Minggu,2018-05-13,13:56:48

Tabur Bunga, Tradisi Tak Jelas Asal Usulnya

Tabur Bunga, Tradisi Tak Jelas Asal Usulnya Para Penjual Bunga dan Wewangian ditangga menuju perkuburan Muslim Kaje Kaje Sibolga

Sibolga (Inhum). Ada banyak pertanyaan, sebanyak itu pula peluang jawaban, ada yang masuk dan diterima akal pikiran, ada juga yang kurang menunjukkan kesan. Yang paling aneh sebenarnya adalah, saat dimana ada sekelompok orang yang siap mengerjakan satu kejadian tanpa tahu untuk apa itu dilakukan.

Ini gambaran yang ditemukan Inhum saat ikut ambil bagian dalam kegiatan ziarah kubur jelang Ramadan, tapi yang menjadi topik bukan ziarah kuburnya, tapi tradisi menabur bunga dan wewangian ke atas kuburan sebagai penutup pelaksanaan ziarah kubur yang kemudian menjadi satu kebiasaan berkelanjutan.

WKM III Humas MAN Sibolga Khairuman Lubis yang ikut bersama Inhum terus memberikan pertanyaan kepada masyarakat yang melaksanakan kebiasaan itu. Dari beberapa jawaban yang diberikan, ada yang cukup menggelikan, karena jawaban dari Ibu Salimah warga Kelurahan Aek Habil ini cukup mengejutkan, beliau dan keluarga ikut melakukan hal yang sama karena melihat semuanya melakukan hal tersebut, beliau merasa nanti menjadi lucu kalau beliau tidak melakukannya.

“Semua begitu kan Pak, makanya saya juga begitu. Kalau ditanya untuk apa, saya juga kurang tahu, pokoknya begitu dibuat banyak orang, ya .. kita ikut. Lagi pula ini bukan cerita baru, orangtua saya juga sejak saya masih kecil juga begitu,” demikian Ibu Salimah menjawab dengan enteng dan disambut senyum oleh anak anak dan menantunya.

Melihat keadaan ini, WKM III Humas MAN Sibolga Khairuman Lubis mengatakan, tradisi tabur bunga dan wewangian diatas kuburan pada dasarnya bukan tradisi Islam, menurut Khairuman, hingga saat ini belum tahu secara pasti bagaimana asal usul tradisi ini muncul, sejak kapan dan siapa yang memulai tidak ada yang tahu.

“Yang jelas, dimata pelajaran manapun dalam rumpun PAI tidak ada yang mengajarkan kegiatan ini, tapi soal larangan juga masih dalam perdebatan, apakah ada atau tidak. Akan tetapi, yang harus kita pertimbangkan adalah sejarah, dimana Islam masuk ke Indonesia dengan cara akulturasi, menanamkan akidah Islamiyah tanpa membatalkan atau menghapus tradisi masyarakat, mungkin berawal dari sana,” jelas Khairuman Lubis. (SDP)

17 DIBACA
Minggu,2018-05-13,13:22:53

Aturan Jam Kerja Sudah Jelas Tertera, Ikuti Sebaik Baiknya

Minggu,2018-05-13,13:10:39

PPDB 2018/2019 Berlangsung Juni 2018

Minggu,2018-05-13,13:02:09

RAT Koperasi MAN Sibolga Lancar

Minggu,2018-05-13,12:37:58

Madrasah Siap Bersama BKPRMI Sibolga

Minggu,2018-05-13,12:36:46

PP Al Mukhlisin Lumut Siap Berikan Warna