MISTERI NENEK TUA

MISTERI NENEK TUA

Siang itu, awan hitam menggumpal menyelimuti permukaan langit biru nan cerah itu. Sedari tadi, awan putih yang berjalan satu persatu mengiringi alunan langit biru itu perlahan menjadi satu dipenuhi warna hitam mengepul. Perlahan, dari daerah hulu sudah terjadi gerimis. Saat itu, suara teriakan Sarah membuatku terkejut.

            “Reva!” Katanya sambil mengejutkan aku.

            “Ahh. Sarah. Kalo kamu mau aku masuk UGD jangan sekarang. Karena aku juga mau hidup!” Gertakku sambil kesal.

            “Cieee, yang pipinya tembem marah” Jawabnya sambil mengejekku. Ya teman-temanku bilang aku mempunyai pipi tembem. Tapi dalam satu artikel kubaca, katanya orang pipi tembem itu imut. Mitos or Fakta !

            Sambil berjalan berdua bersama Sarah, aku melihat seorang nenek tua sedang berjalan bersama nenek tua. Saat dia sedang melihatku, ia langsung menutup wajahnya dengan selendang putihnya. Aku tidak bergiming sekalipun. Dari hati aku hanya ingin penasaran melihat hal itu.

            “Sarah, kamu lihatkan tadi ada nenek tua. Kamu gak takut?” Tanyaku sambil meyakinkanya.

            “Baca ajah ayat kursi. Paling kalok hantu ntar pasti hilang. Ingat Allah Reva!” Jawabnya sambil ditambahi lelucon yang agak masuk akal.

            “Iya sih nona manis. Tapi aku takut Sarah!” Seru ku meyakinkannya kembali.

            “Up to you Fira!” Jawabnya. Aku hanya melihatnya dan berjalan mengiringi aspal yang luas. Di persimpangan jalan, aku berpisah dengan Sarah.

            “Bye! Nona manis!” Kataku mengakhiri perjalan dengannya.

            “Uhhh... Bye pipi tembem!” Jawabnya sambil mencibir. Kutahu dia adalah penghibur ku yang setia. Walau di setiap katanya terdapat banyak kesalahan yang agak bermakna. No problem !. Saat aku berjalan, disekelilingku tidak ada orang. Kutatap juga di sekitarku. Dimana ya orang-orang? gumamku dalam hati. Karena tak melihat jalan, aku memijak batu dan terjatuh. Kepalaku pusing lalu ada nenek tua yang menolongku tak lagi yaitu nenek tua yang tadi kulihat. Dia menjulurkan tangannya padaku. Aku pun meraihnya. Ku bersihkan bajuku dari pasir dan ingin berterima kasih pada nenek itu.

            “Terima kasih ..” Ucapanku terpotong karena kulihat tidak ada orang yang sedang didekatku. Ya Allah. Tak henti-hentinya aku bertasbih menyebut nama Allah. Aku berlari dan sampai ke rumahku.

            “Assalamualaikum Ma .. “ Kataku pada mama dengan napas yang tersendat. Sambil berlari

            “Walaikumsalam. Kok lari-lari gitu. Habis dikejar anjing yah?” Jawab mama mengerjai. Aku minum dengan meneguk segelas air putih. Ku tenangkan detak jantungku yang kencang. Aku tidak ingin berbicara pada mama karena mama pasti mengatakan aku sedang bermimpi di siang bolong. Di rumah, aku langsung mengambil air wudhu untuk sholat Dzuhur.

***

            Di sekolah, kuceritakan kembali kisahku yang kemarin kepada Sarah. Karena ku tahu, jika aku mengatakannya pada teman-teman maka mereka akan mengejekku dengan yang bukan-bukan. Cukup Sarah yang tau.

            “Sar, kemarin aku jatuh terus ditolongi sama nenek tua yang kemarin itu loh. Pas aku mau terima kasih Ehh dia pergi ajah. Kayak hantu” Kataku memulai pembicaraan. Spontan langsung ia mengusap kepalaku.

            “Ohhhm pantasan kepala kamu agak panas. Abis ditendang bola ya, atau?” Jawabnya mengejek,

            “Iya Sarah ini beneran, jangan ngeledek kamu ya!” Ucapku marah.

            “Iya deh. Bye the way mana ada sih Reva orang langsung pergi atau kamu yang gak liat?” Tanyanya kembali.

            “Gak mungkin langsung pergi, pasti ada suara kakinya atau juga tongkatnya!” Jawabku. Bel berdentang 3 kali menandakan pelajaran akan dimulai. Selama pelajaran pikiranku tak henti-hentinya membayangkan itu. Sampai-sampai aku mengkhayal dan tidak memperhatikan guru menerangkan.

            “Reva, Reva !” Teriak ibu guru mengagetkanku. Sontak aku langsung kaget.

