Nilai-nilai Edukatif dalam Penyembelihan Hewan Kurban

Nilai-nilai Edukatif  dalam Penyembelihan Hewan Kurban Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag

Oleh: Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag

 

Kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia dalam beberapa hari ke depan kembali merayakan Hari Raya Kurban (‘Idul Adha) dan Hari-hari Tasyriq yang akan direalisasikan pada tanggal 10 s/d 13 Zulhijjah 1441 H atau bertepatan pada 31 Juli s/d 3 Agustus 2020 M. Momentum ini merupakan suatu anugerah dan kesempatan bagi umat Islam di berbagai belahan dunia untuk melaksanakan ibadah yang agung, sebab penyembelihan hewan kurban sejak hari raya Adha (10 Zulhijjah) dan hari-hari tasyriq berikutnya (11,12,13 Zulhijjah) memiliki fadhilah (keutamaan) yang amat besar.

Dasar hukum penyembelihan hewan kurban itu ditemukan dalam Surah Al-Kautsar ayat 2 dengan kalimat fashalli li rabbika wa inhar (Dirikanlah shalat karena Tuhanmu (Allah) dan sembelihlah kurban). Penggunaan kata perintah (fi’il amar) pada ayat tersebut (wa inhar) adalah dasar penetapan hukum “wajib” melakukan penyembelihan kurban bagi yang memiliki kemampuan menurut Mazhab Hanafi, sedangkan bagi mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, hukum penyembelihan kurban digolongkan “sunnat muakkadah” dengan dalil hadis Nabi saw. kutiba ‘alayya an-nahru wa huwa sunnatun lakum (Diwajibkan atasku menyembelih kurban dan sunnat bagi kamu). Dengan menggabungkan “perintah” dalam ayat dan pernyataan “sunnat” dalam hadis, maka para ulama mazhab menghukumkan kurban itu sunnat muakkadah. Dalam hal ini, tuntutan yang terkandung dalam ayat tetap diamalkan, tetapi sebagai tuntutan yang dikuatkan (muakkadah). 

Hewan yang boleh dijadikan kurban adalah hewan ternak, yaitu unta, kerbau atau sapi, kibas, biri-biri, dan kambing biasa. Kuda, kijang, dan kerbau liar tidak sah menjadi kurban. Hewan kurban disyaratkan: 1) tidak buta, 2) tidak pincang sangat, 3) tidak berpenyakit sehingga kurus, 4) tidak berkurap, 5) tidak terpotong telinga dan ekor, 6) tidak sedang mengandung atau baru melahirkan anak. Adapun keutamaan penyembelihan hewan kurban dapat dirujuk melalui hadis Nabi saw. sebagai berikut:

Dari ‘Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menumpahkan darah (menyembelih hewan). Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (HR. At-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117).

 Berdasarkan hadis di atas dapat dipahami bahwa “menumpahkan darah” ke tanah melalui penyembelihan hewan kurban merupakan ibadah yang paling utama dan amat disukai oleh Allah swt. pada hari raya kurban (‘Idul Adha). Hanya saja, waktu penyembelihannya harus disesuaikan dengan ketentuan yang sah menurut syari’at. Penyembelihan kurban baru dikatakan sah, jika dilakukan setelah shalat ‘Idul Adha hingga berakhirnya hari tasyriq (13 Zulhijjah). Jika penyembelihannya dilaksanakan sebelum shalat ‘id, maka kurbannya tidak sah, meskipun dagingnya halal dimakan karena cara menyembelihnya benar secara syari’at.     

