Rabu,2017-06-07,13:58:13

Kumbang Kecil dari Medan

Kumbang Kecil dari Medan

             

           Sesuatu yang tak kusangka-sangka, bahwa kumbang hitam dengan beberapa bercak berwarna putih di tubuhnya adalah utusan Allah untukku memahami beberapa tanda-tanda kebesaran-Nya. Pasalnya, sebagai seorang mubaligh muda, sangat sulit membuat pemahaman yang mudah dimengerti khalayak awam di desa.

            “Sulit, ya... memang harus sulit. Pasti penuh dengan rintangan.” Tapi, dakwah tetaplah harus kau sampaikan anakku...”, teringat aku akan nasehat guruku di Medan, Ustaz Al Farabi.

            Dua minggu yang lalu, aku sudah menjabat gelar alumni madrasah. Tak hentinya mulut ini bersyukur kepada Allah Ta’ala. Hati memang tak dapat berdusta. Perasaan sedih meluap-luap di dada ini, dan sulit bagiku untuk melangkahkan kaki untuk keluar dari madrasah. Ingin rasanya aku kembali mencium tangan guruku usai pembelajaran di kelas. Dan ingin pula aku kembali tuk melihat senyum temanku yang ikhlas menuntut ilmu. Tapi, aku punya masa depan. Dan langkah berikutnya akan menentukan menjadi apa aku.

            Sebelum akhirnya aku melangkah ke jenjang perguruan tinggi, tersisa waktu kosong bagiku. Sebagai mantan anggota KKD Madrasah (Kursus Kader Dakwah), waktu yang kososng ini adalah kesempatan emas untuk berdakwah. Dan moment ini sangat sempurna untuk mendakwahkan agama Allah, terlebih lagi, aku akan kembali ke kampung asalku, dimana Islam adalah minoritas dan masih membutuhkan suntikan rohani.

            Sudah sangat lama aku tidak menyapa kampung asriku ini. Bahkan beberapa bagian sudut kota sudah tak dapat kukenali lagi. Kampungku ini masih terbilang cukup asri dan indah untuk melihat alamnya. Salah satu kota di Kabupaten Toba Samosir, Porsea namanya.

            Kuperhatikan keadaan umat Islam di kampungku secara seksama, dan kutemukan suatu pondasi kekeluargaan Islam disini sangat kuat. Awalnya aku bertanya-tanya tentan sebabnya. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa teori tentang manusia adalah makhluk sosial benar-benar berlaku di daerah pedesaan dibandingkan perkotaan.

            Bagaimana mungkin tidak kuat, wong pengajian saja rutin dilakukan, PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) kompak dilaksanakan, hingga masjid pun semarak mereka makmurkan. Mungkin ini hanyalah stigma-ku yang mengatakan bahwa desaku adalah daerah muslim awam. Terbesit kata-kata di hatiku, ‘untuk apa lagi berdakwah disini? Wong Islam disini sudah mantep kok.’ Tapi, sejurus kemudian nasihat guruku kembali menyadarkanku,

            “Anakku, kamu anak perantauan dari kampung. Kalaulah nanti ananda kembali kesana, jangan menjadi TAMU ya...”, nasihat Ustadz Imamul Muttaqin. Maksudnya, kalau kita kembali ke kampung, jangan samapai kita yang dilayani, tetapi seharusnya kita-lah yang melayani.

            Kumantapkan hati ini dengan tekad yang bulat dan ikhlas untuk mendakahkan agama Allah ini. Dan untuk mengakrapkan kembali sosialku dengan masyarakat muslim di Porsea, kudekati Masjid. Aku bersyukur, kerana dengan adanya Ayahku, yang juga merupakan orang yang berpengaruh di Porsea, maka proses pendekatan sosialku akan semakin mudah dan selangkah lebih maju. Karena masyarakat muslim disini adalah minoritas, bahkan namanya satu persatu dapat langsung kuingat.

            Setelah proses sosialku berhasil di desa ini, mulailah aku mewarnai Masjid dengan setetes ilmu yang diberikan Allah kepadaku. Beberapa jadwal kuliah subuh pun kuambil andil hingga jadwal khatib jum’at. Hari-hari kulalui dengan nuansa warna-warni Islam. Hingga suatu hari, aku diminta untuk menjadi ‘ustadz’ di Peringatan Isra’ Mi’raj.

            Tibalah acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Panitia acara terlihat sibuk mondar-mandir untuk menyiapkan acara agar meriah. Lima belas menit sebelum dimulainya acara, bangku-bangku penonton yang kosong sudah sukar terlihat. Di pelataran masjid, terlihat anak-anak yang berlari dengan senyum ke Masjid, ramai oleh deretan pedagang yang juga turut serta memeriahkan acara.

            Master of Ceremony membuka acara dan dlanjutkan dengan kata sambutan dari para tokoh masyarakat. Sejurus kemudian, tibalah giliranku memberikan ceramah. Walapun aku yang sudah akrab bersosial dengan masyarakat, tetap saja rasa grogi itu timbul. Aku pun naik ke atas panggung diiringi tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Kulihat anak-anak yang tadinya berlari, kini mereka sudah cakap duduk di bangkunya masing-masing.

            Kulantunkan salam dengan penuh semangat pada microphoneyang tersedia. Suasana yang ramai, seketika mulai hening. Kuulang-ulangi do’a Nabi Musa yang meminta kepada Allah untuk memudahkan lisannya dalam pemeriksaan perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.

