Kamis,2017-09-21,14:50:54

Akan Selalu Ada Rina

Akan Selalu Ada Rina

Rina tetap berdiri didepan Riyan, tak punya niat untuk beranjak sama sekali. Rina merasa apa yang ia minta bukan sesuatu yang berlebihan, sehingga apapun yang dikatakan Riyan padanya Rina seakan tidak peduli sama sekali, tangannya tetap terangkat separuh badan dan mengulur lurus dan terbuka mengarah pada Riyan yang mulai berkacak pinggang, makin Riyan melotot, makin sering Rina memainkan ujung jarinya memaksa Riyan mengeluarkan sekaligus memberikan apa yang ia minta. Lidya yang duduk cukup dekat dengan keduanya mencoba tetap mengambil setuasi tenang, tak ingin ikut dengan aroma sedikit tegang dari kedua orang itu, sehingga Lidya hanya sesekali menatap kearah Rina ataupun Riyan kemudian kembali pada buku yang ada ditangannya, melanjutkan bacaannya.

“Cepatlah Bang.. biar kelar”. Desak Rina.

“Apanya yang cepat ?”.

“Iya, mana bantuannya. Ini tinggal hanya Abang aja, cepatlah”.

Riyan belum juga bergeming, Rina juga tak berniat merubah sikap. Rina terus memainkan ujung jarinya dengan tangan terbuka meminta Riyan mengabulkan apa yang ia katakan. Riyan dan Rina pada akhirnya bertemu pandang, tak ada senyuman yang menghiasi, Riyan kalah dengan memilih memalingkan pandangan matanya kelangit langit ruang kelas.

“Mana Bang... cepat kenapa sih ?”.

“Apa yang harus cepat. Dari tadi ngomong cepat”.

“Iya.. ini Cuma Abang yang belum. Mana .. mana”. Rina terus memaksa.

Riyan tampak melotot. “Kalo Cuma aku memang kenapa ?”.

“Berarti dikelas ini, Cuma Abang yang pelit”.

Riyan makin melototkan matanya. Ada rasa dongkol juga dalam hati Riyan dibilangin pelit. Riyan merasa bukan tipe orang yang pelit, ia tak mau kasih sumbangan bukan karena pelit, tapi karena merasa meminta sumbangan kepada siswa bukan satu kesimpulan yang baik. Tapi Riyan mulai serba salah melihat tangan Rina yang juga belum turun turun, tangan Rina tetap mengulur meminta padanya, bahkan tak ada ciri ciri bakal diturunkan.

“Kalo pelit kenapa memang”. Riyan memancing cuek.

Rina geleng kepala. “Nggak apa apa memang Bang. Cuma aneh aja”.

Kening Riyan tentu menjadi begitu berkerut. Telinga Riyan merasa kata aneh itu bukan kata yang perlu ada dalam pembicaraan mereka. Lagi pula Riyan merasa tidak ada yang aneh dalam dirinya, tak ada yang wajar disebut aneh dengan dirinya, tak ada yang aneh sama sekali, tak ada yang aneh dengan tubuhnya, gayanya, bahkan juga pakaiannya.

Riyan masih mendelik. “Aneh apanya ?”.

“Ganteng ganteng pelit, parah”. Kalimat itu meluncur jernih dari antara bibir Rina.

Riyan cukup tercekat mendengar kalimat itu. Lidya memandang Riyan dan sekuat mungkin menahan tawanya mendengar apa yang dikatakan Rina, Lidya malah sampai menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak dapat benar benar keluar, Lidya merasa sangat lucu, Lidya betul betul tak menyangka Rina bakal bicara sampai kesana, agak terkejut juga Lidya jadinya, terkejut dengan keberanian Rina mengumbar kata itu.

Lidya menutup buku saat Rina menarik tangannya, Lidya tertawa kecil juga, merasa cukup puas karena jelas Rina berhasil menembus tembok tebal cara berpikir Riyan yang sudah mampu membuat banyak orang merasa kesal tapi tak mampu berbuat banyak. Lidya yakin dengan itu karena jelas sekali ditangan Rina yang satunya lagi ada uang dua puluh ribuan. Rina berhasil memaksa Riyan ikut memberikan sumbangan untuk acara Pentas Seni yang bakal digelar nanti malam, walau angkanya Cuma dua puluh ribu, tapi itu sudah cukup, angka itu sudah melampaui angka banyak orang, bahkan anak kelas XI tidak ada yang memberikan hingga mencapai angka itu, semua dibawahnya. Lidya ikut saja melangkah dengan Rina menuju lapangan tempat dimana acara pentas seni akan digelar.

