TEMAN

TEMAN

Dua semester berlalu di sekolahku, tak terasa sekarang aku duduk di bangku kelas 2 SMA di SMA Mentari.Aku merasa senang bisa kembali sekelas dengan Luna dan Alexa. Mereka merupakan teman sekelasku saat aku kelas 1 SMA, selain itu mereka merupakan teman terbaikku.

Hari pertama di kelasku yaitu XI-MIA-1 ketika belum memulai pelajaran, seperti biasa para siswa-siswi dipersilahkan untuk bercengkrama dengan tujuan mengakrabkan diri antara satu dengan yang lain.

Aku memilih untuk bercerita dengan Luna dan Alexa, disela-sela itu aku melihat ke sekeliling kelas. Tiba-tiba mataku terfokus ke bangku kedua di lorong pertama, di sana duduklah seorang gadis yang merupakan teman sekelasku dan kebetulan belum ku ketahui namanya.

Aku bergegas menghampirinya, aku pikir ia kesepian karena yang lain sibuk bercengkrama sedangkan dia hanya duduk terdiam.

“Hai, aku Auryn.” sapaku.

“Hai, aku Maureen.” balasnya tersenyum.

“Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik.” aku mengulurkan tangan ingin berjabat.

“Salam kenal.” Maureen menerima uluran tanganku dan kami berjabat tangan.

  *****

 

Hari-hariku berjalan seperti biasanya, aku menghabiskan waktu dengan belajar dan bersenang-senang dengan keluarga dan teman-temanku.

Karena hari ini adalah hari Kamis jadwalku yaitu menghadiri pelajaran tambahan. Aku menyimak dengan seksama apa yang diterangkan oleh guru lesku. Sampai,’Drrt-Drrt’ hand phone ku bergetar dan membuyarkan kefokusanku. Aku pun melihat hand phone ku dari balik tas, ternyata sebuah pesan dari id Line dan pengirimnya ialah Luna.

Aku membuka pesan itu, ternyata Luna mengirim beberapa foto dan aku mengerutkan alisku karena foto itu adalah foto Luna, Alexa dan Maureen sedang berada di sebuah restoran dan toko pakaian.

Tak lama kemudian Luna mengirim pesan dibawah foto-foto tersebut.

“Maureen tiba-tiba mengajak kami jalan-jalan dan ia mentraktir kami semuanya, sayang sekali kau tak bisa ikut,Ryn.” bacaku pelan.

Entah mengapa aku mulai kesal dengan perlakuan Maureen terhadap Luna dan Alexa, namun kekesalanku belum memiliki kejelasan.

 *****

 

Hari ini suasana kelasku benar-benar lucu karena gurauan dan candaan dari Eric dan Dio, semuanya tertawa bahagia kecuali Maureen. Ia kembali menyendiri, aku tak memiliki alasan untuk menanyakan keadaannya, tapi, sungguh semua teman sekelasku tak ada yang mau bergaul dengannya.Dan entah apa sebabnya.

Tiba-tiba Maureen berdiri dan menghadap ke arah kami.Tak ada yang menghiraukannya , kami hanya terus tertawa.

“Emm…teman-teman?” panggilnya dan tak ada juga yang merespon.

”Teman-teman?” lanjutnya sedikit berteriak.Akhirnya,suasana menjadi hening dan menatap Maureen.

“Kalian tahu?aku punya uang saku yang banyak.Jadi,aku ingin mentraktir kalian semua.” ujar Maureen bangga.

”Yeeaaa!” satu kelasku bersorak gembira kecuali aku.

Ketika jam istirahat tiba,semua teman sekelasku menuju kantin untuk menikmati traktiran Maureen.Kali ini aku benar-benar kesal dengan Maureen.Dan aku sudah menemukan alasan kekesalanku ini.

   *****

 

Untuk yang kesekian kalinya Maureen menyia-nyiakan uangnya untuk mentraktir semua teman sekelasnya.mulai dari makan,nonton dan sebagainya.Bahkan,ia pernah membagikan uang masing-masing orang menerima Rp 300.000.

Tentunya,semua teman sekelasku menerima dan merasa diuntungkan dengan hal itu.Tapi,tidak denganku, aku tak pernah menerima apapun darinya.Karena aku beranggapan hal lain terhadap Maureen.

Suatu saat,Maureen mentraktir semua teman sekelas menonton bioskop.

“Tunggu disini.” ucapku pada Luna dan Alexa.

Kemudian,aku berjalan ke kasir menghampiri Maureen yang sedang memesan tiket.

“Untuk 3 murid.” ucapku memberikan kartu kreditku ke kasir sebagai alat pembayaran.

“Aku saja yang membayar semuanya,Ryn.”

“Aku tak suka.Biar aku yang membayar tiket Luna dan Alexa.” tolakku.

Lalu,aku berjalan menjauh dari kasir setelah menerima kembali kartu kredit dan tiket.Maureen mengikutiku.Aku pun berhenti dan menghadapnya.

“Hei,Maureen?apa yang selalu kau beli dengan uang?Makanan,tiket nonton,pakaian,teman?Atau…waktu?” tanyaku.

“Apa maksudmu?” Maureen balik bertanya.

“Benar sekali ternyata.Kau menghabiskan uangmu dan orang akan menghabiskan waktu denganmu.”

“Auryn?” ucap Mureen lirih.

“Kau…memanfaatkan uangmu untuk membeli teman?”

