Kamis, 29 September 2016, 14:24

MENGINGAT KEMBALI ASAL USUL PERAYAAN ASADHA PUJA

Hari Raya Asadha merupakan salah satu hari besar dalam agama Buddha yang diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Buddha Gautama, yaitu :

1. Buddha membabarkan Dharma pertama kalinya kepada 5 teman seperjuangan-Nya (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, Sarnath dekat Benares pada tahun 588 S.M. 2. Buddha bersama Panca Vagiya membentuk Ariya Sangha untuk pertama kalinya. 3. Melengkapi Tiratana/Triratna dengan terbentuknya Sangha ( Buddha, Dhamma, dan Sangha ).

Hari Raya Asadha tahun 2016 ini jatuh pada 19 Juli, dan kemudian diikuti sehari setelahnya, yaitu 20 Juli, merupakan awal masa Vassa bagi para bhikkhu (masa para bhikkhu melakukan retreat untuk melatih dan membina dirinya selama tiga bulan).

Bagaimana Terjadinya Asadha ?

Kurang lebih 7 (tujuh) minggu setelah Petapa Gautama menjadi Buddha (mencapai penerangan sempurna/telah sadar), beliau berpikir untuk menyampaikan kembali Dharma yang ditemukan-Nya kepada manusia agar mereka juga dapat terbebas dari samsara dan memperoleh kebahagiaan sejati. Namun Beliau mengalami keraguan dalam hatinya dengan alasan bahwa manusia sangat senang kenikmatan dan menjauhi kesengsaraan, tentu sulit memahami dharma yang telah diperoleh-Nya. Brahma Sahampati, penguasa dunia muncul sambil merangkap kedua tangannya memohon Buddha agar mengajakan dharma dan berkata Ada mahluk-mahluk dengan sedikit debut pada matanya yang akan tertolong dengan mempelajari dharma, menyadarkan mereka yang selama ini menganut ajaran keliru.

Terdorong oleh kasih sayang, Buddha mengamati dunia, melihat berbagai tingkatan pembawaan dan kemampuan para mahluk, lalu berkata Terbukalah pintu menuju kekekalan, hendaknya mereka yang dapat mendengar, menjawabnya dengan keyakinan (Vin.I, 4-7). Setelah memperhatikan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang ada akhirnya Sang Bhagava merencanakan mengajar dan mempertimbangkan prioritas agar orang yang dibimbing-Nya berhasil mencapai kesempurnaan dalam waktu singkat. Calon yang cocok adalah Alara Kalama dan Uddaka Ramaputra (mantan guru Buddha sebelum Beliau mencapai pencerahan), namun ternyata mereka telah meninggal. Kemudian Sang Bhagava teringat akan kelima pertapa teman-Nya dulu di hutan Uruvela dan kemudian Sang Bhagava memutuskan untuk mengajarkan Dharma-Nya kepada mereka.

Peristiwa di Taman Rusa Isi Patana

Kelima teman seperjuangan pertapa pada mulanya tidak percaya kalau Sang Bhagava yang dahulu mereka tinggalkan dikarenakan menurut mereka Beliau telah keluar dari komitmennya telah mencapai penerangan sempurna. Setelah mendengar hal-hal baru yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya, mereka mau menerima petunjuk dari Sang Bhagava. Khotbah yang pertama inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Pemutaran Roda Dharma (Dhammacakkappavattana-sutta). Dalam Khotbah pertamanya itu, Sang Bhagava menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

1. Memberi petunjuk agar menghindari hal yang ekstrem seperti memanjakan diri, mengumbar nafsu dan menyiksa diri.

2. Menggunakan jalan tengah (Majjhima-patipada) yakni memperhatikan keseimbangan yang memberi ketenteraman dan menghasilkan pandangan terang.

