Selasa,2017-06-06,14:22:30

ISLAM DAN NILAI CINTA KASIH SAYANG ((Karakter dalam Menjaga dan Memelihara Amanah Kehidupan)

ISLAM DAN NILAI CINTA KASIH SAYANG ((Karakter dalam Menjaga dan Memelihara Amanah Kehidupan)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang – orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang – orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaannya, tanda – tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud (Q.S, 48 : 29)”

 

Nabi Muhammad Saw sebagai sosok manusia yang Allah pilih sebagai pelaku utama Kebaikan (Uswatun Hasanah) telah menjadi bukti nyata bagi seluruh alam yang dapat disaksikan serta dirasakan oleh manusia dan makhluk – makhluk lainnya di atas dunia. Kesempurnaan Rasulullah dalam menuntun manusia kejalan yang mulia didasari ketangguhan jiwa yang dihiasi dengan rasa Cinta dan Kasih Sayang yang membingkai sikap hidupanya terhadap seluruh makhluk yang ada.

Kata Cinta merupakan kata memiliki makna yang mempengaruhi mental seseorang, sehingga seketika dapat melahirkan sesuatu yang sangat berharga dan istimewa dan seketika dapat menimbulkan hal yang sangat buruk dalam kehidupan manusia. Rasulullah Saw mengajarkan kepada manusia untuk menjadikan rasa Cinta menjadi satu sikap yang melekat dalam diri manusia, sehingga Rasulullah Saw menjelaskan karakter keimanan itu adalah ketika seseorang mampu menunjukkan rasa cinta kepada menusia sebagaimana mencintai diri sendiri. Disisi lain rasa Cinta juga dapat mengotori jiwa manusia ketika Cinta itu membawa manusia melangkah menuju kemusyrikan, ini dapat dilihat dari kecintaan manusia yang berlebihan kepada harta benda, anak keturunan dan kedudukan. Kecintaan yang berlebihan juga dapat menjadikan manusia fanatis terhadap golongan, organisasi atau partai sehingga buta terhadap kebenaran dan keadilan.

Cinta dan Kasih sayang harus terjaga dengan baik dalam bingkai kehidupan, sebab keduanya merupakan jiwa kehidupan dan tiang penyelamat bagi manusia. Cinta satu – satunya mutiara yang dapat memberikan keamanan, ketentraman dan perdamaian. Sangat tepat jika ada satu ungkapan yang menyatakan, “Kalau seandainya cinta dan kasih sayang itu telah berpengaruh dalam kehidupan, niscaya manusia tidak lagi memerlukan keadilan dan undang – undang”.

Satu hal yang pasti, jika rasa cinta dan kasih sayang telah melekat dalam jiwa manusia dan mempengaruhi kehidupan, tentu akan muncul sikap untuk berlaku adil walau tanpa harus dipaksa dengan undang – undang. Sebaliknya jika cinta dan kasih sayang hilang dari kehidupan, maka undang – undang yang telah dilahirkan untuk mencapai keadilan pun tidak lagi dihormati bahkan diabaikan dan dipermainkan.

Ketika rasa cinta dan kasih sayang sudah tidak lagi terjaga dalam kehidupan, tentu manusia akan melakukan sikap saling menghinakan dan menjatuhkan, tetapi manusia tidak menyadari bahwa orang yang seperti ini tempat yang disediakan baginya adalah neraka jahannam. Allah Swt mengingatkan ini dalam Al-Qur’an, “Apakah kamu tidak melihat orang –orang yang telah mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, dan mereka telah menjatuhkan kaumnya sendiri kederajat yang serendah – rendahnya, balasan bagi mereka tiada lain adalah Neraka Jahannam dan itulah seburuk – buruk tempat tinggal” (Q.S. 14 : 27, 28).

Nilai Cinta Kasih mungkin saja dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menyelesaikan persoalan yang kita hadapi dewasa ini, apalagi hari ini yang selalu terlihat adalah ketika semakin banyak orang yang merasa rindu dengan keadilan dan begitu bosan menerima dan menyaksikan ketidak adilan. Konsep ideal yang telah diatur untuk menata sebuah proses regulasi kehidupan juga telah dilanggar demi kepentingan semata. Kekuasaan dijadikan sebagai alat penyelamat bagi kepentingan rezim tanpa menghiraukan bahwa ada yang terzhalimi dan dirampas haknya.

Kita hanya bisa terdiam melihat berbagai slogan yang marak saat ini, seperti Penolakan Pungli, Hoax dan persoalan Penolakan Ketidak adilan yang terus saja bergemuruh, seperti manusia tidak pernah mendapat peringatan terhadap persoalan – persoalan tersebut, padahal semua itu merupakan larangan yang sangat mutlak dalam ajaran Islam. Persoalan – persoalan diatas menjadi hal besar yang harus diselesaikan saat ini, padahal semua itu telah menjadi peringatan besar yang disampaikan Allah Swt lewat Al-Qur’an dan Rasulnya kepada manusia mulai berabad yang lalu.

