Selasa,2017-06-06,14:15:50

HARI RAYA WAISAK DAN RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

HARI RAYA WAISAK DAN RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

 

“ Buddha menjelaskan kepada para Bhikkhu mengenai kehadiran seorang SamyakSambuddha di dunia, Para Bhikkhu, ada satu orang yang terlahir di dunia demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk. Ia terlahir karena kasih sayang kepada dunia, untuk kepentingan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para Dewa dan manusia. Siapakah orang yang satu ini? Ia adalah Tatagatha seorang Arahat yang Maha suci, seorang yang mencapai Penerangan Sempurna. Inilah, Bhikkhu, manusia luar biasa yang satu itu ” ( Anguttara Nikaya I, 21 ).

Bertepatan dengan suasana Waisak, maka dalam artikel ini  di awali dengan ucapan       “Selamat Waisak ” 2560 Tahun Budhis/  2016, semoga dengan hikmah Waisak ini akan dapat mempelajari serta melaksanakan Buddha Dharmma dalam kehidupan sehari hari.

“Dharma Pelindung Dunia” Semoga dengan pelaksanaan Ajaran Sang Buddha ini akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan. Semoga demikian adanya, Hari Raya Waisak merupakan salah satu dari empat Hari Raya yang ada dalam Agama Buddha. Hari Raya Pertama dalam setiap tahun adalah Magha Puja yang diadakan sekitar Bulan Februari. Hari Raya Ke - dua adalah Waisak Puja yang di adakan pada sekitar Bulan Mei dan Juni.  Hari Raya Ke - tiga adalah Asadha Puja yang di adakan pada Bulan Juli dan Hari Raya Ke - empat adalah Khatina puja yang dilakukan sebulan penuh mulai sekitar Bulan Oktober s/d November. Hari Waisak juga merupakan awal dimulainya  perhitungan Kalender Buddhis. Karena itu, dalam rangka Waisak yang juga bersamaan dengan Tahun Baru Buddhis, tentu tepat kalau saat ini diberi ucapan : “ Selamat Tahun Baru Buddhis ” semoga semuanya selalu berbahagia dalam Dharmma.

Dimulainya Kalender Buddhis di saat Waisak yang sesungguhnya merupakan salah satu nama bulan India adalah karena pada saat itu Sang Buddha wafat atau Parinibbana dan pada saat itu pula penanggalan Buddhis disepakati di mulai. Saat Waisak bukan hanya di ingat sebagai saat Pergantian Tahun Buddhis saja, melainkan juga untuk Memperingati Tiga Peristiwa Penting,atau tiga peristiwa Agung, yang berhubungan dengan Riwayat Kehidupan Buddha Gotama. Peristiwa Penting Pertama adalah kelahiran Pangeran Siddharta Gotama di Taman Lumbini, di India pada tahun 623 SM Kemudian, Peristiwa Penting Ke - dua :  adalah ketika beliau tepat berusia 35 tahun, beliau telah mencapai kesucian atau menjadi Buddha Gotama setelah bertapa selama enam tahun di bawah Pohon Bodhi di Hutan Uruvela.

Peristiwa Penting Ke - tiga adalah Wafat atau Pencapaian Parinibbana Sang Buddha di Kusinara ketika beliau tepat genap berusia 80 tahun. Setelah 45 tahun lamanya mengajar Dhamma ke seluruh penjuru. Karena Waisak Memperingati Tiga Peristiwa Penting yang terjadi pada diri Sang Buddha, maka Waisak sering pula disebut sebagai Hari Buddha yang dimaksudkan sebagai hari untuk mengingat dan mengenang Sang Buddha.

