Kamis,2017-11-02,09:16:18

BEAUTY AND THE BEAST

BEAUTY AND THE BEAST

           Di bawah terik mentari aku berjalan dengan anggun, semua penghuni hutan menatapku dengan tatapan memuja, tatapan yang dulu aku impikan. Impian yang pada akhirnya membuat aku kehilangan dia yang sangat aku sayangi.

         Aku adalah itik buruk rupa yang bermetamorfosa menjadi seekor itik cantik yang dipuja banyak hewan. Metamorfosa yang mengakibatkan sahabatku harus meregang nyawa demi aku. Demi impianku. Impian yang bahkan saat ini sudah tak ku inginkan lagi. Andai waktu dapat diputar aku lebih memilih menjadi itik buruk rupa yang selalu berjalan di belakangnya tetapi dapat merasakan kehangatannya dibandingkan menjadi itik berparas cantik yang tak pernah merasakan kehangatan dan kasih sayangnya lagi.

        Kami bertemu di pinggir telaga. Saat itu cuaca sangat panas, dan kebetulan saat itu kami sama-sama beristirahat di pinggir telaga sambil meminum air. Tanpa sengaja kami berpandangan, aku sangat terpesona oleh keindahan bulunya. Dia adalah seekor angsa dengan bulu putih bersih dan berkilau ditimpa cahaya mentari. Berbeda sekali dengan diriku yang buruk rupa ini. Tanpa sadar aku terus saja memandanginya, namun tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

       “Hai, kenapa ngeliatin terus? Ada yang salah ya sama aku?”. Tegurnya.

       “Eh eh, em enggak kok. Habisnya kamu cantik banget. Beda banget kalau di bandingkan denganku yang buruk rupa ini”. Jawabku

        “Kamu nggak buruk rupa kok. Malah menurutku kamu itu punya sayap dan bulu yang unik. Siapa lagi yang punya ini? Itik lain saja tidak punya”. Jawabku.

        “Jangan pesimis gitu dong. Kamu harus percaya pada dirimu. Karena menurutku hati yang indah itu lebih baik dari pada fisik yang indah”. Ucapnya.

        “Terimakasih atas semangatnya angsa”. Ucapku.

        “Iya, sama-sama. Mulai sekarang kamu jadi temanku mau ya?”. Pintanya.

        “Memang kamu tidak malu punya teman buruk rupa sepertiku?”. Tanyaku.

        “Kenapa harus malu? Bukannya persahabatan itu tidak memanadang rupa ya?”. Tanyanya.

        “Ya, mungkin kamu benar. Terimakasih telah bersedia menjadikanku sebagai seorang sahabat”. Ucapku.

        “Seharusnya aku yang berterima kasih. Ya sudah berarti mulai sekarang kita sahabatan ya”. Ucapanya.

        “Iya angsa cantiiik”. Jawabku.

        “Terimakasih itiiik”. Ucapnya.

          Mulai saat itu kami bersahabat. Persahabatan kami sangat erat, sehingga membuat beberapa hewan merasa iri. Kami selalu bersama kemana-mana. Tapi, walaupun begitu, aku tak pernah bisa berjalan di sampingnya, karena aku sadar ada perbedaan besar di antara kami. Pernah sekali aku mencoba berjalan beriringan dengannya, saat melewati kumpulan hewan, aku mendengar mereka berbisik tentang aku dan angsa.

        “Liat tuh si itik, gak tau diri sekali ya berjalan di samping si angsa”. Bisik kera.

         “Ya tuh gak tau diri sekali. Gak nyadar apa kalau dia itu jauh banget kalau dibandingkan dengan angsa”. Jawab kelinci.

         “Hush, jangan kencang-kencang, nanti dia dengar”. Bisik kera.

          Saat itu juga, aku menyadari sebesar apa perbedaan ku dengan angsa. Namun, kemudian angsa menguatkan ku.

        “Sudah itik, jangan dengarkan kata-kata mereka. Mereka hanya iri kepadamu karena mereka tidak memiliki hati yang baik seperti mu”. Ucapnya.

        Seiring berjalannya waktu persahabatan kami pun semakin erat, dan selama itu juga aku selalu menyembunyikan tangis ku dari angsa. Tangis yang disebabkan oleh kata-kata murahan hewan lain. Dan anehnya semakin aku berusaha untuk melupakannya, aku malah menjadi semakin yakin bahwa perkataan mereka adalah benar. Sampai pada suatu hari tanpa sengaja angsa melihatku sedang menangis di pinggir telaga.

