Selasa,2018-07-10,10:54:27

KEJAHATAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

KEJAHATAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

A.  Narkoba Dalam Aspek Imlementatif

Generasi muda sebagai generasi penerus dan pelanjut estapet pembangunan bangsa merupakan tanggung jawab bersama dalam pembinaan pendidikan dan moralnya, dengan generasi muda yang kuat akan dapat barpartisipasi dalam pembangunan bangsa Indonesia. Sebaliknya bila mentalitas nya sudah rusak maka pembangunan bangsa akan terkendala. Oleh karena itu dalam era reformasi, globalisasi sekarang generasi muda Indonesia hendaknya memiliki sumber daya manusia, berilmu pengetahuan, ulet, jujur, bermoral, kreatif dan insan bertaqwa. Profil generasi muda seperti itu dapat menjauhkan diri dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan obat-obat terlarang atau narkoba dan yang terpenting lagi pastilah tidak menjadi korbannya.Penyalahgunaan obat terlarang, jelas akibatnya telah merusak mental remaja selaku generasi muda bahkan yang lebih fatal telah merusak lingkungan masyarakat karena dampak atau akibat yang dilakukan oleh remaja pengguna obat terlarang sebagaimana yang sering diketahui melalui pemberitaan di berbagai media baik televisi, maupun media cetak. Penggunaan obat terlarang dan akibat yang ditimbulkan sebagaimana yang diungkapkan oleh Andi Taufik “tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, akan tetapi telah merata sampai ke desa-desa, dan para pengguna ini tidak hanya remaja yang berada dalam keluarga orang kaya namun tidak memandang status ekonomi, pendidikan dan status usia".

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa dampak penggunaan obat terlarang terhadap manusia khususnya generasi muda sangat membahayakan kehidupan baik secara fisik maupun psikis lebih lanjut penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman yang sangat berbahaya dan semakin lama semakin meningkat jumlahnya, baik jumlah penggunanya maupun jumlah pasokannya. Hal ini berdasarkan data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia pada bulan Maret 2018 bahwa jumlah tersangka kasus narkoba berdasarkan kelompok umur, yaitu usia 16 sampai 29 tahun berjumlah 52798 tersangka.

Penyalahgunaan narkoba bukanlah menjadi sebuah rahasia lagi, bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang terjadi di negara Indonesia dan Provinsi Sumatera Utara serta di kota Medan khususnya, sudah sedemikian rumit dan mengurat mengakar seperti benang kusut, sehingga sepintas dapat terlihat sungguh sangat sulit untuk mengatasinya. Berdasarkan data dari Sat Res Narkoba Polresta Medan menyatakan bahwa perkembangan penyalahgunaan narkoba selama tahun 2015 s/d tahun 2018 disebutkan sebanyak 4328 tersangka dan 2432 yang sudah divonis, dan barang bukti yang disita berupa ganja sebanyak 5,4 ton, sabu-sabu sebanyak 34,8 Kg, ekstasy sebanyak 73.049 butir erimin 5 sebanyak 4.893 butir, dan lain-lain.  Dan selama tahun 2016 s/d tahun 2018 berjalan yaitu sampai bulan Juli sudah ditemukan 1663 tersangka dan 1049 yang sudah divonis, sabu-sabu sebanyak 19 Kg, ekstasy sebanyak 803,5 butir dan lain-lain. Artinya hal ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, jika dilihat secara data itu dari waktu ke waktu terus meningkat tajam.

Berdasarkan dari data tersebut, maka sasarannya adalah semua elemen masyarakat, dan sebagian yang lain besar korbannya adalah generasi muda yang berusia 15 sampai dengan 25 tahun. Dan yang lebih ironisnya lagi bukan mustahil adanya keterlibatan remaja atau generasi muda Islam yang merupakan pelanjut estapet kemajuan agama, bangsa dan negara yang mengisi keberlanjutan dan kelangsungan pembangunan bangsa dan negara di masa yang akan datang. Karena maju mundurnya suatu agama, bangsa, dan Negara ditentukan oleh generasi mudanya.

Permasalahan narkoba saat ini sudah terkategori darurat karena telah membahayakan terutama pada generasi muda, sehingga berdampak pada: a) tingginya angka kematian, b) komplikasi penyakit yang ditimbulkannya seperti overdosis, penularan HIV, Hepatitis C dan lain-lainya, c) meningkatnya kriminalitas, d) rusaknya generasi muda, e) kehancuran keluarga. 

Karenanya kejahatan penyalahgunaan narkoba harus segera diatasi dan diselesaikan secara cepat, tepat dan benar, sebab hal itu merupakan tantangan terbesar dalam dunia kehidupan masyarakat saat ini. Untuk mengatasi dan memberantas bahaya narkoba, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan Pendidikan Islam.  Pendidikan Islam mau tidak mau harus terlibat dalam mengatasi dan menyelesaikan kejahatan penyalahgunaan narkoba bersama dengan kekuatan-kekuatan pendidikan nasional yang lain, bahkan bersama kekuatan sosial, politik, ekonomi pada umumnya. Dengan itu perlu dilakukan upaya pendidikan Islam dalam pencegahan dan antisipasi penyalahgunaan narkoba bagi generasi muda Islam. Hal ini dilakukan sebagai solusi alternatif dalam menyelesaikan kasus kejahatan narkoba yang sudah mengganggu ketenteraman masyarakat dan bangsa Indonesia khususnya di Kota Medan. Karena kejahatan penyalahgunaan narkoba selama ini hanya dengan pemberantasan dan pengobatan (rehabilitasi).

