Sabtu,2017-06-17,11:19:58

Menggagas Partisipasi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak di Era Global

Menggagas Partisipasi dan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak di Era Global

Anak merupakan amanah Allah SWT Tuhan yang maha esa yang memiliki hak-hak atas dirinya sebagai anak, yang itu tentu menjadi kewajiban bagi orang tua dan negara untuk memenuhinya.

( Ibu Lenny N. Rosalin, Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI)

A.  Latar Belakang Masalah

Anak merupakan amanah bagi orang tua dan anak memiliki hati yang masih suci dari berbagai pengaruh, dengan keadaan yang sangat lemah ketika dilahirkan, maka sudah pasti tidak mungkin dapat hidup terus jika tidak mendapat pertolongan  dan pemeliharaan dari orang tua atau lingkungan sekitar. Sebagai orang tua yang langsung bertanggung jawab penuh pasti menghendaki anaknya menjadi orang yang berwatak baik dan berguna bagi masyarakat  di masa akan datang keberadaan dan kehadiran dirindukan oleh masyarakat bukan menjadi sampah masyarakat melainkan menjadi pelita,menjadi tempat bertanya dan tempat minta pertolongan dalam berbagai hal oleh sebab itu,tanggung jawab orang tua terhadap anaknya sungguh besar tidak cukup hanya dengan memberi makan, minum dan pakaian yang cukup,tetapi lebih dari pada itu orang tua wajib mendidik,dan membina sekaligus (memberikan pendidikan dan Kasih sayang yang proposional  ) kepada anaknya dalam artian yang seluas luas nya.

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi di bidang anak, UNICEF, dalam laman resminya mengingatkan pentingnya partisipasi orangtua dan komunitas dalam proses pendidikan anak sejak dini. Keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah . Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik dan Non Akademik  anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak di kemudian hari. Hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Kompas pada 22-24 April 2015 menunjukkan, mayoritas publik menyadari pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Pengumpulan pendapat ini dilakukan terhadap 326 responden yang di keluarganya terdapat anak usia sekolah. Tak kurang dari 85 persen responden menyatakan bahwa orangtua dan keluarga memiliki peran paling penting dalam proses pendidikan anak.

Hanya 15 persen responden yang menilai peran ini ada di tangan guru dan lingkungan di luar keluarga. Sejumlah upaya dilakukan keluarga untuk mendukung pendidikan anak. Salah satunya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Rata-rata dua dari tiga responden mengaku menerapkan waktu khusus belajar bagi anak dan melakukan pendampingan saat anak belajar. Lebih jauh, tak kurang dari 60 persen responden mengaku mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kemampuan anak, seperti les tambahan untuk mata pelajaran sekolah, agama, ataupun hobi.

B.  Pengertian Pendidikan Keluarga

1.      Pengertian Orang Tua

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tentang pengertian orang tua adalah ayah, ibu kandung. Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menulis bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Menurut Noer Aly orang tua adalah orang dewasa yang memikul tanggung jawab pendidikan, sebab secara alami anak pada masa-masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ibu dan ayahnya. Dari merekalah anak mulai awal mengenal pendidikannya. Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua adalah orang tua kandung atau wali yang mempunyai tanggung jawab dalam pendidikan anak.

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak pada kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya  memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud bekal adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak. Orang tua ayah dan ibu memegang peranan penting dan amat berpengaruh  atas pendidikan anak-anaknya. 

Seorang ayah, di samping memiliki kewajiban untuk mencari nafkah bagi keluarganya, dia juga berkewajiban untuk mencari tambahan ilmu bagi dirinya karena dengan ilmu-ilmu itu dia akan dapat membimbing dan mendidik diri sendiri dan keluarga menjadi lebih baik. Demikian halnya dengan seorang ibu, di samping memiliki kewajiban dan pemeliharaan keluarga dia pun tetap memiliki kewajiban untuk mencari ilmu . Hal itu karena ibulah yang selalu  dekat dengan anak-anaknya.

