Minggu,2017-12-10,23:28:44

SAHABAT SURGA

SAHABAT SURGA

Kicauan burung mulai terdengar ditelingaku. Mentari seolah mengajakku untuk bersahabat, namun tubuhku bagaikan terpaku diatas tempat tidur, tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring. Segelintir duka masih menyayat hatiku, aku tak sanggup untuk menjalani hari diatas fatamorgana hidup yang kejam ini. Ya, dunia ini memang kurasa sangat kejam semenjak kepergian kedua orang tuaku. Tuhan tak pernah adil, perjalanan hidup yang aku terima selalu dipenuhi dengan kenyataan yang berat.

Sudah sebulan aku pindah dari rumah orang tuaku,tinggal di kostan kecil yang bagiku sangat membosankan.Sejauh ini semangatku tak juga balik,aku masih menginginkan kehadiran kedua orang tuaku disini.

Aku tersentak dari lamunanku ketika kulihat jam sudah menunjukkan pukul 07.00 padahal pukul 07.30 aku harus kesekolah, sejujurnya aku tak ingin sekolah, aku tak tahu harus membiayai sekolah dengan uang dari mana,belum lagi aku di paksa kakakku sekolah di madrasah, dengan pakaian panjang dan jilbab lebar terjurai yang menutup sebagian tubuh.Huh,g erah sekali, sangat berbeda dengan sekolahku yang dulu, semuanya terlihat sangat menyeramkan, seperti teroris, pikirku.

Pagi itu ketika sampai disekolah aku menatap ke sekelilingku, para siswa mengenakan peci hitam dengan buku-buku yang entah seberapa tebal terangkul ditangan mereka, ku lihat ke arah lain kudapati siswi-siswi dengan balutan jilbab tebal yang tak sedikitpun memperlihatkan lekuk tubuh mereka, tidak satupun dari mereka yang bertatap muka antara laki-laki dan perempuan,oh tuhan...tempat macam apa ini?aku merasa asing disini.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya.

Aku menoleh kebelakang dengan tatapan kosong

“Wa’alalikum salam,” jawabku spontan.

“Kamu anak baru ya? perkenalkan namaku dinda, nama kamu siapa?” tanyanya lembut.

“Iya aku anak baru, namaku Viara”

“Kamu kelas berapa Ra?”

“Aku kelas XI”

“Oh ternyata kita satu kelas, mari aku antar, kamu duduk disampingku saja berhubung teman sebangku ku pindah bulan lalu,” katanya menjelaskan.

“Terima kasih,” jawabku singkat.

Dan kami pun berjalan menelusuri bangunan sekolah untuk menuju ruang kelas yang di maksud. Sesampainya dikelas semua mata tertuju padaku. Aku merasa heran, apa ada yang salah denganku? menurutku aku sudah berseragam seperti biasanya, jilbab diatas bahu dengan kemeja putih yang aku masukkan ke dalam rok kuncup diatas mata kaki aku sangat nyaman dengan seragam ini.

“Mengapa mereka menatapku seperti itu?” tanyaku pada Dinda.

Dinda terlihat cemas lalu tersenyum.

“Mungkin mereka hanya merasa asing karena baru melihatmu Ra” jawabnya pelan setengah berberbisik.

Aku dan Dinda terus berjalan menuju kursi depan paling ujung dekat jendela.

Bel pun berbunyi, pelajaran pertama dimulai, ustadzah zeni memasuki kelas.

“Baiklah anak-anak hari ini kita belajar aqidah akhlak,buka bukunya bab 2,” ucapnya membuka pelajaran

 “Hah, aqidah akhlak??? pelajaran macam apa itu ? aku sama sekali tak mengerti dan baru mendengar nama pelajaran ini,” kataku dalam hati. Sedangkan Dinda yang dari tadi disampingku terlihat sangat menikmati pelajaran ini. Berkali-kali kulirik arlojiku ah lama sekali istirahat,sangat memuakkan.

Sekian lama menunggu akhirnya...yes bel istirahat berbunyi. Semua siswa dan sisiwi keluar menuju kekantin, di kelas hanya ada aku dan Dinda. Dinda asyik membaca buku sedangkan aku hanya tertegun memperhatikan gadis berwajah lembut ini.

“Kamu mau pinjam?” tanyanya.

Aku sontak kaget dari lamunanku “tidak,aku tidak suka membaca”jawabku menolak.

