Selasa,2017-10-10,07:38:18

Berbagi Ilmu Kaligrafi, Mengharap Ridho Ilahi

Berbagi Ilmu  Kaligrafi, Mengharap Ridho Ilahi

Suprianto adalah seorang staf TU di MTsN Siantar Kabupaten Simalungun. Sebagai seorang yang berusia muda Dia menambah kegiatannya sebagai guru kaligrafi yang bisa dikatakan cukup berbakat, menginspirasi, memotivasi dan membawa prestasi bagi anak anak yang tinggal di dekat lingkungannya Jl. Asahan KM 18,5 Huta II P. Asilom Kec. Gunung Malela Kab. Simalungun. Sungguh jika diamati merupakan sesosok yang berhati mulia, senang berbagi karya dan mampu menunjukkan aktualisasi diri positif yang ujung ujungnya mengharapkan keridhaan Sang Khaliq, guru pengejar mimpi, luangkan waktu berbagi untuk menjalani hidup berarti.       

Semenjak SD/MDA dirinya tertarik dengan pembelajaran kaligrafi atau khot nama yang lebih dikenal di daerah. Kecintaan akan pembelajaran ini bukanlah hal yang biasa dipelajari jika tidak ada bakat dan keuletan dalam diri, keduanya harus saling kolaborasi. Terus belajar dan mengasah diri dengan mengikuti setiap ajang perlombaan cabang kaligrafi. Baginya kalah dan menang itu bukan masalah, yang terpenting bisa belajar dan mengukur kemampuan yang dimiliki.

Hingga SMP dia telah mampu berbagi ilmu dengan masyarakat sekitar, baik teman sebaya maupun anak anak kecil lainnya. Mereka adalah anak TPA Masjid Al Amin, siswa/i MTsN Siantar, dan juga masyarakat di luar instansi itu. Rumahnya sendiri pun dijadikan sebagai atap dalam menggali dan melatih ilmu.

Prestasi dari SD sampai SMA itu diawali semenjak tahun 2005 saya meraih juara 1 tingkat kota pematang siantar, juara 2 FASI cabang kaligrafi tingkat provinsi Sumut, tahun 2007 dan 2011 juara 2 MTQ kota Pematang Siantar cabang kaligrafi hiasan mushaf, dan tahun 2011 juga juara 3 tingkat Kabupaten Simalungun dalam jenis yang sama, ungkap Suprianto sang guru yang selalu mendapatkan nilai tertinggi secara keseluruhan tanpa membedakan tingkatan usia disetiap penilaian lomba.

Berlanjut menjadi mahasiswa jurusan ekonomi di salah satu kampus negeri di Medan, Suprianto tidak berhenti belajar kaligrafi dan terus mencari relasi demi mendapatkan ilmu kaligrafi yang lebih baik lagi.

Ketika ada waktu luang saya merasa ada sesuatu yang kurang jika tidak dimanfaatkan, karena kecintaan saya dengan kaligrafi, membuat pikiran saya terus mencari guru profesional agar ilmu saya berkembang dan bisa digunakan mengikuti ajang yag lebih bergengsi dan terkhusus untuk bekal mengajar adik adik yang di kampung, ungkapnya.

Saat ditanyai inhum kenapa dirinya tetap belajar kaligrafi, tapi malah memasuki jurusan ekonomi, dirinya menyatakan bahwa keduanya adalah hal yang sama pentingnya untuk dipelajari.

Kuliah jurusan ekonomi itu adalah modal saya untuk masa depan di dunia supaya bisa menjadi pengusaha besar agar perekonomian kami berubah, sedangkan kaligrafi itu bakat saya yang tidak bisa ditinggalkan, saya terus saja mencintainya dan berusaha agar nanti bisa memasuki tingkat nasional bahkan internasional, ujarnya.

Selama menjadi mahasiswa, Suprianto menjelaskan pada tahun 2012 memperoleh juara 1 tingkat kabupaten Simalungun, dan di tahun yang sama juara 3 MTQ antar mahasiswa se Sumut cabang kaligrafi hiasan mushaf.

