Selasa,2018-02-13,10:36:27

KEBERHASILAN SANG HAFIZH QURAN

KEBERHASILAN SANG HAFIZH QURAN

Pada suatu hari, disebuah desa hiduplah seorang anak, yang bernama Qadri. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ibunya seorang penjual roti di jalanan, sedangkan ayahnya sudah meninggal. Qadri mempunyai sifat baik, ramah, rendah hati, dan pemalu. Ia adalah anak yang pendiam. Qadri banyak disenangi teman temannya. Qadri suka membaca alquran sambil dan menghafalnya. Qadri duduk di kelas 3 SMP. Disekolah Qadri sering diejek temannya karena ibunya seorang penjual roti. Winda adalah salah satu siswi yang sangat sering mengejek Qadri. Winda adalah anak dari seorang kaya raya. Winda mempunyai sifat sombong, manja, tinggi hati, dan suka pamer.

Setelah memasang tali sepatunya, Qadri langsung menyalam tangan ibu dan langsung pergi ke sekolah. “Bu, Qadri pergi ke sekolah dulu yah, assalamualikum’’ ucap Qadri. Dengan bergegas Qadri mendayung sepedanya dengan kuat.

15 menit kemudian, Qadri pun sampai di sekolahnya. Sesampainya di pintu gerbang ia melihat beberapa guru di lingkungan sekolah, ia langsung berlari dan menyalam guru.

‘’Assalamualaikum muallim, assalamualaikum muallim’’ ucapnya dengan lembut. ‘’Waalaikum salam, Qadri” jawab bu guru.

Qadri pun langsung masuk keruang kelasnya, sesampainya di kelas ia langsung mendapat ejekan dari Winda. “Assalamualaikum’’ ucap Qadri. Semuanya temannya menjawab kecuali Winda. “eeeeh, Qadri jangan sok baik deh, pake salam segala lagi” ucap Winda dengan sombongnya.

‘’Astaghfirullah hal azim” ucap Qadri dengan suara lembut.

Tintong…………tintong……..tintong…………..

Suara bel berbunyi dengan kerasnya. Siswa pun langsung bergegas untuk mengambil  barisan. Guru pembinanya adalah bu Miranda. Bu Miranda menyampaikan bahwa akan ada perlombaan hafizh Quran antar sekolah tingkat provinsi, biayanya ditanggung sekolah, barang siapa yang berminat agar lapor ke  sekretaris kelasnya masing masing. Qadri tertarik dengan perlombaan itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya risau.

Les pertama masuk ke kelas Qadri adalah bu Miranda, ia adalah guru Quran Hadist.

‘’Dikelas ini ada yang berminat untuk ikut perlombaan itu’’? tanya bu Miranda.

‘’Hmmmm, sa…saa….yaa.. bu..’’ jawab Qadri dengan gugup.

‘’Kenapa kamu gugup menjawabnya, Qadri”? tanya ibu itu kembali.

‘’Saya khawatir dengan ibu saya bu, nanti ibu saya tidak ada yang menemani’’ ucap Qadri. Tiba tiba Winda memotong percakapan. ‘’Eeh, Qadri gak usah deh sok ikutan, lo jualan kue aja sama ibu lo di pinggir jalan itu’’ ucap Winda dengan angkuhnya.

“Winda…kamu berbicara jangan sekasar itu, mentang-mentang kamu anak orang kaya, gak sepantasnya kamu berbicara seperti itu, semua kita manusia ini sama, yang miskin, yang kaya, semua itu sama” ucap bu Miranda dengan suara lantang.

Semua murid terdiam…

‘’Jadi, masalah itu yang membuat kamu jadi khawatir’’ sambung Bu Miranda dengan suara lembut.

‘’Ii…ya..bu’’ jawab Qadri.

‘’Jangan khawatir Qadri, ibumu tidak akan apa apa kok’’ ucap bu guru dengan menyakinkan Miranda.

Bu Miranda pun langsung memanggil satu persatu untuk di tes.

‘’Qadri coba kamu duluan yang kedepan’’ tunjuk bu Miranda. Qadri pun langsung maju ke depan, dan membacakan surah al Mulk sampai habis. Ketika Qadri melantunkan ayat al mulk, semua orang terdiam dan ada yang menangis ketika mendengar Qadri membacanya 15 menit kemudian Qadri pun selesai membaca surah al mulk. Semua orang tercengang bahkan bu Miranda sampai meneteskan air mata.

