Jumat,2017-10-13,13:41:07

TIGA SAHABAT

TIGA SAHABAT

Entah mengapa kisah persahabatan kita dulu terbayang dalam pikiranku. Di malam yang sunyi aku mengingat kembali kisah kita waktu sekolah di SMP. Sahabatan bertiga, selalu bersama, lalu akhirnya berpisah, Tifa, Mila dan Rahma.

Ini kisah kita sahabat ...

            “ Tifa, Rahma, ayo udah pada baris tuh”

            “ Ha, Mila”. Jawab rahma sambil merapikan dasinya, “yuk”

            Sambil mendengarkan arahan dari guru, yang menyampaikan agar kami ke lapangan dengan hati-hati dan kembali berbaris di lapangan untuk Upacara Kemerdekaan Indonesia.

            “Kita gak usah pawai ya, capek”. Ajak Mila

            “Emang ga papa tu?” Tanya Tifa

            “Enggak” dengan nada agak lantang Rahma menjawab. “ Kita jalan-jalan yuk”

            Saat kita keliling, Rahma pengen beli gelang. Eh jadi kita bertiga yang beli gelang. Perut Mila keroncongan, kita bertiga makan sate. Tifa yang kehausan, kita bertiga beli teh poci, ya, kita bertiga selalu sama.

            Di tengah perjalanan kita bertemu dengan Winda. Dia mengajak kita makan mie.

            “Tapi Winda kita udah kenyang.” Jawab Rahma

            “tapi aku laper kak Tifa aja yang yang temenin aku, yuk”. Ajak Winda

            “Tapi ....” Belum selesai aku bicara sudah dipotong Winda.

            “Ayook”. Ajak Winda agak memaksa.

            “Yauda deh, Rahma, Mila aku temenin Winda dulu ya. Nanti aku nyusul. Bye”. Ucap Tifa sambil meninggalkan mereka berdua.

            Sehari setelah 17-san Rahma dan Mila tidak menyapa Tifa. Tak ada hujan, tak ada badai. Entah apa yang mereka pikirkan.

            “Mila ini ngerjainnya gimana ya?”

            “Gak tau”. Jawabnya singkat

            “Rahma, kamu tau?”

            “Ngak”. Rahma juga menjawab denga singkat

            Mereka kenapa sih ? Marah gak jelas. Pikir Tifa. Ada apa ya ?

            Tifa terus berpikir mengapa Mila dan Rahma tidak mengacuhkannya. Sepulang sekolah Tifa bercakap-cakap dengan Winda tentang masalahnya.

            “Apa? Mereka gak nyapa kakak?”

            “Iya. Aku juga bingung, salah aku apa coba? Kemaren juga masih baik-baik aja.” Ucap Tifa dengan nada kesal dan bingung.

            “Ya udah. Mending besok kakak tanya aja langsung “

            “Ya udah deh. Aku duluan ya”

            Tanpa pikir panjang Tifa menyapa mereka. “Rahma, Mila kenapa sih kalian cuekin aku ?”

            “Itu semua gara – gara kamu”. Jawab Rahma

            “Memangnya apa salah aku?” Tanyanya lagi

            “Pikir aja sendiri apa yang kamu lakuin waktu itu”. Mila berkata sambil meninggalkan Tifa diikuti Rahma.

            “Kak Tifa”. Seseorang memanggilnya siapa lagi kalau bukan Winda.

            “Gimana kak, masalahnya udah selesai ?”

            “Belum”. Dengan nada pasrah. “aku juga masih bingung”

            “Apa kakak mau marahan sama mereka yang gak tau sebab akibatnya? Enggak kan “.

            “Kakak samperin mereka lagi”.

            “Nanti aku coba pulang yuk”.

