Senin,2017-10-30,11:00:38

PENGGANTI AYAH

PENGGANTI AYAH

Teringat kisahku dulu tentang sosok pengganti seorang ayah. Sosok di saat aku sedang kesepian karena telah merasa kehilangan dari seorang yang kusayang dan datang kembali sosok penggantimu. Sosok yang sama sepertimu dan harus berakhir sama untuk meninggalkan ku kembali. Yaitu Pak Daniel.

***

            Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Kulihat ke jendela menatap rumah penduduk yang masih tertutup. Kulihat jalan yang masih sepi, hamparan sawah yang luas menjadi penenang pagiku itu. Suara ibu yang panjang menjadi pengaget dari lamunanku.

            “ Adri... Cepat antarkan ketupat ini nak! ” Ucap ibu mengagetkan ku. Kutepuk jidadku. Astaghfirullah. Segera aku langsung ke kamar mandi untuk sholat. Setelah dua puluh menit aku bersiap, aku pergi untuk berpamitan.

            “ Ibu, Adri pergi dulu ya. Assalamualaikum ” Ucapku pada ibu dan langsung mencium tangannya.

            “Walaikumsalam. Sekalian juga ya nak antarkan ketupat-ketupat ini ke warung-warung. Ibu mau ke sawah” Jawab ibu sambil memberikan sekantong ketupat yang dibungkus plastik. Aku kembali menapakkan kaki ke tanah yang masih asri itu. Aku langsung menuju warung-warung untuk mengantarkan ketupat dan langsung pergi ke sekolah. Sekolah ku cukup jauh karena harus menempuh 4 km dari rumah. Aku tidak menggunakan alat apapun kecuali hanya berjalan kaki. Aku tidak mau meminta apapun dari ibu karena ibu sudah tua dan sedang sakit-sakitan. Wajar aku tidak pernah mengeluh karena aku sudah sering berjalan ke sekolah. Kulewati jalan aspal itu dengan beriringan ke sana kemari. Kulihat juga burung yang saling berkicauan.

            Pagi itu aku sudah sampai di pagar sekolah. Lonceng yang sudah tua itu berdentang 3 kali menandakan pelajaran akan dimulai. Segera aku langsung masuk ke kelas untuk memulai pelajaran dari ibu guru. Sepanjang pelajaran yang disampaikan aku mengikutinya dengan baik. Hingga pada akhirnya ibu guru mengajukan pertanyaan pada kami semua.

            “ Anak-anak, jaringan epitel adalah jaringan pelindung atau sebagai alat pertahanan tubuh. Terdapat dimanakah jaringan epitel ? ” Ucap ibu guru. Semua orang tidak tahu dan aku memberanikan diri untuk menjawabnya.

            “ Jaringan epitel terletak di kulit bu“ Jawabku dengan semangat. Semua orang memberi tepuk tangan padaku. Hatiku menjadi senang. Kecuali, Reno dan Tito.

            “ Bagus Adri. Nanti ada nilai tambahan untukmu. Pertahankan nak” Kata ibu guru memotivasiku. Aku sangatlah senang. Hingga lonceng kembali berdentang menandakan jam pelajaran usai semua orang berhambutran keluar, kecuali aku. Aku hanya membawa bekal dari rumah dan memakannya di dekat taman. Setelah lonceng kembali berdentang kami masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran dan pada akhirnya lonceng itu kembali berdentang menandakan pukul satu siang untuk waktunya pulang.

            Di jalan aku berjalan bersama temanku yaitu Adi. Di jalan yang sama aku melihat Reno dan Tito menertawakanku. Aku tidak tahu mengapa mereka menertawakanku.

            “ Sepatu udah robek kok masih dipakai kesekolah. Gak modal !” Dengan nada tersenggal Reno tertawa melihatku.

            “ Gak modal atau gak punya uang yah. Makanya jangan miskin!” Sahut Tito. Aku hanya diam melihat mereka tertawa. Aku hanya memperhatikan sepatuku yang robek itu. Adi yang sedari tadi melihat kami wajahnya langsung memerah.

            “ Mentang-mentang kalian anak orang kaya jangan ngejek dong!” Ucap Adi dengan nada tinggi.

