HIKMAH BULAN SYABAN (Studi Isra dan Miraj)

HIKMAH  BULAN SYABAN (Studi Isra dan Miraj)

A.  Aspek Imlementatif

       Setiap kita dituntut untuk menjadi muslim yang kaffah (global) muslim yang menyesuaikan diri dengan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Bila sudah demikian, maka itulah yang dimaksud muslim sejati. Untuk sampai pada tingkat keislaman yang demikian, ada dua istilah dalam Islam yang harus kita miliki dan lekat dalam diri kita masing-masing sehingga menyatu dengan sikap,kepribadian dan tingkah laku kita sehari-hari.

Pertama adalah Iman, ini artinya setiap kita harus menancapkan betul-betul keimanan kedalam hati kita masing-masing. Dengan iman, kita akan memiliki kepercayaan yang benar, sehingga perbuatan yang kita lakukan tidak akan menyimpang dari prinsip-prinsip keimanan. Dengan iman yang disebut akidah, kita akan selalu terikat pada nilai-nilai dan ketentuan yang datang dari Allah swt. sehingga kita tidak mau berperilaku seperi hewan yang liar. Di samping itu, dengan iman yang disebut juga tauhid, kita mengakui Alah swt. sebagai tuhan yang Esa sehingga akan kita cintai Allah di atas segala-galanya. Dengan kata lain,dengan iman yang benar dan mantab, kehidupan ini akan dapat diarahkan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak setiap orang yang berkata beriman langsung diakui keimanannya oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-baqarah ayat 8, yang artinya;

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman” (Qs al-Baqarah ayat 8)

 

Memaknai kehidupan di bulan Sya’ban (studi pada peringatan Isra’ dan Mi’raj) ini tidak hanya memaknai sebagai garis kasual tapi bagaimana memaknai bulan Sya’ban ini sebagai bentuk pencapaian derajat takwa. Syukur dengan kufur merupakan rangkain yang saling bertentangan begitu juga haus dahaga puasa pada nisfu sya’ban. Lapar kepala tanggung dengan kenyang tak berkesudahan. Semuanya itu adalah hal yang bersifat epidemi. Sekarang pertanyaannya mampukah kita sebagai jati diri seorang muslim berupaya keras menggapai nilai-nilai takwa? Hal tersebut dijawab melalui iman. Makanya Rasulullah saw. hanya memanggil orang-orang beriman saja untuk berpuasa (nisfu Sya’ban) Tujuannya adalah takwa.

            Nilai kehidupan takwa melalui bulan nisfu Sya’ban ini harus diyakini sebagai ujian untuk menghadapi tantangan-tantangan yang lebih besar lagi. Bagaimana Rasulullah hendak dibunuh ketika Isra’ dan Mi’raj. Bagaimana Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup, bagaimana Nabi Yusuf ditelan ikan hidup-hidup, bagaimana Nabi Nuh diejeki, dicemoohi bahkan sampai kapalnya dikotori oleh kotoran manusia. Semua itu dilakukan untuk mencapai derajat takwa.

Bedanya kepercayaan Islam yang dilandasi oleh iman tentu sangat berbeda dengan kepercayaan westernisasi (orang Barat), sebab mereka lebih percaya kepada penelitian akal atau hal ini disebut dengan rasionalis empiris. Salah satu contoh adalah ketika historis perjalanan Rasul di Isra’ dan Mi’raj. Melalui akal rasionalis empiris, tentu hal ini tidak akan bisa diterima oleh akal. Jadi jika hal ini dilihat dari keimanan, hal yang tak mungkin bisa jadi mungkin, sebab Allah katakan اذ اراد شيئا هو ان يقول له كن فيكن  jika Allah berkehendak “jadi maka jadilah”. Siti Maryam melahirkan Nabi Isa tanpa seorang ayah, Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, tentunya hal ini sejalan dengan ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah swt dalam Alquran. Seharusnya kita sebagaimana manusia harus lebih banyak bersyukur sebab manusia memiliki kelebihan dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. Argumentasi yang ditelontarkan oleh para Malaikat sendiripun tidak mampu menjawab argumentasi Allah swt. para Malaikat mengatakan sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 30, yang artinya;

