Kamis,2017-09-14,12:04:29

PILU DI LANGIT ROHINGYA

PILU DI LANGIT ROHINGYA

Seorang  gadis malang bersembunyi di balik ilalang dengan wajah yang pucat dan tangan gemetar. Ia memegang sebuah  tasbih di tangan kanannya sedang tangan kirinya mengusap-usap luka Fatimah, adik bungsunya yang tertembak di bagian lengan kiri. Berulang kali ia mengucap lafadz Allah...Allah...Allah. Tetesan sungai-sungai kecil mengalir deras di pipi Zulaikha. Dengan obat-obatan yang didapat dari alam yang dikombinasikan sedemikian rupa, Zulaikha mengobati adiknya. Di depan matanya, ia jelas menyaksikan  bagaimana ayah dan ibunya disiksa habis-habisan dan dibakar hidup-hidup oleh tentara Myanmar laknatullah alaih. "Astaghfirulloh....Yaa Allah...kuatkan hambaMu," ucap Zulaikha dengan nada terbata-bata.

Zulaikha menatap sekeliling. Daerahnya telah porak poranda, semuanya hancur. Rumah-rumah umat muslim di negara bagian Rakhine dikepung tentara Myanmar, manusia berwajah serigala yang haus darah. Mereka terus menyerbu, menyiksa siapa saja muslim yang tak berdosa. Tua, muda, wanita dan anak-anak jadi sasaran rezim bar-bar pemerintahan Myanmar. Entah apa yang mereka inginkan.

 Zulaikha melepas jilbabnya untuk menghilangkan identitasnya sebagai umat muslim Rohingnya dan pergi melanglang buana mencari udara yang segar untuk bernapas, yang  jauh dari kebisingan peluru tajam tentara biadab Myanmar, pembakaran, penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan. Dengan langkah yang tersendat-sendat, Zulaikha menggendong adik bungsunya yang masih berusia 7 tahun itu. Hatinya telah ia lapangkan, orangtuanya sudah tiada. Mereka tinggal berdua, semua pergi entah kemana. Ditelan bumi, hilang dan bersembunyi.

"Ya Allah, keluarga hamba sudah  tiada. Hati ini serasa dicabik-cabik oleh pisau panas. Ya..Allah, kuatkan setiap langkah hamba, hamba ikhlas ya Allah, Engkau maha tahu segalanya. Hamba ikhlas, hamba ikhlas..." kalimat tersebut berulang kali melantun dari mulut Zulaikha, gadis belia 17 tahun yang diberikan cobaan berat oleh Allah, sangat berat.

 Di tepi sungai Rakhine, Zulaikha memberi adiknya minum dengan air sungai. Dengan mata sayu dan bercak darah yang telah mengering, Fatimah tersenyum pasi dan mengelus pipi kakanya,Zulaikha.

"Kak,kenapa tidak pakai jilbab? Nanti bunda marah," ucap Fatimah dengan pelan, sangat pelan.

Zulaikha kembali menitikkan air mata. Ia mencium rambut Fatimah. Napasnya sesak, dadanya serasa dipenuhi banyak sekali debu, tangannya sudah tidak sekuat dulu. "Andai kau tahu dik, kita tinggal berdua sekarang. Entah bagaimana caraku menjelaskan padamu," Ucap Zulaikha dalam hati.

"Kak, mana bunda sama ayah?"

Zulaikha mematung sambil mendekap Fatimah. Buliran air matanya tak kuasa untuk ditahan. Kata-kata yang barusan diucapkan adiknya adalah pertanyaan tersulit yang harus ia jawab.

"Kak?" Fatimah bangkit dari pangkuan Zulaikha.

"Bunda sama ayah pergi ke suatu tempat yang indah," jawab Zulaikha dengan suara yang perlahan-lahan mengecil dan hilang.

 "Tempat yang indah?"  mata Fatimah menerawang  jauh entah ke mana.

Door...! Suara tembakan terdengar kembali.

"Fatimaah...!" Jeritan Zulaikha menggema. Sebuah peluru tajam menembus punggung Fatimah. Dari balik terowongan jembatan di pinggiran sungai, seorang tentara Myanmar bersembunyi dan memata-matai keduanya. Peluru tersebut tepat sasaran. Zulaikha menarik-narik rambutnya. Ia berteriak sangat keras, ini adalah kesalahannya, ia lupa melepas jilbab Fatimah. Ia tidak peduli pada tentara Myanmar yang telah mendekat.

"Kau juga akan kubunuh!" teriak tentara Myanmar sambil membawa logo poster 786 yang berarti simbol umat muslim Myanmar.

"Tidak. Aku bukan muslim," ujar Zulaikha dan mengambil sesuatu dari sakunya. Ia menunjukkan logo 969 yang merupakan simbol poster gerakan anti muslim Myanmar yang merupakan prakarsa dari Ashin Wirathu, biksu Myanmar yang sangat anti pada umat muslim.

Tentara tersebut menurunkan senapannya dan memperhatikan Zulaikha dengan sangar. Seakan ragu, ia menatap Zulaikha sangat lama.

