Jumat,2017-09-08,20:02:43

VIOLET PAYUNG BIRU

VIOLET PAYUNG BIRU

Kubuka mataku pelan-pelan. Kutatap sekeliling dengan penglihatan remang-remang. Hari sudah pagi rupanya. Malam ini tidurku sangat nyenyak mungkin karena esoknya hari libur. Belum lagi ditambah hujan yang turun. Perlahan-lahan aku bangun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi dan mencuci muka. Setelah itu, aku keluar dari kamar dan mencari ibu. Langkahku terhenti saat kutatap dibalik jendela kaca rumah, hujan rintik-rintik membasahi tanah. Hujan belum berhenti-berhenti sejak tadi malam. Aku duduk sebentar, kugeser kursi rotan itu dan kudiamkan tepat di dekat jendela. Kubuka kaca jendela lalu kunikmati hawa tanah yang basah oleh air hujan. Kupejamkan mata, memang sangat khas baunya. Air hujan selalu menenangkan hatiku. Kutatap daun-daun dan bunga seolah bersorak gembira setelah hujan turun. Memang benar, hujan adalah rahmat bagi seluruh alam.

Kulihat dari kejauhan seorang perempuan berbaju biru dan memakai payung biru sedang berjalan menuju ke arah rumah. Aku tersenyum lebar, ah ternyata itu ibu. Aku bangkit dari kursi dan segera membuka pintu. Dengan gembira kubuka pintu depan rumah, aku cemberut, ibu dimana? Kenapa tidak ada? Ah, mungkin ibu dari pintu belakang. Aku segera berlari menuju dapur dan benar dugaanku ibu lewat pintu belakang rupanya.

"Kukira ibu lewat pintu depan," ucapku pelan.

"Dari belakang lebih cepat," jawab ibu singkat sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala dan mengamati apa yang ibu lakukan.

"Hmm, ibu sangat suka payung biru itu kan?" tanyaku penasaran saat ibu meletakkan payung  di dekat rak sepatu.

"Ini peninggalan nenekmu, Ham. Nenek kan suka sekali warna biru," jawab ibu tanpa menatapku.

"Ibu juga suka warna biru kan? Kita sama saja, aku juga suka warna biru," ujarku dengan mulut sedikit monyong.

Ibu hanya terseyum tanpa menjawab lagi.

Aku memberanikan diri bertanya tentang payung biru itu. Selama ini aku selalu memendam pernyataan yang sudah sangat mengusik dari teman-temanku.

" Ibu sayang, kenapa sih! hujan tak hujan, tiap ke luar rumah selalu pakai payung. Dan harus payung biru itu juga. Ibu jadi terkenal di wilayah ini karena kebiasaan itu. Teman-temanku bilang ibu aneh," tanyaku sambil menatap ibu penuh harap.

"Nanti kau juga mengerti Hamna kenapa ibu seperti ini," jawab ibu pendek.

 

Aku terdiam mencoba mencerna kata-kata ibu. Aku mengangguk-angguk sendiri, ah sudahlah. Itu tidak penting, mungkin karena ibu juga pecinta warna biru makanya ia selalu pakai payung biru. Aku sendiri juga jika disuruh memilih aku pasti akan memilih warna biru, sama seperti ibu.

*******

"Kenapa belum siap-siap katanya mau latihan menari?"

Aku menepuk jidat. Aduh, aku lupa hari ini ada janji bersama teman-teman latihan menari untuk acara di sekolah. Aku segera berlari ke kamar dan berkemas-kemas. Dalam jangka beberapa menit, semua selesai. Kusalam ibu di dapur dan bergegas ke depan rumah untuk menunggu becak.

"Tidak sarapan dulu?" teriak ibu.

"Tak sempat, bu. Nanti saja."

Sesampainya di depan pintu, kulihat ayah sedang membaca koran. Kusalam juga ayah dan pergi.

"Atau ayah antar saja biar cepat,bagaimana?" tawar ayah padaku.

"Tidak usah,yah. Aku naik becak saja" kataku sambil menimbang-nimbang.

