Kamis, 29 September 2016, 14:30

MENJAWAB TANTANGAN HIDUP DENGAN KISAH MAHABHARATA

Semoga Kebaikan Datang Dari Segala Penjuru

Mahabharata merupakan salah satu epos besar yang dimiliki oleh Hindu dan bahkan dunia karena Mahabharata sudah dibaca, didengar dan ditonton ceritanya diseluruh dunia. Dunia mengakui karya sastra ini sebagai karya agung kemanusiaan, karya adiluhung, karya puncak pujangga-pujangga yang pernah dimiliki manusia, Sebab terbukti sampai saat ini kurang lebih 3000 tahun setelahnya karya agung ini masih tetap populer sampai saat ini dan tetap hidup dihati masyarakat dunia tidak lekang oleh waktu. Mahabharata adalah bagiaan dari kesusastraan Hindu yaitu Kitab Itihasa (Smerti) dimana Itihasa terdiri dari Mahabharata, Ramayana dan Purana.

Kisah Mahabharata ditulis oleh Maha Rsi Vyasa, dimana Maha Rsi Vyasa yang dikenal sebagai pujanga, Filosuf Agung, Petapa juga merupakan Leluhur dari wangsa Bharata yang diceritakan dalam kisah Mahabharata. Karya Sastra Mahabharata tidak hanya menceritakan tentang kisah dari keluaraga wangsa Bharata tetapi lebih mengajarkan nilai nilai moral kepada umat manusia. Sebab Sang Maha Rsi Vyasa menceritakan kepada dunia tentang hakekat kodrat manusia di dunia, jati diri kemanusiaan yang ditulis dengan penuh kejujuran tanpa berpihak dibalut dengan nilai seni dan puitis yang tinggi sehingga menjadi karya sastra yang indah dan sarat makna kehidupan tetapi sangat mudah dipahami oleh semua kalangan.

Penulis mencoba berbagi pengetahunan yang dipetik dari beberapa kisah Mahabharata sebab penulis belajar tentang nilai nilai keagamaan dan kehidupan berawal membaca kisah Mahabharata, Ramayana dan Purana. Seperti dikatakan dalam kitab Vayu Purana, sebagai berikut:

Itihasa Puranabhyam

Vedam samupabrmhayet

Bibhettyalpasrutad Vedo

Mamayam praharisyati

Hendaknya seseorang dalam belajar Veda melalui penjelasan Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) juga kitab Purana. Sebab Veda sangat takut jika seseorang yang bodoh membacanya, dan berfikir bahwa si bodoh itu akan memukulnya. (Vayu Purana. I. 201)

Penulis mencoba akan menceritakan dan sedikit memberikan penjelasan dari pada cerita yang diceritakan dalam kisah Mahabharata. Cerita ini hanya bagian terkecil saja dari epos besar Mahabharata yang terdiri 18 Parwa/Jilid setiap parwa/jilidnya mengadung makna tersendiri dan saling keterkaitan satu sama lain. Kedelapan belas parwa terserbut yakni : Adi Parwa, Sabha Parwa, Wana Parwa, Wirata Parwa, Udyoga Parwa, Bhisma Parwa, Drona Parwa, Karna Parwa, Salya Parwa, Sauptika Parwa, Stri Parwa, Santi Parwa, Anusasana Parwa, Aswamedhika Parwa, Asramawasika Parwa, Mosala Parwa, Mahapratanika Parwa, Swargarohana Parwa.

Tulisan ini mengambil sedikit bagian di Vana Parwa dimana diparwa ini diceritakan Prabu Yudistisa bersama keempat Saudaranya Bhima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa menjalani hukuman dihutan selama 12 tahun akibat kalah berjudi dengan sepupunya Korawa. Diceritakan suatu hari seorang Brahmana datang pada Yudhistira mengatakan bahwa seekor kijang telah memasuki pondoknya dan membawa pergi kayu perapiannya, untuk melaksanakan Yadnya setiap hari. Brahmana itu memita kepada Pandawa mengikuti kijang dan menyelamatkan kayu itu. Akhirnya merekan melaksana permintaan Brahmana itu, Pandawa mengejar kijang itu sampai jauh tapi tiba-tiba menghilang.

Ditengah perjalanan meraka merasa haus dan lapar, lalu mereka duduk beristirahat dibawah pohon beringin. Nakula berkata Kanda Kita tak pernah keluar dari jalan Dharma (Kebenaran) Kenapa hal ini terjadi pada kita? Yudhistira menjawab Kau tak tahu saat bencana menimpa seseorang, dia datang berbanyak dan tak pernah sendiri? Seseorang hanya bisa menahanya bukan tugas kita untuk menjelaskan apa dibalik kejadian ini. Dia datang dan kita harus bisa menahanya.