B.    Narkoba dalam Perspektif Pendidikan Islam

Peran pendidikan Islam terhadap pecandu narkoba merupakan upaya pembinaan mental sehingga mereka menyadari bahwa menggunakan narkoba telah merusak dirinya secara fisik dan mental serta perbuatan itu dilarang oleh Allah swt. Oleh karena itu selayaknya generasi muda Islam untuk menghindarkan sesuatu yang dilarang oleh Allah swt. karena dapat merusak dirinya. Sebagaiman firman Allah swt.  dalam surat Al- Maidah ayat : 90-91, yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Q.S. Al-Maidah ayat 90-91). Berdasarkan surat al-Maidah ayat 90-91 di atas, dipahami bahwa meminum khamar jelas perbuatan syaitan, termasuk di dalamnya menggunakan narkoba. Segala yang dilakukan syaitan jelas membawa mafsadah (kerusakan), Mafsadah merupakan perbuatan yang dilarang oleh Alquran. Sebab mafsadah merupakan perbuatan yang tidak memberikan positif bagi manusia. Khamar hukumnya haram, baik sedikit atau banyak. Hal itu berdasarkan firman Allah swt. di atas dan berkenaan dengan larangan minum khamar dan perjudian dan Rasulullah saw. juga menegaskan;  “Allah telah melaknat peminum khamar dan penjualnya. Kemudian Rasulullah saw. juga pernah melaksanakan hukuman had (larangan mengerjakan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah swt. melalui perantaraan dan pembunuhan)atas peminum khamar dengan pukulan yang diadakan di halaman masjid. Rasulullah saw. juga bersabda sebagai berikut, yang artinya; Dari Abu Sa’id bin Malik bin Sinan al-Khudry ra. berkata; Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda; ‘Janganlah membuat kemudharatan pada diri sendiri dan pada orang lain’. (hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruquthni dan yang lainnya dengan sanad musnad (yang bersambung) dan diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Nabi saw. dengan meniadakan Abu Sa’id. Akan tetapi hadits ini memiliki beberapa jalur yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Dalam hadis ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan narkoba termasuk dalam larangan ini.Pendidikan agama Islam yang diimplementasikan ke dalam kehidupan generasi muda Islam sangat diperlukan dan menentukan untuk mencegah penyalahgunaan narkoba.Menurut teori Heriadi Willy bahwa pencegahan bahayanya narkoba dalam pendidikan dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, di antaranya adalah;

 1.   Pendekatan agama (religious). Melalui pendekatan ini, mereka yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam masalah narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini.

 2.   Pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini mereka yang belum terjamah oleh narkoba diberikan nasihat dari  hati ke hati oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi dunia narkoba.

2.   Pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam sisi kelam  narkoba, melalui pendekatan ini disadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting.

Dengan beberapa pendekatan di atas, diharapkan mampu menggerakkan hati para remaja khususnya generasi muda Islam untuk menjauhi narkoba secara komprehensif. Menurut teori Dikdik M Arief Mansyur dan Elisatris Gultom bahwa upaya pencegahan narkoba dalam dunia pendidikan melalui berbagai pendekatan, di antaranya adalah;

 a.   Meningkatkan iman dan takwa melalui pendidikan agama dan keagamaan, baik di sekolah maupun di masyarakat.

 b.   Meningkatkan peran keluarga melalui perwujudan keluarga sakinah, sebab peran keluarga sangat besar terhadap pembinaan diri seseorang. Sedangkan menurut teori Harm Minisimation, ada tiga kegiatan utama dalam upaya pencegahan terhadap bahayanya narkoba, di antaranya adalah;

1)     Supply control, yakni upaya secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat pre-emtif, pre-ventif dan represif guna menekan atau meniadakan ketersediaan narkoba di pasaran atau di lingkungan masyarakat. Intervensi ini dilakukan melalui cultivasi/penanaman, pabrikasi/pemrosesan dan distribusi/peredaran narkoba.

2)     Demand reduction, yakni sebuah upaya secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat pre-emtif, preventif, kuratif dan rehabilitative guna meningkatkan ketahanan masyarakat sehingga memiliki daya tangkal dan tidak tergoda untuk melakukan penyalahgunaan narkoba baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat sekelilingnya.

3)     Harm reduction, adalah upaya yang secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat preventif, kuratif dan rehabilitatif serta educatif kepada korban/pengguna yang sudah ketergantungan agar tidak semakin parah/membahayakan bagi dirinya dan mencegah agar tidak terjadi dampak negatif terhadap masyarakat di lingkungannya akibat penggunaan narkoba tersebut.

Oleh : Hendripal Panjaitan.

(Dosen UIN-SU,UNIVA,STMIK TGD,UPMI, STAIJM,STIE NUSA BANGSA,STKIP RIAMA, UNDHAR, STAI AL-Hikmah MEDAN dan STAIS ASSUNNAH  )

9 DIBACA
Selasa,2018-07-10,10:04:39

RA Ibnu Sina Samosir Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru

Selasa,2018-07-10,10:01:39

Berbaik Sangka Akan Melahirkan Kebaikan

Selasa,2018-07-10,09:44:10

Pemkab Batu Bara Gelar Manasik Haji

Selasa,2018-07-10,09:11:41

Daftar Ulang Peserta Didik Baru MTsN Kabanajahe

Selasa,2018-07-10,08:54:43

Peringkat Pengiriman Berita Tahun 2018