Makna Dasar Idul Fitri

Makna Dasar Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri juga memiliki beberapa nama lain yang pada intinya menjelaskan jika 1 syawal sebagai hari yang menggembirakan, dipandang sebagai “hari kemenangan” setelah berhasil melalui perjuangan, tantangan dan ragam cobaan. 1 syawal menjadi sebuah perayaan rutin yang menguasai semua generasi, terserah mereka yang benar benar menjalankan ibadah puasa dengan sepenuh hati, atau hanya sebatas “bulannya” saja. Akan sulit menemukan perbedaan, dimana golongan yang rajin berpuasa, mana kalangan yang hanya meramaikan saja.

Jika dilihat dalam literatur literatur Islam klasik, hari raya besar (Idul Akbar) pada dasarnya adalah hari raya Idul Adha, sedangkan Idul Fitri “hanya” disebut Hari Raya Kecil (Idul Ashgar), akan tetapi pada praktik kebanyakan, justru Idul Fitrilah yang lebih menyedot perhatian, tidak hanya pada masyarakat umum, termasuk pada kebijakan yang berhubungan dengan tatanan pemerintahan.

Ini dapat dibuktikan dengan apa yang berlangsung dua, tiga atau lebih tahun belakangan, bahkan hari libur kantor atau lembaga pendidikan hanya berlaku pada hari Ha Idul Adha saja, berbeda dengan Idul Fitri yang masa liburnya bisa lebih dari sepekan. Ini semakin menguatkan anggapan jika Idul Fitri pada praktik umum dipandang lebih besar dari Idul Qurban.

Dari sisi etimologis, kata Idul Fitri ada dua kata, ‘id dan Fitri, dalam bahasa Arab ‘id dapat dimaknakan dengan kata `kembali’, yang juga menunjukkan Hari Raya Idul Fitri berulang dan kembali datang satu kali putaran tahun. Ibnu Mandlur dalam Lisaanul Arab mengatakan, kata ‘id berasal dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, hal ini yang kemudian membuat umat Islam dalam posisi biasa merayakan tanggal 1 Syawal dalam sebuah perayaan.

Kata Fitri atau fitrah dalam kamus bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti juga membedah atau membelah. Dikaitkan dengan puasa, kata tersebut mengandung makna Ifthaar (berbuka puasa). Pemaknaan ini dituliskan Dawan Raharjo dalam bukunya Ensiklopedi Alquran berarti kembali kepada fitrah, dapat ditafsirkan seperti kembali ke keadaan normal, dimana kehidupan jasmani dan rohani dalam posisi seimbang (balance), sementara kata fithrah sendiri dapat dimaksnai dengan kalimat “yang mula-mula diciptakan Allah SWT”.

Lebih jauh, Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (terbitan Damaskus), memberikan penjelasan tentang etika merayakan Idul Fitri yang terdiri dari beberapa konsep diantaranya seperti :

  1. Dalam merayakan Idul Fitri, perlu makan secukupnya sebelum berangka ke tempat shalat Id;
  2. Memakai pakaian yang paling bagus;
  3. Saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasa yang dikerjakan selama sebulan ini;
  4. Memperbanyak bacaan takbir.

Dari sudut pandang terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana diartikan sebagai hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal sebagai tanda puasa telah usai dilaksanakan, sebagai akhir dari menahan diri, dimana semuanya sudah kembali seperti semula, sudah boleh makan minum di siang hari. Akan tetapi, terminologi ini sepertinya perlu mendapatkan pembenahan atau sedikit pelurusan, karena dipandang kurang memberikan jawaban terbaik dan kurang semakna dengan kata Idul Fitri itu sendiri.

Seharusnya Idul Fitri akan lebih baik jika dimaknai sebagai “kembalinya seseorang kepada fitrahnya yang suci” sama seperti awal kehidupan seseorang, sebagaimana seseorang baru saja lahir dari rahim ibunya. Makna lahir kembali ini memberikan makna dimana seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadan dengan baik, menjalankan ibadah puasa, ibadah lain yang dianjurkan, qiyamul lail, dan lainnya dengan penuh ketulusan, keikhlasan dan sesuai anjuran.