            “Nenek tua di siang bolong!” Jawabku kaget. Upss.. Ternyata aku melamun saat pelajaran. Semua teman-temanku menertawakanku kecuali Sarah. Aku memakluminya. Bel kembali berdentang menandakan waktu istirahat. Aku dan Sarah langsung pergi ke taman. Karena udara di sana adem dan sejuk. Ditambah pohon yang bisa disandari. Sungguh pemandangan yang nyaman. Sambil duduk di atas pohon aku kembali bercerita sama Sarah.

            “Ihhh. Sebel deh liatnya. Masa Reva baru ngelamun ajah diketawai gimana kalo bolos !” Kataku kesal.

            “Ya salah kamu juga la Va, kenapa ngelamun waktu belajar. Lagi pikirin nenek tua itu yah. Udah gak usah dibahas lagi, aku traktir kamu Ice Cream dehh!” Jawabnya singkat. Aku diajak beli Ice Cream. Saat beli Ice Cream, kulihat nenek tua itu begitu juga Sarah. Kulihat wajahnya kusam pucat.

            “Sar, itu dia neneknya!” Ucapku agak grogi.

            “Iya Reva aku juga liat, serem yah!” Jawabnya.

            “Uuuhh. Tadi katanya jangan takut, eh malah takut gimana sih pemberani katanya berani!” Ucapku meledeknya. Ia hanya diam tersipu malu. Kembali bel itu berdentang menandakan masuk dan berdentang kembali menandakan pulang.

***

            Di jalan kami tiada hentinya bercanda, hingga kami lupa arah pulang karena keasyikannya. Tak terduga kami tersesat hingga sampai ke hutan. Aku bingung tak karuan, kulihat kembali nenek tua itu sedang membawa ayam putih. Sarah ingin berteriak tapi aku mendekapnya.

            “Tolong !” Ucapnya agak keras. Untung saja aku mendekapnya. Kulihat ke arah belakang ternyata nenek tua itu muncul. Ia memandang kami dengan sorot mata yang tajam. Aku dan Sarah ketakutan melihat nenek itu.

            “Lari Sarah, lari!” Pintaku pada Sarah. Aku berlari bersama Sarah, tak sengaja kami masuk ke rumahnya. Di rumahnya aroma sihir sudah tercipta di mana-mana. Aku gemetaran melihat hal itu. Mulai dari segala perabotan rumahnya sampai ayam putih yang dibawanya. Tak hentinya aku beristighfar. Ia mematikan lampunya dan hanya sedikit cahaya yang menerangi ruangan tua itu. Tak sengaja, kulihat celah yang agak besar muncul di dekat ruangan itu aku pergi kesana dan itu adalah tembusan ke arah persimpangan jalan. Ternyata rumah ini di dekat persimpangan jalan tetapi tidak pernah nampak. Aku penasaran untuk apa nenek tua itu membawa ayam. Saat dia datang ia langsung mnemotong ayan itu. Darahnya ia sisihkan untuk sesajen-sesajen. Saat ia melihat disekelilingnya dilihatnya kami tidak ada.

            “Dimana mereka, sial ! Aku tidak mendapatkannya .. Erghhh!” Katanya marah dengan wajah yang perlahan mulai keriput. Ternyata dia adalah seorang penyihir yang memanfaatkan darah manusia dan ayam putih untuk mengubah wajahnya. Ya Allah terima kasih telah menyelamatkanku. Sarah sempat shock melihat hal itu.

            “Sar, ngeri banget yah. Untung kita udah keluar kalo enggak. Habis !” Ucapku bersyukur.

            “Iya iya... Aku pulang dulu ya. Jantungku berdetak 75 kali 1 menit!” Jawabnya. Kami langsung berlari ke rumah masing-masing.

            Di rumah aku langsung ganti pakaian dan berwudhu. Aku memohon pada Allah agar dijauhkan dari bahaya dan malapetaka. Besoknya ramai-ramai orang yang datang ke gubuk tua yang aku jumpai kemarin. Kulihat rumah nenek itu sudah dilalap api. Aku heran dengan situasi yang ada. Aku berusaha menanyakan ke salah satu warga disana. Kebetulan itu adalah Bu Tia.

            “Bu, ini kenapa ya ? Kok rame-rame ?” Tanyaku sambil mengernyitkan dahi pada Bu Tia.

            “Oh.. nak Reva, ini rumah nenek sihir itu tadi malam terbakar tanpa tahu penyebabnya dan nenek sihir itu juga ikut dilalap api. Sekarang aku mengerti maksudnya. Ya Allah terima kasih telah menyelamatkanku. Aku akan belajar lebih bersyukur lagi padamu. Sekali lagi terima kasih Ya Allah.

***

KARYA NAZWAH ZAKIYA ZAHRAH PARDOSI

SISWI KELAS VII A MTsN BARUS

 

243 DIBACA

MISTERI POHON KAPAS

Penyelesaian Laporan Keuangan Sampai dengan Bulan Oktober 2017

Plt Kakanwil Kemenagsu Kunjungi Ponpes Dairi

Kemenag Karo Adakan Tes Wawancara PAK Non PNS

Peserta Ujian PAK NON PNS Kemenag Sibolga Jalani Tes Wawancara