Sabtu, 30 Juli 2016, 10:14

JADILAH ANAK YANG TAHU BERBALAS BUDI

"Kebajikan moral merupakan kekuatan yang menakjubkan, kebajikan moral merupakan senjata yang ampuh, kebajikan moral merupakan perhiasan yang terindah, kebajikan moral merupakan perisai yang luar biasa" THERAGATHA 614.

Pada suatu petang, seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang bincang di halaman sambil memperhatikan suasana disekitar mereka. Tiba tiba, seekor burung gagak hinggap diranting sebuah pohon.

Si ayah menudingkan jari ke arah gagak sambil bertanya "Nak, apakah benda itu ?" "Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk angguk tetapi beberapa saat kemudian, beliau mengulangi pertanyaan yang sama.

Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi sehingga berkata dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak ayah !". Tetapi si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa sedikit bingung karena pertanyaan yang sama diulang ulang.

Lalu menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK !!!". Si ayah terdiam seketika. Namun, tidak lama kemudian sang ayah mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuat si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Gagaklah ayah.........".

Agak terkejut si anak karena si ayah terlihat hendak menanyakan pertanyaan yang sama lagi. Dan kali ini, si anak benar benar hilang kesabaran dan menjadi marah.

"Ayah ! Saya tidak tahu. Ayah paham atau tidak. Tetapi, sudah lima kali ayah bertanya mengenai hal tersebut dan saya juga sudah memberikan jawabannya. Apalagi yang ayah mau saya katakan ?" "Itu burung gagak, burung ga..ga..gak ayah....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah beranjak menuju ke dalam rumah (* Meninggalkan si anak yang kebingungan). Sesaat kemudian, si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia menyerahkan benda tersebut kepada anaknya yang masih geram dan bertanya Tanya (* Sebuah buku diary yang sudah lama).

"Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diary itu" pinta si ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf berikut. "Hari ini aku berada di halaman, melamun bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,

"Ayah, apa itu ?" dan aku menjawab, "Burung gagak." Bagaimanapun anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawabnya dengan kalimat yang sama. Sebanyak 25 kali anakku bertanya demikian dan demi cinta dan sayang, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahu nya. Aku berharap, itu menjadi suatu pendidikan yang berharga"

Setelah selesai membaca paragraf tersebut, si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang terlihat sayu. Dengan perlahan, bersuara si ayah, "Hari ini, ayah baru bertanya kepada mu pertanyaan yang sama hanya sebanyak lima kali dan kau telah kehilangan kesabaran serta marah" Setelah mendengar penuturan ayah nya, si Anak langsung memeluk ayah nya dan meminta maaf sambil meneteskan air mata.

Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat 4 (empat) ladang utama untuk menanam jasa kebajikan yaitu para Buddha, para Arahat, ibu dan ayah. Para Buddha jarang sekali muncul di alam dunia ini, demikian pula para Arahat. Akan tetapi ibu dan ayah yang baik dan tercinta adalah biasa terdapat dalam setiap rumah tangga. Mereka benar benar merupakan tanah ladang yang subur untuk menanam kebajikan bagi anak yang berbakti dan tahu balas budi. Sungguh beruntung, bagi anak laki laki atau anak perempuan yang masih memiliki ibu dan ayahnya yang terkasih sehingga mereka dapat setiap saat mempersembahkan kasih sayang dan ungkapan terima kasih kepada orangtuanya.

Barang siapa yang memperlakukan dengan buruk, ibu, ayah dan Sammasambuddha, Sang Tathagata serta para pengikutnya, sebenarnya telah menimbun banyak bibit penderitaan Karena siapapun yang mengabaikan orang tuanya dalam hidup ini, Akan dicela oleh para bijaksana, Dan dalam kelahiran kelahiran selanjutnya Ia akan menderita sengsara di alam neraka. Barang siapa yang telah memperlakukan dengan baik, Ibu, ayah dan Sammasambuddha, Sang Tathagata serta para pengikutnya, sebenarnya telah menimbun banyak bibit kebajikan, Karena siapapun yang berbuat bajik kepada orang tuanya dalam hidup ini, Akan dipuji oleh para bijaksana dan dalam kelahiran kelahiran selanjutnya Ia akan hidup berbahagia di alam alam surga. ANGUTTARA NIKAYA II, .

Hanyalah orang yang bodoh, jahat, rendah dan tidak tahu membalas budi yang akan memperlakukan ibu dan ayahnya dengan buruk sedangkan mereka yang bijaksana, bajik, mulia dan tahu balas budi akan memperlakukan ibu dan ayahnya dengan baik. Di dalam budaya timur, adalah suatu hal yang wajib bagi seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya, juga kepada mertuanya. Seorang anak masih tetap berhubungan erat dengan kedua orang tuanya meskipun ia telah dewasa, kawin dan mempunyai keturunan.

Saat yang terbaik membahagiakan kedua orang tua kita adalah di saat mereka masih hidup. Cinta kasih yang tulus ikhlas, kesabaran dan kebijaksanaan, sangatlah dibutuhkan agar mereka senantiasa bahagia. Ibu dan ayah disebut 'Brahma,' 'guru awal' dan 'pantas dipuja,' karena penuh kasih sayang terhadap anak anak mereka. Maka orang bijaksana harus menghormati ibu dan ayah, memberi mereka penghormatan yang sesuai, menyediakan makanan dan minuman bagi mereka, memberi mereka pakaian dan tempat tidur, meminyaki dan memandikan mereka serta membasuh kaki mereka. Bila dia melakukan pelayanan seperti itu terhadap ibu serta ayahnya, mereka memuji orang bijaksana itu di sini juga dan setelah kematian dia bersuka cita di alam surga. SABRAHMAKA SUTTA, ITIVUTTAKA : 4.7.

Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu Sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Penulis : Pdt. DM Peter Lim, S.Ag, MBA, MSC (Penyuluh Agama Buddha Kotamadya Medan)