Kamis,2017-10-12,19:47:18

KEHIDUPAN ANAK PESISIR

KEHIDUPAN ANAK PESISIR

Ombak yang tenang mengalun di pantai. Awan kelabu sebagai pendamping langit telah bangkit dari peraduannya. Sinar matahari dari ufuk timur menjadi penyemangat pagiku. Kala itu, aku melihat ibu yang memasak sarapan. Kami hanya meliriknya dan memperhatikannya saja. Setelah ia memasak sarapan, ia menyiapkan barang-barang ayah yang ingin pergi melaut. Begitu juga ayahku, ayah yang sedang sibuk menyiapkan perahu dengan sigapnya segera mengingatkan kami.

            “ Ayu, Nanda, Irsya sana cepat sarapan biar ke sekolah.” Perintah ayah pada kami. Astaghrifullah. Segera kami bergegas dan sarapan.

            “ Kak Ayu, kakak sekolah ya !” Kata adikku, Cika, yang masih berumur 3 tahun. Walaupun usianya masih kecil tetapi ia sudah bisa berbicara dengan lancar. Aku, Nanda dan Irsya sudah siap berseragam dengan rapi. Kami pergi ke ruang makan. Rumah kami sederhana tapi kami masih bisa membagi ruang di dalamnya. Ruang makan kami bersebelahan dengan ruang tengah. Karena kebanyakan para nelayan membangun rumah di tepi pantai terpaksa rumah kami bersebelahan. Setelah sarapan, aku lewat dari ruang tengah. Kebetulan, ayah sedang minum kopi disana. Ayah berpesan kepadaku

            “ Ayu, bapak ke laut untuk menyekolahkan kamu, bapak cari ikan terus menjualnya di pajak. Belajar yang rajin ya, nak. Jangan malu pekerjaan ayah dan ibu seperti ini. Banggakan orang tuamu dan adik-adikmu, Nanda dan Irsya.” Pesan ayah padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung menganggukkannya. Entah apa ayah mengatakannya seperti itu tapi aku menganggapnya seperti hal biasa saja. Tiba-tiba ibu datang menyuruhku pergi ke sekolah. Aku langsung pamit dengan mereka

            “ Ayah, ibu, Ayu pergi dulu ya. Assalamualaikum!” Kataku. Sambil menyalam ayah dan ibu.

            “ Walaikumsalam!” jawab mereka.

            Aku pergi ke sekolah berjalan kaki. Melewati hamparan sawah yang luas.Aku satu sekolah dengan Irsya, sedangkan Nanda ia masih TK dan jaraknya tidak jauh dari lokasi sekolahku. Terpaksa, aku harus mengantar Nanda dulu.

“ Nanda, jangan bandel ya, dik!” Pesanku pada Irsya.

“ Iya kak” Jawab adikku yang lucu itu. Ia berbicara dengan omongan yang lucu. Ia sering menyingkat nama orang karena ia kurang lancar berbicara. Berbeda dengan Cika. Ia sering menyingkat namaku kak Ayu dengan ‘Tayu’. Seringkali kami tertawa mendengar cara berbicaranya yang lucu. Setelah aku mengantar Nanda ke sekolahnya kami langsung pergi ke Sekolah. Sesampai di sekolah tidak lama bel berdering dengan kencangnya. Semua siswa berhamburan ke luar untuk apel pagi. Aku langsung bergegas ke kelas agar tidak terlambat apel pagi. Begitu juga Irsya. Setelah apel semua siswa masuk ke dalam kelas untuk mengikuti jam pelajaran. Di kelas, ibu guru mengumumkan akan ada pentas seni di sekolah. Semua orang gembira, tetapi aku hanya duduk terpaku. Apakah aku harus mengajak orang tuaku ?. Apakah mereka akan mencaciku dengan perkataan yang bukan-bukan. Seketika itu, bel berdering dengan panjangnya. Semua orang berhamburan keluar tanpa terkecuali. Di kantin, Silvi dan teman-temannya makan dengan puasnya. Silvi adalah anak orang kaya yang cantik tetapi sombong. Seringkali teman-temanku diejek olehnya termasuk aku. Aku sering dipanggil ‘ikan . Tiba-tiba ada seorang anak yang menawarkan makanan pada Silvi. Bajunya kotor dan bau.