Dengan demikian jelaslah bahwa  orang tua memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sangat besar terhadap anaknya, karena mereka selain mempunyai tanggung jawab memberi nafkah, mendidik, mengasuh, serta memelihara anaknya untuk mempersiapkan dan mewujudkan kebahagiaan hidup anak di masa depan mereka juga memiki tanggung jawab yang tidak kalah penting dan urgen yaitu pendidikan anak-anak mereka. Atau dengan kata lain  bahwa orang tua  umumnya merasa bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anaknya, karena tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul pada kedua orang tua.

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak yang memberikan sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak dalam kehidupannya. Adapun pengertian keluarga secara etimologi adalah suatu kesatuan (unit) dimana anggota-anggotanya mengabdikan diri kepada kepentingan dan tujuan tersebut (Uyoh Sadulloh, 2006 : 182).Sedangkan keluarga menurut istilah adalah dua orang atau lebih yang tinggal bersama dan terikat karena darah perkawinan dan adopsi B. Boston yang dikutip oleh Ishak Sholeh ( 1983 : 11 ) mengatakan, keluarga adalah suatu kelompok pertalian nasab keluarga yang dapat dijadikan tempat untuk membina / membimbing anak-anak dan untuk pemenuhan hidup lainnya.

Sehingga sangat jelaslah bahwa pendidikan keluarga adalah bantuan / pertolongan yang diberikan orang tua kepada anaknya, agar anak itu dapat menjadi dewasa dan senantiasa terarah dalam kehidupannya. Pendidikan keluarga merupakan bagian jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan ( UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 ).

2.      Peran Orang Tua Dalam Pendidikan

Sebagai pemimpin dalam keluarga orang tua harus mendahulukan pendidikan dalam keluarganya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang  tidak baik.  Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak-anaknya, di antaranya orang tua berperan sebagai :

a.       Pendidik (edukator)

b.      Pendorong (motivator)

c.       Fasilitator

d.      Pembimbing

3.      Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan

Orang tua bukan hanya menjadi bapak dan ibu bagi anak-anaknya tetapi juga menjadi pendidik yang bertanggung jawab  atas pendidikan anak-anaknya.“The family is responsible for preparing the young child to live in society for teaching the child the language, the attitudes and some of the basic skills he or she will need”. “ Keluarga bertanggung jawab  untuk mempersiapkan anak kecil untuk hidup di masyarakat untuk mengajari anak berbahasa, bersikap dan beberapa kemampuan dasar yang dia laki-laki atau perempuan butuhkan”. Menurut Zakiah Daradjat tanggung jawab pendidikan Islam yang dibebankan orang tua sekurang-kurangnya adalah:

a.       Memelihara dan membesarkan anak  

 b.      Melindungi dan menjamin kesamaan

c.       Memberi pengajaran dalam arti yang luas

d.      Membahagiakan anak, baik dunia maupun akherat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim

Orang tua sebagai pendidik dalam keluarga memiliki tanggung jawab terhadap anggota keluarganya. Dalam hal ini orang tua berkewajiban memenuhi  kebutuhan pendidikan, sandang, pangan, papan dan kesehatan sehingga anak mampu untuk hidup sendiri.“Di antara prinsip pendidikan yang telah disepakati para ahli ilmu sosial, ahli psikologi dan ilmu pendidikan adalah memperkuat hubungan antara pendidik dengan anak, agar interaksi edukatif dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya. Pembentukan intelektual, spiritual, dan moral dapat  berjalan sesempurna mungkin.

Orang tua sebagai pendidik  harus senantiasa menjalin hubungan baik dengan anak agar tidak terdapat jurang pemisah dan jarak antara anak dengan orang tua sebagai pendidik sehingga pendidikan dapat tercapai dengan baik.  Orang tua hendaknya mencari cara-cara positif dalam menciptakan kecintaan kepada anak, memperkuat hubungan, mengadakan kerjasama  antara mereka  dan menumbuhkan kasih sayang mereka.