           

Nilai-nilai Edukatif dari Kurban

            Selain sebagai ibadah yang amat disukai Allah dan mempunyai keutamaan yang besar, penyembelihan hewan kurban juga mengandung nilai-nilai edukatif (pendidikan) yang dapat menumbuhkembangkan karakter terpuji bagi setiap muslim yang mengamalkannya, antara lain:

 

1. Mendidik jiwa untuk ikhlas beribadah semata-mata karena Allah

Dalam Surah Al-Kautsar ayat 2 terkandung suruhan yang sangat jelas, bahwa baik mendirikan shalat dan berkurban menggunakan kalimat li rabbika (semata-mata karena Tuhanmu/Allah) menunjukkan bahwa perintah penyembelihan hewan kurban itu sama dengan mendirikan shalat, yakni harus didasari dengan niat ikhlas beribadah semata-mata karena Allah, bukan untuk persembahan terhadap yang lain, tidak karena ingin pamer dan dipuji orang lain serta tidak pula karena ingin dihargai oleh pihak tertentu. Hal ini dapat diteladani dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. tatkala menerima perintah Allah untuk mengurbankan putra kesayangannya bernama Ismail as. Nabi Ibrahim dan Ismail menerima perintah itu dan melaksanakannya dengan ikhlas. Ternyata Allah hanya ingin menguji keikhlasan dan kepasrahan mereka berdua, karena akhirnya dengan waktu yang sekejap, Allah telah mengganti sasaran penyembelihan itu dengan seekor kibas. Dengan niat dan pengamalan yang ikhlas itulah ketakwaan kepada Allah dapat meningkat.

 

2. Mendidik jiwa untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah.

Melalui penyembelihan hewan kurban dapat mendidik jiwa setiap muslim yang melakukannya untuk mensyukuri banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah, mulai dari nikmat diciptakan Allah sebagai makhluk, nikmat dianugerahi iman dan kesehatan, nikmat diberi rezeki baik yang bersifat materi maupun immateri, nikmat keselamatan dan perlindungan dari bencana, dan sebagainya. Upaya untuk merealisasikan rasa syukur kepada Allah atas banyaknya nikmat yang diberikan, tentu salah satunya lewat mengurbankan sebagian rezeki dalam bentuk penyembelihan hewan kurban.

 

3. Mendidik diri untuk melenyapkan sifat-sifat kehewanan yang melekat pada jiwa

Penyembelihan hewan kurban itu bersifat simbolik, maksudnya yang disembelih secara lahirnya adalah leher hewan, tetapi pada hakikatnya seseorang yang berkurban harus menyadari bahwa penyembelihan hewan kurban itu sejalan dengan komitmen untuk menyembelih atau melenyapkan sifat-sifat kehewanan yang selama ini melekat pada diri dan jiwanya. Selaku manusia yang dha’if (lemah), si pekurban (shahibul qurban) menyadari betapa banyaknya sifat-sifat kehewanan yang selama ini bersarang dalam jiwanya, seperti serakah/rakus, suka bermusuhan, ingin menang sendiri, tidak peduli, dan semisalnya. Dengan niat dan komitmen untuk melenyapkan sifat-sifat kehewanan melalui penyembelihan hewan kurban tersebut, tentunya seseorang dapat membersihkan jiwanya dari penyakit-penyakit batin, dan dengan cara seperti itulah dapat meraih derajat takwa di sisi Allah.  

 

4. Berbuat baik (ihsan) terhadap hewan kurban

Aktivitas penyembelihan hewan kurban yang dilakukan sesuai dengan petunjuk syari’at, dapat mendidik jiwa manusia untuk berbuat yang terbaik (ihsan) terhadap hewan yang disembelih. Dalam syari’at Islam terdapat etika yang harus dilakukan bagi setiap yang berkurban (shahibul qurban), antara lain seperti yang termaktub dalam hadis:

Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian menajamkan pisau dan hendaknya  menenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim:1995).

Dalam hadis ini seorang yang berkurban dianjurkan untuk menggunakan pisau yang tajam dalam menyembelih agar urat leher hewan kurban cepat putus dan tidak terlalu lama merasakan sakit, serta dianjurkan pula menenangkan hewan sebelum disembelih. Perbuatan ihsan lainnya yang dapat direalisasikan adalah memberi makan hewan sebelum disembelih, tidak mendekatkannya dengan hewan yang sedang disembelih, menumbangkan tubuh hewan dengan cara yang baik, tidak menggeser dan mengangkatnya kecuali benar-benar telah nyata kematiannya yang ditandai dengan tidak bergerak-gerak lagi.

