kami telah siap. Akhirnya, pelajaran yang seharusnya merupakan biologi kami habiskan dengan bernyanyi. Suaraku pada saat itu terasa seperti suara keledai. Hiiiiihaaaaaa… Parah abis.. dalam hatiku berkata.. ’aku suka lomba, tapi gak lomba ini juga keleeeesss’

 

Tibalah hari PERSAMI  yang ditunggu-tunggu, hari Sabtu. Di pagi hari kami belajar seperti biasa hingga zuhur tiba. Setelah itu kami dikumpulkan di lapangan untuk Check – in. kami berada berjam-jam di lapangan itu dalam keadaan matahari di atas kepala yang tersenyum saaangat lebar. kamipun diperkenankan untuk meletakkan barang-barang kami sesuai kelasnya masing-masing. Dan kebetulan, X Mia-1 itu berada dalam ruangan yang sama dengan X Mia-2. Terjadilah kegiatan hombar balok selama beberapa menit. Sehabis kami siap mengatur barang dan tikar, kami langsung dikumpulkan lagi untuk upacara pembukaan. Penyakitku kumat lagi, penyakit malas dan bosan. Aku paling malas jika disuruh baris, bosan Apalagi kalau barisnya lama. Gak kuat lahir batin. ‘dadyyyyy help me’ teriakku dalam batin.

Twingggg.. ide ku berputar diatas kepala.. ahaaa.. aku pergi ke kamar mandi sendirian. Setelah kupastikan tidak ada siapa-siapa di sana, kumulailah ritualku. Aku berputar secepat yang kubisa di kamar mandi hingga beberapa menit, kuhitung putaranku dalam hati.. 1 putaran, 2, 3, 4, 5 dan…. Akupun merasa pusing, lalu  dengan kondisi pusing aku pergi ke barisan di mana pasukan lain berada. Hasilnya, melihat wajahku yang pucat, kakak tingkat pun merasa iba dan memperkenankanku untuk istirahat. Yesssss...  Ketika yang lainnya berdiri. Aku sangat senang.. pusingkan bisa hilang dalam sekejap, pikirku. Jadi, aku melewati upacara pembukaan dengan bersantai. “Selamaaat Belaa” ucapku dalam hati sambil senyum yang kusembunyikan.

Sebelum upacara, mama dan ayah datang untuk menyemangatiku. mama bertanya apakah aku telah hafal pidato itu. Dan ayah menyuruhku pulang aja jika tidak sanggup. “no daddy.. I can do it, I will do my best” ucapku sambil khwatir yang kusembunyikan karena kenyataannya, aku masih belum menghafal full. Hati dan pikiranku tidak bisa menerimanya. Aku merasa itu mustahil, menghafal pidato dalam waktu sesingkat singkatnya, aku pasrah. Namun, mama tau jika aku hanya bicara saja dan berbohong. Mamapun memanasiku dengan membanding-bandingkan diriku dengan anak lainnya. Mama yang juga sama bidangnya dengan mam Lisa cas cis cusin aku. Akupun kembali menghafal pidato itu mati-matian. AKU HARUS BISA! Tekadku sudah bulat. Masa komandanku lebih bangga sama anak orang?

Kembali saat setelah upacara. Hari telah berganti menjelang sore. Kami diberikan waktu 20 menit untuk menunaikan shalat Asar. Selesai shalat, kami dikumpulkan lagi di lapangan dalam rangka perkenalan diri para kakak tingkat. Selagi mereka asyik bicara aku pun memanggil Tia, teman seangkatanku dari kelas X Mia-2. Ia juga salah satu kontestan lomba pidato itu. Kuinterogasi ia mengenai hafalan pidatonya. Ternyata, ia masih belum hafal total. Hal ini membuatku semakin bersemangat untuk memperlancar pidatoku. Yah, sebenarnya aku tidak peduli dengan perkenalan dan semacamnya. Jadi, aku tidak ambil pusing dengan yang satu itu. Yang penting ada seperjuangan yang belum hafal ‘hehehehe’.

