Jumat,2017-10-20,13:19:59

MENAKAR KESANTUNAN BERPENDAPAT (Menyimak Prilaku Rasul Dalam Mengeluarkan Pendapat)

MENAKAR KESANTUNAN BERPENDAPAT (Menyimak Prilaku Rasul Dalam Mengeluarkan Pendapat)

Memberikan tanggapan, opini dan argumentasi terhadap sesuatu masalah yang sedang berkembang saat ini terutama di Media Sosial sudah mulai beranjak dari upaya pencarian kebenaran kepada upaya melakukan gerakan pembenaran, sehingga yang bertabur diberbagai kesempatan adalah “Perang Pendapat” antara barisan pro dan barisan kontra, dimana mereka yang pro menjelaskan dan yang kontradiktif berupaya menegaskan kesalahan.

Realita hari ini, diera pemanfaatan tekhnologi yang kian kencang, pada akhirnya membawa banyak manusia begitu ambisius dan siap “Bertarung” hebat dalam laman laman media sosial. Kritik, pesan, kesan, curhatan berbaur utuh dan menyeluruh bersama sama dengan pujian hingga cacian dan atau ujaran kebencian.

Yang sangat mengecewakan adalah bagaimana dunia maya menjadi tidak lagi menjaga nilai nilai kesantunan, melupakan etika dan mengaburkan konten etis, dimana pola penyampaian tidak lagi hanya sebatas membagi informasi, tidak lagi sebatas mengutarakan opini, tidak lagi berkisar pada penyampaian argumentasi. Akan tetapi sudah menjurus pada visi, bentuk realita dari ambisi untuk melegalkan sesuatu yang merendahkan, menghina, menghujat dan atau melecehkan satu ajaran dan atau bentuk lain yang bersamaan dengannya.

Bercermin pada kepribadian Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah (Suri teladan), pada dasarnya telah memberikan gambaran sikap dan cara terbaik yang dapat ditiru oleh seluruh umat. Rasulullah SAW sudah memberikan contoh terbaik bagaimana menunjukkan ekspresi, bagaimana cara terbaik dalam menyampaian argumentasi, bagaimana melakukan kritik dengan baik, bagaimana membangun saran sesuai dengan kaidah kelembutan kepada sesama manusia.

Sebagai pengikut Rasulullah SAW, kita harus dan semestinya menjalankan praktik yang sama, mengedepankan sikap yang sama, menjadikan keindahan akhlak Rasulullah SAW sebagai panutan dan ikutan, sebagai ilmu pengetahuan yang wajib untuk dijalankan. Bagaimana Rasulullah SAW menunjukkan keindahan akhlak dan bagaimana beliau beretika dalam menyampaikan pendapat bisa ditemukan dalam beberapa literatur hadits.

Dalam Kitab Sahih Muslim yang ditulis oleh Imam Abul Husain Muslim Bin Al Hajjaj Al Qusyairi, diriwayatkan oleh Anas ibn Malik dikisahkan, seperti biasa Rasulullah SAW berjalan jalan bersama para sahabat berkeliling di wilayah Madinah, ditengah perjalanan, Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma, Saat melihat kejadian itu, Rasulullah SAW memberikan tanggapan kepada para penduduk tersebut. “Sekiranya mereka tidak melakukan hal itu, pohon kurma itu juga akan tumbuh baik”.

Dalam hal ini Rasulullah SAW tidak menggunakan kata-kata yang menyebutkan kepastian. Akan tetapi, karena yang mengatakan hal itu adalah Rasulullah SAW, maka masyarakat Madina sepakat untuk ikut dengan kata kata itu dengan meninggalkan kebiasan mengawinkan pohon kurma, walaupun sebenarnya kegiatan itu sudah dilakukan jauh sebelumnya, sudah turun temurun dilakukan oleh masyarat banyak.

Akan tetapi, setelah beberapa waktu berjalan, ternyata pohon kurma masyarakat Madina tidak tumbuh seperti biasanya, tidak tumbuh bagus, dan bahkan rusak sehingga tidak memberikan hasil maksimal bagi para petani kurma. Rasulullah SAW akhirnya mengetahui dan menyadari kalau pendapat yang dikeluarkannya ternyata keliru.

Apa yang terjadi selanjutnya ?. Apakah Rasul tetap bertahan dengan pendapatnya dan meminta sahabat ikut membantu dan mendukung komitmennya, sama sekali tidak, Rasulullah SAW dengan segala kerendahan hati, Rasulullah SAW berkata kepada para kaum di Madinah dengan mengatakan. “Antum a’lamu bi amri dunyakum (kalian lebih mengetahui urusan tersebut).”