4. Peran aktif keluarga di era Global

Peran aktif keluarga perlu didukung oleh komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orangtua siswa. Adanya interaksi antara orangtua dan pihak sekolah menjadi kunci berlangsungnya proses pendidikan anak yang efektif, baik di sekolah maupun di rumah. Sayangnya, mayoritas (74 persen) orangtua murid yang terjaring dalam jajak pendapat ini mengaku tidak mengetahui pola pelajaran atau kurikulum yang diterapkan di sekolah. Hal ini menggambarkan minimnya interaksi aktif antara orangtua dan pihak sekolah. Mayoritas responden mengatakan, sumber utama informasi terkait perkembangan anak di sekolah adalah guru. Namun, hampir separuh responden (45 persen) mengaku berkomunikasi dengan guru hanya satu atau dua kali dalam setahun, yakni pada akhir semester atau pada awal tahun ajaran baru. Persoalan lain, masih banyak orangtua yang belum menempatkan anaknya sebagai mitra yang perlu didengarkan. Hanya sekitar 15 persen orangtua yang terbiasa menanyakan perkembangan sekolah pada anaknya. Padahal, komunikasi yang baik dapat membangun semangat kerja sama di antara orangtua dan anak. Proses komunikasi juga dapat mengikis perasaan anak sebagai obyek yang menanggung beban, terutama dari tekanan dan tuntutan untuk berprestasi.

Anak perlu didukung oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, baik guru,lingkungan sekitar  maupun keluarga, untuk keberhasilan pendidikan dan masa depan mereka. Kesadaran ini tampaknya ditangkap pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan baru terkait peran keluarga dalam pendidikan anak. Selain upaya memperbaiki kurikulum pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses penguatan prestasi belajar siswa, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki program penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, serta perilaku destruktif. Semua program tersebut diperuntukkan tak hanya untuk meningkatkan peran aktif orangtua kandung dari siswa, tapi juga wali atau orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak.

 

  C. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat kami simpulkan bahwa pendidikan lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama tempat anak didik (siswa) menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarganya yang lain. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik, keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan-keterampilan, sehingga sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Adapun tujuan pendidikan keluarga adalah memlihara, mendidik dan melindungi anak sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sedangkan fungsi dari pendidikan keluarga menurut MI Soelaeman yaitu (1) Fungsi edukatif; (2) Fungsi Sosialisasi; (3) Fungsi Proteksi; (4) Fungsi Afeksi; (5) Fungsi Religius; (6) Fungsi Ekonomi; (7) Fungsi Rekreasi; (8) Fungsi Biologis.Pentingnya pendidikan dalam keluarga sangatlah jelas karena merupakan wahana pengembangan sumber daya manusia. Di samping itu, tidak terlepas juga berbagai strategi dalam pendidikan lingkungan keluarga sesuai dengan tumbuh kembangnya peserta didik, diantaranya :

a.    Bantulah anak untuk menemukan sendiri tujuan hidupnya

b.    Bantulah anak mengembangkan perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan hidupnya

c.    Jadilah figur ideal bagi anak dalam berperilaku

d.   Beri semangat dan gugah hati anak untuk berperilaku terpuji

Sedangkan menurut Popov dkk (1997) Keluarga dapat berperan sebagai :

a.    Educator

b.    Autority

c.    Guide

d.   Konselor

semoga tulisan ringkas dan sederhana ini dapat memberi pemahaman yang komplit serta menggugah kita semua bahwa peran dan tanggung jawab pendidikan anak-anak kita tidak hanya pada pemerintah,sekolah dan guru tetapi orang tua dalam keluarga mempunyai peran dan tanggung jawab yang tidak kalah penting dari sekolah /guru dan pemerintah.

 

OLEH : NAZARUDDIN S.PdI

(Ketua IGI Kabupaten Langkat dan Mengabdi sebagai Kepala Mts Madinatul Ilmi di Desa Lubuk Kertang Langkat Sumut)

261 DIBACA
Sabtu,2017-06-17,11:02:28

MAN Lima Puluh Bagikan Raport Kenaikan Kelas

Sabtu,2017-06-17,10:40:10

MTsN Kabanjae Adakan Pembagian Raport

Sabtu,2017-06-17,10:26:52

Kepala MAN Kisaran Umumkan Juara Umum Semester Genap TP 2016/2017

Sabtu,2017-06-17,10:23:54

MTsN Kabanjahe Umumkan Juara Kelas

Sabtu,2017-06-17,10:14:29

MTsN Dolok Masihul Santuni Anak Yatim


0 Komentar :