“Aku…”

“Teman bukanlah barang,Dan asal kau tahu?Aku tak mau menjual semenit pun waktuku padamu” ujarku tegas.

Aku pun menghampiri Luna dan Alexa lalu membagi tiket yang aku beli.Sementara Maureen hanya terpaku di tempat.

 *****

 

Seiring berjalannya waktu,aku terus memperhatikan gerak-gerik Maureen.Pada kenyataannya ia tak menggubris kata-kataku.Ia tetap saja mengatakan bahwa ia kaya dan akan selalu mentraktir teman sekelasnya.

Ini yang kumaksud sebagai membeli teman.Maureen tak pandai bergaul sehingga ia hanya terus menyia-nyiakan uangnya untuk waktu orang-orang agar mereka bisa bersama dengannya.

Kali ini aku tak tinggal diam.Aku berdiri menghadap teman-teman sekelasku.Semuanya langsung mengarahkan pandangannya ke arahku.

“Teman-teman,aku ingin bicara.” Ucapku.

“Bicaralah.”

“Kalian tahu apa maksud Maureen selalu mentraktir kalian selama ini?”

“Tidak.Lagi pula aku tak kepikiran akan hal itu.”

Kemudian,aku menoleh ke Maureen.Ia menatapku marah.Pasti ia berpikir bahwa aku akan menghasut teman-teman sekelas dengan mengatakan bahwa Maureen telah membeli waktu mereka. Aku tak peduli dan aku ingin melanjutkan pembicaraanku tapi Luna berbicara duluan.

“Aku pikir Maureen melakukan itu karena ia suka mentraktir kita semua” ucap Luna.

“Wah,Maureen memang teman sekelas yang baik” puji Eric menyambung.

Tiba-tiba Maureen ikut berdiri menghadap ke arah teman-teman sekelas.Matanya berkaca-kaca.

“Teman sekelas?Sejak kapan kalian menganggapku sebagai teman sekelas?Selama ini kalian memanfaatkan aku sebagai dompet kalian.” pelupuk mata Maureen di penuhi air mata.

“Hei,Maureen.Kami tak pernah memintamu untuk mentraktir kami.” protes Alexa.

 “Toh,kaulah yang mau.”sambung Dio.

“Memang tidak.Tapi kalian memperlakukanku secara tak kasatmata.Tiba-tiba saja kalian mengajakku bermain.Bukankah itu artinya aku yang harus membayar?Tapi sebenarnya kalian tak mau bermain denganku.” Maureen membela diri.

“Itukah yang kau rasakan?Dasar mental apa kau ini?Kenapa kau tak bilang kalau kau tak mau bayar?” caci Sofia yang duduk di samping bangkuku.

“Benar.Kau tinggal bilang kalau kau tak mau” sambung Alexa.

“Iya…Mudah bagi kalian mengatakan itu.Tapi tak mudah bagiku.Apa aku akan mengatakan ‘tak mau’ saat ada yang mengatakan ‘mau pergi?’ atau ‘mau pergi bersama?’Kalian tahu?Bahkan sangat sulit bagiku mendengar kata-kata itu dari kalian.” jelas Maureen.

Tiba-tiba semuanya terdiam dan terus mendengarkan,termasuk juga denganku.

“Aku tahu betul yang kalian butuhkan bukanlah aku tetapi uangku.Tapi,tetap saja aku tak bisa bilang ‘tidak’.Tahu kenapa?Karena aku tak mau mengatakannya.Apapun dan Bagaimanapun resikonya aku tetap ingin berteman.” Kali ini Maureen benar-benar menangis.

Aku pun memutuskan untuk meluruskan hal ini.

“Jadi,Maureen hanya ingin kalian berteman dengannya.Dia ingin memiliki teman.Karena siapapun itu pasti sangat takut jika tidak memiliki teman.” jelasku.

Semua mengangguk kemudian berdiri.Semuanya mendekat ke Maureen dan menjabat tangan Maureen.

“Ayo,kita berteman.”

“Mulai sekarang kita berteman.”

“Hai,temanku.”

Itulah kata-kata yang mereka ucapkan kepada Maureen.Maureen menangis terharu.Lalu,ia mendekatiku dan tiba-tiba memelukku.

“Maureen?”

“Terima kasih banyak,Ryn.Berkatmu aku berani mengatakan semuanya dan pada akhirnya aku sudah memiliki teman.”

“Sama-sama.Kau harus ingat kita semua adalah teman.”

“Aku akan memgingatnya seumur hidup.” Angguk Maureen.

‘PLAK-PLAK-PLAK’semuanya bertepuk tangan bahagia.Sungguh ini hal terhebat yang pernah kurasakan.Akhirnya,semua bisa menerima Maureen sebagai teman.

Sejak saat itu Maureen terus bermain dengan teman-teman sekelas bahkan sangat akrab.Dan sejak saat itu pula Maureen tak pernah menyia-nyiakan uangnya lagi.

 

Karya : Kania Meutia Mawaddah

Siswa Kelas IX-4 MTsN Kabanjahe Kabupaten Karo

 

248 DIBACA

Kakankemenag Siantar Menerima Mahasiswi KKL STIE Sultan Agung

Berikan Kepuasan kepada Masyarakat dengan Pelayanan Prima

Kementerian Kesehatan RI Kunjungi MAN Kabanjahe

Madrasah Hebat dan Bermartabat

Belanja Pegawai Triwulan Pertama Harus Terealisasi 40 Persen