 

Selepas acara perkenalan itu, aku dan Tia ingin mensurvey peserta pesaing kami, mulai dari X Mia-3 hingga Iis-3. Ketika ingin mencari tahu siapakah utusan Mia-3 itu, aku tidak mengenal siapapun di kelas yang bersangkutan, Tia pun angkat suara, “Tuh, kan Bell, aku banyak kenalan di kelas lain. Gak kayak KAU…”. Kalian tahu, ketika mendengar hal itu sumpah serapah kucurahkan di dalam hatiku, namun kutunjukkan senyum jengkel kepada Tia. “iya Tia..” jawabku singkat tersenyum dan kesal disembunyikan.

Adzan berkumandang, kami diberikan waktu sekitar 30 menit untuk ISOMA ( Istirahat, Sholat dan Makan). Kami sholat berjamaah di musolla, pergi ke kelas untuk refreshing, ada yang dandan, bedakan dan parfuman. Maklumlah belum mandi, jadi udah pasti kalau kita bakalan malu kalau bau raflesia arnoldii nya keciuman, kan?.

Kami dikumpulkan kembali di lapangan pentas seni untuk kegiatan selanjutnya, yaitu MAKAN, ini adalah salah satu hobiku yang harus selalu siap sedia, aku tidak bisa menahan rasa lapar. Bagiku lapar adalah musuh bebuyutanku. Dan selanjutnya Kami berlomba untuk mendapatkan lauk terbanyak supaya gak kelaparan nantinya. Ternyata, kami Cuma diberikan waktu 10 menit untuk makan dengan porsi nasi tumpeng itu. Gak boleh ada yang tersisa walau hanya sebutir. Parah baanget kan? Dengan sekuat tenaga kutelan secepat mungkin makananku. Ya.. aku tahu satu hal yang pasti dari sini, AKU BENCI PRAMUKA!

Dalam keadaan setengah sadar karena perutku yang mau meledak ini, pembina mengarahkan kami untuk menunaikan sholat isya’. Berjalan aja udah nggak sanggup, apalagi disuruh sholat… Im done man!

Disinilah diriku, di lapangan pensi lagi. Untung saja makanan di perutku sudah mulai dicerna. Sembari memantapkan pidatoku, aku mendengar kakak pembina akan memulai acara yang selanjutnya yaitu pembekalan dari para legend Pramuka. Saat itu, arlojiku menunjukkan pukul 09.07 WIB. Di tengah mereka sedang asyik-asyiknya menceritakan kisah hidup mereka, aku merasa ada gajah yang berdiri di pelupuk mataku, berat.. Perlahan tapi pasti, kupejamkan mataku dan terbuai dalam tidur yang lelap. ‘huaaaaaahhh’.. mulutku ternganga  dan Aku tertidur tak peduli acara itu..

“adik – adik Pramuka, sekarang kita akan memasuki acara perlombaan yang ditunggu - tunggu! Masih pada ngantuk? Ayo bangun!”. Terdengar suara kakak pramuka sekeras petir. Aku terbangun dan mendengar kata lomba aku langsung beranjak dan bertanya, “ lomba jenis apa yang bakalan dimulai kak? ”. “yel – yel, kemudian paduan suara, dan yang terakhir pidato” jelas kakak pramuka itu.

 Tibalah giliran kami menyorakkan yel – yel andalan, dipimpin oleh Daniel si ketua, Felix sang kutilang (kurus, tinggi, langsing) dan Versa si chubby.

“ SELAMAT MALAM…”, sahut mereka dengan kompak, memberikan salam sebagai tanda dimulainya yel – yel kami. Kami pun langsung bereaksi, “ MALAM, MALAM, MALAM”. Aku mengerahkan seluruh tenaga dalamku. Keringat bercucuran di tubuh kami, bahkan suara mic kalah telak jika dibanding dengan suara kami yang dahsyat, cetar membahana. Daniel pun menutup yel – yel kami dengan salam kembali, dan memberi laporan absensi siswa. Banyak yang tepuk tangan, terlihat wajah ma’am Lisa terharu dan bangga. Sepertinya kami bakalan jadi salah satu juara.

