Socrates Tak Pernah Mati

Socrates Tak Pernah Mati

Fe berpikir mengapa ia harus menyaksikan semua ini. Mulai dari kebohongan, kepura-puraan, hingga ketidakadilan yang tiap harinya ia santap di depan mata. Pernahkah kamu menyaksikan kedua orangtuamu bertengkar hebat dan saling mencaci, mengatakan bahwa mereka membenci pernikahan? Atau melihat seorang pejabat berjas turun dari mobil mewahnya menuju kelab malam? Atau melihat gurumu memanipulasi nilai setelah diberi amplop? Seorang Fe sering melihatnya, kawan. Bahkan lebih dari itu.

Namun mengapa hanya ia seorang yang menyaksikannya.

-o0o-

Ketika manusia berdialog dengan Tuhan di dalam rahim ibunya, menentang untuk memilih dunia, dunia yang kini kita tempati.Dan Fe adalah satu dari triliunan manusia itu. Memilih untuk menjadi pengamat, bukan bagian dari segala drama menyedihkan ini. Menjadi satu-satunya penonton yang melihat kejanggalan ketika pertunjukan sulap, disaat semua orang menikmatinya. Tetapi tak dapat berbuat apa-apa, karena jika sekali saja kau protes, kau akan merusak pertunjukan. Begitulah dunia bagi Fe. Dunia yang selalu menentangnya, mengolok-olok dirinya yang tak dapat melakukan apapun.

-o0o-

“Fe kamu dipanggil Bu Lisni ke BK.” Seruan itu membuyarkan lamunan Fe. Bu Lisni memang hobi memanggilnya ke BK. Entah untuk apa. Kalau dipikir-pikir ia tak pernah membuat masalah, tak pernah membully atau melakukan pelecehan pada adik kelasnya sendiri. Dan lucunya, Bu Lisni akan mencerocosinya mengenai tata krama dari a-z yang sama sekali tak masuk ke otak Fe. Guru berusia 40 tahun itu bahkan akan membawa masalah keluarganya.

Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya Fe memutuskan untuk pergi menuju ruang BK. Ruangan sederhana yang lebih mirip ruang intropeksi kriminal itu hanya dihuni Bu Lisni seorang. Eh tunggu, ada seorang murid lelaki berkacamata disampingnya. Fe sering melihat murid tersebut. Murid yang katanya memegang sabuk hitam karate, menjuarai olimpiade matematika berkali-kali. Dan jangan lupa, Fe sering melihatnya melakukan pembullyan sadis di kamar mandi belakang sekolah.

“Pak Gally bilang kamu tidak mengerjakan tugasnya.” Mulai Bu Lisni.

“Tak ada gunanya mencatat buku sampai habis. Itu pembodohan.” Balas Fe datar.

Bu Listi berdiri dari kursinya dan memukul meja dihadapannya. “Cukup, Fe. Kamu selalu mnenganggap semuanya mudah. Kamu pikir kelak kamu akan jadi seperti apa, hu?”

“Ibu pikir anak didik Ibu akan seperti apa jika konselornya seperti Ibu?”jawab Fe.Ia sempat melirik kearah cowok berkacamata yang masih dengan muka datar itu itu. Cowok itu seolah sudah terbiasa melihat perdebatan seperti ini.

Bu Listi mendadak diam. Beberapa detik kemudian dia kembali duduk.”Saya gak akan panggil orangtua kamu. Mereka terlalu masa bodo dengan semua ini. Toh, orangtuamu memang tidak peduli denganmu. Kamu akan dipantau sama Arga. Dia baik. Murid teladan. Semoga dia dapat membimbing kamu.”

Mata Fe menajam “ Dibimbing oleh masokis ini? Terimakasih, Bu.”

Keduanya terperangah “ Maksud kamu apa?” tanya Bu Listi.

“Mungkin dia sudah gila, Bu.” Sahut anak itu.

“Oh ya, kamu pikir aku tak tahu berapa murid yang kamu bully di kamar mandi belakang sekolah? Yang kamu palak uangnya, yang kamu caci, dan yang kamu----“

“Hei, aku tak pernah melakukan itu!” bantahnya.

“Cukup,Fe. Kamu sudah keterlaluan. Bahkan memfitnah Arga seperti itu. Jangan-jangan kamu yang seperti itu.” Bu Listi berkata tajam.

Fe hendak menangis. Bahkan oksigen diruangan itu tak berpihak padanya untuk dapat bernapas dengan normal. Fe berbalik dan keluar dari ruangan tersebut. Ia sempat melihat senyum Arga yang seolah berkata “ Lihat kan, tak ada seorangpun yang percaya padamu.”

-o0o-

Senja dikala itu seolah mengejek Fe. Sepulang sekolah, ia memilih duduk di tempat penjual roti, yang tepat berada di trotoar jalan. Sambil menikmati roti cokelat, Fe mengamati setiap orang yang berlalu lalang dan jalanan macet. Dan lagi-lagi, ia melihatnya. Mulai dari polisi yang meminta tebusan dari seorang pengendara motor yang kena tilang sampai pencopetan yang dilakukan oleh anak kecil.