Sang Buddha memanglah seorang tokoh yang layak untuk diingat dan dikenang, bahkan lebih dari itu, Sang Buddha juga layak dihormati karena perjuangan Pangeran Sidharta untuk menjadi Seorang Buddha tidaklah mudah. Perjuangan yang membutuhkan semangat dan usaha yang luar biasa kerasnya. Perjuangan keras yang tidak pernah dilakukan oleh umat manusia lainnya inilah yang layak untuk mendapatkan penghormatan. Pangeran Sidharta yang merupakan anak Raja Sudhodana setelah meninggalkan istana, selama enam tahun beliau mempelajari berbagai teknik meditasi yang paling hebat pada saat itu. Beliau mengunjungi dan belajar dari banyak guru meditasi yang terkenal disana.

Beliau juga melatih tubuhnya dengan latihan keras sekali. Ketika sedang musim panas, di India utara sangat panas menyengat, beliau malah duduk bermeditasi sambil berjemur di tengah terik matahari. Beliau melakukan ini bukan sehari dua hari melainkan untuk waktu yang cukup lama. Sebaliknya ketika musim dingin datang, di India cuaca sangat dingin menusuk tulang, pada waktu itu beliau justru bermeditasi sambil berendam di tengah air sungai yang sangat dingin.

Demikian seterusnya dilakukan setiap harinya. Selain melatih tubuhnya mempunyai kekuatan terhadap udara panas dingin, beliau juga melatih tubuhnya terhadap makanan. Beliau setiap hari melatih mengurangi makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, dari satu piring menjadi setengah piring, seperempat piring sampai akhirnya menjadi sebutir nasi setiap harinya. Tubuh beliau menjadi kurus kering sehingga dapat diibaratkan perut di pegang akan terpegang punggung, sedangkan bila diraba punggungnya akan terasa pula perutnya.

Sedemikian itulah kurus keringnya beliau pada saat itu. Meskipun demikian beliau terus melatih diri dengan keras. Ketika masih juga belum nampak hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, beliau tetap tidak berputus asa. Tujuan beliau berlatih dengan keras adalah untuk mengatasi pengaruh segala suka dan duka dalam kehidupan. Namun setelah sekian lama usaha ini dilakukan, hasil yang di harapkan masih belum juga diperoleh ketidak berhasilan ini bukan mengendorkan semangat beliau. Beliau malah terus berjuang dan berjuang serta berusaha lebih keras untuk memperbaiki dan bahkan mengubah segala kekurangan yang ada pada latihan yang sudah dijalaninya. Sampai akhirnya disaat Waisak bertepatan dengan ulang tahun Beliau yang ke 35 tahun, Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi seorang Buddha. Pada saat itulah Beliau menyadari bahwa pengaruh suka dan duka dalam kehidupan disebabkan karena pikiran serta keinginan manusia sendiri. Oleh karena itu, apabila seseorang mampu mengatasi pikirannya sendiri, maka ia akan dapat mengendalikan keinginannya dan bisa membebaskan diri dari jeratan perasaan suka dan duka tersebut.

Beliau juga menemukan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang berguna untuk mengendalikan dan mengatasi berbagai bentuk pikiran itu. Penemuan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai cara mengendalikan pikiran inilah yang menjadikan beliau sebagai seorang Buddha. Dengan melihat perjuangan beliau tidak pernah kenal putus asa dalam menghadapi segala bentuk kesulitan inilah yang dapat dijadikan contoh dan di terapkan dalam kehidupan sehari hari umat Buddha. Seorang umat Buddha yang sering datang ke Vihara, mengikuti acara dan upacara, menghafalkan berbagai paritta maupun membaca Sutra, membaca Riwayat Sang Buddha, namun selama ia belum dapat meneladani cara hidup yang telah Sang Buddha tunjukkan maka sebenarnya umat Buddha semacam ini tergolong umat tradisional, belum umat Buddha sesungguhnya. Umat Buddha sesungguhnya adalah umat yang melaksanakan Buddha Dharma dalam kehidupannya, paling tidak dengan meniru sikap serta perilaku Sang Buddha Gotama sebagai Guru Agungnya.

