Selasa,2017-06-13,09:40:44

MEMAKNAI PERINGATAN NUZULUL QURAN MELALUI PINTU ILMU-IMAN DAN AMAL SEBAGAI KAJIAN TAZKIYATU AN-NAFS

MEMAKNAI PERINGATAN NUZULUL QURAN MELALUI PINTU  ILMU-IMAN DAN AMAL SEBAGAI KAJIAN TAZKIYATU AN-NAFS

Derivasi kata nuzûl bermakna turun, sebagaimana hal ini disebutkan dalam Mufradat, Misbah dan Aqrab. Raghib Isfahani menyebutkan demikian, “al- nuzûl fil ashl: huwa intihatu min ‘ulu.” Tentang hujan disebutkan “Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?"(Qs. Al-Waqi’ah [56]:69)

Kata ‘quran’ dalam Alquran ada disebutkan beberapa kali, yakni pada surat al-Qiyamah ayat 17 dan 18 serta pada ayat al-Waqiah ayat 77-80, kemudian dalam surat az-Zukhruf ayat 1-4, yang Artinya ; “Sesungguhnya mengumpulkan Alquran (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami, karena itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya”.

Berbicara tentang lauhul mahfuz  ada dalam surat Al-Buruj ayat 21-22, yang berbunyi ‘Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh (Qs.al-Burj; ayat 22)”.

Imam Zarkasyi mengklasifikasi 3 pendapat ulama tentang proses nuzulul quran;

  1. Dari lauh mahfuz (Tanazzul awwalun).Alquran turun ke baitul izzah pada satu malam yang disebut dengan lailatul Qadar secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw. pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama, seperti Imam as-Suyuthi, at-Thabari, Imam al-Qurthubi, Abu Syahbah dan lain-lain.
  2. Dari lauhh mahfuz (Tanazzul at-Tsani)Alquran turun ke baitul izzah selama 20 malam lailatul Qadr, ada yang berpendapat selama 23 bahkan 25 malam lailatul qadr. pada setiap malam lailatul qadr Allah swt. menurunkan beberapa ayat untuk setahun sampai tiba malam lailatul qadr selanjutnya pendapat ini dikemukakan oleh muqatil, Imam Abdullah al-Halimi dan al-Mawardi
  3. (Tanazzul as-Tsalis). Alquran mulai diturunan dari lauh mahfuz,kepada Rasulullah saw pada malam lailatul qadr tanpa transit terlebih dahulu di baitul izzah (karena kelompok pendapat ini tidak mengakui adanya baitul izzah) yang termasuk di dalam golongan ini yaitu pendapat sya’bi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan ibnu Asyur.

Terlepas dari ketiga pendapat di atas, yang perlu dihayati adalah hikmah turunnya Alquran dari lauh mahfuz ke baitul izzah, ada tiga hal dalam hal ini;

1)      Menunjukkan kehebatan dan kemukjizatan Alquran yang turunnya tidak sama dengan kitab-kitab suci yang lain, tetapi berbeda dan secara khusus, yaitu dengan diturunkan secara bertahap-tahap

2)      Menjelaskan kebesaran Nabi Muhammad saw yang menerima kitab suci Alquran ini, yang tidak diterimanya langsung secara sekali diterima, melainkan diatur secara bertahap. Mula-mula di tempah lauhul mahfuz, lalu Baitul Izzah secara sekaligus, baru kemudian disampaikan langsung kepada beliau secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit

3)      Memberitahukan kepada para malaikat dan para Nabi terdahulu, mengenai kemudian dan ketinggian Nabi Muhammad saw sebagai Rasul khatamul an-biya dan kitab suci akhir yang diterimanya.

 

Ada 3 kontekstual yang terkandung di dalam Alquran dalam peringatan ‘nuzulul quran’. Yang pertama kandungan ayat suci Alquran tentang teologis yakni teori ketuhanan/tauhid. Sebagaimana dalam Alquran disebutkan pada surat al-A’raf ayat 172 tentang pengambilan persaksian antara Allah swt. dengan kita, kemudian dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5 tentang pengajaran malaikat Jibril as. terhadap Rasulullah saw., dan surat Luqman ayat 13 tentang peringatan Lukman kepada anaknya agar tidak mensyirikatkan Allah swt.

Kandungan ayat suci Alquran yang kedua adalah tentang kosmologis. di antaranya adalah tentang tentang Alam semesta diciptakan dalam enam hari (QS. 7:54-56; 25:59), penciptaan bumi dalam dua masa (QS. 41:9), Tuhan juga menciptakan tujuh langit (QS. 2:29), tujuh langit yang berlapis-lapis (QS. 67:3). Tuhan menghiasi langit dengan bintang-bintang (QS. 67:5); Dia yang menggerakkan semua bintang dan planet-planet sehingga dapat membimbing perjalanan manusia dengan posisi mereka (QS. 6:97); Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam (QS. 39:5).