Riyan geleng geleng kepala, ekor matanya terus mengikuti langkah Rina dan Lidya yang melangkah cepat menuju lapangan, Riyan betul betul tak bisa berbuat banyak menghadapi Rina, Riyan kalah telak lagi untuk yang kesekian kalinya, ini memang bukan kali pertama Riyan tak mampu menang melawan Rina yang memaksanya.

Padahal, sejak awal rencana Pentas Seni itu sudah bermasalah bagi Riyan, Riyan setuju dengan acara itu, karena memang itu juga ada positifnya, dengan adanya acara itu para seniman seniman sekolahnya dapat memberikan ekspresi seninya secara terbuka. Tentu akan banyak yang bergembira dengan pegelaran ini, tidak hanya siswa, para guru, komite dan orang tua juga akan banyak yang merasa gembira, bahkan masyarakat umum juga bisa jadi turut merasa gembira dengan pegelaran yang pasti akan mendatangkan banyak ceria ini.

Tapi persoalan muncul karena masalah yang berhubungan dengan talangan dana. Riyan menganggap semua panitia berlebihan dengan memilih melakukan kegiatan seni ketimbang menggalang bantuan kemanusiaan, dimata Riyan ada banyak agenda lain yang jauh lebih penting dan lebih layak ketimbang pegelaran seni, donasi untuk Rohingya misalnya, untuk Palestina atau untuk kegiatan lainnya.

“Kena juga akhirnya Yan”.

Riyan menoleh dan senyum juga pada Ilham. “Kena juga ujungnya”.

Ilham tertawa sambil menepuk bahu Riyan. “Takluk ditangan Rina juga ente akhirnya kan ?”.

Riyan anggukkan kepala. “Susah melawan yang satu itu”.

Ilham masih tetap dengan tawanya. “Rina dilawan. Pening la”.

Riyan kembali anggukkan kepala. “Nggak bisa ngelak awak”.

Waktu terus berjalan, yang membuat Riyan susah bukan posisi ketua kelas yang ia punya, ternyata tidak sesulit yang Riyan bayangkan. Semua kegiatan kegiatan yang berkaitan dengan masalah itu dituntaskan Riyan dengan baik, hingga kini belum ada yang mampu membuat Riyan kebingungan. Paling jika Riyan tak bisa menghadiri atau menyelesaikan sesuatu Riyan masih punya Ilham yang selalu siap menggantikan peran.

Justru Riyan lebih susah menghadapi hatinya, Riyan mulai sadar kalau ia memang sudah masuk lebih jauh dari harapan yang ia punya selama ini. Riyan mulai merasa kalau ia benar benar sangat tertarik untuk lebih dekat dengan Rina. Setiap Riyan melihat Rina dimana saja, Riyan selalu merasa ada yang aneh dalam dadanya, jantungnya bergerak lebih cepat dari biasanya, debar dadanya tak senormal biasanya.

“Aku makin lama makin merasa aneh kalau liat Rina”.

Ilham menoleh. “Emang Rina kenapa Yan ?”.

Riyan menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Tapi merasa begitu aja”.

“Ente suka kali Yan”.

Riyan anggukkan kepala. “Iya. Sepertinya begitu”

Ilham langsung ngakak. “Sepertinya begitu ?. aneh ente memang”.

“Apa yang aneh ?”.

“Kalau memang jatuh cinta ngaku aja ente, nggak usah pakai bahasa sepertinya begitu”.

Jatuh cinta ?. Mungkin benar, Riyan memang lagi jatuh cinta, bahkan itu sudah terasa lama. Riyan angguk anggukkan kepala, apa yang dikatakan Ilham paling benar rasanya, Riyan memang betul betul sedang dalam kondisi jatuh cinta stadium 5, sudah akut.

“Kalau begitu, ente bilang aja ke dia”.

“Siapa ?”.

Ilham tampak kesal. “Ke siapa lagi ?, ke wanita yang ente bilang paling cantik di nusantara itu lah”.

“Maksudnya ?”.

Ilham mendelik. “Maksudnya... maksudnya. Ngomong ke dia. Bilang kalau ente suka. Apa sih ?”.

“Caranya ?”.

Ilham jadi tampak begitu sangat kesal, heran dan banyak perasaan lain. Ilham merasa kalau pertanyaan itu tak pantas disampaikan seorang Riyan. Kok bisa bisanya Riyan bisa punya pertanyaan yang semacam itu, masa nanya cara ke Ilham, apa itu bukan aneh.

“Ente memang aneh ya”.

Riyan mendelik. “Aneh apanya ?”.

“Ya.. aneh lah”.

“Aneh apa ?”.

“Aneh”.

