30 Days, Never Say Goodbye

30 Days, Never Say Goodbye

“Pencarian yang sangat panjang, sungguh pencarian yang sangat panjang untuk bisa bertemu denganmu Ali.Kerinduan ini ,yang membuatku terus mencari.Sampai akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi.Aku masih ingat terakhir kali aku melihat wajahmu.Dan janji kita untuk selalu bersama.”

Sudah 10 tahun berselang  semenjak aku dan Ali lulus SMA.Namaku adalah Difa.Aku dan Ali telah bersahabat semenjak kami SD.Semenjak SD kami selalu bersama.Makan bersama,main bersama ,dan belajar bersama.Hanya saat tidur kami tidak bersama.Maklumlah,kami kan tidak tinggal serumah.Aku dan Ali sangat dekat.Kami selalu bersekolah di sekolah yang sama.Semua itu hanya kebetulan saja,atau mungkin merupakan takdir?.Pada saat SMA banyak orang yang mengira bahwa kami pacaran.Tapi aku hanya tertawa mendengar itu semua.Kami hanya befrsahabat.Tiada hari yang kulalui tanpa Ali dan begitu pula Ali sebaliknya.

            Hari ini adalah perayaan kelulusan kami.Inilah hari yang di tunggu tunggu.Masa depan sudah di depan mata.Sebagian dari kami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,sementara aku masih bingung.Mau melanjutkan sekolah atau bagaimana. Aku berlari menghampiri Ali.”Heh” aku menepuk punggung Ali dari belakang.”Eh Ifa ada apa?” .

“Setelah kelulusan ini apa yang akan kamu lakukan?”. “Oh,aku sudah memutuskan untuk merantau ke Jakarta,orang tuaku telah setuju akan hal itu”.” Apa? ke Jakarta?”. Aku sangat kaget mendengar hal itu.Kemudian aku hanya terdiam sejenak.”Kalo kamu gimana Fa mau lanjutin sekolah di mana?”

“Masih belum tahu Li,sudah ah, nanti aja dibahasnya.” “Kapan kamu berangkat?”

“Aku berangkat kira kira 1 bulan lagi”.”Oh,jangan lupa ngabarin ya..!”

            1 bulan bukan waktu yang cukup lama.Besok adalah hari keberangkatan Ali.Tapi aku masih bingung mau datang atau tidak.Karena jujur saja aku tidak ingin berpisah dengan Ali.Aku tidak bisa membayangkan .Ali berjalan sambil melambaikan tangan dan berkata”Dah...!”.

Kring....!kring..!. Bunyi alarm menunjukan pukul 07.00. “Berisik..!” sambil menjulurkan tanganku ke arah meja di samping tempat tidurku dan berusaha mengeluarkan baterai jam.Dan akhirnya berhasil.”Akhirnya aku bisa tidur nyenyak lagi”.Beberapa menit berselang,aku tersontak dan bangun dari tempat tidur”Apa ?, ini adalah hari keberangkatan Ali”. Tanpa pikir panjang aku lalu melompat dari atas tempat tidur menuju kamar mandi, gosok gigi dan mencuci wajah tanpa mandi,lalu ganti pakaian dan bergegas menuju bandara.Diperjalanan aku berdoa”Jangan Ali,jangan berangkat dulu tunggu aku.”

            Beberapa saat kemudian aku tiba di bandara. Dengan wajah cemas aku berlari dan berusaha mencari Ali.”Ali kau di mana?”. Tiba tiba orangtua Ali memanggilku dari kejauhan.”Nak Ifa..!”

“Kenapa terlambat ,Ali sudah berangkat,dia kesal sekali.” “Sial”, perasaan marah,sedih,kesal semuanya bercampur aduk. Wajahku memerah dan hampir meneteskan air mata.Aku sangat kecewa.”Ya sudah,aku pulang dulu ya bu.” Aku berlari meninggalkan bandara”. “Nak Ifa” ibunya berteriak dari kejauhan,tapi aku tidak menghiraukan.Ternyata ibunya hendak memberikanku secarik kertas yang berisi nomer telepon dan alamat Ali di Jakarta,sayang sekali.Aku menangis disudut taman bandara,sambil memarahi dirku sendiri.”kenapa aku bisa terlambat”. Kalau sudah jodoh pasti tak kemana pikirku.

            Kami memang bersahabat ,tapi akhir akhir ini perasaanku kepadanya lebih dari seorang sahabat.Entahlah,aku juga bingung .Apa sebenarnya maksud dari perasaanku ini.