         “Itik kamu kenapa? Kok nangis? Cerita sama aku”.Tanyanya.

         “Tidak angsa, aku tidak apa-apa”. Jawabku.

         “Kau bohongkan itik? Jawab jujur! Aku ini sahabatmu!”. Ucapnya.

         “Aku lelah, angsa. Aku capek mendengar bisikan-bisikan hewan lain yang terus saja mengatai aku tak tahu malu karena berjalan di sampingmu! Aku capek mendengar mereka membanding-bandingkan aku denganmu! Telingaku terasa panas mendengar cibiran mereka!”. Ucapku amarahku pun memuncak.

         “Aku kan sudah sering bilang...”. Ucapnya terpotong.

         “Apa angsa? Bahwa mereka iri padaku? Karena hatiku yang baik? Iya? Begitukah?”. Ucapku dengan emosi yang memuncak.

        “Maafkan aku itik. Aku yang salah. Aku yang tak pernah mengerti perasaanmu. Maafkan aku”. Ucapnya meminta maaf.

        “Sudahlah angsa. Ini bukan salahmu. Aku yang terlalu bodoh mempercayai mereka”. Jawabku.

        “Tidak itik. Aku yang salah. Aku berjanji, aku akan mencari cara supaya kamu tidak di cibir lagi oleh hewan lain”. Janjinya.

         “Itu mustahil angsa”. Jawabku.

         “Tidak itik. Aku telah berjanji”. Ucapnya.

         Setelah ia berjanji ia pun pergi.

         Tanpa aku ketahui angsa pergi kerumah tupai untuk menanyakan jalan keluar atas masalah yang menimpah persahabatan kami. Tupai adalah seekor hewan yang mengerti tentang sihir semacamnya. Angsa pun bertanya.

         “Tupai. Apakah ada cara untuk merubah itik menjadi lebih cantik”. Tanyanya.

          “Mengapa? Sekarang kamu malu punya teman buruk rupa seperti dia?”. Tanya tupai pada angsa.

          “Tidak, aku tak pernah malu bersahabat dengannya. Aku hanya tidak ingin itik di cibir lagi oleh hewan lain”. Jawab angsa.

          ‘’Baiklah, sebelumnya apa kamu siap berkorban  untuk itik ?”. tanya tupai.

          “Maksudmu bagaimana tupai ? berkorban apa ? “ tanya angsa tak mengerti .

          “Jika kau ingin itik berubah menjadi lebih cantik, kau harus siap mengorbankan nyawamu untuknya, karena hanya pengorbanan seorang sahabat sejati yang dapat merubahnya.” Jawab tupai.

          “Baiklah tupai, aku siap asal itik bisa berubah.” Jawab angsa dengan penuh keyakinan.

Angsa pun mengorbankan nyawanya untuk perubahanku. Keesokan harinya aku terbangun. Aku membilas wajahku,dan betapa terkejutnya saat aku melihat pantulan wajahku di air. Aku berubah menjadi itik yang cantik. Dengan bulu kucing yang halus. Aku berlari kerumah angsa, dan betapa terkejutnya aku saat melihat hewan lain menangis di samping gundukan tanah yang ternyata adalah tempat peristirahatan terakhir angsa sahabatku.

          Tupai menghampiriku dan memberitahuku kejadian yang sebenarnya. Setelah mengetahuinya aku hanya bisa menangis tanpa henti. Dan sekarang aku benci dengan kecantikan yang telah merenggut sahabatku.

 

Karya : Nurfadilah Putri

Siswa Kelas XI MIPA-1 MAN Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara

232 DIBACA
Kamis,2017-11-02,09:00:38

Siswa MAN 2 Model Medan Raih Prestasi Oktober Fest FBS Unimed

Kamis,2017-11-02,08:50:09

Siswa dan Guru MTsN Meranti Buat Biopori Menuju Adiwiyata

Kamis,2017-11-02,08:24:33

Kepala MAN Lubuk Pakam Lantik Pengurus OSIM Periode 2017-2018

Rabu,2017-11-01,20:46:45

Merajut Ukhuwah Menuai Berkah

Rabu,2017-11-01,18:41:54

Program Bulan Imunisasi(BIAS) di MIN Bah Kapul pada tanggal 01 Nopember 2017


0 Komentar :