Ayah mengangguk. Aku menuju gerbang rumah. Selang beberapa menit aku menunggu, becak datang dari kejauhan. Aku bernapas lega dan naik ke becak dengan cepat-cepat.

Sesampainya di sekolah, aku berlari menuju ruang seni. Teman-temanku sudah menunggu wajah mereka terlihat kesal. Aku bingung harus menjawab apa, ini memang salahku.

"Maaf ya teman-teman. Tidurku sangat nyenyak, ditambah lagi hujan jadi semakin nyenyak. Lagian  pagi ini hujan masih turun juga, kukira kalian datang telat," jelasku pada mereka.

"Alasan! Pakai saja payung biru ibumu itu supaya cepat sampai ke sekolah. Iyakan?" ujar salah seorang dari mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak. Hatiku terpukul.Kuelus dadaku yang mulai bergetar.

Aku terdiam dan menunduk. Orang-orang memang sering mengejek ibu gara-gara payung biru itu. Pernah sekali ibu datang mengantar bekalku yang tertinggal ke sekolah dan memakai payung biru. Padahal itu adalah hari yang sangat terik. Sejak saat itu orang-orang mengejekku, mengataiku bahwa aku punya ibu yang aneh. Aku tidak peduli, itu kata orang-orang. Kataku ibu itu hebat, meski kadang-kadang aku juga suka kesal melihat sikap ibu itu.

Maya, temanku akrabku, berusaha menenangkan suasana dan mengajak untuk latihan. Mereka yang lain mengiyakan lalu kami pun segera latihan. Kuletakkan tasku di atas meja dan kucari selendang di dalamnya. Aku mematung, selendangnya di mana?  Aah, jangan-jangan ketinggalan. Aku membongkar tas dan tak ketemu juga. Sekarang aku tambah panik, kugigit jariku dan napasku mulai tak teratur. Sudah datang telat, selendang ketinggalan lagi. Bisa-bisa aku dimarahi,dihukum atau mungin dikeluarkan dari grup karena tidak disiplin.

*******

Seseorang datang mengetuk ruang seni. Ketua tari membukanya, itu ayah. Dia basah kuyup dan memegang selendang di tangannya. Itu selendangku, aku sangat senang. Kuhampiri ayah ke luar dan kupeluk meski ayah basah. Ayah memelukku balik dan suara isak tangis keluar dari mulut ayah. Aku melepaskan pelukan dan menyeka air mata di pipi ayah.

"Ayah kenapa menangis?"

Ayah diam saja, tak menjawab. Dia melihat payung yang diletakkannnya di bawah.

"Ini payung ibu, ibu dimana ayah?" tanyaku untuk yang kedua kali.

Ayah mengajakku pulang tanpa sepatah kata pun, dia hanya memberi isyarat. Aku heran dengan ayah. Kuikuti saja langkahnya ke luar menuju mobil, masalah latihan tari, atau aku dikeluarkan aku tak peduli lagi. Sekarang ini yang harus kuselesaikan, ada apa dengan ayah? Mengapa ia menangis? Ini tak biasanya.

Mobil ayah melaju pelan-pelan ditengah derasnya hujan. Kami sampai di sebuah tempat. Rumah sakit? Untuk apa kami ke sini. Apa ayah sakit? Aku turun dari mobil dan mengikuti jejak ayah. Ayah lalu mengajakku ke UGD. Kupegang terus payung biru ibu ini. Jantungku berdebar-debar. Ayah membuka pintu, tak ada siapa-siapa.

Ayah berlari ke luar dan menuju ke lantai dasar rumah sakit. Ayah berbicara dengan seorang suster. Aku menatap dari kejauhan mencoba memahami apa pembicaraan mereka. Selesai berbincang, sang suster meninggalkan ayah. Ayah terdiam cukup lama dan kembali meneteskan air  mata. Ayah menatapku dengan wajah pucat pasi dan setengah berlari menuju ke arahku, memelukku erat dan mengusap kepalaku. Berkali-kali ayah mencium keningku. Entah kenapa air mataku juga ikut menetes. Bodoh memang, tanpa tahu sebab dan akibat, menangis begitu saja. Ayah melepaskan pelukannya dan menatap wajahku dalam-dalam.

