Minggu,2018-05-13,14:19:04

Tradisi Jelang Ramadan, Ziarah Kubur Bersama Keluarga

Tradisi Jelang Ramadan, Ziarah Kubur Bersama Keluarga

Sibolga (Inhum). Entah kapan hal ini dimulai, yang jelas tradisi ini terus berlanjut dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya, prosesi Ziarah kubur ini menarik antusiasme yang tinggi dikalangan masyarakat dari semua tingkatan ekonomi, dari semua strata sosial, dari semua tingkatan usia, semuanya bergerak bersama menuju pemakaman umum untuk berjiarah kemakam keluarga yang sudah lebih dulu menghadap-Nya.

Saat Inhum bertanya kepada beberapa keluarga yang sedang melakukan ziarah kubur, apa sebenarnya yang membuat mereka begitu ingin melakukan tradisi ini, ada beberapa jawaban yang tegas, ada pula jawaban yang mengambang, jawaban yang kurang pasti, atau hanya sebatas mengikuti.

Kepada Inhum Minggu, 13 Mei 2018 salah satu peziarah Muhammad Iqbal mengaku ini dipandang sebagai bentuk upaya mengingat tentang kematian, dengan melakukan ziarah kubur kata M. Iqbal kita dapat kembali mereview kehidupan yang telah kita lalui, karena pada akhirnya nanti kita akan sama dengan mereka, menuju kematian.

Lebih lanjut M. Iqbal mengatakan, Ia bersama istri dan anak anaknya datang ke makam orang tua istrinya yang dimakamkan di tempat ini, sedangkan makam orang tua beliau sendiri berada di Kabupaten Mandailing Natal, M. Iqbal juga mengaku setelah selesai dari sini akan berangkat menuju Madina dengan tujuan yang sama, M. Iqbal mengatakan akan terasa kurang, terutama soal perasaan jika tidak melakukan tradisi ini.

Lain pula dengan jawaban Ikhsan, siswa salahstu SMA di Kota Sibolga ini mengatakan ikut dengan ajakan orang tua unjuk jiarah kemakam kakeknya karena alasan rindu, Ikhsan mengaku kegiatan ini rutin dilakukan keluarganya sejak ia masih kecil, ini sebentuk tradisi yang berlangsung terus dan menurut Ikhsan cukup bagus, Ikhsan mengatakan bagus karena dengan tradisi ini beliau dapat kembali mengingat masa indahnya dulu waktu kakeknya masih ada, walau hanya sebentar yang teringat olehnya.

“Kakek saya meninggal saat saya masih SD, kalau tidak lupa kelas 2 SD. Jadi pada dasarnya waktu bersama kakek tidak banyak yang saya lalui, saat jiarah seperti ini, saya dapat dengan jelas mengingat kembali masa masa yang membahagiakan bersama kakek, itu yang membuat saya tak mau ketinggalan jika diajak kesini,” jelas Ikhsan.

WKM III Humas MAN Sibolga Khairuman Lubis yang juga dikenal sebagai seorang Ustadz di Kota Sibolga saat dikonfirmasi Inhum mengatakan, ziarah kubur tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Kota Sibolga, akan tetapi menjadi tradisi hampir diseluruh Indonesia dengan berbagai alasan, salahsatunya yang paling banyak memang adalah upaya mengingat kembali adanya kematian.

“Ziarah kubur sebagai bentuk nyata dari upaya kita mengingat akan kematian, Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa hukum ziarah kubur bagi kaum laki-laki itu hukumnya sunat secara mutlak, baik yang diziarahi itu kuburnya orang Islam biasa, kuburnya para wali, orang shalih atau kuburnya Nabi, “ demikian Khairuman Lubis.

Sedangkan hukum ziarah kubur bagi kaum perempuan lanjut Khairuman Lubis yang telah mendapat izin dari suaminya atau walinya, para ulama mantafsil sebagai berikut :  (1) Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kuburnya Nabi, wali, ulama dan orang shalih, maka hukumnya sunat; (2) Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kuburnya orang biasa, maka sebagian ulama mengatakan boleh, sebagian lagi mengatakan makruh. (3) Jika ziarahnya menimbulkan hal yang terlarang, maka hukumnya haram. (SDP)

22 DIBACA
Minggu,2018-05-13,13:56:48

Tabur Bunga, Tradisi Tak Jelas Asal Usulnya

Minggu,2018-05-13,13:22:53

Aturan Jam Kerja Sudah Jelas Tertera, Ikuti Sebaik Baiknya

Minggu,2018-05-13,13:10:39

PPDB 2018/2019 Berlangsung Juni 2018

Minggu,2018-05-13,13:02:09

RAT Koperasi MAN Sibolga Lancar

Minggu,2018-05-13,12:37:58

Madrasah Siap Bersama BKPRMI Sibolga


0 Komentar :