“Coba saja dulu Ra, mungkin setelah ini kamu akan suka membaca”tambahnya lagi,karena tidak ingin membuatnya kecewa aku terima saja tawaran itu.

Tak terasa jam sekolah sudah selasai...

Aku pulang dengan berjalan kami karna jarak kostan dan sekolah tidak terlalu jauh.

Sampai dirumah aku merasa sangat lapar perut ku berkoar karena belum makan dari kemarin, tapi aku tak punya uang sepeserpun untuk membeli makanan, aku mau minta uang dari mana? sedangkan kakak sudah dua minggu terbaring sakit. Ku beranikan diri untuk meminjam beras ke warung dekat rumah. Ah, tapi tak mungkin diizinkan karena sudah terlalu sering aku berhutang aku juga belum tau bagaimana harus membayar hutang-hutangku. Akhirnya terlintas dipikaranku untuk menjambret di pasar kota yang sudah berulang kali aku lakukan. Karena sudah merasa sangat lapar tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengganti seragam sekolahku dengan celana jeans hitam dan baju kemeja yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tubuhku lengkap dengan topi putih untuk menutupi rambut panjang ku agar tak seorang pun dapat mengenaliku.

Lalu aku bergegas pergi menuju pasar kota tak lama aku sampai kulihat seorang ibu tengah membayar belanjaannya,aku langsung menarik dompet itu dari tangannya.

“tolooong,copeeet” Dia berteriak sekeras-kerasnya,warga langsung berkumpul dan mengejarku.

Aku berlari sekencang-kencangnya dan bersembunyi dibalik tembok perbatasan.

“Aku seperti mengenal tempat ini,” pikirku.

Ternyata ini tembok madrasah, aku kaget ketika melihat Dinda masih disini bersama perangkat OSIM lainnya yang sedang merundingkan sesuatu. Karena takut mereka mengenaliku,aku langsung pergi dan pulang kerumah. Tapi, sebelum itu aku harus membeli nasi bungkus untuk makan siang aku dan kakak.

Sesampainya dirumah aku masuk kekamar untu memberikan nasi bungkus ini kepada kakak.”kak aku sudah pulang, kakak pasti lapar ini aku bawakan makanan untuk kakak” ucapku bersemangat.

“Kak,apa kakak tak ingin makan?” Dia tetap diam dan tak juga menoleh. Akhirnya, kudekati Dia. Astaga wajahnya sangat pucat dan lemas ku bangunkan kakak berkali kali namun tak juga sadar .

Dengan rasa takut dan gemetar ku beranikan diri untuk memeriksa denyut  jantung nya,tapi apa yang terjadi...”kak,bangun kak,bangun” ucapku lirih.”kak jangan tinggalin aku,kakaaaak”aku berteriak sambil menangis histeris.

tanganku ingin menggapai wajah kakak namun sendi-sendiku terasa mati Kaki-kakiku terasa lemas hingga nyaris terjatuh,bibirku membungkam dan pikiranku sangat kacau.Ternyata tuhan lebih sayang kepada kakak,tuhan lebih awal memanggilnya,sedangkan aku...tinggallah aku sebatang kara didunia ini,hidup ini sangat kejam untukku.

Seminggu setelah kepergian kakak aku memutuskan untuk berhenti sekolah, apa gunanya aku sekolah, dan untuk apa lagi aku punya masa depan,toh tak ada lagi yang akan aku bahagiakan,tak ada gunanya lagi aku hidup,hidup ini telah menerorku,tuhan tak pernah adil padaku. Mengapa hanya aku yang tertinggal? “cabut saja nyawaku tuhan!!!” lirih ku menangis sambil mengusap air mata pada lingkaran hitam yang masih terlihat jelas dimataku, kaki ku melangkah berjalan lurus hingga aku sampai pada sebuah jembatan.

”Ku akhiri saja hidupku dijembatan ini, aku tak sanggup lagi menjalani semuanya” terucap dari mulutku tanpa sadar sambil memejamkan mata, ku rentangkan kedua tanganku dan perlahan satu kaki sudah mulai melangkah ke ujung jembatan,kaki kedua akan segera aku langkahkan.

Tapi tiba-tiba...ada yang menarikku sangat keras dari belakang “Dinda???” aku sontak kaget.

