Pengamat Sospol IAIN Sumut : Manfaatkan Momentum Idul Fitri dan Kemerdekaan

Rabu, 15 Agustus 2012 – Subbag Informasi dan Humas

Foto

Medan (HUKMAS & KUB). Umat Islam di tanah air harus dapat memanfaatkan dua momentum kemenangan yakni perayaan 17 Agustus dan Idul Fitri untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan beragama, kata Pengamat Sospol dari IAIN Sumut Ansari Yamamah.

“Dua momentum yang bersamaan itu adalah momentum yang langka sehingga harus dimanfaatkan secara maksimal”, kata Ansar Yamamah di Medan, Selasa (14/8).

Dalam kehidupan berbangsa, kata Ansari, umat Islam di tanah air akan menghadapi hari kemenangan yakni perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke- 67. Sementara dalam kehidupan beragama, umat Islam di Indonesia juga akan mendapatkan hari kemenangan yakni Idul Fitri yang diperkirakan hanya berjarak dua hari dari perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Keberadaan dua hari kemenangan yang berdekatan tersebut sangat langka sehingga harus direspon dan disikapi dengan baik agar umat Islam di Indonesia tidak kehilangan momentum.

Lebih langka lagi, perayaan HUT Kemerdekaan RI tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at dalam bulan suci Ramadhan sebagaimana hari pengumandangan proklamasi pertama kali oleh Bung Karno dan Bung Hatta. “Mungkin, dalam 100 tahun ke depan pun Indonesia belum tentu dapat momentum langka seperti itu”, kata alumni Leiden University Belanda tersebut.

HUT Kemerdekaan dan Idul Fitri adalah momentum besar yang merubah kehidupan bangsa Indonesia dan umat Islam”, katanya menambahkan. Karena itu, kata dia, keberadaan dua momentum langka tersebut harus disikapi dengan tepat untuk meningkatkan kualitas hidup berbangsa dan beragama di tanah air.

Dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI pada Jum’at pada bulan suci Ramadhan, umat Islam di tanah air harus dapat memaknai kemerdekaan seperti dari “titik nol” dan membangkitkan semangat nasionalisme ketika proklamasi pertama kali dikumandangkan. Semangat nasionalisme tersebut perlu digelorakan kembali karena sebagian rakyat Indonesia terkesan sudah mengabaikannya akibat pengaruh globalisasi.

Dengan semangat nasionalisme yang seperti dimulai dari awal tersebut, umat Islam di Indonesia dapat terus mengisi kemerdekaan dan mengejar berbagai ketertinggalan selama ini. Untuk umat Islam, semangat nasionalisme tersebut juga sangat diperlukan karena salah satu konsep yang diajarkan agama yakni “hubbul wathan” atau cinta tanah air. “Jika tidak, maka setiap apel akbar dalam 17 Agustus, ruh para pahlawan selalu meratapi nasib anak bangsa ini yang tenang saja menikmat ketertinggalan dan kemiskinan”, katanya. Sedangkan dalam kehidupan beragama, kata dia, dua momentum tersebut harus dapat dimaknai untuk meningkatkan rasa saling membantu, saling peduli, dan menjalankan kehidupan berbangsa dengan penuh rasa keimanan.

Berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia selama ini disebabkan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak didasari rasa keimanan dan saling peduli. “Tanpa keimanan, yang muncul hanya sikap hedonis dan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok. Karena itu, tidak mengherankan jika korupsi masih banyak terjadi”, katanya. “Karena itu, manfaatkan dua momentum langka ini dengan baik. Kalau tidak, bangsa Indonesia akan kehilangan momentum kebangkitan”, kata Ansari menambahkan. (MU)

    Bagikan    


Berita Terkait



Lihat versi mobile
©2011 Kementerian Agama Republik Indonesia