            Sesampainya di depan rumah kulihat mama dan papa berdiri menantiku dengan koper dan tas tas besar di atas teras.”Ada apa ini mah,emangnya kita mau kemana?” “ kita akan pindah,barangmu sudah mama kemasi,persiapkan dirimu sebentar lagi taksi akan datang.” “kok mendadak begini?” “ urusan bisnis memang selalu begini cepatlah”

Aku berlari menaiki tangga menuju  lantai atas,menuju sebuah laci yang terletak di kamarku,di dalamnya tersimpan sebuah diary tempat ku menuangkan segala isi hatiku,dan disana juga ada foto foto aku dan Ali.

            Kami pun berangkat, di perjalanan aku bertanya”kita mau kemana sih pah”. “sudah tenang saja”. Diperjalan aku melihat dari kaca jendela mobil sepertinya ini jalan menuju ke bandara  tadi.

Beberapa saat kemudian kami pun sampai,dugaanku tidak salah kami tiba di bandara.”surprise.. kita akan ke Jakarta”seru papa. Ke Jakarta ? aku sangat senang .”Aku akan bertemu denganmu Ali”.Benar kan kataku kalo jodoh itu tak kemana hehehhe...!.

            Hanya 1 jam perjalanan kami pun tiba di Jakarta,gedung gedung tinggi di sana sini dan jalanan yang sangat macet,itulah kota Jakarta.Entah ada apa dengan kota ini, yang penting semua orang berlomba lomba untuk datang  kesini.Kami pun tiba di rumah baru,mama membuka pintu seraya menyuruhku untuk mengangkat tas dan koper seraya berkata”cepatalah Fa kita akan beres beres dulu”.Di suasana  makan malam ayah menanyakanku “jadi apa rencanamu selanjutnya Fa?, mau kuliah atau bagaimana?”.”males ah kuliah, belajar mulu”.Mendengar perkataanku tadi ayah diam seraya berfikir kemudian ia menawarkanku bekerja di restaurant sahabatnya sebagai manager,di sana terkenal dengan kelejatan pizzanya.Bagaimana lulusan SMA sepertiku bisa menjadi seorang manager ?.Ayah menjawab”semua bisa diatur,pikirkanlah dulu”.Aku berpikir seandainya aku menjadi manager aku hanya akan berdiam di restaurant saja,sementara aku ingin mencari di mana Ali berada,tiba tiba muncul ide bagaimana jika aku bekerja sebagai pengantar pizza saja.Dengan harapan setiap orang atau tempat yang kudatangi aku bisa mencari Ali pikirku.Ayah terus saja mendesakku, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di sana.Besok adalah hari pertamaku masu kerja.Awalnya sih canggung,tapi lama kelamaan aku akan terbiasa.

Hari demi hari berlalu begitu saja,minggu demi minggu,dan sekarang genap 1 bulan aku bekerja di sini.Di sela sela waktuku sebagai manager aku sering membantu para karyawanku untuk mengantar pizza.Awalnya mereka tidak membolehkan dan setelah terjadi perdebatan yang sangat panjang akhirnya mereka membolehkanku dengan perjanjian kalau bos mengetahui ,hal ini adalah tanggung jawabku.Beberapa kali mengantar pizza ,aku terus saja menanyakan apakah mereka mengenal Ali dengan menunjukkan foto Ali sewaktu SMA dulu,namun tidak ada seorang oun yang mengenal dirinya .Namun aku tidak akan menyerah.Waktu berjalan dengan sangat cepat,namun pencarianku masih terus berlanjut.Tahun demi tahun telah kulewati,namun pantang bagiku untukmenyerah.Kebiasaan mengantar pizza masih kulakukan sampai saat sekarang ini.Ini adalah tahun kesepuluh pencarianku terhadap Ali.Aku berharap kami akan berjumpa sebentar lagi.