            “Mbak, ini peyek ikan mbak.” Kata anak itu pada Silvi. Silvi menertawakan anak itu. Ia menyenggol anak itu hingga ia terjatuh bersama barang dagangannya. Ia menginjak-injak barang dagangan anak itu.

            “Dagangan itu di bawah kolong jembatan, jangan disini!” Kata Silvi dengan ketusnya. Wajahku memerah melihat Silvi . Hatiku tertegun, betapa teganya Silvi menginjak-injak ikan yang didapatkan para nelayan yang berjuang di tengah laut. Hatiku tersentuh melihat anak tadi, aku menolongnya dan lagi-lagi Silvi mengejek kami.

            “ Memang benar ya, ikan jorok sama ikan teri. Sama – sama bapaknya nelayan, sama-sama jorok, lagi!” jawab Silvi sembari mengejek kami. Aku tidak memperdulikan cacian Silvi. Aku membantu anak itu dan membereskan barang dangannya. Aku hanya bisa berkata polos pada Silvi.

            “ Silvi, aku tau kamu itu anak orang mampu, setidaknya kamu juga perlu menghargai betapa susahnya mereka mencari nafkah hanya dengan sesuap nasi, Silvi!” Kataku tegas.

            “Emang gue pikirin !” Jawabnya sambil mentertawakan kami. Aku hanya diam, setidaknya aku pernah memperingatkannya.

            “Adek yang sabar yah.” Jawabku polos. Setelah ia membereskan dagangannya ia pergi melanjutkan dagangannya. Aku masuk ke kelas dan melanjutkan pelajaran. Setelah beberapa lama bel berdering dengan panjang menandakan. Seketika pelajaran yang disitu usai. Aku pergi ke kelas Irsya, menjeput Nanda dan pulang ke rumah.

***

Sesampainya di rumah, aku melihat ibu yang sedang menjemur ikan yang didapatnya. Ia berjuang melawan teriknya matahari. Aku kasihan melihat ibu. Aku juga ikut membantunya. Saat aku ingin membantunya dia melarangku.

            “ Ayu, jangan disini panas. Kamu didalam rumah aja. Ambilkan nasi Nanda dia sedang lapar ” Kata ibu. Aku tahu ibu akan jawab seperti itu. Tapi aku tidak tega melihat ibu di terik panas itu. Aku hanya memperhatikannya saja dan menyuapi Nanda, tidak lama ibu telah siap menjemur ikan itu.

            “Ayu, ambilkan ibu air nak!” kata ibu padaku. Dengan cepat aku langsung memberi ibu air minum. Ibu langsung meneguk air yang segar itu. Memang air itu adalah air dingin yang sengaja aku berikan, karena ibu pasti lelah. Sorenya aku melihat ayah dengan teman-temannya. Ia mendapatkan banyak tangkapan ikan.

***

Malamnya di saat kami selesai makan, aku berbicara pada ayah dan ibu tentang pentas seni yang ibu guru katakan. Ibu berkata padaku

            “ Ayu, Ibu dan ayah akan datang Irsya, Nanda, dan Cika juga. Ibu dan ayah senang melihat kamu tampil. Jangan malukan kami yah nak. Semangat !”Kata ibu.

            “Semangat !” Jawab Irsya, Nanda, dan Cika denga serempak. Kata-kata tadi menjadi penyemangatku. Masa bodoh itu tidak lagi kupikirkan.

***

            Hari ditunggu telah tiba, tapi aku tidak melihat ibu dan ayah datang. Lagi-lagi Silvi datang dengan sombongnya

            “ Paling yang datang cuma bapaknya yang nelayan  itu kan.” Kata Silvi dengan tinggi hatinya. Semua orang menertawakanku. Aku hanya diam. Bagiku Silvi hanya seorang yang biasa berkomentar. Tanpa pikir panjang aku meninggalkannya.