Dalam percakapan diatas mengajarkan kepada kita untuk selalu menerima apapun yang menimpa pada kita karena kita belum tahu secara pasti yang menimpa kita apakah bencana atau anugrah kita dan tidak tahu pasti apa makna dibalik semua yang terjadi pada kita. Kita manusia hanya bisa menjalaninya sebaik-baiknya apapun yang kita jalani. Berusaha sebaik dan sekuat tenaga menjalani tugas-tugas kita.

Ditengah kehausan Yudhistira memerintahkan Nakula untuk mencari air minum menghilangka dahaga mereka. Disampainya sebuah danau yang airnya cernih Nakula mau meminumnya tapi datang suara yang mengatakan Nakula jangan minum air danau ini, sebelum menjawab pertanyaanku! karena sangat haus Nakula tidak memperdulikan suara tersebut dan langsung meminum air danau itu. Tiba-tiba Nakula jatuh dan mati. Karena lama tidak kembali diutuslah Sahadewa menyusul Nakula, betapa kagetnya melihat Nakula tergelak. Karena sangat haus Sahadewa langsung meminum air danau itu tanpa mengindahkan suara peringatan tadi. Dan akhirnya bernasib sama dengan Nakula.

Yudhistira mengirim Arjuna dan kemudia Bhima tapi tak satupun mereka kembali. Yudhistira menjadi penasaran akhirnya menyusul adik-adilknya. Dia sampai didanau itu namun betapa kagetnya Yudhistira melihat semua adiknya tergeletak mati tak berdaya. Yudistira menjadi sangat sedih melihat keempat saudaranya mati pikirannya menjadi kacau memikirkan bagaimana Ibunya Kunti dan Istrinya Drupadi mengetahui semua ini. Ditengah kegalauan hatinya dia makin merasa haus ingin meminum air danau itu. Tapi tiba terdengar lagi suara gaip Jangan minum air itu sebelum menjawab pertanyaan ku! Yudhistira mengurungkan niatnya untuk minum air danau itu, kemudian mencari sumber suara itu. Suara gaip berkata Saudara mati karena meraka tidak mendengar kata-kataku, mereka meminum airku tanpa menjawab pertanyaaan yang aku berikan. Aku adalah Yaksa penilik air danau ini. Kamu boleh minum air itu apabila bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ku. Yudhistira berkata Wahai Yaksa, aku tidak akan menginamu dengan mengabaikan semua kata-kata dari engkau, kau bisa tanyakan apapun, aku akan menjawabnya dengan kemampuan terbaikku untuk memuaskanmu.

Sang Yudhistira memiliki hati yang tenang, tulus, suci dan memiliki wawasan dan pemahaman ajaran Dharma yang tinggi akhirnya bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Yaksa pemilik danau itu. Sang Yaksa merasa puas hati dan senang mendengar semua jawaban Yudhistira, kemudia diizinkan meminum airnya dan menghidupkan kembali semua saudaranya.

Dari cerita diatas bisa diambil pelajaran bahwa setiap kehidupan yang kita lakoni merupakan tugas kita masing-masing yang harus dilasanakan sebaik-baiknya. Karana memang tugas kita melaksanakan apa yang memang jadi kewajiban kita tanpa harus banyak mengeluh, menuntut apa lagi menyalakan orang lain dalam setiap kejadian yang kita alami. Hal-hal yang buruk, menyedihkan dan derita yang kita alami sesungguhnya belum tentu buruk buat kita, seperti kita disakiti, ditipu, dikecewakan, dan lain-lain. Semuanya itu merupakan bagian dari kehidupan kita yang kita harus lewati yang kita harus jalani. Karena setiap kehidupan merupakan anugrah dari Tuhan.

Selanjutnya dalam setiap tindakan pasti ada konsekuensinya pasti ada akibat dari apa yang kita lakukan. Hal tersebut merupakan keniscayaan yang tak terbantahkan, hukum alam berlaku absolut. Jadi apapun yang kita lakukan harus dipikirkan, direnungkan apalagi menyakut diri sendiri dan kehidupan orang banyak karena berakibat fatal. Perenungan dan pemikiran (Planing) merupakan langkah kecil tetapi sangat berdampak pada apa yang kita lakukan selanjutnya.

Semoga Semua Mahluk Damai Berbahagia.

Penulis : Komang Agus Aryawan, S.Pd.H

Berita Lainnya
Kamis, 29 September 2016, 14:24

MENGINGAT KEMBALI ASAL USUL PERAYAAN ASADHA PUJA

Kamis, 29 September 2016, 14:17

Hadapi Apapun Yang Terjadi

Kamis, 29 September 2016, 14:13

AKTUALISASI KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA