Mengambil I’tibar dari Pelaksanaan MTQ Nasional XXVII

Mengambil I’tibar dari Pelaksanaan MTQ Nasional XXVII

Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVII yang digelar di Sumatera Utara baru saja berakhir. Perhelatan akbar se-nusantara yang diselenggarakan pada  4 s/d 13 Oktober 2018 itu tentu saja banyak meninggalkan kesan tersendiri bagi setiap kalangan yang turut menyaksikan kegiatan tersebut, baik bagi masyarakat pengunjung, panitia penyelenggara, maupun para peserta musabaqah. Dalam event besar para pencinta Al-Qur’an ini juga digelar berbagai bentuk kegiatan yang turut memeriahkan pelaksanaan MTQ, mulai dari seminar, parade 1.000 hafidz, malam ta’aruf, pameran, hingga peluncuran buku.

Berdasarkan penjelasan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI Khoiruddin, dalam pelaksanaan MTQ Nasional XXVII telah dilakukan terobosan baru untuk meningkatkan kualitas peserta dan pelayanan musabaqah. Setidaknya ada lima reformasi yang dilakukan Kementerian Agama pada pergelaran MTQ Nasional tahun ini, yaitu diterbitkannya Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dan MTQ, menyediakan alat fingerprint, menyediakan alikasi e-Maqra’, menyediakan aplikasi musabaqah, dan memberikan layanan publik. Sistem penilaian MTQ pada tahun 2018 ini lebih transparan, karena hasil penilaiannya dapat diketahui langsung oleh peserta musabaqah dan masyarakat.

Pelaksanaan MTQ Nasional yang menampung 1.555 peserta dari seluruh wilayah nusantara dan terbagi dalam 13 titik lokasi musabaqah ini, diakui menguras energi dan konsentrasi yang cukup tinggi. Ditambah lagi, registrasi peserta dan aktivitasmusabaqah berbasis komputer yang harus melibatkan petugas ahli Informasi dan Teknologi (IT), membuat pelaksanaan MTQ kali ini semakin berkelas, dan secara nasional, baru kali inilah pelaksanaan MTQ di Indonesia menerapkan sistem IT.Juara dalam kegiatan MTQ Nasional ini pada tahapan selanjutnya akan diikutsertakan dalam event MTQ tingkat Internasional.

Sebagai tuan rumah penyelenggara MTQ Nasional XXVII, pemerintah dan panitia daerah Sumatera Utara telah berupaya dan bekerja keras untuk menyukseskan kegiatan ini, mulai dari masa persiapan, pelaksanaan, penutupan, hingga pemulangan kafilah. Demikian pula masyarakat Sumatera Utara telah memberikan dukungan dan respon positif dalam pelaksanaan event nasional ini yang terlihat dari ramainya pengunjung dan terpeliharanya kondusifitas kegiatan MTQ.  Sementara itu, dari aspek prestasi, kafilah Sumatera Utara berhasil menempati peringkat ketiga dari 33 kafilah provinsi lainnya se-Indonesia, dengan perolehan  4 emas,  3 perak, dan 9 perunggu. Meskipun belum meraih Juara puncak, kafilah Sumatera Utara telah berhasil memperbaiki peringkat prestasi dari tahun sebelumnya. Dalam MTQ Nasional XXVII ini, kafilah Sumatera Utara harus berlapang dada dan mengakui keunggulan kafilah Provinsi DKI Jakarta dan Banten yang menempati peringkat pertama dan kedua.

Dengan berakhirnya pelaksanaan MTQ Nasional XXVII, ada beberapa catatan penting yang dapat dijadikani’tibar (pembelajaran) yang bernilai bagi komunitas muslim di nusantara, khususnya bagi masyarakat Sumatera Utara.

Pertama, melalui pelaksanaan MTQ Nasional, masyarakat muslim di Sumatera Utara dapat memahami bahwa perhatian terhadap Al-Qur’an sebagai ibadah tidak hanya sekedar dibaca dengan tajwid dan keindahan suara, tetapi juga perlu ditulis dengan benar, dihafal dengan kesungguhan, didakwahkan dengan syarh (penjelasan) yang tepat, dipahami kandungan maknanya secara mendalam, ditafsirkan dengan penguasaaan ‘ulum al-Qur’an yang mantap, ditulis/digalikandungannya serta dipertangggungjawabkan secara ilmiah, dan yang lebih tinggi lagi, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang terealisasi lewat musabaqah tilawatil Qur’an, khattil Qur’an, hifzil Qur’an, syarhil Qur’an, fahmil Qur’an, tafsiril Qur’an, dan maqalah al-Qur’an. Dengan menyaksikan pelaksanaan MTQ tersebut, masyarakat muslim akan menyadari betapa luasnya kewajiban mereka terhadap pelestarian dan pengamalan ajaran Al-Qur’an.