            “ Sudah Adi. Biarkan saja kita gak boleh bertengkar” Jawabku menenangkan Adi. Aku terus berjalan dan berpisah di persimpangan bersama Adi. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku sampai di rumah. Keringat di dahiku masih bercucuran dan aku harus mengelapnya. Dari kejauhan kulihat ibu juga bertani. Kulihat dia sedang duduk beristirahat untuk melanjutkan pekerjaan. Tersadar, aku langsung mengganti baju lalu menanak nasi. Wajar kalau aku anak lelaki menanak nasi atau bahkan memasak makanan. Karena, kakak-kakakku sudah pergi merantau entah kapan kembali.

            Terkadang, jika aku memasak nasi, aku harus menghembus tungkunya sampai api menyala. Memasak makanan untuk makan malam dan membuat es untuk dijual. Sorenya kulihat ibu yang sedang kelelahan dan kakinya dipenuhi oleh lumpur. Kemudian, kulihat ibu pergi ke kamar mandi. Segera aku menyiapkan makan malam dan sholat maghrib di rumah. Saat kami makan malam.

            “ Ardi, masakan kamu enak nak! ” Ucap ibu memujiku. Hatiku senang mendengar pujian ibu. Malamnya aku bicarakan pada ibu tentang sepatuku yang sobek.

            “Bu, tadi Ardi diejek teman-teman gara-gara sepatu Ardi sobek” kataku memulai pembicaraan.

            “ Nanti ibu usaha biar bisa beli sepatu kamu ya, Ardi” jawab ibu pelan. Hatiku senang bercampur gembira. Apa ibu terpaksa membelikanku sepatu atau tidak aku tidak tahu.

***

            Besoknya, kulihat ibu pagi sekali pergi ke sawah. Aku hanya memperhatikan saja dan ibu berpesan padaku.

            “ Ardi, ibu duluan ke sawah dulu. Ketupatnya udah ibu masak. Assalamualaikum” dengan nada pelan ibu berbicara. Aku hanya menganggukkannya saja. Aku segera bergegas dan pergi ke sekolah. Di sekolah kulihat kepala sekolahku, Pak Daniel sedang memanggilku. ‘

            “ Adri, bapak lihat sepatumu sudah sobek. Ini bapak belikan kamu sepatu. Ayo pakai!” Kata Pak Daniel padaku. Hatiku sangat senang melihat sepatu baru itu dan bercampur gembira. Karena itu adalah pemberian kepala sekolah. Di kelas lagi-lagi Reno dan Tito mengejekku.

            “ Alah, baru dibeliin sepatu udah bangga”.  Ucap Reno padaku dengan lirih. Aku tahu maksud mereka apa tapi aku hanya membiarkannya saja. Karena, mendiang ayah sudah pernah berpesan padaku bahwa kita tidak boleh tawuran dan melawan orang lain.

            pulang sekolah aku diajak makan siang bersama pak Daniel.

            “ Ardi, ayo makan siang sama bapak” Ucap Pak Daniel padaku. Aku hanya menganggukkanya. Tapi bagaimana nanti ibu. Sesampainya di rumah Pak Daniel aku diajak ke rumahnya. Rumahnya tidak besar dan minimalis hanya sederhana.

            “ Ayo, Ardi ” Kata Pak Daniel padaku. Aku makan siang bersama Pak Daniel. Hingga aku tahu siapa saja anak-anaknya dan kerabatnya. Ternyata, semua anaknya pergi merantau dan hanya tinggal kerabatnya saja. Aku mengenali semua kerabatnya. Hingga pukul 3 aku sudah sampai di rumah.

            Di rumah segera aku ganti baju dan menanak nasi. Karena aku lupa membeli ikan, terpaksa makan malam kami hanyalah nasi saja. Aduh Adri!. Sorenya ketika ibu pulang ibu membawa kotak bekal makanan yang kelihatannya berisi. Ingin kutanya ibu tetapi aku harus menunggu karena ibu baru saja pulang. Di malamnya aku berbicara pada ibu bahwa aku tidak sempat membeli lauk untuk makan.