“Beri tepuk tangan kepada Qadri’’ ucap bu Miranda dengan kuat.

Pak, pak, pak, pak, pak……suara tepuk tangan. Winda sangat tercengang dengan suara Qadri,tapi dia gengsi untuk memberikan tepuk tangan kepada Qadri.

‘’Selanjutnya adalah Winda’’, tunjuk Bu Miranda.

‘’Apa bu, sa…sa..ya….” ucap Winda dengan gugup.

‘’iya, kamu….’’ jawab bu Miranda.

Winda pun langsung maju ke depan.

‘’Surah yang mau kamu baca apa’’? tanya bu Miranda.

‘’hmmmmmmm…..hmmmm…surahhh’’ jawab Winda dengan bingung.

‘’iya,surah apa’’? tanya bu Miranda kembali.

‘’Surah Al Maun bu’’ jawab Winda.

‘’Baiklah, coba bacakan’’ suruh bu Miranda.

Winda pun langsung membaca surah Al Maun, tapi di diayat ke lima, Winda lupa bacaannya. Semua teman-temannya kecuali Qadri menyorakkan Winda dengan kuat.

‘’Huuuuuuuu…..huuuuuuu…huuuu..’’ sorak mereka.

Winda pun merasa malu, dan dia langsung duduk ketempat duduknya.’’ sudah, sudah…’’ ucap bu Miranda.

Tintong…..tintong….tintong…

Bel pulang telah berbunyi. Semua murid langsung bergegas pulang. Qadri langsung menyalam bu Miranda. Tapi, ketika Qadri mau pulang, Qadri di perogoki Winda dan teman-temannya.

“Hey, Qadri……maksud lo tadi itu apa?’’ tanya winda dengan marah.

“Yang mana….aku..aku…tak mengerti” jawab Qadri.

“Halah, jangan sok ngilak kau’’ ucap Winda sambil mendorong bahu Qadri.

Qadri hampir terjatuh,’’ Astanghfirullah hal azim’’ ucap Qadri.

“Udah yok, kita pigi aja gays” ucap Winda dengan sombong.

Mereka pun langsung meninggalkan Qadri, Qadri mengacuhkan cemuah perkataan Winda tadi, karena baginya itu adalah sebagai hal yang biasa.10 menit kemudian Qadri pun tiba di rumahnya, ia pun langsung menceritakan tentang perlombaan itu.

“Assalamualaikum” ucap Qadri. 

“Waalaikum salam, eeh Qadri udah pulang nak” jawab ibu.

“Udah bu. Bu, aku mau bilang sesuatu’’ ucap Qadri.

‘’Yah, apa nak?’’ ucap ibu kembali.

Qadri pun langsung menceritakan tentang perlombaan itu ke ibunya. Tidak lama kemudian ia pun selesai menceritakan itu.

“Ooh, jadi itu..tentu saja bisa nak, ibu tidak akan melarangnya, ibu tidak apa apa kok sendiri di rumah, cita cita kamu ingin menjadi hafizh Quran yang terkenal kan?’’ respon ibu sambil membujuk Qadri.

“Jadi, ibu tidak apa apa sendiri di rumah?’’ tanya Qadri.

“Tidak Qadri” jawab ibu dengan sambil menyakinkan Qadri.

Keesokan harinya, Qadri pun langsung mendaftarkan nama ke sekretaris kelasnya. Tiba tiba ada pengunguman dari kantor bahwa barang siapa yang berminat untuk perlombaan itu agar datang ke kantor untuk di test. Qadri pun langsung bergegas ke kantor untuk melakukan test. 30 menit kemudian, test pun langsung selesai, dan pengunguman yang lulus pun di bacakan…dan pemenangnya adalah Qadri.

‘’haaaa,, Alhamdulillah ya Allah Engkau mengabulkan doa ku, semoga di perlombaan ini aku menang’’ ucap Qadri dengan girang.

