Selasa,2017-09-05,10:23:15

BERKURBAN DALIH KOSMOLOGIS DAN TEOSENTRIS TERHADAP ALLAH SWT (Denotasi Bahasa dalam Konsep Alquran)

BERKURBAN DALIH KOSMOLOGIS DAN TEOSENTRIS TERHADAP ALLAH SWT (Denotasi Bahasa dalam Konsep Alquran)

Kata ‘kurban’ berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata qaruba (fi’il madhi), yaqrabu (fi’il mudhari’), qurban wa qurbanan (mashdar), artinya ‘mendekati atau menghampiri’. Menurut istilah, kurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya. Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau adh-dhahiyah, dengan bentuk jamaknya ‘al-adhaahi. Kata ini diambil dari kata dhuha, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban.  Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya kurban dan hari-hari tasyriq, sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah swt. Perintah menyembelih hewan kurban sebagaimana dalam firman Allah yang artinya; “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Qs. Al-Kautsar: 1-3).

            Hukum berkurban itu ada tiga, yaitu (1) Wajib bagi yang mampu, sebagaimana dalam firman Allah yang telah disebutkan (Qs. Al-Kautsar;1-3). (2) Sunnah, berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya; “Nabi saw bersabda; saya diperintah untuk menyembelih kurban dank urban itu sunnah bagi kamu”. (3) Sunnah mu’akkad, hal ini berdasarkan pada hadis riwayat Dár al-Quthni, yang artinya ; “Orang yang mampu berkurban tapi tidak berkurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi saw. sebagaimana berikut: “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam al-Hakim). Perkataan Nabi  “fa laa yaqrabanna musholaná” (Janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami) adalah suatu celaan (dzamm), yaitu tidak layaknya seseorang yang tak berkurban padahal mampu untuk mendekati tempat sholat idhul adha. Namun ini bukan celaan yang sangat berat (dzamm syar’i) seperti halnya predikat fahisyah (keji), atau min ‘amali syaithán (termasuk perbuatan syaitan), atau militatan jaahiliyatan (mati jahiliyah) dan sebagainya. Lagi pula meninggalkan sholat Idul Adha tidaklah berdosa, sebab hukumnya sunnah, tidak wajib. Maka, celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram. Namun hukum berkurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadis Nabi saw.; “Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan (bukan maksiat) kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya”. Berkurban juga menjadi wajib, jika seseorang (ketika membeli kambing, misalnya) berkata “ini milik Allah” atau “ini binatang kurban”.

            Setelah penanganan hewan kurban selesai, bagaimana pemanfaatan daging hewan kurban tersebut? Ketentuannya, disunnahkan bagi orang yang berkurban, untuk memakan daging kurban, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, dan menghadiahkan kepada karib kerabat. Nabi saw. Bersabda: “Makanlah daging kurban iut, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan simpanlah” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadis shahih). Berdasarkan hadis itu, pemanfaatan daging kurban dilakukan menjadi tiga bagian/cara, yakni; makanlah, berikanlah kepada fakir miskin, dan simpanlah. Namun pembagian ini sifatnya tidak wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid 1/352, al-Jabari, 1994;Sayyid Sabiq,1987). Orang  yang berkurban, disunnahkan memakan daging kurbannya sesuai hadis di atas. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan semua kepada fakir-miskin, menurut Imam al-Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga dan teman karib (al-Jabari, 1994;Rifa’I et.al, 1978). Akan tetapi jika daging kurban sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua kepada fakir-miskin dan yang berkurban diharamkan memakannya, atau menjualnya (ad-Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984). Pembagian daging kurban kepada fakir dan miskin, boleh dilakukan hingga di luar desa/tempat dari penyembelihan. Bolehkah memberikan daging kurban kepada non-Muslim? Ibnu Quddamah (mazhab Hanbali) dan yang lainnya (al-Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan dengan ulama Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan al-Laits, lebih utama diberikan kepada Muslim (al-Jabari, 1994).