            “ Ibu, Adri lupa membeli ikan jadi makanan kita hanya ini saja” Kataku pada ibu bersedih.

            “ Adri, Ibu tahu kamu terlambat pulang. Tetapi tadi kepala sekolah kamu memberikan makanan dan dia juga sudah memberi tahu kepada ibu kalau kamu makan siang di rumahnya. makanya kamu terlambat pulang ke rumah kan” Ucap ibu gembira. Akhirnya kami bisa makan dengan lauk. Ternyata, masakan yang dimasak istri kepala sekolahku rupanya makanan kesukaanku.

            “ Adri, ini kan makanan kesukaan kamu?” Tanya ibu padaku.

            “ Iya bu rasanya juga persis dengan masakan ibu” Jawabku pendek. Setelah kami makan malam aku juga memberitahu kepada ibu tentang hadiah pemberian Pak Daniel.

            “ Ibu, tadi Adri dapat hadiah dari bapak itu. ini hadiahnya!” kataku sambil menunjukkan sepatu pada ibu.

            “Ternyata, Pak Daniel seperti ayahmu dulu ya. Dia baik dan ramah” Ucap ibu sayup-sayup. Aku hanya bisa melihat ibu menangis menitikkan air mata. Aku menghapus air mata ibu. perlahan hatiku juga tersentuh. Melihat ayah yang begitu cepat pergi. Ya Allah terima kasih telah memberikan pengganti ayah disisiku.

***

            Saat pagi kembali aku menjalankan rutinitasku, menjual ketupat dan berjalan kembali ke sekolah. Ternyata, di kelas ibu guru mengumumkan akan ada acara pidato antar kelas. Ibu guru menunjukku untuk berpidato.

            “ Adri, sebagai perwakilan dari kelas kamu ibu tunjuk sebagai pembawa pidatonya. Bagaimana setuju semua !” Ucap ibu dengan tegas dan lantang.

            “ Setuju bu!” jawab mereka menyetujuinya. aku tidak menyangka, tenyata aku sebagai pembawa pidato. Mulai sekarang aku berlatih dan berlatih. Semenjak aku menjadi pembawa pidato. Aku sering sekali diajak ke rumah Pak Daniel. Di rumahnya sehabis makan aku juga sering berlatih. Hingga waktu yang ditunggu telah tiba.

            “ Yang saya hormati bapak kepala madrasah dan mualim – mualimmah. serta teman-teman yang berhadir ...” Ucapku cambil berpidato di depan podium. Seusai aku berpidato semua orang bertepuk tangan padaku. entah bertepatan atau apa kebetulan isi pidato ku adalah tentang perpisahan. Ternyata hari ini adalah hari penerimaan ijazah. Di saat namaku tersebut, aku berteriak gembira. Tetapi dibalik kegembiraankanku itu, terdapat kabar buruk. Yaitu, Pak Daniel terserang kanker dan meninggal dunia. Entah mengapa hatiku tertusuk untuk kedua kalinya melihat kepergian orang yang kusayangi. Ya Allah mengapa engkau cepat sekali mengambilnya, padahal dia sudah kuanggap ayahku sendiri. Ya Allah tabahkanlah hati ini menerima cobaanmu. Seketika mobil ambulance lewat pertandanya. Inalillahiwainnalillahi rojiun ....

 

KARYA NAZWAH ZAKIYA ZAHRAH PARDOSI

SISWI KELAS VII A MTsN BARUS

147 DIBACA
Senin,2017-10-30,10:17:20

Siswa MIN Kisaran Raih Juara Melukis

Senin,2017-10-30,09:41:00

SMAK St Thomas Rasul Samosir Mengikuti Perkemahan Saka Wirakartika

Senin,2017-10-30,09:39:47

ASN Kankemenag Siantar Jangan Lupa Lima Nilai Budaya Kerja

Senin,2017-10-30,09:15:18

Ungkapan Kasih dari Pos Pelayanan HKBP Sumber Jaya

Senin,2017-10-30,09:12:10

Perolehan 100 Persen Mustahil Tanpa Ketekunan dan Kebersamaan


0 Komentar :