Riyan dan Ilham saling pandang dan bahkan berubah jadi saling melotot, tapi akhirnya Riyan kalah, ia tersenyum dan memalingkan pandangan. Ilham masih terus pandangi wajah Riyan, kini Ilham punya rasa lucu, lucu melihat gaya Riyan yang menurutnya tak jelas ujung pangkalnya, ini kemudian yang membuat Ilham akhirnya terlepas tawanya, ngakak. Bahkan sakin kuatnya tawa Ilham membuat penghuni kantin sontak memandang kearah mereka. Tapi hanya sesaat saja, detik kemudian tak ada lagi yang memandangi Riyan maupun Ilham yang masih ngikik sambil pegang perut.

“Kenapa sih ?”. Riyan jadi kesal dibuatnya.

Ilham masih tertawa. “Ente memang lucu Yan”.

Riyan mendelik lagi. “Lucu apanya ?”.

“Coba ente pikirkan. Ente bilang ente suka, tapi ente belum bilang, kini ente malah nanya gimana caranya, apa itu tidak aneh ?”.

“Yang aneh apanya Il ?”.

Ilham geleng kepala. “Yang aneh ente Yan”.

“Aku ?”. Riyan seakan mengulang.

Ilham anggukkan kepala. “Ente selain aneh juga lucu”.

Kening Riyan jadi bertambah kerutnya. “Apa sih ?”.

Ilham masih saja tertawa. “Masa ente nanya cara, gampang aja itu”.

“Gampang gimana ?”.

“Masa sih ente nggak tau cara bilangnya”.

Riyan agak termenung. Lumayan kesal juga pada Ilham, padahal Riyan benar benar bingung, benar benar nggak tahu cara yang terbaik bagaimana menyampaikan perasaan yang ada dihatinya. Riyan benar benar belum tahu bagaimana caranya, pertanyaan itu datang dengan sendirinya, karena memang itu adalah setuasi yang sesungguhnya, tidak ada yang dibuat buat. Memang itulah adanya, bahwa Riyan belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan isi hatinya.

“Memang caranya gimana Il ?”.

Ilham geleng kepala lagi. “Masih nanya cara ?, temui dan katakan. Apa yang susah ?, payah ente”.

“Semudah itu ?”.

“Emang mau gimana lagi maunya ente ?”.

Riyan mendesah, Riyan merasa kalau Ilham tak paham dengan kondisi yang sebenarnya. Riyan memandang Ilham hanya mengeluarkan kata kata yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Yang dikatakan Ilham memang banyak benarnya, tapi bagi Riyan tak semudah itu penyelesaiannya, tak segampang itu menyudahinya.

“Caranya ya, ente datangi Rina bilang kalau ente suka. Atau yang praktis ente pasang spanduk, isinya begini : Riyan Sedang Jatuh Cinta Pada Rina. Begitu, paham ente ?”.

“Sialan”.

Riyan ujungnya mengumpat. Itu kalimat bukan memberikan solusi, tapi lebih dekat kepada mengejek. Ilham terang memang sedang meledek Riyan dengan terbuka, tapi Riyan mau bilang apa, ledekan Ilham harus dipahami sebagai sebuah realita, Riyan dalam hal ini memang aneh, masa untuk katakan isi hatinya Riyan tak tahu bagaimana caranya. Tapi memang Riyan tak tahu, tak tahu bagaimana memulainya.

Tapi, yang paling jelas didalam lubuk hati Riyan sebenarnya adalah ketidaksiapan, Riyan sama sekali tidak yakin untuk berpacaran seperti yang dilakukan beberapa teman temannya, Riyan tidak punya keberanian melakukan itu semua. Sehingga Riyan lebih memilih merenung dalam dan menjauhkan semua angan angan itu. Riyan yakin, jika memang dia punya kemungkinan hubungan dengan Rina, itu dapat dilakukan nanti setelah benar benar dewasa, tidak untuk saat ini, belum waktunya, tidak masanya.

Akan selalu ada Rina, tetapi disitu, jauh sekali didalam hati Riyan, didalam pikiran Riyan.

 

Karya : Azwar Muharram Zebua

Siswa Kelas XII MIA 1 MAN Sibolga

158 DIBACA
Kamis,2017-09-21,13:50:17

MTsN Kisaran Juara Umum Festival Kearifan Lokal Qasida

Kamis,2017-09-21,12:56:59

Kakankemenag Labuhanbatu Teken MoU dengan Dandim 0209/LB

Kamis,2017-09-21,12:50:58

Jemaah Haji Kloter 14/MES Tiba di Tanah Air

Kamis,2017-09-21,12:47:57

MTsN Kabanjahe Memeriahkan Gebyar Madrasah di Berastagi

Kamis,2017-09-21,10:51:44

MTsN Lubuk Pakam Ikut Memeriahkan Pawai Seribu Obor Tahun Baru 1439 H


0 Komentar :