Ini adalah penggalan sejarah bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah memaknai kenabiannya dengan merasa leluasa dan berkuasa, saat beliau merasa berada pada pihak yang kurang tepat, maka beliau mengakui ketidak tepatan itu dengan sebaik baiknya, memberikan apresiasi bagi mereka yang ternyata berada pada posisi yang memang benar.

Melihat catatan kisah ini, ada beberapa point yang pantas untuk kita ambil manfaatnya, kita jadikan sebagai bahan untuk perbandingan dalam mengambil sikap, mengeluarkan pendapat, membangun opini atau bentuk lainnya yang berhubungan dengan menyampaikan informasi ke publik.

Hal pertama adalah bagaimana memberikan kritik yang baik, sebagus dan sehebat apapun kritik yang ingin disampaikan, akan menjadi sia sia, akan menjadi sama sekali tak bermakna, akan menjadi hampa tak berguna jika disampaikan dengan cara yang tidak elegan, jika disampaikan dengan cara mengedepankan sudut pandang pembenaran, tanpa menakar perasaan orang lain.

Kemudian, makna kedua adalah tahu diri. Apa dan siapa kita dalam masalah yang sedang booming. Jika itu bukan bidang kita, bukan ranah kita, bukan hal yang sepenuhnya kita kuasai, maka sebaiknya jangan atau tidak perlu mengeliarkan pendapat, atau lebih simpel dengan bahasa, berikanlah kritik, saran, tanggaran, opini dan atau argumentasi sesuai dengan kapasitas yang kita miliki.

Bagaimana dengan setuasi saat ini. Data, fakta dan realita dengan gamblang mengatakan dan menunjukkan banyak justru berlangsung sebaliknya, ada banyak keberanian mengeluarkan argumentasi bahkan dengan pola merendahkan, bahkan dengan gaya dan bahasa penghinaan, hanya karena tidak memiliki tujuan yang sama. Andai kapasitas yang bersangkutan setara atau lebih baik dengan mereka yang dikomentari bisa jadi dan mungkin tidaklah menjadi masalah.

Akan tetapi faktanya memberikan gambaran sebaliknya, menunjukkan arogansi, ngotot dan memberikan vonis yang buruk kepada setiap orang yang berseberangan dengannya, walau pada dasar yang sesungguhnya yang memberi komentar “Bukan Apa apa” mereka yang dikomentari.

Masyarakat awwam masuk kedalam ranah yang bukan rumahnya, menjadi politikus dunia maya, memberikan gambaran yang tidak sesuai namun bertahan dan tidak siap menerima kebenaran, memilah milah oknum dan keadaan, menyalahkan yang satu dengan mengabaikan yang lain, hanya beliau yang benar, yang lain salah besar.

Keadaan dan kondisi ril hari ini memberikan kita kenyataan bahwa ada banyak orang yang menempatkan kebenaran hanya ada pada kelompoknya, hanya ada pada sisi kepentingannya dan kebutuhan kelompoknya, sehingga yang terjadi pada akhirnya adalah pencarian konten, karena kebencian terhadap satu orang atau kelompok tertentu, maka upaya pencarian celah aktif dilakukan, mengembangkan perdebatan tanpa punya keinginan untuk berada dalam kondisi kekalahan.

Sebagai penutup, ada baiknya kita sama sama menyimak hadistyang disampaikan Rasulullah SAW yang berbunyi : “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi) dan dalam hadis lain disebutkan Rasullah SAW bersabda : “Aku jamin rumah di dasar syurga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak syurga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud).

 

Oleh : Syamsuddahri Pulungan

Dosen STAI Bahriyatul Ulum KH Zainul Arifin Pandan Tapanuli Tengah

122 DIBACA
Jumat,2017-10-20,13:09:15

Siswa MAN Dolok Masihul Berprestasi Dalam Pensi 1439 H

Jumat,2017-10-20,13:00:48

Kakankemenag Labuhan Batu Kunker ke MTsN Panai Tengah

Jumat,2017-10-20,10:08:04

Apel wali di kelas IX-G dan sekaligus serapan bersama

Jumat,2017-10-20,09:36:26

Siswa MTsN Aek Natas Ikuti Matematika Fair 2017 di Unimed

Jumat,2017-10-20,09:03:18

MTsN Lubuk Pakam Juara Tiga Turnamen Liga Pendidikan Indonesia 2017


0 Komentar :