            Hampir seminggu tiga sahabat itu tidak bertegur sapa. Bahkan mereka suka menjahili Tifa. Kelakuan mereka sudah keterlaluan mungkin Ia harus bicara pada Rahma dan Mila. Tifa sudah tidak tahan lagi dengan pertengkaran yang tidak jelas ini. Tanpa basa basi Tifa berhadapan dengan mereka.

            “Tunggu” kata Tifa

            “Apa-apaan nih”. Dengan nada agak besar Rahma membantah

            “Jangan halangi jalan kita dong”.

            “Aku mau tanya sama kalian. Kenapa kalian jauhi aku ? Salah aku apa?”

            “Kamu masih tanya kenapa? Kamu gak sadar apa? Kamu ninggalin kita. Dan kamu lebih pentingin dia dari pada kita? Sahabat kamu itu siapa? Dia atau kita”

            “Maksud kalian siapa?”

            “Winda”. Jawab Mila dengan nada memanas

            “Tapi kan ...” Ucapannya terpotong

            “Kamu gak dengerin penjelasan kita. Kamu langsung pergi aja. Dan kamu gak kelihatan lagi kayak hilang ditelan bumi”. Potong Mila

            “Jadi gara-gara itu kalian marah sama aku? Oke fine.” Ucapannya terhenti sejenak. “aku minta maaf”. Sambil mengulurkan tangannya.

            “Kalian maukan maafin aku. Aku gak mau masalah ini berlanjut. Aku rindu masa-masa kita bertiga bareng, makan bareng, jalan bareng”.

            “Sama Tifa kita juga rindu waktu kita bareng”. Ucap Mila

            “Jadi kalian maafin aku kan”. Dengan nada berbinar. Rahma menarik pundak Tifa dan memeluknya bersama Mila.

            “Iyalah kenapa enggak”. Jawab Rahma dan Mila hampir bersamaan.

Hari ini... Langit biru yang begitu cerah membawa kita pergi bersama teman sekelas. Tak lupa dengan sahabat yang ikut piknik bareng di akhir semester.  Langit biru ini tidak berubah hingga kita tiba ke tujuan kita, air terjun.

            Bersama kita terjun kedalam air yang dingin. Namun marena kebersamaan kita rasa dingin itu berubah menjadi hangatnya kebersamaan kita.

            Dan pada akhirnya kita akan berpisah, setelah tiga tahun bersama. Rahma melanjutkan sekolahnya ketempat lain, begitu pula dengan Mila. Mau tak mau aku juga harus pergi.

            Walau hari ini tak selamanya, setidaknya kita bersama-sama aku tahu aku tak sendirian, kita tak sendirian. Walau kita berpisah apa kalian menganggap aku sahabat? Apa kalian akan melupakan senyumanku ? Aku yakin pikiran kita masih sama yaitu menganggap kita sahabat. Dan terus menganggap kisah kita. Yang jauh dimata dekat dihati.

            Perpisahan itu gak harus ditangisi, karena aku yakin kita akan berjumpa lagi. Walau berat rasanya, habiskan hari-harimu dengan senyuman. Walau tanpa sahabat. Temukan teman baru dan sahabat baru. Tapi ingat kita tetap sahabat.

Iyakan Rahma, Mila (Berpelukan)

 

KARYA : NURLATIFA

SISWI KELAS IX MTsN BARUS

170 DIBACA
Jumat,2017-10-13,11:06:58

MTsN Meranti Adakan Pembinaan PCL Menuju Sekolah Adiwiyata

Jumat,2017-10-13,10:44:23

Aliran Kepercayaan Tidak Boleh Mengganggu Nilai-Nilai Agama Lain

Jumat,2017-10-13,10:38:02

Penyuluh Agama Kristen Wajib Membuat Laporan Kerja

Jumat,2017-10-13,10:10:09

Data EMIS Sebagai Acuan Perencanaan Program PAI

Jumat,2017-10-13,09:29:45

Laporan Pertanggungjawaban BOP RA Segera Disiapkan


0 Komentar :