Kandungan ayat suci Alquran yang ketiga mencakup Moralitas. Sebagaimana dalam Alquran disebutkan dalam surat ali-Imran ayat 200 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu.” (QS.Ali Imran:200)

Memaknai ‘nuzulul quran’ ini khususnya dalam rangkaian ‘teologis, kosmologis dan moralitas’ tidak hanya dimaknai sebagai garis kasual tapi bagaimana memaknai ‘nuzulul quran’ ini sebagai bentuk pencapaian derajat takwa. Syukur dengan kufur merupakan rangkain yang saling bertentangan begitu juga haus dahaga dengan puas. Lapar kepala tanggung dengan kenyang tak berkesudahan. Semuanya itu adalah hal yang bersifat epidemi. Sekarang pertanyaannya mampukah kita sebagai jati diri seorang muslim berupaya keras menggapai nilai-nilai takwa? Hal tersebut dijawab melalui iman. Makanya Allah hanya memanggil orang-orang beriman saja untuk berpuasa. Tujuannya adalah takwa, yang dilakukan bukan sebatas ukuran atau barometer mencapai kepuasaan akademis, tapi bagaimana manusia itu mengaplikasikan ilmu dan keilmuannya yang dicapai mampu menjadi manfaat bagi komunitas orang-orang awam. Inilah yang harus dicapai (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Nilai kehidupan takwa melalui peringatan ‘nuzulul quran’ ini harus diyakini sebagai ujian untuk menghadapi tantangan-tantangan yang lebih besar lagi. Bagaimana Rasulullah hendak dibunuh ketika Isra’ dan Mi’raj. Bagaimana Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup, bagaimana Nabi Yusuf ditelan ikan hidup-hidup, bagaimana Nabi Nuh diejeki, dicemoohi bahkan sampai mohon maaf kapalnya dikotori oleh kotoran manusia. Semua itu dilakukan untuk mencapai derajat takwa

Kemudian yang harus kita miliki dalam diri kita adalah ilmu, hal ini karena dengan ilmu, kehidupan kita menjadi mudah, baik untuk melakukan sesuatu atau mencapainya. Itu sebabnya mencari ilmu di dalam Islam tidak sekadar diwajibkan, tapi Rasulullah saw. telah memberikan rangsangan yang sangat menarik sebagai keutamaan yang besar dalam menuntut ilmu, yakni penuntut ilmu itu berada di jalan Allah baik pada waktu pergi,saat sudah tiba, maupun pada waktu pulang, kemudian seandainya seorang muslim meninggal pada waktu sedang mancari ilmu, insya Allah matinya adalah syahid. Keharusan kita menuntut ilmu juga karena Allah tidak menghendaki kalau kita hanya ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu, padahal kalau kita hanya ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu, pasti kita akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang dilakukan. Oleh karena itu keimanan seorang muslim harus dimantapkan dengan ilmu yang dibimbing dengan iman. Iman tanpa ilmu akan mudah digoyahkan, dan ilmu tanpa bimbingan iman akan membawa kehancuran. Sebab Allah swt sudah menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. ‘Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan mengangkat orang-orang yang berilmu’

Yang perlu ditegaskan di sini bahwa ilmu dalam Islam bukanlah sebatas ilmu rasionalis empiris tapi ilmu dalam Islam merupakan ilmu yang rasionalis (akal) dan imanilogis, yakni secara maktubah  dan ghairu maktubah kalau maktubah itu dalil Alquran imanilogis, kalau ghairu maktubah itu dalil aqli yang disebut dengan rasionalias. Ketidak mampuan kita menghadirkan Allah dalam setiap nafas menjadikan kita diperbudak oleh syaitan, Bila kita mampu menghadirkan Allah dalam shalat sebagaimana kita juga harus mampu menghadirkan-Nya dalam kehidupan kita, maka makna filosofis dan tasawuf (sesungguhnya Shalat itu benar-benar mencegah dari perbuatan keji dan munkar) akan terealisasi dengan baik dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai pencapaian tazkiyatu an-nafsi (pensucian diri kembali) melalui ilmu,iman dan amal terlebih dalam memaknai ‘nuzulul quran’ sebagai petunjuk bagi manusia seru sekalian alam.

Oleh : Drs. H. Ojak Manurung. M.Pd

(Wakil Kepala MTs PPMDH TPI Medan dan Kandidat Doktor Program PEDI di UIN-SU)

206 DIBACA
Selasa,2017-06-13,09:31:39

Bangkitkan Semangat Kebersamaan, Persatuan dan Kesatuan

Selasa,2017-06-13,09:24:48

Bersama - Sama Merasakan Makna di Bulan Suci Ramadan

Selasa,2017-06-13,08:57:33

Utamakan Kearifan Lokal dalam Melayani Jemaah

Selasa,2017-06-13,05:16:35

Areal Parkir Kendaraan MAN Pematangsiantar Berubah Seperti Showroom Motor

Selasa,2017-06-13,05:05:08

Tanamkan kepada Anak Untuk Cinta Lingkungan


0 Komentar :