Kita juga menyaksikan dan menikmati tatkala pemerintah kita saat ini seakan ingin menegakkan keadilan dan transparansi dalam penataan birokrasi dengan memberlakukan sistem Assesmen dan Pansel dalam pengangkatan promosi jabatan, namun semuanya seakan hanya masih merupakan angin segar yang membuat harapan besar, pada akhirnya  tidak seindah yang dibayangkan.

Tak dapat dipungkiri bahwa prestasi di bidang pemenuhan kebutuhan material telah menjadi alat ukur kesuksesan hidup yang paling dominan zaman ini. Seluruh aspek kehidupan kita tampaknya telah terhegomoni oleh kebudayaan material atau kebudayaan benda. Kesuksesan telah dirumuskan sebagai sesuatu yang mendatangkan kenikmatan material, jasmani dan duniawi atau disebut dengan kenikmatan fisikal, padahal kenikmatan fisikal seringkali terletak pada hal – hal yang justru menghancurkan kehidupan. Orang yang mengejar kesenangan fisikal selalu lupa bahwa hal tersebut akan mendatangkan resiko kehancuran bagi dirinya  maupun masyarakat.

 Jika undang – undang telah menjadi panggung menarinya para penguasa dan mengabaikan konsep keadilan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya, ini menunjukkan bahwa jiwa cinta dan kasih sayang yang harus dilakukan dengan cara  melindungi hak – hak seseorang telah lenyap ditelan nafsu atau ego pribadi. Nafsu dan ego bisa muncul dalam bentuk kecintaan terhadap anak keturunan, kerabat dekat, kekayaan, usaha atau bisnis kita dan rumah – rumah mewah yang dikonstruksikan bertaburan dengan ornamen mewah yang becita rasa pongah.

Kendati demikian, umat Islam dalam perjalanan yang sangat panjang, masih tetap mampu mempertahankan nilai cinta kasih dalam pergaulan terhadap sesama umat Islam maupun umat selain Islam. Tidak saja dalam keadaan suasana yang penuh dengan kedamaian, dalam keadaan marah sekalipun umat Islam tetap punya aturan main dan menjaga nilai cinta kasih sayang, tidak membabi buta dan gelap mata. Aksi Bela Islam yang sudah digelar beberapa kali di Indonesia bahkan melibatkan jumlah massa yang sangat besar, tetapi memiliki ketauladanan yang luar biasa dalam menjaga etika menyampaikan aspirasi demi menuntut sebuah keadilan yang dirasakan telah meggores hati umat Islam. Sikap menjaga kebersihan, saling peduli satu dengan yang lain, bahkan ikut membantu memberikan jalan bagai umat agama lain ketika melintas dari kerumunan masa, merupakan beberapa bukti dari sekian banyak bukti bahwa umat Islam masih sangat mempertahankan nilai cinta dan kasih sayang dalam menata persoalan kehidupan.

Jalaluddin al-Rumi menuturkan, jika manusia dilihat hanya sebatas batasan fisiknya saja, maka manusia itu tak obahnya hanya seperti seekor belalang yang sedang hinggap diatas pohon, tapi jika dilihat dari apa yang ada dalam fisik manusia itu, tersimpan ‘arsy tuhan yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia ada kekuatan yang merupakan identitas terbesar, kekuatan itu akan dapat mengangkat derajat manusia sebagai makhluk yang termulia diciptakan Allah Swt.

Satu hal yang selalu menjadi persoalan, apa yang dinyatakan Budhy Munawar Rahman, bahwa kenyataannya manusia cendrung dimakan oleh perubahan lingkungan atau ruang dimana ia berada, seperti ungkapan klasik yang menyatakan “Di kandang Kambing Mengambik, Di Kandang Harimau Mengaum”. Manusia modern telah membakar tangannya sendiri dengan apa yang dinyalakannya, karena ia telah lupa siapa dirinya yang sesungguhnya. Manusia menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan terhadap lingkungan alam manusia, berbagai situasi diciptakan dengan merobah kontrol lingkungan menjadi pencekikan, pada akhirnya tidak saja berubah pada kehancuran akan tetapi perubahan yang dahsyat dengan membunuh diri sendiri.

Semoga naluri Cinta dan Kasih Sayang akan masuk dan melekat dalam hati manusia, demi tercapainya kebersamaan yang utuh dalam mempertahankan sikap yang mulia..

Wallahu a’lam....

 

Oleh  : H. TUAH SIRAIT, MH

(JFU Penyusun Bahan Pembinaan LPTQ Kanwil Kemenag SU)

 

 

628 DIBACA
Selasa,2017-06-06,14:19:08

Hadapi Apapun Yang Terjadi

Selasa,2017-06-06,14:17:33

AKTUALISASI KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

Selasa,2017-06-06,14:15:50

HARI RAYA WAISAK DAN RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

Selasa,2017-06-06,14:12:38

MEMILIH TEMAN HIDUP YANG BAIK

Selasa,2017-06-06,14:10:12

SALAT BERJAMAAH DALAM MEMBANGUN SIKAP BERKEPEMIMPINAN YANG BAIK


0 Komentar :