            Di suatu ketika,saat hari mendung.Sebentar lagi hujan akan datang.Aku sedang berada di perjalan menuju rumah.Aku memutuskan untuk berteduh sejenak di emperan sebuah toko tepat di depan sebuah rumah sakit.Diseberang  jalan terlihat seorang pria berperawakan cukup tegap,mungkin ia baru saja dari rumah sakit.Ia berlari menghampiriku. Ia berdiri tepat di sampingku karena saat itu ia juga kehujanan.Ditangannya terlihat sebuah amplop putih.Suasana terasa agak canggung,aku gugup dan jantungku mulai berdetak  agak kencang.Aku bingung apa yang terjadi denganku saat itu.”Apakah karena si orang asing ini?” Pikirku.Hujan masih belum reda juga .Suasana terasa semakin dingin saja.Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya mungkin hal ini dapat menghangatkan suasana pikirku.”Hy..!”. dia lalu membalas sapaanku dengan sedikit menoleh kearahku.Sekilas aku merasa sangat familiar dengan wajah ini .Jantungku berdegup lebih cepat ,aku mulai penasaran ingin melihat lebih wajah pria asing itu.Sekali lagi aku memberanikan diri untuk menyapanya”permisi..?”.”ia ada apa sambil menoleh kearahku”.Sontak hal ini membuatku terkejut wajahnya sangat mirip dengan Ali.Apa ini benar benar dia .Atau hanya halusinasiku semata.”Namamu Ali kan”.”bagaimana kau tahu dengan namaku”. Aku tidak salah lagi,ini pasti benar benar dia,hari ini takdir telah mempertemukanku kami kembali.Aku sangat senang ,hari itu dunia terasa seperti milikku.”Kau masih ingat aku?”.”Difa!....Kau Difa kan”.”Ia Li ,ini aku Difa,telah lama aku mencarimu,akhirnya hari ini kita bertemu juga.Kami pun bercerita panjang lebar.Aku menceritakan pencarian panjangku terhadapnya selama ini.Dan ia bercerita bagaimana kehidupannya di Jakarta setelah ia merantau.

Aku pulang kerumah dengan wajah berseri seri .”Ada apa denganmu”.Ibu bertanya.”Aku bertemu

Ali  bu”.”Apa Ali? ,ibu sangat senang mendengarnya,akhirnya setelah sekian lama.Kalian bertemu juga.”

Keesoakn harinya aku bertemu dengan Ali di tempat yang telah kami sepakati.Aku memutuskan untuk cuti selama 1 bulan.Aku ingin menghabiskan waktuku bersama Ali.Aku ingin melepaskan kerinduanku selama ini.”Bagaimana keadaanmu sekarang Li?”.”Aku baik baik saja Fa,kalu kamu bagaimana Fa?”. “Alhamdulillah aku juga baik”Percakapan kami berlanjut hingga hari petang.Tidak ada yang beda dengannya semenjak kami berpisah.Hanya saja beberapa kali bertemu ia sering menggunakan topi dan jarang sekali melepasnya.Suatu waktu aku pernah mencoba untuk melepaskan topinya,namun ia sangat marah..Wajahnya juga terliht lebih putih.Tapi menurutku,terlihat agak sedikit pucat.Aku sempat menanyakan apakah ia sedang  sakit, namun ia berkata bahwa ia baik baik saja.Setiap hari kami bercerita panjang lebar mengenang masa masa SMA dulu.Senang sekali rasanya.

            Hari demi hari berlalu begitu cepat.Setiap hari aku selalu bertemu dengan Ali.Jalan jalan kemanapun kami ingin pergi.Mengelilingi Jakarta yang ramai.Sekarang aku sudah mengerti apa maksud dari perasaanku selama ini.Ini adalah perasaan cinta.Perlahan lahan persaanku sebagai seorang sahabat berubah menjadi perasaan cinta.Tapi aku tidak tahu apakah Ali juga memiliki perasaan yang sama terhadapku.Atau ia hanya mengangapku sebagai sahabat saja.Sekarang adalah hari cuti terakhirku.Tepatnya ini adalah hari ke 30.Itu artinya sudah 1 bulan aku menghabiskan waktuku bersama Ali.

Seperti biasanya hari ini kami bertemu di taman tempat biasa kami bertemu.Ini adalah hari terakhirku cuti.Mungkin setelah ini kami akan jarang sekali bertemu karena aku akan di sibukkan dengan pekerjaan di restaurant.