Dinda langsung memelukku dan mengajakku ke mesjid untuk menenangkan diri. Sampai di mesjid suasana sangat hening  kami duduk diteras dan dinda membiar kan ku menangis.”Kamu kenapa Ra? jika kamu tidak keberatan ceritakan saja padaku,kita akan mencari solusinya bersama-sama” kata Dinda memulai percakapan.Dengan tangis yang masih mengusik ku ceritakan semuanya pada Dinda.

“Tenanglah Ra, Tuhan sangat sayang padamu, Tuhan memberikan mu waktu yang banyak agar kamu bisa memperbaiki diri, karena tuhan tak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan hambnya”ucapnya menyemangati. Setelah itu Dinda menyuruhku berwudhu lalu mengajakku sholat.Benarlah, setelah selesai sholat dan menceritakan semuanya pada Dinda hati ku merasa tenang dan seolah bebanku terasa sedikit berkurang.

Karena hari sudah mulai sore aku dan dinda berpisah di mesjid dan pulang ke rumah masing-masing dan sesampainya di rumah aku teringat dengan buku yang pernah dipinjamkan dinda padaku,buku itu berjudul THE POWER OF HIJAB. Perlahan ku buka lembar pertamanya,entah apa lah yang dijelas kan dibuku ini aku tak mengerti, aku terus membaca dan mataku tertarik pada satu kalimat yang berbunyi “keutamaan wanita berhijab” dan aku aku terus membaca sampai lembaran terakhir. “Pantas saja Dinda nyaman dengan hijab panjang seperti itu disamping karena sudah terbiasa banyak sekali keutamaannya seperti yang diterangkan didalam buku ini” pikirku.

Tak lama kemudian akun tersentak dari lamunanku karena ada yang memanggil dari luar.

“Assalamualaikum Viara”

“Waalaikumsalam”

Ternyata ada Dinda diluar. Ia didampingi oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang ikut bersamanya.

“Ra,ini Abi dan Umiku. Abi dan Umi ingin kamu tinggal dirumah kami,kamu mau kan Aa?”. Aku terdiam dan merasa jantungku berdetak kencang.

“Tidak apa-apa nak, Abi dan Umi akan menganggapmu seperti anak kami sendiri” ucap Umi sambil tersenyum.

“Ayolah nak, lagi pula Dinda anak kami satu-satunya kasihan sering ditinggal sendiri di rumah kalau Abi dan Umi pergi kerja” sambut Umi menambahi.

Aku sangat bahagia sekali karena masih ada orang dimuka bumi ini yang hatinya sangat mulia seperti keluarga Dinda.

Mulai saat itu aku tinggal bersama mereka, dan aku mulai belajar mengenakan hijab panjang seperti Dinda. Walau awalnya memang agak aneh tapi semangkin lama aku semakin menikmatinya. Benar kata buku itu aku merasa orang-orang lebih menghormati ku.

Sejak saat itu juga aku mulai bersekolah lagi, aku tak pernah kelaparan lagi,dan hidupku menjadi lebih baik sekarang. Abi juga sudah membimbingku untuk melaksanakn sholat 5 waktu dan Insya Allah tidak pernah lagi meninggalkannya karena itu adalah cara kita berdialog kepada Allah Swt untuk mencurahkan semua keluh kesah yang kita alami sehingga hati kita akan menjadi damai dan tenang.

Tak lupa juga Dinda selalu mengajakku untuk sholat Dhuha di mesjid madrasah ketika jam istirahat dan Umi selalu menyiapkan bekal untuk kami bawa kesekolah.

Betapa besar nikmat yang kau berikan padaku Ya Rabb,walau dulu aku begitu jauh padamu tapi pintu taubat dan kasih sayangmu selalu kau limpahkan.

Terima kasih Ya Rabb.....

 

Karya : Mutiara Maida Nurrahmah Nasution

Siswa Kelas XII MIA-1 MAN Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara

 

449 DIBACA
Minggu,2017-12-10,22:28:12

Kursus Kader Dakwah MAN 2 Model Medan Gelar MUBES 2017

Minggu,2017-12-10,22:23:51

Permainan Sederhana Namun Penuh Makna

Minggu,2017-12-10,21:49:20

Kegiatan SAKTI 3 MTsN Kabanjahe Berjalan Sukses

Minggu,2017-12-10,21:36:43

Kepala MAN 2 Model Medan Targetkan Hafalan Alquran Siswa 1 Tahun 10 Juz

Minggu,2017-12-10,20:54:48

Penampilan Yelling Kontes dan Tari Komando PRAPAS MTsN Kabanjahe


0 Komentar :