"Tadi ibu memanggil dan mengejarmu sesaat setelah naik ke becak. Selendangmu ketinggalan di atas meja ruang tengah, tapi kau tak mendengarnya, nak. Ibu lalu berpamitan mengantar selendangmu ke sekolah. Di tengah jalan datang angin kuat, payung ibumu terbang ke jalan raya. Ibumu berlari dan berusaha untuk mendapatkan payung biru itu. Ibumu ditabrak mobil. Tadinya ibu ada diruang UGD, ayah meninggalkannya sebentar lalu menjemputmu ke sekolah. Tapi saat kita sampai, suster bilang nyawa ibu sudah tidak bisa tertolong. Dan sekarang, jenazah ibu ada di ruang mayat. Bahkan untuk melihat napas terakhir ibumu pun kita tak diberi kesempatan oleh Allah, nak. "  Ayah menjelaskan panjang lebar. Suaranya perlahan-lahan semakin pelan. Ayah melepaskan pelukan dan tertunduk ke bawah. Ayah menangis dengan suara tertahan.

 

Aku mematung diposisi. Urat nadiku seolah berhenti, darahku membeku. Tangan dan kakiku keram, dadaku sesak, aku sulit bernapas. Otakku terasa berhenti berjalan. Seolah bermimpi, tadi pagi aku masih bercakap-cakap dengan ibu. Lalu sekarang?

"Payung biru itu adalah separuh jiwa ibumu, nak. Sewaktu nenekmu meninggal, hanya itu yang dititipkan untuk ibu. Ibumu sebenarnya belum bisa melepas kepergian nenek sampai sekarang, itulah sebabnya ibu selalu pakai payung biru kemanapun. Katanya nenek terasa dekat dengannya jika ia memakai payung itu bersamanya. Atas nama ibu, ayah minta maaf jika teman-temanmu mengejekmu kalau kau punya ibu yang aneh, nak."

Aku menggeleng. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak malu walau teman-teman berkata seperti itu. Tetapi mulutku seolah dikunci untuk tidak berbicara. Aku hanya bisa menangis cengeng, sama seperti ayah. Kuhapus air mata dipipiku. Aku menatap ayah dalam-dalam. Kutarik tangan ayah dan menyuruhnya bangkit. Kutuntun ayah ke ruang jenazah. Sesampainya di pintu ruangan, ayah tak mau masuk. Aku memegang tangan ayah dan menariknya ke dalam.

Kututup mulutku dan kudongakkan wajahku ke atas agar air mataku tak mengalir. Ayah membuka kain penutup jenazah ibu dengan gemetar dan isak tangis. Aku menatap kosong ke arah mayat ibu. Aku menunduk dan bersimpuh. Ibu, kau tidak aneh, ibu adalah ibuku yang paling mengagumkan. Ibu bilang nanti aku akan mengerti apa alasan ibu memakai payung biru ini kemanapun ibu pergi. Bu, sekarang aku sudah paham, kenapa ibu pergi saat aku sudah mengerti? Aku memeluk payung ibu erat. Aku berteriak dalam hati dan memanggil nama ibu. Ini adalah peninggalan ibu, sama seperti nenek memberikannya kepada ibu. Maka sekarang ibu meberikan payung ini padaku juga. Aku akan menjaganya bu, kita bertiga dekat. Sangat dekat, nenek, ibu dan aku.

 

Karya : WINDA HARI SIREGAR

Siswa MAN 2 Model Padangsidimpuan

339 DIBACA
Jumat,2017-09-08,19:38:37

KASIH SAYANG BUNDA

Jumat,2017-09-08,17:59:25

Kaur TU Monitoring Ketersediaan Peralatan Laboratorium Biologi

Jumat,2017-09-08,17:30:38

GERSANA MAN Binjai Sebagai Konselor dan Advisor P4GN

Jumat,2017-09-08,17:18:17

Berprestasi Bersama Klub Seni MAN 2 Padangsidimpuan

Jumat,2017-09-08,17:14:16

Satgas Bahaya Narkoba MAN Binjai Memiliki Andil Dalam P4GN


0 Komentar :