Kami duduk di bangku taman, dikelilingi dengan bunga yang penuh warna.”Ifa..!”. “Ia Li”.”Aku ingin bicara sesuatu,sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu,sungguh tidak ingin,aku merasa waktuku sudah tiba.Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal”.Aku merasa sangat marah dan juga bingung sampai hati ia berkata seperti itu.”Apa katamu selamat tinggal?,jangan pernah katakan selamat tinggal,Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menemukan dirimu?,enak saja kamu ingin mengatakan selamat tinggal”.Tiba tiba Ali merebahkan badannya ke atas pangkuanku. Aku sangat terkejut,aku gugup.Aku sedikit risih.”Apa yang kamu lakukan Ali,malu dilihat orang”.”Fa..,sebenarnya aku menganggapmu lebih dari sahabat,sepertinya aku terlalu sayang padamu”.”Apa...?”. Sungguh tak disangka Ali akan berkata seperti itu.Tapi inilah yang kuharapkan selama ini Ali menyatakan perasaanya terhadapku.Lalu Ali menggenggam tanganku dan meletakan tepat diatas wajahnya.”Apa lagi ini Ali”.Tapi ia hanya diam.Aku kembali  memanggil namanya.”Ali..!”. Tapi ia juga tak menjawab.Tiba tiba tanganku terasa basah.Aku terkejut.”Apa ini”.Aku lalu menarik tanganku dan kulihat cairan merah telah membasahi tanganku.Itu adalah darah.Hidung  Ali mengeluarkan darah.Darah mengalir dengan sangat cepat.Apa yang harus kulakukan aku sangat bingung.Ali kamu kenapa ?.Aku terus mencoba membangunkannya namun tetap tidak ada reaksi.Akhirnya dengan perasaan cemas, aku memutuskan untuk membawa Ali ke ruamh sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung memanggil perawat,mereka pun segera membawa Ali untuk diperiksa.”Apa yang harus aku lakukan?”. Perasaanku sangat cemas .”Apa yang terjadi denganmu Ali?”. Tanpa disadari air mataku menetes membasahi wajahku.Aku takut terjadi apa apa dengan Ali.Aku sudah tidak sabar ,aku mencoba untuk melihat Ali dari kaca luar ruangan itu,Aku melihat suster melepas topinya dan setelah itu melepas rambutnya.Ternyata itu adalah rambut palsu.Tubuhku tergoncang seperti baru saja diterpa gempa yang sangat dahsyat.sekarang kepala Ali terlihat botak tanpa ditumbuhi sehelai rambut pun.Sekarang aku mengerti kenapa selama ini ia selalu memakai topi.Tapi aku bingung kenapa kepala Ali botak?, apa maksud dari semua ini?.Hatiku terus bertanya tanya.Hanya sebentar waktu berselang,dokter pun keluar.

“Anda tidak salah membawa Ali kesini,ia adalah pasien kami.Ia menderita kanker,namun sebulan terakhir ini tubuhnya sudah mulai lemas dan tidak sanggup untuk melawan penyakitnya tersebut,artinya kankernya sudah berada pada stadium akhir.sudah 2 tahun terakhir ini ia berjuang melawan penyakitnya itu.Namun hari ini takdir berkata lain.Waktunya sudah habis.””Maksud dokter”. “Ya,Ali sudah meninggal,saya turut berduka cita.”

Dunia seketika berubah menjadi gelap dengan awan hitam pekat dan sambaran petir yang sangat  dahsyat.Aku terdiam sejenak .Seakan akan tak percaya apa yang sedang terjadi.Tubuhku terasa lemas,kujatuhkan tubuhku  di atas lantai.”Apa sebenarnya ini Ali, kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku.Aku belum siap untuk kehilanganmu.Kenapa harus hari ini?.Tuhan... kau sangat kejam,aku pikir aku dan Ali akan ditakdirkan bersama.Inikah akhir dari semua ini?.Jika begini akhirnya aku akan memilih tidak akan bertemu denganmu.Dan sekarang Aku telah mengerti apa maksud dari perkataanmu itu.
“Ali!.. aku menyayangimu.”

            Sekarang umurku sudah 29 tahun,1 tahun semenjak Ali meninggalkanku.Umurku sudah tua.Ayah terus saja mendesakku untuk segera menikah ,walaupun sampai saat ini aku belum pernah pacaran . Hati ini hanya untukmu Ali.

Karya : Ahmad Rinaldi

Siswa MAN Barus Kabupaten Tapanuli Tengah

 

241 DIBACA

Kemenag Labuhan Batu Gandeng BSM Bedah Rumah di Panai Hilir

Kakankemenag Labura Lantik Pengurus POKJAWAS

Kakankemenag Samosir Lakukan Pembinaan Penyuluh Agama Kristen Non PNS

Kasubbag TU Kemenag Dairi Hadiri Program Sertifikasi BMN

MAN Barus Tuan Rumah Praktik Pembelajaran Manasik Haji