            Saat nama kami dipanggil kami tampil semaksimal mungkin dengan temanku. Di akhir acara semua orang memberi sambutan meriah dengan kami. Semua temanku pergi dengan keluarganya sedangkan aku sendiri tanpa didampingi siapapun. Saat akhir acara, perasaan yang tidak enak ada di hatiku. Aku langsung pulang ke rumah . Di tepi laut aku melihat badai dan hujan deras. Aku melihat ibu yang berteriak memanggil ayah. Semua orang juga berteriak memanggil ayah. Aku melihat ayah yang sedang membantu seorang bapak yang sulit menarik jaring hasil tangkapannya ayah juga membantu tetapi terlambat badai itu sangatlah deras sehingga ayah tenggelam bersama bapak tadi.

            “ Ayah!” Kataku menjerit melihat badai yang sedang menerjang ayah. Semua orang berteriak termasuk ibu yang menjerit histeris dan pingsan. Bumi tempatku berpijak serasa tidak terasa. Napasku serasa terhenti. Suasana itu hening mencekam. Sungai kecil ini ingin jatuh tetapi aku hanya menahannya. Dalan hati aku menangis, menjerit melihat ayah. Tak bisa kubayangkan ayah yang senang menasehatiku sudah hilang dari pelupuk mataku. Nanda dan Cika sedang menarik bajuku

            “ Kak, kenapa semua orang berteriak. Ayah mana? Dimana kak ? Kok ibu pingsan” Perkataan itu terus diulang Cika dan Nanda. Ya Allah, bagaimana aku menjawab pertanyaan mereka sedangkan hatiku sedang disayat. Sorenya ramai-ramai orang ke tepi pantai untuk mengangkat jenazah ayah. Innalillahi wa inna lillahi rojiun. Ayah dimandikan, disholatkan, dan dikebumikan. Setelah Ayah dikebumikan ibu yang sedari tadi menangis segera memeluk makam ayah dan berpesan pada kami

            “ Ayu, Nanda, Irsya, Cika, itu adalah kuasa Allah nak. Sekarang cuma tinggal kita, ibu dan adik-adikmu, Ayu. Ibu harap kalian bisa akur bagaimanapun kondisi kita. Kita hanya rakyat pesisir biasa. Rajin sholat, berbakti pada orang tua, dan berdoa pada Allah agar Allah menerima ayah disana sayang. Jadi anak yang baik yah!” Kata ibu sambil mengelus kepala kami.

            “ Kak, yuk kita berdoa!” Kata Nanda dan Cika. Aku bisa merasakan bagaimana sebenarnya hati kecil mereka.

“ Ya Allah, semoga ayah bahagia disana bisa melihat kami. Ibu, Kak Ayu, Bang Irsya, Nanda, dan Cika sayang ayah.” Kata mereka memohon pada Allah. Air mata ini perlahan menetes dan menetes melihat kata-kata mereka. Tak kuasa aku melihat mereka seperti itu. Aku hanya pasrah, tabah dan memohon pada Allah. Hanya itu yang bisa aku berikan pada Ayah. Ayah kau adalah ayah yang baik untukku. Aku perlu belajar darimu. Ya Allah tabahkanlah hati kami mendapat cobaan ini. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ila ha illalah.

***

KARYA : NAZWAH ZAKIYA ZAHRAH PARDOSI

SISWA KELAS VII A MTsN BARUS

496 DIBACA
Kamis,2017-10-12,19:30:32

RAHMATMU YA ALLAH ....

Kamis,2017-10-12,19:25:12

Yang Terkasih

Kamis,2017-10-12,15:40:13

Kemenag Jalin MoU Dengan BPJS Ketenagakerjaan Kota Binjai

Kamis,2017-10-12,15:06:38

MAN 2 Padangsidimpuan Adakan Pelatihan UKS dan KKS

Kamis,2017-10-12,14:41:57

KPKNL Revaluasi BMN di MTs Negeri Kisaran


0 Komentar :