Guru SKI dan Siswa Study Tour Lokal Ke Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara

Guru SKI dan Siswa Study Tour Lokal Ke Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara

Barus (Inhum). Guru SKI MTsN Barus Hernidawaty Pasaribu dan siswa kelas IX bersama bantuan guru lainnya melakukan study tour  lokal ke Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara, Selasa 15 Agustus 2017.

Menurut penjelasan Hernidawaty sebagai guru SKI kelas IX, hal ini dilakukan dalam rangka pembelajaran yang memang materinya bersesuaian dengan tempat tersebut dimana judul bab dari pembelajaran yang ada di buku mereka bertemakan Peradaban Islam di Pesisir Pantai Barus Tapanuli Tengah Sumatera Utara dan memang kebetulan posisinya memang berada di daerah lokasi sekolah.

Dalam penuturannya beliau juga mengatakan bahwa sebanyak tujuh rombongan kelas dari siswa kelas IX yang ada di MTsN Barus, semua mendapat giliran hari sesuai dengan roster yang ada. Kelas 9D mendapat jadwal kunjungan itu di hari Kamis, 9A dan 9F di hari Sabtu, 9B dan 9C  di hari Senin dan 9E dan 9G hari Selasa ini.

"Saya sengaja mengaturnya tidak sekaligus semua karena terlalu banyak pun orangnya maka pembelajarannya menjadi tidak optimal," tuturnya.

Beliau juga mengaku bahwa jadwal study tour lokal tersebut diaturnya berbeda dengan jam pembelajaran yang ada di roster yakni semua dipindahkan ke jam terakhir les pembelajaran 7 dan 8. Jika ada salah satu kelas yang jadwalnya tidak sesuai dengan les maka beliau meminta kepada guru lain untuk menaikkan lesnya di kelas tersebut. Alasan utama pergantian les ini dilakukan mengingat jarak antara MTsN Barus dengan lokasi Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara lumayan jauh berkisar 1 KM. Jika hanya menggunakan waktu dua les pembelajaran dirasa tidak akan cukup.

"Waktu tempuh kita saja untuk sampai ke lokasi sudah hampir 30 menit untuk pulang pergi, sementara total waktu yang tersedia hanya 90 menit, saya rasa untuk 60 menit itu tidak cukup untuk menjelaskan secara maksimal apalagi mengamati dan menikmati lokasi itu sendiri," tambahnya.

Dalam study tour yang dilakukannya bersama bantuan dari guru guru yang kebetulan jadwalnya kosong di jam tersebut seperti Guru BK Nurhasanah Daulay dan Suryanti Damanik, Guru Bidang Study Bahasa Inggris Dahmiati Marbun dan guru lainnya, beliau menjelaskan materi pembelajarannya dengan santai dan sekaligus serius.

Sekilas beliau menceritakan kepada inhum tentang materi yang disampaikannya kepada siswa di lokasi tersebut adalah bahwa sebenarnya Islam masuk ke Indonesia pertama kalinya turun di Barus. Dari buku referensinya beliau menyampaikan bahwa sejak abad ke 7 M sudah ada perkampungan Islam di Barus. Kata Barus sesungguhnya berasal dari sumber daya alamnya yang sangat terkenal hingga sampai kepada peradaban Firaun saat itu yang dikenal dengan nama Kapur Barus. Barus dari bahasa Barusai yang artinya bersih dan suci. Dan hubungannya dengan tugu titik nol tersebut merupakan simbolis letak geografis dari posisi perkampungan islam pertama itu. Menurut sejarah berdasarkan fosil fosil yang ditemukan oleh para arkeolog menyatakaan bahwa posisi Barus sekarang sangat berbeda dengan posisi dahulu disebabkan bencana alam seperti tsunami, dan gelombang pasang abrasi pantai. Sehingga orang orang yang berada di posisi Lobotua sebagai tempat pemukimam penduduk berpindah ke daerah Bukit Patupaangan sehingga di lokasi itu sampai sekarang memiliki banyak kuburan para Syekh yang diduga adalah para pedagang yang singgah dan menetap di Barus sambil menyebarkan agama Islam.

"Sebenarnya kehebatan perdagangan dulu berpusat di Barus, namun karena monopoli yang sangat kuat perdagangan tersebut beralih ke Aceh sehingga kejayaan Aceh mengalahkan Barus dan sekaligus menjadikan Aceh lebih dikenal rakyat Indonesia daripada Barus sendiri," ujar guru SKI tersebut menjelaskan kepada siswa/i nya.

Untuk lebih meningkatkan proses pembelajara tersebut Hernidawaty juga menampilkan cerita yang telah di downloadnya dari kemasan salah satu media televisi. Mereka menyaksikan bersama sama acara tersebut dalam tampilan laptop yang dibawanya sambil berbicara sesekali dengan bantuan mikrofon dan soundsystem yang dibawa dari sekolah dengan mobilnya bersama siswa/i yang dilangsir bergiliran.

Diakhir pembelajarannya Hernidawaty menugaskan kepada siswa/i untuk menuliskan kembali dengan kata kata mereka sendiri di kertas doblefolio tentang isi dari sejarah peradaban tersebut secara ringkas, teori teori dan fase fase yang berhubungan dengan penyebarannya dan pendapat dan saran mereka tentang berdirinya tugu titik nol peradaban islam di Nusantara yang langsung diresmikan oleh Presiden RI itu.

Menurut penjelasan Hernidawaty anak anak sangat antusias belajarnya di lokasi tersebut. Mereka mengatakan lebih mendalami pembelajaran jika langsung mengunjungi lokasi yang terkait dengan materi dari sejarah khususnya Sejarah Kebudayaan Islam. Selain itu besar harapan Khairil dan teman temannya bahwa study tour ini tidak hanya sampai disini namun bisa ketempat sejarah sejarah lainnya yang lebih penting lagi bahkan mereka berharap jika posisi itu jauh dari lokasi Madrasah agar mendapat perhatian dari pemerintah setempat untuk membantui mendanai acara stody tournya. (Hikmah)

165 DIBACA

WKM MAN Sibolga, Berbincang Bersama Ditaman Halaman Utama

Menyambut HUT RI ke 72 MIN Sidikalang Laksanakan Kegiatan Perlombaan

Menyambut Hut Kemerdekaan RI ke 72 di MAN 3 Medan

Kemenag Labura Dukung Tim Pengawas Orang Asing

Kakankemenag Labura Pimpin Doa Kegiatan Hari Pangan Sedunia