            Dengan mantap dan cakap, aku berceramah tentang sirah nabawiyyah yang diajarkan oleh guru-guru ‘Aliyah-ku. Dengan detail dan jelas kukisahkan satu persatu bagian dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan sesekali kuselingi dengan candaan. Sangat senang hati seorang pembicara bilamana pendengarnya mendengarkan denagn seksama.

            Hampir klimaks kisah yang kulantunkan. Tetapi, tiba-tiba aku dikagetkan dengan seekor kumbang hitam dengan beberapa bercak berwarna putih yang keluar dari kantong baju gamisku. Seketika, tanganku langsung refleks menjatuhkan kumbang tersebut. Sontak hal tersebut membuat kaget para penonton.

            Di dalam hati, aku terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin bisa ada seekor kumbang di kantong bajuku. Tiba-tiba, aku teringat bagaimana ceritanya. Kumbang tersebut adalah kumbang yang kutemukan di Medan sewaktu menunggu bus ke Porsea. Karena kumbang tersebut terlihat menarik, akhirnya ia kubawa. Setelah sekian lama kuperhatikan kumbang tersebut di dalam bus, ternyata sayapnya rusak,yang karenanya ia tak dapat terbang. Lalu, kerana aku sudah bosan memperhatikan kumbang tersebut, kuletakkan ia di atas ransel pakaianku. Dan mengenai cara ia bisa sampai ke dalam saku bajuku, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

            Tampak suasana kembali ramai oleh bisikan-bisakan penonton. Mungkin sudah terlalu lama aku mendiamkan microphone ini. Di saat itu pula, Allah lintaskan di pikiranku tentang salah satu tanda kebesaran-Nya kepadaku. Langsung saja kuserobot microphone dari tiangnya. Mulailah aku berbicara.

            “Maaf hadirin, ini adalah seekor kumbang yang akan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya”, ujarku membuka cerita.

            “Mengingat kumbang ini, terpikir oleh saya, mengapa Allah hadirkan ia pada acara kita yang berbahagia ini. Inilah salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah bagi kita pada hari ini. Saya dapat memperumpamakan kumbang ini dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi kita. Kumbang ini sangat cantik kalau kita lihat, tapi ada sayangnya Pak, Bu.. apa itu? Sayapnya sudah rusak. Jadi ia tak dapat lagi terbang. Ini kumbang pak, bu, saya temukan di Medan, pas saya lagi nunggu bus kesini. Mirip sekali, sangat mirip sekali dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Logika bapak dan ibu lah, nyampe gak kemari kumbang ini kalo ia berjalan dari medan kemari dalam waktu 2 hari? Kumbang ini gak bisa terbang loh pak, bu...”, lanjutku panjang lebar.

“Tidak mungkin ustadz”, jawab mereka serempak.

“Nah, sekarang, misalnya kumbang ini kembali ke Medan sekarang ini juga naik bus bersama saya, kemudian kumbang ini menceritakan perjalanannya kepada kumbang-kumbang lain di Medan, pasti kebanyakan kumbang di Medan bilangnya seperti ini, ‘ah gak percaya aku sama kau. Mana mungkin kau ke Porsea terus balik lagi ke Medan cuma 2 hari’. Betul apa betul pak, bu?”, tanyaku dengan suara tertawa mereka.

“Nabi Muhammad SAW. itu pak, bu, kalo berjalan sendiri tidak akan mungkin dapat melakukan Isra’ Mi’raj. Tetapi, Nabi Muhammad SAW. itu diperjalankan oleh Allah SWT. sehingga segalanya menjadi mungkin dilakukan. Lihat lafadz ayatnya, Asraa, yang artinya ‘diperjalankan’. Bisa dipahami ya bapak, ibu?”, lanjut penjelasanku.

Bergetar hati ini, senang, gembira, kesemuanya itu bersatu. Kini aku menyadari bahwa ilmu dan pemahaman itu bukan hanya dari ustadz yang mengajari kita semata, akan tetapi, ilmu itu akan Allah berikan dengan cara yang tak disangka-sangka selama kau berusaha. Dan kini aku baru sadar makna dari ‘Usaha tak mengkhianati hasil’.

Dan perihal tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. sangat wajib bagi seorang mukmin untuk percaya dengan sepenuh hati. Jadikan pula Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. sebagai sarana untuk meningkatkan iman kita kepada kebesaran Allah SWT. serta menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.

Karya : Nauval Mursyid Rahmadinata
Siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan kelas XI IA-1

 

738 DIBACA
Rabu,2017-06-07,10:32:07

Siswa MAN Peanornor Menjadi Penceramah Safari Ramadan

Rabu,2017-06-07,10:27:32

MTsN Meranti Serahkan SKL kepada Siswa

Rabu,2017-06-07,10:16:22

Kasubbag TU Kemenag Pematangsiantar Laksanakan Bimbingan Tilawah Alquran

Rabu,2017-06-07,10:01:05

Kakankemenag Pakpak Bharat Hadiri Acara Pelepasan Tim Safari Ramadan

Rabu,2017-06-07,09:52:38

Tim Safari Ramadan Kemenag Pematangsiantar Berkunjung ke Masjid Darul Azhar


0 Komentar :