Berbagai kegiatan ibadah yang dilaksanakan selama bulan ramadan mampu membawa seseorang kembali menjalankan ajaran Islam yang kaffah, tanpa ada campur tangan kebencian, iri hati, dengki, serta akhlah madzmumah lainnya, yang kemudian membawa seseorang tersebut menjadi begitu bersih dari segala dosa dan kemaksiatan. Sehingga dengan demikian, Idul Fitri membawa yang bersangkutan kembali kepada perasaan (naluri) kemanusian yang benar benar murni, kembali pada keberagamaan yang lurus.

Demikian itu dapat dikatakan sebagai makna Idul Fitri yang sesungguhnya, yang murni. Sehingga, dapat dikatakan, merupakan sebuah kesalahan besar apabila Idul Fitri justru lebih dimaknai kepada perayaan kembali bebas dengan makanan dan minuman, apalagi kemudian malah memberikan peluang timbulnya balas dendam, saat ramadan tidak boleh makan minum siang hari, sehingga saat Idul Fitri memuaskan hasrat dengan tanpa batasan.

Pantas dan memang adalah keharusan jika semuanya bergembira menyambut dan memeriahkan Hari Raya Idul Fitri, semua boleh menunjukkan rasa suka cita, kesenangan dan bentuk lainnya, karena menikmati hari kemenangan. Akan tetapi akan menjadi jauh lebih benar jika rasa senang itu disertai rasa duka yang dalam, duka ditinggalkan bulan yang penuh rahmad dan barokah. Kehilangan ini juga pantas untuk dikaji, karena tidak ada jaminan akan dapat kesempatan kembali pada ramadan berikutnya.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri harus bersifat positif sebagai kesempatan besar untuk membangun jalinan tali silaturrahmi, sebagai sarana terbaik untuk membangun kebebasan diri dari perbuatan dan tindakan yang mengandung unsur dosa, utamanya yang berkaitan dengan hubungan antar sesama makhluk yang saling membutuhkan antara yang satu dengan lainnya, baik dalam lingkup kecil keluarga besar, bertetangga, dalam organisasi dan kelompok kelompok yang diikuti dalam kehidupan.

Yang harus dicatat, silaturahmi tidak harus berbentuk pertemuan formal, arisan, pengajian, Halal bi Halal atau bentuk lainnya, dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kekerabatan juga bentuk nyata peningkatan hubungan silaturrahmi. Pemanfaatan media sosial juga dapat dimaksimalkan, permohonan maaf dan silaturahmi sama sekali tidak mengenal batas dan waktu, jejaring media sosial seperti sms, up date status, inbox di facebook, twiter, yahoo mesenger, skype dan email, juga dapat menjadi media yang baik.

Akhirnya, harus diketahui, ada banyak pelajaran, hikmah, faidah, fadhilah dan bentuk lain yang bisa dapatkan dibulan ramadan, tetapi saat Idul Fitri tiba, semuanya sudah berlalu, akan tetapi tidak ada juga yang boleh atau pantas meninggalkan spirit, kekuatan dan akhlakiyah yang lahir selama puasa Ramadan, 1 Syawal harus menjadi lanjutan Ramadan yang harus diisi dengan ibadah dan kesalehan sosial, termasuk ekonomi.

Karena kata Syawal itu sendiri berarti peningkatan. Semuanya harus dengan tekad bulat membangun janji, niat dan cita cita untuk mengisi sebelas bulan ke depan dengan kondisi yang lebih baik, mengisi perjalanan hidup yang lebih memberi makna. Amin Ya Robbal Alamin

Oleh :  Syamsuddahri Pulungan

(Dosen STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah)

 

220 DIBACA

Ayo Berangkat!

Siswa MAN 2 Tanjung Pura Ikuti Upacara Harlah Pancasila

Kepala MAN 2 Berangkatkan Tim Safari Ramadan

Tim Road to dakwah Tobasa Safari Ramadan di Desa Simare Mare Jae

Kasi Bimas Islam Hadiri Buka Puasa Bersama di MAS Lahewa