Kamis,2017-09-14,10:21:14

SELAMATKAN SUKU ROHINGYA

SELAMATKAN SUKU ROHINGYA

            Kala itu, matahari telah naik dari peraduannya. Tetesan embun telah membasahi dedaunan. Sejuknya matahari dan tetesan embun pagi itu membangunkanku dari tidurku. Aku terbangun, tidak lama kemudian aku melihat ibu yang sedang berlari terbirit birit.Aku hanya memperhatikan langkahnya.

           “Ayo nak kita pergi! Mereka datang!.”Kata ibu yang mengajakku. Apakah tentara militer itu datang lagi? Apakah kami akan disandera kembali?. Pertanyaan itu terus ada di kepalaku. Tanpa pikir panjang aku langsung lari bersama ibu. Di tengah perjalanan, aku melihat ibu yang sedang menangis begitu juga dengan warga lainnya.

            “ Ibu, kenapa ibu menangis?.” Kataku berusaha menanya ibu. Tiba-tiba suara senapan datang dari arah lain.

            “ Serang !.” kata ketua tentara itu memerintah awaknya. Kami semua berlari termasuk anak kecil yang sebaya denganku. Dia kelihatan menangis tetapi Ia tidak pergi berlari bersama kami. Ibunya sedih meninggalkan anaknya yang masih usia baya itu. Ia pergi kembali, tapi sudah terlambat ia disandera dan juga anaknya.

            Setelah berhari-hari kami berjalan kami beristirahat di tepi sungai. Karena ibu banyak menangis mata ibu bengkak. Aku berusaha bertanya kepada ibu, tapi ibu diam membisu. Aku berusaha menanya orang lain. Kenapa mereka ditangkap? Apa salah mereka? Gumamku dalam hati. Tiba-tiba datang seorang wanita yang sudah tua.

            “Mereka adalah penjahat, mereka menyandera kita atau bahkan memperlakukan kita dengan tidak baik. Mereka akan membakar, menculik, membunuh, memperkosa siapapun yang tidak menuruti perintah mereka. Apa kau melihat ibu-ibu tadi?. Ia akan diperlakukan seperti itu bahkan dalam bentuk kelompok.” Jawab wanita itu.

            “ Dibunuh.” Jawabku gemetar.

            “ Iya. Kalau bayi akan dibakar dan kalau perempuan akan diperkosa secara bergilir biar itu masih kecil atau dewasa.” Jawab wanita itu singkat. Ia lalu pergi meninggalkanku dan pergi ke tempatnya semula. Aku yang mendengarnya gemetar. Apakah ibu-ibu tadi akan diperlakukan seperti itu. Air mataku metetes melihat kepedihan orang – orang yang telah dibuat seperti itu. Tak pernah kulihat wanita akan direndahkan martabatnya hanya karena itu.

***

Setelah berhari – hari kami berjalan sampailah kami di dekat sebuah pantai. Aku juga melihat orang-orang lain yang merasa letih. Yang membuatku prihatin adalah aku melihat anak-anak di bawahku yang berdarah. Ia tetap berjalan walaupun tubuhnya dilumuri darah. Aku melihat ia menangis. Aku berusaha mendekatinya.

            “ Kenapa engkau menangis.” Tanyaku terbatah-batah

            “Aku mau selamatkan ibu, tapi ibu melarangku untuk ikut. Karena aku tetap ikut mereka menembak ibu lalu pergi mencari orang Rohingya lainnya. Aku menangis melihat ibu yang berlumuran darah aku memeluknya dan setelah itu mereka membawa ibu pergi”. Katanya kepadaku aku sangatlah iba kepadanya. Aku menangis melihat anak tadi berlumuran darah ibunya. Aku tidak pernah membayangkan anak-anak yang ditinggal ibunya.

            Tiba-tiba kami dikepung oleh tentara tadi. Kami tidak bisa melarikan diri akhirnya kami disandera. Kami berjalan mengikuti tentara tadi. Aku tidak melihat ibu. Ibu dimana kau?

            Dari jauh aku melihat ibu sedang digandeng oleh tentara tadi. Wajah ibu lemas tidak berdaya.

            “Santapan  malam  ini!.” Kata tentara itu. Apa maksudnya santapan itu? Setelah kami sampai di pos tentara itu aku melihat banyak bangkai manusia. Wanita yang wajahnya murung dan tidak berpakaian. Jasad-jasad anak baik yang habis dibakar. Sungguh kejam kau tentara gumamku dalam hati. Saat malam aku melihat ibu-ibu yang diikat tangannya dengan tali mereka menangis dan memohon agar dibebaskan. Saat tentara lain sudah siap menyalakan api satu persatu ibu  tadi didorong dan dibakar. Itu adalah pemandangan yang mengerikan dalam hidupku. Dari arah yang sama aku melihat ibu juga diikat dengan tali seketika itu aku teriak agar ibu dilepaskan. Tetapi salah satu tentara itu menutup mulutku. Tiba-tiba datang suku Rohingnya yang membacok satu persatu pasukan tentara itu. Tapi terlambat ibu sudah dimasukkan ke dalam api tadi. Tubuh ini serasa tipis melihat ibu yang nyaris terbakar. Tetesan air mata mengalir begitu derasnya. Raga tubuh ini serasa terombang ambing melihat ibu yang hangus terbakar. Apa salah kami? Apa salah suku Rohingya? Mengapa engkau jadikan tubuh ini menjadi bahan pertumpahan darah?

 

KARYA : NAZWAH ZAKIYA ZAHRAH PARDOSI

SISWI KELAS VII MTsN BARUS

           

188 DIBACA
Kamis,2017-09-14,10:14:29

Kepala MAN 2 Model Medan Lepas Keberangkatan Peserta JUMBARA 2017

Kamis,2017-09-14,10:00:53

Penyuluh Agama Islam Harus Melaksanakan Fungsi Penyuluhan

Kamis,2017-09-14,09:40:58

Magrib Mengaji Terdengar di Masjid Al Syafaat Pematangsiantar

Kamis,2017-09-14,09:34:42

MTsN Siantar Kembali Ukir Prestasi

Kamis,2017-09-14,09:27:19

TUGAS GURU PIKET DALAM MENERTIBKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI MAN SIDIKALANG


0 Komentar :