Ibadah Haji Suatu Perjalanan yang Sangat Istimewa, Luar Biasa dan Penuh Makna

Ibadah Haji Suatu Perjalanan yang Sangat Istimewa, Luar Biasa dan Penuh Makna Kasi Bimas Islam Kemenag Mandailing Natal didampingi Ka.KUA Kecamatan Siabu menyampaikan bimbingan manasik haji bagi CJH Kecamatan Siabu

Panyabungan (Inhum).  Isthitoah merupakan salah satu dari syarat utama melaksanakan ibadah haji, yaitu memiliki kemampuan, bukan hanya kemampuan dan memiliki biaya untuk berangkat ke Tanah Suci, tapi juga adanya perhatian serius terhadap kemampuan fisik yang sehat, kemantapan rohani, dan jaminan keamanan selama dalam perjalanan dan pelaksanaan ritual ibadah haji.

Disamping memiliki kemampuan fisik dan non fisik, seorang jamaah haji itu juga harus mempersiapkan memperhatikan keluarga yang ditinggalkan yang menjadi tanggungannya, yang harus mampu memberikan biaya hidup kepada keluarga yang ditinggalkan selama berhaji.  Terlebih lebih jika yang berhaji adalah tulang punggung keluarga, yang memberi nafkah, karenanya sangat membutuhkan persiapan yang cukup sebelum pergi berhaji.

Hal ini disampaikan Kasi Bimas Islam H. Ahmad Zainul Khobir, S. Ag, MM pada saat menyampaikan bimbingan manasik haji bagi Calon Jamaah Haji (CJH) Kecamatan Siabu di Aula Kantor Camat Siabu, Kamis, 8 Pebruari 2018.

Menurutnya ibadah haji bukan hanya perjalanan biasa biasa saja, atau sekadar perjalanan wisata, dan bukan hanya shooping atau menikmati kuliner Jazirah Arab semata. Tapi Ibadah haji merupakan suatu perjalanan yang sangat istimewa, luar biasa dan penuh makna.

"Pelaksanaan ibadah haji adalah pencarian jati diri sebagai hamba Allah, pensucian jiwa, dan pembersihan hati, untuk menggapai ridho ilahi, menuju pribadi yang paripurna, sebagai seorang insan kamil," katanya.

Menurut Mantan Kasi PHU ini, ibadah haji sangat membutuhkan persiapan fisik yang prima. Salah satu persiapan yang dibutuhkan adalah siap dari sisi perbekalan. Apalagi kebanyakan jamaah haji dari Indonesia sudah berusia lanjut. Medan yang berat dan kondisi cuaca yang ekstrem bagi orang-orang Indonesia, akan cukup menyulitkan untuk menjalankan berbagai ibadah selama di tanah suci.

Yang pertama harus disiapkan adalah niat dan jiwa yang ikhlas untuk mengharapkan ridoNya semata.  Hindari Rafats, Fusuq dan Jidal, kedua memiliki Ilmu yang memadai dalam manasik haji Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada para jamaah untuk membaca buku manasik haji dari Kementerian Agama dan mengikuti latihan manasik haji sebagai gladi sebelum pelaksanaan sesungguhnya dimulai.

"Ketiga perlengkapan yang diperlukan selama di Tanah Suci selama 41 hari, antara lain : 1 (satu) tas koper besar yang akan masuk bagasi pesawat, sebaiknya diberi tanda khusus yang mudah dilihat dari jauh dan dari berbagai arah dengan menggunakan pita khusus, menuliskan identitas diri agar mudah dikenal, yang berisikan pakaian ihrom, beberapa stel pakaian, handuk, peralatan mandi, obat obatan, makanan ringan dll, kemudian 1 (satu) tas koper kecil yang akan dibawa ke kabin, yang berisikan pakaian ganti selama di Asrama Haji dan peralatan mandi, dan 1 (satu) tas leher yang berisikan paspor, surat kesehatan, obat dan sebagainya," terang Khobir Batubara.

Sementara itu Kepala KUA Kecamatan Siabu Subhansyah Arifin S.Ag, MH menyampaikan bahwa jumlah CJH Kecamatan Siabu Tahun 1439H/2018M ini berjumlah 55 orang, dan sebanyak 50 orang telah selesai mengurus paspor ke Kantor Imigrasi Kelas II Sibolga pada tanggal 2 pebruari 2018 yang lewat, dan sisanya akan berangkat pada tahap tahap selanjutnya. (ARH)

95 DIBACA

Pentingnya Menjaga Kesehatan

Kakankemenag Hadiri Forum Diskusi Polres Pakpak Bharat

Teknisi dan Proktor MAN Kabanjahe Siap Tempur

MTsN Barus Fasilitasi 2 MAS dalam Simulasi II UNBK

Perdana Laksanakan UNBK, MAN Pematangsiantar Siap Sukseskan Pelaksanaannya