“Kehidupan normal menurut mereka memang kadang seperti itu.” Fe mengira suara tersebut berasal dari mulutnya. Namun itu berasal dari Sang Penjual Roti.

Fe menoleh “ Mas lihat juga?”.

“Sudah tiga tahun saya disini, hal seperti itu biasa kok saya saksikan.”sahutnya.
“Dan Mas tidak melakukan apa-apa?” Si penjual Roti hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Sudah kuduga.” Fe menunduk.

“Seorang penjual roti seperti saya memang bisa apa. Palingan kalau saya mencoba menolong Ibu yang disana pasti orang-orang akan mengira sayalah pencurinya.”

Fe menghembuskan napasnya pelahan.” Aku muak dengan semua ini. Orang-orang terlalu menikmati semua drama menjijikkan ini. Sampai kapan mereka akan seperti itu? Katanya negeri ini menjunjung tinggi keadilan? Kesejahteraan? Cuih.”

Si penjual roti tersenyum lalu menyodorkan sepotong roti cokelat lagi.”Ini, untuk adik. Gratis.”

Fe bingung, omongannya bukannya ditanggapi malah diberi sepotong roti cokelat gratis.

“Saya bangga masih ada generasi yang peduli akan dekadensi moral masyarakat jaman sekarang. Pernah mendengar kisah tentang Socrates?” tanya Si penjual roti. Fe menggeleng dan kembali mengamati jalanan.

“Dahulu saat peradaban Yunani, ada sekelompok Kaum Sophis yang mendapatkan uang untuk penjelasan-penjelasan mereka yang ruwet.” 

Sejenak kaum Sophis mengingatkannya pada guru-gurunya di sekolah.

“Dan setiap orang selalu menuhankan kaum ini karena mereka dianggap pintar. Dengan bobroknya peradaban pada saat itu, mirip seperti sekarang ini, maka kaum sophis menjadi jalan penengahnya. Namun tentu saja, peradaban masih tetap buruk tanpa mereka sendiri. Dan seorang Socrates ‘lah satu-satunya orang yang menentang Kaum Sophis. Ia selalu mengatakan ‘Orang yang paling bijaksana adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu.’ Orang-orang sampai menganggapnya gila, karena apa yang diperbuatnya selalu menentang masyarakat. Tapi Socrates tidak peduli, ia selalu mengikuti hati nuaraninya. Hingga akhirnya ia dihukum mati. Sayang sekali. Namun ia masih memiliki seorang murid bernama Plato yang hingga kini menguatkan ajaran-ajarannya. Bayangkan betapa berjasanya Socrates dalam bidang ilmu pengetahuan hingga kini.”

Fe menghabiskan potongan roti terakhirnya. “Mereka bodoh menghukum mati seorang legend.”

“Tapi intinya bukan itu, dik. Lakukanlah semua yang kamu lakukan selama itu benar, meski seluruh dunia menentangmu.”Si Penjual Roti membersihkan meja dihadapannya.

“Aku pikir Mas pintar bisa mengetahui itu semua. Kenapa tidak mencoba untuk kuliah lagi? Mas, kan masih muda. Tahu banyak hal itu bukannya menyenangkan?”sahut Fe.

Si Penjual Roti tersenyum. “Saya selalu belajar, Dik. Setiap harinya saya mengamati sekitar. Belajar dari apa yang saya lihat. Kalau untuk pergi jauh-jauh? Saya tidak bisa meninggalkan kota yang saya cintai ini. Kota yang membesarkan saya. Saya harap sih bisa mengubah kota ini menjadi lebih baik. Tapi setelah saya mendengar perkataan adik. Saya yakin adiklah yang dapat mengubah kota ini. Bahkan mengubah negeri ini menjadi lebih baik.”

“Bagaimana mau mengubah? Orangtua saya saja tidak percaya pada saya. Bahkan guru BK.Setiap orang menentang apa yang saya lakukan.”

“Kan saya sudah bilang tadi. Lakukan selama itu masih benar meski semua orang di dunia menentangnya.Adik benci jika negeri ini hanya sebatas omong kosong dibalik kata “Keadilan”? Maka,ubahlah! Saya seperti melihat jiwa Socrates di dalam diri adik. Jiwa yang siap mengubah semua apa yang salah.”

Dan dikala itu. Senja yang kini lelah mengolok diri Fe,mengubah langit biru menjadi oranye,memberi semangat padanya. Dan ia pun tersenyum. Mengingat bahwa Socrates memang selalu mengikuti hati nuraninya,untuk tetap hidup.

Karya : Salamah Harahap

Siswa Kelas X MAN 2 Kota Padangsidimpuan

177 DIBACA

Even MTQN Dan Festival Nasyid Kabupaten Madina Digelar di Bukit Muhasabah

Tingkatkan Kualitas Salat Maka Anda Menjadi Hamba Allah yang Berkualitas

Mengisi Liburan Ahad, Siswa MAN Kabanjahe Ikuti GSB dan MABIT

Plt Kakankemenag Tanjungbalai Pimpin Doa Pembukaan Gebyar Pendidikan

Kemenag Tapsel Laksanakan Workshop Manajemen Zakat Bagi UPZ Masjid dan Mushala