Keesokan harinya Qadri pun berangkat untuk perlombaan. Dari desa menuju kota membutuhkan waktu 5 jam. Jam 08:05 Qadri dan Bu Miranda telah sampai di tempat perlombaan itu. Qadri dan bu Miranda pun langsung memasuki tempat perlombaan itu. Perlombaan mulai pukul 08:45, sekarang telah pukul 08:40. Qadri peserta kedua. Perlombaan pun dimulai, peserta pertama pun maju, 15 menit kemudian peserta pertama pun turun dan selanjutnya adalah Qadri. Qadri pun maju ke tempat mimbar. Yang pertama Qadri membacakan surah Al Ahqaf sampai habis. Ketika Qadri melantunkan surah Al ahqaf, semua orang terdiam dan tercengang mendengar suaranya, dan ada pula juri yang menangis. 15 menit kemudian Qadri pun selesai membaca surah Al Ahqaf.  Semua juri berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah.

1 jam 45 menit berlalu perlombaan pun selesai. Pengunguman pemenang pun di bacakan. Dan pemenangnya adalah...... Qadri. Qadri pun merasa senang dan langsung memeluk erat bu Miranda. Hadiahnya adalah uang sebesar 50 juta rupiah dan sebuah piala. Qadri sangat bersyukur karena Allah telah mengabulkan doanya.

Keesokan harinya, Qadri pun pulang kedesa. Ia langsung memeluk erat ibu nya.

“Ibuuuuuu……’’ teriak Qadri sambil berlari.

“Qadri….’’ teriak ibu kembali.

“Bu, aku menang bu, dan ini uang dengan pialanya’’ ucap Qadri.

“Alhamdulillah ya Allah’’ ucap Ibunya.

Keesokan harinya, ia pun sekolah seperti biasanya. Di sekolah, semua orang mengucapkan selamat kepadanya, kecuali Winda. Ketika Qadri hendak masuk ke kelas Winda langsung mengejek Qadri dengan sombongnya.

‘’Eeeh, Qadri lo gak usah deh bangga banget, baru menang sekali aja semua orang udah muji lo’’ ucap Winda.

Qadri menahan amarahnya..

Waktu pulang telah tiba…Qadri pun langsung mengambil sepedanya dan langsung pulang, ditengah perjalanan ia melihat sebuah berita bahwa akan ada perlombaan hafizh Quran yang diadakan pada tanggal 24 mei 2018, dan hadiahnya sangat besar dan mendapatkan umroh gratis. Qadri tertarik dengan perlombaan itu. Ia langsung pulang dan menyampaikan berita itu ke ibunya. Ibunya pun setuju dengan hal itu.

Tiga hari kemudian mereka pun berangkat. Sudah hampir dua bulan setengah di mengikuti perlombaan itu. Hari ini adalah hari grind Final. Qadri masuk ke grand final itu. Tidak lama kemudian, perlombaan pun selesai dan pemenangnya pun di umumkan. Qadri berharap dia yang akan jadi pemenangnya, agar cita citanya menjadi hafizh Quran pun tercapai.

“Dan pemenangnya adalah Qadri’’ teriak host dengan keras.

Qadri dan ibunya sangat senang, dan akhirnya cita cita Qadri menjadi seorang hafizh Quran pun terwujud.

2 hari kemudian Qadri dan ibunya pulang kedesa. Semua orang desa menyambut mereka dengan gembira. Ibunya sangat bangga dengan Qadri. Dan mereka yang dahulu miskin,sekarang telah menjadi seorang kaya raya.

 

Karya: Annisa Salsabilah Munthe

Siswa Kelas VIIA MTSN BARUS     

157 DIBACA
Selasa,2018-02-13,07:25:52

Piala Bergilir Tiap Bulan di MTsN Aek Natas

Selasa,2018-02-13,07:16:11

Kinerja Kita Semakin Terlihat dengan Adanya Laporan dan Berkas Pendukung

Senin,2018-02-12,20:55:13

Kanwil Kemenag Sumut Lanjutkan Kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan Hingga Kabupaten/Kota

Senin,2018-02-12,14:32:11

Kaurbin Ops Sat Lantas Polres Simalungun Menjadi Pembina Upacara di MTsN Siantar

Senin,2018-02-12,12:43:37

Pengelolaan Zakat yang Baik Mempercepat Upaya Pengentasan Kemiskinan


0 Komentar :