Prestasinya berkembang maju sejak tahun 2013 setelah belajar dengan guru Feby Rahmady di lembaga kaligrafi Babqoh Sika Sumatera Utara. Saat itu dirinya memperoleh juara harapan 1 MTQ cabang hiasan mushaf tingkat kota Medan dan merupakan kebanggaan baginya karena merupakan tolak ukur standar ajang yang dipenuhi para senioritas pemain provinsi. Tahun 2014 juga memperoleh prestasi yang sama dan juara 1 MTQ antar mahasiswa se Sumut. Tahun 2015 dan 2016 berturut turut prestasinya meningkat diposisi juara 2 MTQ kaligrafi tingkat kota Medan cabang kaligrafi kontemporer dan juara 2 di kabupaten Serdang Bedagai. Tahun 2017 mencoba di level jenis perlombaan yang lebih tinggi yaitu kaligrafi kontemporer dan meraih juara harapan 1 tingkat kota Medan, juara 2 MTQ tingkat kabupaten Deli Serdang, juara 1 MTQ tingkat kabupaten Serdang Bedagai dan bulan 11 akan mengikuti MTQ cabang kaligrafi tingkat provinsi di Kabupaten Dairi.

Sampai saat ini Suprianto telah memiliki 40 atau 50 orang anak didik, diantaranya ada 21 orang yang sangat aktif mengikuti latihan dan lomba. Mereka para siswa/i tingkat SD, SMP, dan SMA itu adalah Muhammad Hafizul Ali, Muhammad Aldi, FuadIbrahim Isti Dennis, Muhammad Siddik Nasution, Aulia Azra Amlansyuri, Andi Purwanto, Ridho Ardika, Musthofa Ahmad Sagala, Nur Azmi Kahiruna, Nur Afni Oktavia, Dilla Arpianda, Widya Azira, Amanda Diwa Isnani, Nuri, Anjeli, Dwi Indri Astari, Nuraini Ardila Saragih, Fazlia Aminarti, Rizky Fajar Utomo, Pegi Khairunnisa, Muhammad azhar, Ubay.

Tingkat kabupaten semuanya selalu mendapat juara, minimal juara harapan itu pasti ada, selebihnya ada yang juara 1, 2, dan 3, Alhamdulillah kami puas dengan usaha yang telah dilakukan, tuturnya tersenyum.

Lebih lanjut Suprianto menjelaskan bahwa dari beberapa orang anak didiknya tersebut, ada 4 orang yang telah meraih prestasi melejit dibandingkan anak lainnya. Keempatnya adalah Fuadz Ibrahim Isti Denis, Andika Syahputra, Nuraini Ardila Saragih, dan Muhammad Hafizul Ali. Fuadz juara 2 FASI cabang kaligrafi hiasan mushab tingkat provinsi tahun 2010 dan harapan 1 Aksioma tingkat nasional cabang kaligrafi Kontemporer tahun 2012, sementara Andika juara 1 berturut turut di tahun 2010 dan 2013 tingkat provinsi dengan jenis lomba yang dibawanya waktu itu adalah cerita islami yang masing masing berjudul Percakapan Iblis dan Rasul, dan Faedah Membaca Alquran. Dan yang masih baru prestasinya adalah Nuraini Ardilah Saragih dan Muhammad Hafizul Ali juara 2 peraih medali perak dalam ajang Aksioma tingkat provinsi Sumatera Utara di tahun 2017 ini.

Meskipun ketika kuliah di Medan saya berkorban menyempatkan pulang ke kampung Siantar setiap sabtu dan kembali minggu malam ke Medan hanya untuk bisa mengajarkan ilmu baru yang telah didapat apalagi aktivitas itu rutin ketika mengetahui bahwa ajang lomba sudah mendekati harinya sungguh sebuah usaha yang terbayarkan, katanya dengan nada sedikit terharu.

Saat ditanyai inhum bagaimana cara mengajar dan apa saja ilmu tentang kaligrafi yang telah diberikan kepada anak didiknya, Suprianto menceritakan bahwa waktu mengajar anak anak di TPA dan membina ekstrakurikuler di Madrasah membuatnya merasa masih kurang cukup mengasah potensi mereka hingga dia mengusulkan ide bagi yang berminat datang langsung kerumahnya untuk dilatih secara lebih khusus lagi. Benar saja para anak anak tersebut menyambut perhatian yang diberikan Suprianto dan hasil kesepakatan mereka bahwa waktu tambahan itu ditetapkan malam minggu ba’da sholat isya sampai jam sebelas malam mereka belajar secara rutin. Jika menjelang ajang lomba, dua minggu sebelumnya mereka rutin latihan setiap hari setelah pulang sekolah hingga terkadang ada sebagian anak yang sengaja meminta izin pada orangtuanya untuk menetap tinggal di rumahnya. Sementara cabang khot yang dilombakan sekaligus diajarkan adalah tulisan buku, mushaf, dekorasi dan kontemporer jika dilihat dari jenis kaligrafi. Sedangkan jenis tulisan khot (kaligrafi) itu sendiri adalah khot naskhi, khot tsulus, khot riq’ah, khot farisi, khot diwani, khot diwani jali, dan khot koufi.