            Penyembelih (jagal), tidak boleh diberi upah dari kurban. Kalau mau memberi upah, hendaklah berasal dari orang yang berkuban dan bukan dari kurban (Abdurrahman, 1990). Hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA; “…..(Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk tidak memberikan kepada penyembelih sesuatu daripadanya (hewan kurban)” (HR. Bukhari dan Muslim) (al-Jabari, 1994). Tapi jika jagal (penyembelih) termasuk orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging kurban. Namun pemberian tersebut bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah dia miskin atau fakir (al-Jabari, 1994). Menjual kulit hewan adalah haram, demikianlah pendapat para jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid 1/352) Dalilnya sebagaimana berikut; “Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (kurban orang haji) dan daging kurban, makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya..” (HR. Ahmad) (Matdawam, 1984). Sebagian ulama seperti golongan penganut mazhab Hanafi, al-Hasan, dan al-Auza’i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati adalah janganlah orang yang berkurban menjual kulit hewan kurban. Imam Ahmad bin Hanbal sampai berkata; “Subhanallah! Bagaimana harus menjual kulit hewan kurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah? (al-Jabari, 1994).

            Kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Jika kemudian orang fakir dan miskin itu menjualnya, hukumnya boleh. Sebab menurut pemahaman sebagian, bahwa larangan menjual kulit hewan kurban tertuju kepada orang yang berkurban saja, tidak mencakup orang fakir atau miskin yang diberi sedekah kulit hewan oleh orang yang berkurban. Dapat juga kulit hewan itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, misalnya dibuat alas duduk dan sajadah di mesjid, kaligrafi Islami dan sebagainya. Ada empat hikmah yang terkandung dari berkurban, di antaranya;

  1. Menambah cinta kita kepada Allah swt;
  2. Akan menambah keimanan kita kepada Allah swt;
  3. Dengan berkurban, berarti kita telah bersyukur kepada Allah swt. Atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan pada diri kita;
  4. Dengan berkurban, berarti kita telah berbakti kepada oraong lain, di mana tolong menolong, kasih mengasihi dan rasa solidaritas dan toleransi memang dianjurkan oleh agama Islam.

Penyembelihan hewan kurban tidak terlepas dari denotasi dan konotasi kontekstualitas kemerdakaan dan perayaan hari besar Islam yang kedua, yakni Idul Adha. Hari raya Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai, yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Allah swt. yang bersifat transcendental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban, bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum du’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum Muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap untuk saling menyayangi terhadap sesama. Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yanag disampaikan dalam Alquran, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya semangat untuk terus ‘berkurban’ senantiasa dilaksanakan secara kontuinitas pasca Idul Adha.

            Hari raya Idul Adha juga merupakan relfkesi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia pada masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan oleh Nabi Ibrahim. Idul Adha bermakna keteladanan Nabi Ibrahim yang mampu mentransformasi atau mentransmisikan pesan agama dan keagamaan ke dalam aksi fakta empiris, dialogis, analogical dan mafhum (paham) perjuangan kemanusiaan. Atas dasar spiritual Nabi Ibrahim, Idul Adha memiliki tiga makna penting sekaligus, Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang khalik. Kurban adalah symbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang Pencipta, sekalipun dalam bentuk pengkurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi dan sayangi. Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin untuk mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah berkurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Kurban adalah media ritual, selain zakat, infak dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaan sosial tersebut. Ketiga, makna bahwa apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki. Oleh karenanya dengan demikian marilah kita rangkaikan makna berkurban dalam denotasi dan konotasi kepada makhluk sesama di bawah konsep Ilahiyah sebagai bukti pengorbanan umat Muslim di hadapan hukum Allah, baik di dunia maupun di akhirat dalam keberkahan dan keselamatan. Kiranya kita mendapatkan reward (penghargaan) di yaumil masyhar kelak Amin……

 

Oleh : Hendripal Panjaitan.S.Pd.MA.

(Dosen UIN-SU,UNIVA,STMIK TGD,UPMI, STAIJM,STIE NUSA BANGSA,STKIP RIAMA, UNDHAR, dan STAIS ASSUNNAH  )

85 DIBACA
Selasa,2017-09-05,10:02:02

MAN Binjai Berhasil Lelang BMN Berupa Satu Paket Inventaris

Selasa,2017-09-05,09:47:15

Kesadaranku Akan Nikmat Mu Tuhan

Selasa,2017-09-05,09:19:15

Berbagi Kebahagiaan Idul Adha, MAN Binjai Kurban Empat Ekor Sapi

Selasa,2017-09-05,09:18:29

Besok Malam Jemaah Haji Kloter I Tiba di Tanah Air

Selasa,2017-09-05,08:37:45

Puskesmas Hutarakyat Laksanakan Sosialisasi Kesehatan di MIN Sidikalang


0 Komentar :