Buddha Sakyamuni membabarkan Dhamma lebih dari 45 tahun,setelah menjelang Maha parinibbanna,Beliau mengatakan bahwa sesungguhnya Beliau belum mengucapkan sepatah katapun.Mengapa?Karena Dharma yang sejati tidak dapat digapai dengan konsep dan kata-kata.Satu-satunya jalan yang bisa dilalui hanyalah melalui pelatihan Meditasi dan perenungan. Dalam Sutra Mahayana –Mahaparinirvana yang dibabarkan sehari semalam menjelang parinibbanna.Buddha Sakyamuni memberikan nasehat mengensi 4 ketergantungan tentang pegangan-pegangan dalam kehidupan sehari –hari agar kita tidak salah jalan setelah Buddha Mahaparinibbanna:

Ketergantungan pada makna  sesungguhnya didalam kitab, bukan pada kata-kata yang terkandung di dalamnya.

Tergantung pada ajaran yang dibabarkan,bukan pada orang orang yang membabarkan.

Tergantung pada kearifan intuisi, bukan pada pemahaman secara intelek.

Tergantung pada sutra-sutra yang memberikan makna primer, bukan pada sutra-sutra yang ajaranya masih harus diinterprestasikan lebih lanjut.

Menurut Sutra Mahayana dan Tantra Buddha sengaja  memperlihatkan  12 peristiwa agar bisa direnungkan oleh kita semua.Mereka adalah:1.Turun dari Surga Tusita. 2.Konsepsi  secara suci dalam bentuk sebuah bayangan dari seekor gajah putih.3.Tinggal didalam rahim ibunya. 4.Lahir dari bagian kanan tubuh ibunya. 5.Kemahiran disegala bidang. 6.Men ikmati kesenangan duniawi. 7.Meninggalkan kehidupan berumah tangga. 8.Enam tahun bertapa secara keras dalam perjalanan menuju pencerahan. 9.Menaklukan semua mara di bawah pohon Bodhi. 10.Mencapai pencerahan sempurna. 11. Memutar Roda Dhamma. 12. Mencapai Panirvana.

Semua perjuangan spiritual yang di jalani  Gautama hanyalah upaya –Kausalya  untuk memberikan  suatau contoh  teladan bahwa pencapaian kebudaan memerlukan pengorbanan dan kegigihan yang luar biasa.

Perilaku yang dapat ditiru sehingga Sang Buddha layak mendapatkan penghormatan adalah dengan melihat semangat juang beliau, kemauan yang keras dan tidak mudah putus asa, kemauan mengubah diri sendiri apabila menghadapi kegagalan sehingga bisa memperbaiki usaha dan meninggalkan hasil yang akan dicapai. Kualitas hidup semacam inilah yang hendaknya dapat ditiru dan diterapkan oleh setiap umat Buddha dalam kehidupan sehari hari.

Sabbe Satta Sabba Dukkha Pamuccantu – Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata, Semoga Semua Mahkluk Terbebas Dari Berita dan Semoga Semuanya Senantiasa Berbahagia.

Sadhu…Sadhu…Sadhu…

 

Oleh : Pdt. Sutoyo.S.Ag

Penyuluh Agama Buddha Kota Sibolga

 

545 DIBACA
Selasa,2017-06-06,14:12:38

MEMILIH TEMAN HIDUP YANG BAIK

Selasa,2017-06-06,14:10:12

SALAT BERJAMAAH DALAM MEMBANGUN SIKAP BERKEPEMIMPINAN YANG BAIK

Selasa,2017-06-06,13:54:21

Siswa Kelas IX MTsN Bandar Mulai Mengambil SKHU

Selasa,2017-06-06,13:51:49

Safari Ramadan MAN Peanornor Bersama Masyarakat Tarutung

Selasa,2017-06-06,13:49:15

Tiket Menuju Jannatul Firdaus


0 Komentar :