KISAHKU DAN PAHLAWANKU

KISAHKU DAN PAHLAWANKU

Ini ceritaku, bukan tentang bahagia dimasa remaja.  aku tidak seperti gadis pada umumnya, yang menghabiskan waktu dengan hal yang sia – sia. Hobbi ku menulis hal yang terjadi di hidupku, terlebih lagi, aku merasa sangat tertantang jikalau ada kisah dari masa lalu yang belum terpecahkan. Menulis sejarah dari masa lalu yang membuatku sadar akan tujuan aku hidup di dunia ini. Bagiku, bersenang – senang dimasa muda bukanlah hal yang wajar. Menganggap kalau masa remaja takan pernah terulang kembali, atau menemukan jati diri yang sebenarnya. Omong kosong!! Itu Cuma alasan mereka saja agar bisa menghabiskan harta orang tuanya. Hah! Tak ada gunanya!. Persepsiku berbeda, aku hidup dimasa muda untuk mencari tau hal yang belum aku tau dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran di masa depan. Ah ntah lah, itu bahagia ku.

Aku rasa, tidak banyak anak jaman sekarang yang tau tentang perjuangan – perjungan pahlawan dulu sebelum merdeka. Mereka takan pernah tau betapa susahnya mencari mata uang di masa lalu. Mereka masih berpikir jikalau mencari uang, bukan lah bagian dari tanggung jawab mereka. Mereka hanya menganggap jikalau tanggung jawab mereka hanya sebatas belajar. Hah! Miskin ilmu. Di suruh belajar saja masih mengeluh, bagaimana mau bertahan hidup? melawan maraknya era globalisasi di masa yang akan datang. Bisa dihitung. Hanya 40% dari 100% anak remaja yang menghabiskan masa mudanya dengan belajar. Sisanya, hanya menghabiskan waktu yang tak penting.

Kata nenek ku, jaman sekarang sudah lebih dari cukup untuk berjuang hidup. tidak seperti dulu, harus berperang dulu kalau mau hidup. jangankan untuk sekolah, uang saja tak punya. Hidup tertekan, pertumpahan darah dimana – mana. Kejam!! Jauh dari kata berprikemanusiaan. Bahkan manusia tak lagi punya harga diri, di perlakukan seperti kerbau yang di tusuk hidungnya, seperti kuda yang di cambuk agar berjalan. Menyedihkan.

Dulu, banyak anak gadis usia 16 tahun yang di jodohkan paksa dengan kompeni belanda. Banyak anak gadis yang usia muda harus merelakan kebahagiaannya demi nyawa. Merasa terhina! Selalu di injak – injak. Semua dagangan direbut paksa. Bahkan keluar rumah saja harus bersembunyi agar tidak di tindas.  Butuh perjuangan, semua saling tolong menolong agar nyawa bisa terselamatkan. Berbagai cara untuk mengalahkan belanda dilakukan agar bisa terbebas dari jaring kegelapan. Hanya bambu satu – satunya media yang bisa di sulap menjadi senjata. Butuh perjuangan!

Jangankan manusianya, kekayaan alam yang di miliki Indonesia saja sudah bukan lagi menjadi milik rakyat Indonesia. Semua direbut Belanda demi kesejahteraan mereka. Awalnya, kedatangan mereka ke Indonesia hanya untuk membeli rempah – rempah hasil alam Negara Indonesia, tapi lama kelamaan mereka mulai meraja lela. Mereka tak lagi membeli, melainkan merebut paksa. Bukan hanya sekedar hasil alam tapi juga Negara Indonesia. Mereka menjadikan rakyat Indonesia sebagai budak mereka. Budak yang ditindas seperti hewan yang tak punya akal. Tidak di beri makanan, semua mati kelaparan. Bahkan, sudah tak lagi berbentuk tubuh. Kalau di bandingkan dengan anjing peliharaan mereka, masih sehatan anjing mereka. Tak bisa di bayangkan. Betapa kejamnya Belanda memperlakukan rakyat pribumi seperti itu. Padahal mereka hanya seorang tamu yang tak diundang!