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Al-Baqarah ayat 30)

Para malaikat bekerja sesuai dengan garis struktural. Garis komando secara permanent. Tidak melakukan perbuatan dosa dan tidak melakukan perbuatan pahala. itulah makanya iman itu terbagi menjadi tiga bagian. Yang pertama imannya para Malaikat لا يزيد ولا ينقص , artinya tidak bertambah dan tidak berkurang. Jadi para malaikat hanya menjalankan perintah sesuai dengan garis struktural. sedangkan iman yang kedua adalah imannya para Nabi يزيد ولا ينقص artinya imannya para Nabi selalu meningkat dan tidak pernah berkurang. Nah sekarang imannya manusia seperti air mendidih terkadang timbul terkadang tenggelam يزيد وينقص sesuai dengan kondisi THR (Takwa, Hasrat dan Ruhaniyah) nya. Kelebihan manusia  yang telah diberikan oleh Allah swt melalui Adam as. Memiliki pautan teknologi yang canggih. Bagaimana sekarang tingkat modernisasi keilmuan manusia. Bisa berbicara secara langsung walaupun jauhnya ribuan kilometer. Bisa terbang walaupun jaraknya tinggi selangitan yang tidak bisa hanya dicapai melalui barometer akan tetapi melalui epindimer. Bisa melihat secara langsung saudara-saudara kita walaupun di tengah hutan rimba bak belantara yang tak berdiameter. Semuanya hal itu dilandasi oleh bentuk penelitan ataupun observasi. Melalui observasi secara komprehensif melahirkan berbagai ilmuan secara dinamis. Semua itu sudah ditentukan oleh Allah swt.

            Keduayang harus kita miliki dalam diri kita masing-masing adalah ilmu, hal ini karena dengan ilmu, kehidupan kita menjadi mudah, baik untuk melakukan sesuatu atau mencapainya. Itu sebabnya menuntut ilmu di dalam Islam tidak sekadar diwajibkan, tapi Rasulullah saw. telah memberikan rangsangan yang sangat menarik sebagai keutamaan yang besar dalam menuntut ilmu, yakni penuntut ilmu itu berada di jalan Allah baik pada waktu pergi, saat sudah tiba, maupun pada waktu pulang, من خرج في طلب علم فهو في سبيل الله حتي يرجع  kemudian selanjutnya dikatakan من سلك في طلب علم فهو في سبيل الله sehingga seandainya seorang muslim meninggal pada waktu sedang mancari ilmu, insya Allah matinya adalah syahid. Keharusan kita menuntut ilmu juga karena Allah tidak menghendaki kalau kita hanya ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu, padahal kalau kita hanya ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu, pasti kita akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang dilakukan. Oleh karena itu keimanan seorang muslim harus dimantapkan dengan ilmu yang dibimbing dengan iman. Iman tanpa ilmu akan mudah digoyahkan, dan ilmu tanpa bimbingan iman akan membawa kehancuran. Sebab Allah swt sudah menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتواالعلم درجات  Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan mengangkat orang-orang yang berilmu.

            Yang perlu ditegaskan bahwa ilmu Islam bukanlah sebatas ilmu rasionalis empiris tapi ilmu Islam merupakan ilmu yang rasionalis (akal) dan imanilogis, yakni secara مكتوبة  dan غير مكتوبة  kalau maktubah itu dalil Alquran imanilogis, kalau ghairu maktubah itu dalil aqli yang disebut dengan rasionalias.