Yang sulit itu khot tsulus dan naskhi yang memang kebetulan dua khot itu paling penting dalam setiap ajang perlombaan. Kelihatan muda tapi tetap susah, namun jika memang benar benar mau mempelajari Insha Allah bisa melakukannya, tambah Suprianto dalam penjelasannya.

Saat ditanyai inhum pendapat salah satu anak didiknya Fuadz yang telah berhasil meraih juara di tingkat nasional itu tentang sosok diri sang guru, anak itu mengatakan bahwa Buya, sapaan lebih akrab mereka kepada Suprianto yang usianya saat ini masih berkisar 25 tahun itu tampak merupakan sebuah sapaan penghargaan mereka kepadanya yang tingkatannya terlihat lebih tinggi dibanding dengan sebutan abang, bapak, muallim atau abi merupakan guru yang sangat berhati mulia, baik hati dan pantang menyerah.

Fuadz mengatakan tidak pernah sedikitpun buya meminta bayaran kepada mereka terhadap jasa yang telah diberikannya dan sering kami disuguhkan makanan yang sengaja dimasak ibu beliau kalau kami sudah lapar dan tidak membawa makanan cemilan.

Pokoknya buya itu walaupun cerewet tapi hatinya sangat baik, kami anggap saja omelannya sebagai kasih sayangnya yang berlebih kepada kami, tutur Fuadz tersenyum kecil.

Fuadz juga mengatakan bahwa Buya Suprianto selain aktif mengajar juga sangat aktif berperan dalam persiapan setiap ajang lomba, perhatiannya 95-100% akan diberikan kepada kami dan chanelnya yang tinggi mencari informasi tentang lomba untuk mendaftarkan anak didiknya merupakan isapan jempol.

Kami berharap semoga cita cita kami untuk umroh bareng bersama buya dan adik adik dari hadiah ajang lomba kaligrafi tercapai, amin....tutur fuadz seraya berdoa.

Suprianto sendiri sebagai guru juga mengamini hal yang sama. Motivasi utamanya mengajar anak anak juga ingin berujung beribadah kepada Allah SWT. Dirinya mengaku bahwa semangat yang timbul berasal karena faktor ekonomi keluarga. Dia tidak mau hanya karena ekonomi yang tidak mencukupi untuk memberikan bekal keterampilan dan mengembangkan bakat menghambat semua impian mereka. Karena itulah dia berusaha keras anak anak didiknya terlatih dan terampil hingga meraih prestasi.

Kalau orang kaya itu dimana dan kapan pun mereka belajarnya pasti bisa, tapi kalau seperti kami orang yang kekurangan sungguh sulit mencari guru yang bisa mengajar, saya ingin membantunya selagi bisa, tutur Suprianto.

Suprianto menambahkan bahwa harapan dia suatu hari pemerintah memberikan bantuan kepada mereka berupa tempat khusus dan peralatan yang lebih baik dan lengkap agar dirinya benar benar bisa profesional dalam mengajar hingga generasi selanjutnya dengan lingkup yang lebih besar dan bahkan bisa memuat seluruh anak anak se Kabupaten Simalungun yang ingin bergabung. (Hikmah)

368 DIBACA
Selasa,2017-10-10,07:19:04

Rektor UINSU Canangkan Program 5S kepada Siswa MAN 1 Medan

Senin,2017-10-09,22:13:11

Kami Punya Kader Hebat dan Berkemauan Kuat

Senin,2017-10-09,22:10:28

Sebagai Peer Educator Laksanakan Tri Bhakti PMR

Senin,2017-10-09,22:07:15

Pedomani Tujuh Prinsip Gerakan Internasional Palang Merah

Senin,2017-10-09,20:49:58

MAN 3 Medan Menambah Koleksi Prestasi Melalui Pramuka


0 Komentar :