Semua rakyat Indonesia sibuk mencari cara agar bisa terbebas dari serangan maritim Belanda. Termasuk mengasingkan diri untuk menulis teks proklamasi Indonesia yang menyatakan bahwa rakyat Indonesia sudah tebebas dari para penjajah. Bendera merah putih di jahit dengan rasa penuh kebahagiaan. Bahagia karena akhirnya Indonesia berhasil terbebas dari jeratan jarring kegelapan. Betapa bangganya rakyat Indonesia, saat Bung Karno dengan lantangnya membaca teks proklamasi yang ditulis oleh Sayuti Malik, menyatakan bahwa mulai 17 Agustus 1945 Indonesia Merdeka. Semua rakyat bersorak haru atas perjuangan yang selama ini mereka lakukan. Percaya tidak percaya rakyat Indonesia berhasil mempertahankan Negara Indonesia. Ada rasa kepuasan sendiri di dalam hati. Begitu berharganya perjuangan para pahlawan dulu. Bersusah payah berperang demi Negara Indonesia.

Sedangkan kita, masyarakat jaman sekarang, hanya bisa menghabiskan kekayaan alam dengan hal yang tak pasti, menganggap kalau sekolah tidak begitu penting. Tidak perduli akan makna Pancasila, membiarkan orang – orang luar Negeri lalu lalang di Negara Indonesia. Hah! Konyol. Indonesia kembali di jajah. Tidak berperang, tapi melalui teknologi. Rakyat luar Negeri berlomba – lomba menciptakan alat elektronik canggih yang membuat rakyat Indonesia lalai. Semakin bodoh! Tak perduli akan hal – hal yang ada di sekeliling nya. Iba! Sedih melihat anak muda jaman sekarang yang hanya mementingkan harga diri disbanding kepeduliannya terhadap Negara. Bahkan, sebagian besar rakyat Indonesia tidak hapal Pancasila. Tidak tau nama – nama pahlawan yang berjuang membela Negara Indonesia.

Yang mereka tau hanya artis – artis yang tidak punya sopan dan santun. Menjunjung tinggi ke gaulan bukan kemerdekaan. Menyedihkan sekali! Sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan Negara ini, tidak perlu repot lagi untuk berperang, tak perlu susah mencari makan. Semua bisa di dapat dengan mudah. Tapi rakyat nya? Pemalas!.

Aku menulis bukan untuk kesenangan diriku, aku menulis karena ingin membuat Negara bangga akan karya yang aku tulis. Membuat Negara bangga karena rakyat nya berprestasi. Berjuang dengan usahanya sendiri. Bukan numpang nama atau karena orang tuanya pejabat lalu dengan mudah menjadi terkenal, tidak! Aku berjuang dengan tulisanku. Aku berjuang untuk membuat sebuah karya yang bisa menjadi contoh untuk anak masa depan.

Tuhan memberi bakat pada setiap insan. Tinggal tergantung bagaimana cara insan itu mengasah bakat yang ada di dalam dirinya. Mengasah bakat tidak lah sulit. Cukup berlatih setiap hari. Ini tidak, belum mencoba saja sudah takut gagal. Jikalau takut gagal terus kapan mau berhasil?. Hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya butuh proses.

 Ayolah kawan! Asah bakat yang ada di dalam diri kalian. Jangan takut gagal. Buat Negara ini bangga akan prestasi yang kita punya. Kalau tidak di mulai dari sekarang terus kapan lagi?, jika tidak kita yang memulai, lalu siapa lagi? Ayo lah saatnya kita mengabdi untuk Negara kita.

Karya : Anis Hanan Azizah

Siswi MAN 2 Model Medan Kelas XI-IPA-10

242 DIBACA

Kakankemenag Tanjungbalai Jadi Narasumber Manasik Haji Tingkat Kecamatan

Keluarga Besar Kemenag Samosir Gelar Halal Bi Halal

Permintaan Nama Calon Peserta Diklat Pengawas PAK Tingkat Dasar

Kasi Penmad Kemenag Labuhanbatu Monitoring PPDB MTsN Rantauprapat

Kakankemenag Tapteng Pimpin Apel Perdana Pasca Libur Idul Fitri