 

5. Meningkatkan kepedulian terhadap sesama manusia

Penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu wujud kepedulian untuk berbagi rezeki kepada sesama manusia, terutama kepada orang-orang yang lemah kemampuan secara ekonomi (fakir-miskin). Dengan pendistribusian daging kurban kepada fakir-miskin, tentunya dapat menggembirakan mereka dari kesulitan untuk mendapatkan makanan yang bergizi tinggi guna menunjang kesehatan mereka. Selain itu, sebagai wujud solidaritas, daging hewan kurban juga dapat disedekahkan kepada warga masyarakat biasa meskipun mereka memiliki kesanggupan secara ekonomi.

 

6. Mempererat shilatul ukhuwah terhadap sesama warga

Kegiatan penyembelihan hewan kurban di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat mendidik jiwa untuk mempererat hubungan persaudaraan sesama muslim (shilatul ukhuwah). Hal ini dilatarbelakangi oleh keperluan untuk melibatkan banyak orang sebagai panitia/pekerja, karena penyelesaian terkait dengan hewan kurban tidak sebatas menyembelih saja, tetapi mulai dari kebersamaan dalam hal menumbangkan tubuh hewan, menguliti, mencincang, menakar timbangan daging, hingga pendistribusiannya. Dengan sistem kerja yang melibatkan banyak orang di tengah-tengah masyarakat, tentu saja dapat merajut dan mempererat  shilatul ukhuwah antar sesama. Terlebih lagi kegiatan ini umumnya didasari dengan prinsip sukarela (keikhlasan) tanpa diberi upah.

 

7. Memaknai hidup untuk mencapai ridha Allah

Tujuan utama dari segala aktivitas yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban adalah memaknai hidup untuk mencapai ridha Allah. Dengan merenungkan banyaknya nikmat Allah yang selama ini menyertai kehidupan hari demi hari tiada henti, sudah sepantasnya setiap muslim yang memiliki kemampuan melakukan penyembelihan hewan kurban karena rasa cinta yang tulus untuk membalas sebagian kebaikan yang telah diberikan Allah itu guna menggapai ridha-Nya. Tentu saja untuk mencapai keridhaan Allah, modal yang digunakan untuk berkurban harus berasal dari rezeki yang halal, memilih hewan ternak dengan kualitas terbaik, penyembelihan harus sesuai dengan syariat, dan sikap hidup pasca berkurban mencerminkan peningkatan ketakwaan kepada Allah. Dengan ikhtiar itulah keridhaan Allah dapat diperoleh, guna kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.   

 

Penutup

Syari’at penyembelihan hewan kurban membawa manfaat yang amat besar, baik bagi diri individu pekurban (shahibul qurban) maupun bagi warga masyarakat sekitarnya. Aktivitas penyembelihan hewan kurban itu mengandung nilai-nilai edukatif yang dapat membangun kualitas mental kaum muslimin menjadi pribadi-pribadi yang memiliki karakter terpuji guna meraih predikat takwa dan menggapai ridha Allah. Dengan mengawali aktivitas berkurban lewat penyembelihan hewan ternak, diharapkan pula terbangun kesadaran kaum muslimin untuk berkurban dalam arti yang luas, yakni berkurban dengan harta, jiwa, tenaga, dan pemikiran untuk kepentingan sosial, seperti ikut berperanserta membangun rumah yatim, panti asuhan, lembaga penyantunan kaum dhu’afa, dan berbagai aktivitas amal sosial lainnya. 

‚óŹ Penulis adalah Dosen Pascasarjana UIN Sumatera Utara.

119 DIBACA

MTS NEGERI KISARAN JUARA III SEKOLAH BERSIH TINGKAT KABUPATEN

Plt. Kakankemenag Tapsel Pimpin Doa Upacara HUT RI ke 72 Tapsel

MTsN Bandar Gelar Lomba Kebersihan Dalam Rangka HUT RI ke 72

MTsN Besitang Laksanakan Pemilu Ketua dan Sekretaris OSIM

Kunjungan Kasi PTK Kanwil Kemenagsu di MTsN Siantar