Hikmah di bulan nisfu Sya’ban melalui pintu Isra’ dan Mi’raj ini kita sebagai umat muslim terutama di bulan tersebut  jangan hanya memaknai lingkungan Sya’ban sebagai awal perubahan aspek dan respek terhadap perintah Allah swt. tapi bagaimana sesudah Sya’ban yang masuk ke dalam bulan Ramadhan menjadikan keimanan tersebut diawali sebagai perubahan aspek dan respek menjadi berefek. Mampu menjadikan bulan-bulan berikutnya menjadi dialek terbuka kita kepada Allah dengan menghadirkan kompetensi ilmu dihadapan Allah yang tanpa disadari kita adalah makhluk yang lemah, makhluk yang berkesudah, makhluk yang punah, makhluk yang diciptakan dari tanah dan makhluk yang susah. 

B.   Aspek Kehikmahan peringatan Isra’ dan Mi’raj

Ada 3 aspek hikmah dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj, yakni;

  1. Peran dan kegunaan masjid.  Nabi SAW. berjalan dari satu masjid (al Haram, Mekah) ke masjid lain (al Aqsa, Jerusalem). Dapat ditarik kesimpulan, masjid merupakan tempat mulia, yang harus diutamakan. Ketika hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi SAW. lebih dulu membangun masjid di kawasan Quba. Baru membangun rumah. Ini merupakan sunah yang sering terlupakan. Pada masa kini sering terjadi, umat Islam berlomba-lomba membangun rumah dahuli. Membangun masjid belakangkan. Sering terjadi, rumah sudah berkali-kali direnovasi, masjid masih belum selesai. Padahal, masjid merupakan titik pemberangkatan bagi siapa saja yang ingin mendapat petunjuk Allah swt. sebagaimana dalam firman Allah “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk’ (QS. At-Taubah: 18)
  2. Meningkatkan nilai dan tujuan shalat. Salah satu "oleh-oleh" terpenting dari Isra Miraj adalah shalat fardhu lima waktu. Shalat merupakan ibadah paling utama dalam rukun Islam. Setiap Muslim, rajin berpuasa, murah hati mengeluarkan zakat, sedekah, infaq, menunaikan ibadah, tetapi malas melaksanakan shalat fardhu, maka segala kebaikan dan kebajikan tadi menjadi tidak berguna sama sekali. Pasalnya, shalat jati diri setiap Muslim beriman.  Perintah shalat dalam Al-Qur'an ditegaskan berkali-kali, sebelum rukun-rukun Islam lainnya. Perintah mengeluarkan zakat, didahului oleh perintah menegakkan shalat (lihat QS. Al Baqarah : 43,83,110,177,277; An Nisa: 77,162; Al Maidah: 12,55; Al-A'raf: 156; At Taubah: 11,18,71; Al Hajji: 41,78; An Nur: 56; An Naml: 3; Luqman: 4; Al Ahzab: 3; Al Mujadalah: 13; Al Muzammil: 29; Al Bayyinah: 5; Maryam: 55; Al Anbiya: 73). 
  3. Menjunjung tinggi keunggulan umat Islam adalah segala bidang kehidupan nyata di dunia, dan kehidupan abadi di akhirat. Melalui Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW. sudah membuktikan reputasi Islam secara komprehensif integral. Memegang teguh prinsip tauhid (Allah Maha Esa), pasrah hanya kepada-Nya (Dainunnah lillahi wahdah), dilanjutkan kepada umatnya agar selalu unggul tak terungguli oleh yang lain (al Islamu ya'lu wa la yu'la alaihi).

Oleh : Hendripal Panjaitan.

(Dosen UIN-SU,UNIVA,STMIK TGD,UPMI, STAIJM,STIE NUSA BANGSA,STKIP RIAMA, UNDHAR, STAI AL-Hikmah MEDAN dan STAIS ASSUNNAH  )

102 DIBACA

Ramadan Bulan Quran, Maka Perbanyaklah Berinteraski Dengannya

PENGEMBANGAN BATIN (BHAVANA)

Menunggu Kedatangan Yesus Kedua Kali

Makna Dasar Idul Fitri

Ayo Berangkat!