Jumat,2017-09-08,19:38:37

KASIH SAYANG BUNDA

KASIH SAYANG BUNDA

Di tengah matahari yang masih mengintip di ufuk timur bunda telah menyiapkan teh untuk ayah. Pagi itu masih dingin sehingga aku masih dibawah selimutku yang hangat. Bunda menyuruh untuk mandi, sholat dan bergegas ke sekolah. Ia membangunkanku yang masih tertidur. “Sa....Bangun. Udah pagi, ayo cepat ke sekolah. Bunda udah nyiapin sarapan buat kamu sayang.” Badanku digoyangkan oleh bunda, sehingga aku terbangun dan langsung menuju kamar mandi . Setelah aku bersiap-siap, aku menuju meja makan untuk sarapan. Bunda telah menyiapkan sarapan untukku, yaitu roti selai kacang. Sehabis makan aku lupa menghabiskan susuku. “Sa...Habisin susunya sayang mubajir,” Bunda berkata. “Iya Sasa..Habisin susunya” tambah Ayah. Karena perutku sudah kenyang, aku tidak bisa menghabiskan susu lagi. “Udah ya bun. Sasa udah kenyang. Pamit dulu bunda.” Bunda membalasnya dengan senyuman. Ayah pamit dengan bunda, “Bun. Ayah pamit dulu ya. Assalamualaikum.” “Walaikumsalam” jawab Bunda.

Aku diantar oleh ayah ke sekolah. Aku menyalam ayah. Di dekat gerbang sekolah, aku melihat anak yang usianya sebaya denganku. Bajunya kotor dan tidak layak pakai. Aku sangat kasihan dengannya . ternyata dia seorang pemulung, yang harus menafkahi keluarganya. Aku melihat adiknya yang masih kecil. Oh Tuhan mengapa engkau berikan dia cobaan yang berat. Pikirku dalam hati. Bel sekolah berbunyi aku masuk ke sekolah dan belajar.

Setelah pelajaran di sekolah usai. Ternyata hari sangat gelap aku pergi ke masjid untuk sholat Dzuhur dan juga berteduh. Di saat yang bersamaan, aku melihat seorang anak pemulung tadi. Ia sama sama melaksanakan sholat denganku. Aku melihatnya, setelah itu kami berbincang-bincang dengannya. Ternyata namanya adalah Nabila. Ia adalah tulang punggung keluarga. Setiap hari dia memungut sampah dan dijual demi sesuap nasi. Kadang kadang dia menabung untuk biaya berobat ibunya yang sedang sakit keras. Ia berkata kepadaku “Biarlah aku menjadi tulang punggung keluarga ataupun dicaci oleh anak-anak lain. Karena, aku punya satu harapan, yaitu agar bisa menyembuhkan ibu apapun caranya!.” Aku tertegun mendengar ucapannya. Setelah itu bayangan Nabila perlahan sirna dari hadapanku. Aku tidak pernah membayangkan, dia sangat peduli dengan ibunya. Sedangkan aku, aku selalu manja dengan Bunda. Tiba-tiba suara sepeda motor datang menghampiriku. “Loh!. Kok Bunda naik motor lain?.” “Motor Bunda tinggal di bengkel sayang, Ini bunda pinjam sama orang yang punya bengkel, Kasihan kamu nunggu kelamaan.” Aku terdiam sesaat mendengar kata-kata bunda. Hatiku tidak pernah menyangka kalau bunda sebaik ini. Aku selalu mngecewakannya dalam berbagai hal. Tapi ia tetap sabar dan tabah dalam menghadapiku. “Maafkan aku bunda!.”

Aku pulang bersama bunda. Kami berhenti di bengkel. “Ini Bu kuncinya. Bannya sudah saya tambal.” “Makasih ya pak!.” Jawab ibu. Aku pulang naik sepeda motor. Sesampainya di rumah, bunda memarkirkan  motornya di garasi. Ia langsung pergi ke kamar. Aku pergi ke kamarku dan mengganti baju. Aku pergi ke kamar bunda. Ternyata, kening bunda panas. Ia  terbangun lalu berkata kepadaku “Sa...Kamu udah ganti baju, cepat makan bunda udah nyiapin bubur buat kamu sayang.” Ia tertidur lelap dan aku mengkompreskan kain ke keningnya. Setelah itu ayah pulang dari kantor. “Sa...bunda mana. Ayah lihat di gak ada di depan.” “Bunda lagi dikamarnya, Yah.” Begitu jawabku dingin. Ayah langsung masuk ke kamar dan aku pergi ke dapur untuk makan. Selesai makan aku lewat dari kamar bunda. Aku mendengar ayah berbincang dengan bunda. “Bun, kenapa bunda jemput sasa. Kalau hujan bunda telpon ayah ajah biar ayah selesaikan berkas dan langsung pergi jemput sasa.” “Gak usah Yah, nanti sasa nunggin kelamaan. Lagian ayah kan lagi sibuk.” Jawab bunda singkat

Aku teringat kata-kata yang bunda ucapkan. Ternyata sebelumnya dia demam. Tetapi memaksakan diri untuk menjemput aku. Andaikan aku tahu bunda, aku tidak akan merengek kepadamu. Biarlah aku yang demam asalkan jangan engkau. Karena kau adalah mentari dalam hidupku. Benar kata pepatah ‘kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah’. Sekali lagi maafkan aku Bunda.....

 

Karya : Nazwah Zakiya Zahrah Pardosi

Siswi Kelas VII MTsN Barus

 

121 DIBACA
Jumat,2017-09-08,17:59:25

Kaur TU Monitoring Ketersediaan Peralatan Laboratorium Biologi

Jumat,2017-09-08,17:30:38

GERSANA MAN Binjai Sebagai Konselor dan Advisor P4GN

Jumat,2017-09-08,17:18:17

Berprestasi Bersama Klub Seni MAN 2 Padangsidimpuan

Jumat,2017-09-08,17:14:16

Satgas Bahaya Narkoba MAN Binjai Memiliki Andil Dalam P4GN

Jumat,2017-09-08,17:08:11

PPK Bimas Katolik Meninjau Perkembangan Pembangunan SMAK St Thomas Rasul


0 Komentar :