Berakhirnya yel – yel bukan berarti akhir dari perjuangan. Memasuki lomba kedua, yaitu paduan suara. Suara kami saat itu sedang diambang batas. Tapi kami memaksakannya dan berusaha memberi yang terbaik. Tapi apalah daya, kami tak sanggup. Semua nada yang dinyanyikan FALSE. Seperti suara donkey.. tak tentu arah dan nadanya. Aku kesal dan marah-marah tak jelas dengan temanku para anggota padus. Rasanya sudah tak ada harapan lagi untuk mendapatkan yang terbaik, terdengar tertawaan dari grup lainnya, juga terlihat wajah ma’am Lisa yang mengkerut ikut kesal dan malu karena tim kami ditertawakan. Sekarang aku tak peduli lagi, masa bodo dengan mereka. Mau ketawa ketiwi kek yang penting kami sudah berusaha menampilkan yang terbaik.  Aku ingin fokus dengan pidatoku saja.

Satu per satu paduan suara tiap kelas menampilkan keahliannya hingga habis giliran untuk lomba yang satu ini dan mulai memasuki lomba pidato, yang sedang kutunggu-tunggu. Aku pergi ke pentas untuk pengundian nomor peserta, dan mendapatkan nomor 3. Not so bad – lah. Kuamati setiap peserta yang maju, melihat pola mereka hingga tiba giliranku. “inilah dia NPP selanjutnya.. NPP 03” panggil Pemandu acara” Aku memantapkan hatiku, berjalan menuju podium dan mengawalinya dengan salam. Hingga tiba di pertengahan, aku memberi salam Pramuka. Sebenarnya, aku takut mereka tidak akan menggubrisku, karena aku telah memarahi mereka habis – habisan. Tapi, diluar dugaan mereka menjawab salamku dengan sesemangat mungkin. Aku tersenyum, merasa sangat bersalah. Jadi setelah selesai, aku berlari ke barisan dan langsung memeluk teman – temanku. “ maafin aku, ya?”. Mereka kompak menerima permintaan maafku. ” Sebenarnya kami itu mau berteman denganmu, kaunya aja yang menutup diri.. kami jadi engganlah”. Kata salah seorang teman ku. Aku terharu dan menangis disembunyikan.

Malam itu berlangsung sangat panjang. Sejenak terlintas dalam benakku, “inikah Pramuka itu?”. Ternyata mengikuti kegiatan ini tidak semenyeramkan seperti yang kuduga.

Yah, hal selanjutnya adalah api unggun. Menurutku itu biasa aja sih, gak ada yang istimewa sebab kami langsung disuruh tidur mengingat saat itu pukul 01.30 WIB. Tidak dilaksanakannya renungan suci juga membuat kami kesal. Mau tak mau kami harus tidur. Tapi kami tidak langsung tidur dikarenakan kelasku yang satu ruangan dengan kelas Mia – 2. Harus ada ritual hombar balok dulu baru kami bisa tidur. Aku mulai berbaur dengan sesame jenis.

Kegiatan selanjutnya pengumuman pemenang lomba – lomba yang diadakan, kami memenangkan 2 dari 3 perlombaan. Dan keduanya itu mendapatkan peringkat pertama. Dan kalian tau kan, lomba apa yang gagal kami menangkan?  Ya, benar. Paduan suara kami dengan suara legend nya, keledai super. Tapi tak apalah, sebab aku telah meraih juara pertama di bidang pidatoku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada teman – temanku. Sudah bersedia mendukungku walaupun aku seperti ini. Aku yang kekanakan, lupa tempat meletakkan kacamataku dan hal remeh lainnya. Kalian mau membantuku membuatku merasa sangat bersyukur.

Sekianlah, pengalaman Persami ku yang terasa seperti roller Coaster . Aku yang membenci Pramuka berubah menjadi aku yang menikmatinya. Mengetahui isi dasadharma sebagai landasan mereka dan makna hidup yang tidak boleh disia – siakan. Aku juga minta maaf bila masih terdapat banyak kesalahan di dalam kisahku ini.

Salam Pramuka!

142 DIBACA

Kemenag Karo Terima Kunjungan Pokjawas PAK Kemenag Simalungun

Bersikap Terhormat Jika Ingin Dihormati

Petugas Pengelola Keuangan samakan Persepsi pada Aplikasi Keuangan

MTsN Tanjung Pura Meriahkan HUT RI dengan Lomba Antar Kelas

Belajar Origami Online, Menyenangkan, Membuat Semuanya Lebih Paham