"Aku tidak berjilbab. Aku tidak menipu, gadis kecil ini kutemukan di utara perbatasan, percayalah," jelas Zulaikha dengan nada memohon.

Tentara tersebut mengangguk dan pergi meninggalkan keduanya. Zulaikha menahan tangis dan membawa adiknya yang telah wafat ke bawah terowongan. Ia cium Fatimah di tanah yang sudah merah, merah darah dari jasad suci Fatimah. Zulaikha naik ke salah satu batu yang cukup tinggi dan berteriak sekuat-kuatnya.

"Ya Allah, aku muslim. Aku muslim. Maafkan hamba atas kebohongan yang sudah hamba ucapkan. Apakah setiap hari hamba harus berbohong agar bisa hidup?" Zulaikha menatap jenazah adiknya yang terkena tembakan.

 Zulaikha melirik poster logo 969 yang ia dapatkan dari tonggak listrik yang ditempel rapi di setiap persimpangan jalan. Dimana saja ada logo tersebut, semua orang seakan membenci Zulaikha dan agamanya. Di toko, di rumah makan, semua tempat memasangnya. Zulaikha mengambil satu dan mengantonginya. Allah masih bersama Zulaikha. Berkah logo tersebut, nyawa Zulaikha terselamatkan. Ia membongkar kembali sakunya. Poster 786 miliknya digenggam erat. Tasbih kembali ia lantunkan, Zulaikha berserah diri kepada ilahi rabbi. Ia menghapus air matanya dan segera mencari tempat untuk menguburkan Fatimah.

Semua telah selesai. Zulaikha berlari ke arah laut. Langkahnya terhenti saat menatap sebuah kapal yang berlayar entah ke arah mana. Ia menyipitkan matanya dan tersenyum. Mereka adalah gerombolan muslim Rohingya yang melarikan diri mencari tempat aman. Tempat aman yang bisa  menerima mereka.

Zulaikha melempari kerikil-kerikil kecil yang tersembunyi di dalam pasir. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap senja yang  mampir di penghujung langit Myanmar. Memorinya mengingat kembali semua umat muslim yang telah tiada dan yang akan sebentar lagi tiada. Ia bahkan memikirkan bagaimana nasib seorang ibu yang sedang hamil, seorang nenek tua yang sebatang kara yang sudah tidak mampu berjalan apalagi berlari. Apakah mereka semua masih hidup? Adakah harapan yang bisa dijanjikan pada mereka dan padaku juga?

Semua orang kini telah pergi ke surga. Mereka dipanggil terlebih dahulu oleh yang maha kuasa. Kini, Zulaikha bimbang entah ia mau pergi ke mana.

"Ya Allah, apa aku ikut saja bersama ayah, bunda dan adikku yang telah kau panggil ke surga? Atau aku bersama saudara-saudaraku yang lain dan pergi melanglang buana, mengemis  mencari tempat berlindung? Atau aku di sini saja dan memikirkan kebohongan apa yang harus aku katakan setiap hari?"

Zulaikha menatap kembali ke laut. Ia melihat lagi sebuah kapal melintas meninggalkan Myanmar dan pergi entah kemana. Senja masih setia di langit jingga. Sedang seorang gadis gundah gulana memikirkan  cara bertahan hidup. Zulaikha memegang perutnya. Rasanya sangat lapar, hanya air yang bisa didapat, sekeping roti pun tidak ada. Sudah dua hari Zulaikha mengisi perut dengan air. Ia bangkit dari tepi laut dan berdiri menatap senja.

"Myanmar, kau adalah negaraku, tempat kelahiranku, ayah, ibu, dan saudara-saudaraku seima. Myanmar, Aku adalah bagian dari dirimu. Mengapa Engkau tidak menerimaku karena agamaku. Ya Allah, hamba ikhlas,  jika memang harus kelaparan, biarlah. Biarkan hamba mati kelaparan, tetapi beragama Islam. Daripada hidup berkecukupan, tapi murtad. Hamba tetap muslim,  sampai ajal menjemput. Allahuakbar..! Allahuakbar..! Allahuakbar..!"

 

Karya Winda Hari Siregar

Siswi MAN 2 Model Padangsidimpuan

387 DIBACA
Kamis,2017-09-14,11:31:52

Antusiasme Pemilihan Sentuh Barisan Guru

Kamis,2017-09-14,11:26:54

SANG JUARA DARI MAN SIDIKALANG BESIAP DALAM MENGIKUTI OLIMPIADE MATEMATIKA SEINDONESIA

Kamis,2017-09-14,10:54:56

Kemenag Adakan Audiensi ke Pemkab Asahan Rencana 1 Muharam 1439 H

Kamis,2017-09-14,10:33:37

Pengawas Katolik Kemenag Samosir Berkoordinasi dengan UPTD Pendidikan Simanindo

Kamis,2017-09-14,10:21:14

SELAMATKAN SUKU ROHINGYA


0 Komentar :