Kedua, kehadiran masyarakat mengunjungi dan menyaksikan MTQ, umumnya didorong oleh hasrat untuk melihat perhelatan akbar se nusantara. Kesadaran dari hati untuk menyaksikan dan meramaikan MTQ merupakan salah satu wujud ketakwaan kepada Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Hajj ayat 32: “Barang siapa yang membesarkan syi’ar agama Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”

Dengan demikian, melalui pelaksanaan MTQ akan memotivasi diri setiap muslim yang menyaksikan perhelatan akbar tersebut untuk meningkatkan semangat penguasaan terhadap Al-Qur’an, sekurang-kurangnya termotivasi untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an guna kemantapan beribadah. Ukuran ketakwaan itu akan meningkat apabila termotivasi mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pada sisi lain, kebiasaan untuk menghadiri kegiatan MTQ, akan mendorong hati untuk gemar menghadiri kegiatan-kegiatan akbar lainnya yang bertujuanmembesarkan syi’ar Islam, seperti Tabligh Akbar, Majelis Zikir dan Do’a,  dan sebagainya.

Ketiga, kegiatan yang bertemakan “MTQ Mewujudkan Revolusi Mental Menuju Insan yang Qur’ani” sejatinya tidak hanya bersifat slogan, tetapi mengandung makna dan harapan yang mendalam agar target pelaksanaan MTQ tidak sia-sia, dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an dalam banyak ayat menyerukan agar manusia memiliki sikap mental yang baik, antara lain ikhlas dalam beramal, gemar melakukan kebajikan, amanah, dan istiqamah di jalan Allah. Untuk mewujudkan revolusi mental menuju terbentuknya masyarakat yang Qur’ani, maka nilai-nilai ajaran Al-Qur’an tersebut wajib diamalkan oleh seluruh masyarakat muslim nusantara, terlebih-lebih pihak yang terkait dengan penyelenggaraan MTQ, mulai dari pejabat pemerintah, panitia pusat, panitia daerah, panitia pendamping, dewan hakim, hingga para peserta musabaqah.  

Keempat, dengan perolehan peringkat ketiga dalam MTQ Nasional XXVII, kafilah Sumatera Utara tidak boleh merasa puas, tetapi harus berbenah diri denganmeningkatkan upaya bimbingan dan pelatihan  yang lebih intens, fokus, dan terukur, terutama untuk mengejar peningkatan prestasi pada penyelenggaraan MTQ berikutnya. Pembinaan yang selama ini dilakukan oleh LPTQ Sumatera Utara telah berjalan dengan baik, namun secara berkesinambungan harus melakukan evaluasi, demi pencapaian hasil yang lebih baik ke depan. Tentunya, evaluasi diarahkan kepada empat aspek utama yang meliputi kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan.

Dukungan pemerintah provinsi, terutama dalam pembinaan dan peningkatan anggaran untuk kegiatan LPTQ perlu direalisasikan agar terwujud optimalisasi pencapaian program dan prestasi di masa mendatang.

Kelima, meskipun secara umum pelaksanaan MTQ Nasional XXVII dipandang sukses, namun ibarat pepatah “tak ada gading yang tak retak”, masih terdapat kekurangan pada sisi tertentu yang perlu perhatian dan perbaikan ke depan. Kurangnya mutu pelayanan panitia daerah pada bidang konsumsi dan peralatan terutama pada hari awal kegiatan sempat menimbulkan keresahan bagi panitia pendamping, dewan hakim, dan peserta musabaqah. Hal ini perlu dibenahi dengan meningkatkan koordinasi yang mantap antara panitia pusat, daerah, dan pendamping, agar ke depan dapatmelakukan pembinaan dan menempatkan personalia yang ulet, amanah, dan responsif. Koordinasi yang efektif perlu ditingkatkan, terlebih-lebih dalam rapat kepanitiaan yang digelar.Agenda pembahasan dalam rapat koordinasi seharusnya lebih dominan mengarah kepada kesiapan teknis, job description, dan fokus pada pencapaian kesuksesan.

 

Penutup

                Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, MTQ Nasional yang baru saja selesai dilaksanakan, harus diakui membawa manfaat yang berarti bagi masyarakat Islam di nusantara, sekurang-kurangnya ditinjau dari dua aspek utama, yaknimashalihul mursalah dan syadduz zari’ah. Dari aspek mashalihul mursalah, penyelenggaraan MTQ dipandang membawa kebaikan yang besar bagi masyarakat muslim di tanah air untuk membesarkan syi’ar Al-Qur’an dan berkompetisi secara positif dalam melakukan kebaikan yang dapat terealisasi melalui berbagai cabang mata lomba (musabaqah).

Sedangkan dari aspek syadduz zari’ah, dengan pelaksanaan MTQ dapat mencegah masyarakat muslim, khususnya generasi milenial dari mengikuti berbagai bentuk festival yang tidak Islami, terutama yang ditularkan oleh budaya Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Paling tidak, pelaksanaan MTQ dipandang sebagai salah satu upaya alternatif yang dapat menyaingi dan menandingi pengaruh festival seni budaya asing yang melalaikan dan menjauhkan masyarakat muslim nusantara dari pengamalan agamanya sendiri.Semoga pelaksanaan MTQ tetap terpelihara sebagai tradisi yang membawa kemaslahatan dan menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.  Wallahu A’lam bish Shawab.

Oleh: Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag

 (Staf pada Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara)

156 DIBACA

Kemenag Madina Gelar Pembinaan Karu dan Karom

Kepala MAN Lubuk Pakam Buka Masa Taaruf Siswa Baru

Kegiatan MOPDB Warnai Hari Pertama Masuk Sekolah

MAN Pematangsiantar Laksanakan Upacara Bendera Awali Tahun Ajaran 2017-2018

Tidak Ada Persaingan dalam Pekerjaan, Kerjasama Kunci Keberhasilan