3. Memahami Empat Kebenaran Mulia : memahami duka, asal mula duka, lenyapnya duka dan jalan melenyapkan duka.

4. Memahami prinsip jalan tengah yang disebut juga Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Terbentuknya Sangha Pertama (Vin. I, 8-14)

Setelah mendengarkan khotbah Buddha, salah satu dari kelima petapa yaitu Kondanna telah berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapanna dan dia merupakan orang pertama kali yang berhasil mencapai tingkat kesucian setelah mendengarkan, mempelajari serta mempraktekkan khotbah Buddha. Atas apa yang telah di peroleh itu maka Kondanna mendapat julukan Annata-Kondanna, yang artinya telah mengerti Dharma, dan kemudian memohon kepada Sang Bhagava untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Berturut-turut, Vappa dan Bhaddiya menyusul Mahanama dan Assaji setelah mempelajari khotbah Dharma berikutnya, mereka berhasil mencapai Arahat. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Sangha Monastik atau Ariya Sangha Bhikkhu (Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) untuk pertama kalinya pada tahun 588 Sebelum Masehi . Sehingga dengan demikian seiring dengan telah terbentuknya Sangha, maka jadi lengkaplah TIRATANA (Buddha, Dhamma dan Sangha).

Manfaat Perayaan Asadha

Sebagai umat Buddha, tentunya harus tahu akan sejarah dan manfaat dari merayakan perayaan Asadha dimaksud. Adapun manfaat dari merayakan perayaan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bagi seorang Duta Dharma (pembabar ajaran Buddha), tentunya perlu memiliki semangat misioner sebagaimana Buddha katakan kepada 60 siswa yang berhasil menjadi Arahat untuk membabarkan dharma. Pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Selain itu seorang Duta Dharma dapat membabarkan Dharma dan mengajak umat untuk menguji Dharma sendiri sejalan dengan tradisi atau latar belakang seseorang terhadap ilmu pengetahuan modern tanpa keinginan mendapat pengikut atau mengubah keyakinan yang sudah dianut seseorang, berbagi pengalaman cara mengatasi penderitaan hidup, meluruskan pandangan yang salah, membersihkan noda pikiran/batin, meninggalkan hal-hal yang buruk atau menyedihkan, berusaha untuk bangkit serta bersemangat hingga mencapai sukses kembali, mencapai pencerahan dan kebahagiaan.

2. Bagi seorang perumah tangga atau umat awam dapat belajar Dharma, mempraktikkan Dharma (Ehipassiko) dalam setiap aspek di kehidupan sehari-hari agar menjadi umat Buddhis yang cerdas, sejahtera, bijaksana, bahagia dan memberikan manfaat kepada orang lain.

3. Dengan semangat yang tinggi menjadi Duta Dharma akan menumbuhkan militansi dalam arti yang lebih luas terhadap perkembangan dan kelestarian dari pada ajaran Buddha itu sendiri.

Dalam mempelajari Buddha Dharma tidak hanya sekedar menerima secara bulat-bulat apa yang disampaikan oleh Buddha, akan tetapi belajar agama Buddha diperlukan praktik agama melalui : mengetahui atau mengingat (Pariyatti), melaksanakan (Patipatti) dan mencapai penembusan (Pativedha).Ibarat seorang penderita sakit, yang bersangkutan tidak bisa sembuh apabila hanya mengetahui, mengingat dan mengucapkan resep-resepnya tanpa membeli obat dan meminumnya. Demikian halnya dengan belajar Buddha dharma, kita perlu menguji kebenaran dharma dari Empat Jalan Mulia dan Jalan Tengah Beruas Delapan ke dalam problem kehidupan kita sehari-hari. Proses dan pengalaman mempraktikkan dharma serta memperoleh hasilnya itulah yang nantinya yang akan menguji dan menambah keyakinan kita terhadap Buddha dharma serta memberikan kebijaksanaan kepada kita untuk menjadi orang yang lebih tabah, lebih baik, lebih simpati, lebih welas asih, lebih sadar, lebih cerdas, lebih sejahtera dan lebih berbahagia.

Semoga semua makhluk turut hidup berbahagia Sadhu SadhuSadhu.

Penulis : Rujono, S.Ag (Penyuluh Agama Buddha Kankemenag Kota P. Siantar)

Berita Lainnya
Kamis, 29 September 2016, 14:30

MENJAWAB TANTANGAN HIDUP DENGAN KISAH MAHABHARATA

Kamis, 29 September 2016, 14:17

Hadapi Apapun Yang Terjadi

Kamis, 29 September 2016, 14:13

AKTUALISASI KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA