Sabtu, 30 Juli 2016, 10:26

SALAT BERJAMAAH DALAM MEMBANGUN SIKAP BERKEPEMIMPINAN YANG BAIK

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalannya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (Q.S. 61 : 4).

Jika umat Islam sampai pada tanggal 27 rajab dalam kalender bulan Hijriyah (Qamariyah), umat Islam serentak membangkitkan syiar keislaman dengan momentum peringanatan Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa itu merupakan perjalan panjang Rasulullah Saw yang sangat spektakuler dan merupakan satu mukjizat, ketika itu beliau telah keluar dari batas ruang dan waktu, dalam waktu yang sangat singkat beliau sampai ke tempat yang sangat istimewa dan hanya beliau sendiri yang diizinkan Allah Swt untuk sampai ke tempat tersebut.

Menurut satu riwayat, ketika nabi Muhammad Saw meminta malaikat Jibril AS untuk turut serta mendampinginya terus menuju Sidratul Muntaha, Jibril berkata: Sampai disini sajalah saya memimpin engkau, jika saya terus maju maka saya akan terbakar hangus, tetapi engkau boleh maju terus wahai nabi kekasih Allah. Ini menunjukkan bahwa tempat yang dicapai Nabi Muhammad Saw ketika itu adalah satu titik cahaya yang tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapapun juga walaupun dia malaikat. Dari tempat istimewa itulah nabi Muhammad Saw mendapatkan ibadah yang difardhukan Allah Swt kepada hambanya yaitu Salat Fardhu yang lima waktu, dengan demikian juga dapat dipahami bahwa betapa besar dan tinggi nilai ibadah Salat lima waktu dan merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun ibadat lainnya.

Tulisan ini akan coba melihat nilai salat berjamaah, sebab berjamaah dalam melaksanakan salat akan meninggikan derajat dan kemuliaan dalam mengerjakannya setingkat 27 derajat daripada dilaksanakan secara sendirian. Para ahli Fiqh berpendapat bahwa berjamaah dalam melaksanakan salat fardhu yang lima waktu hukumnya Fardhu Kifayah, sedangkan berjamaah dalam melaksanakan salat Jumat hukumnya Fardhu Ain, sebab sejak zaman Rasulullah Saw belum pernah pelaksanaan salat Jumat dilaksanakan tanpa berjamaah, demikian juga halnya pada zaman Khulafaurrasyidin.

Kedudukan salat berjamaah ditinggikan derajatnya didalam Islam sebab melaksanakannya dengan berjamaah mengandung simbol persatuan, bagi yang tidak saling mengenal akan terjadi perkenalan, saling mencintai dan merasa bersaudara, yang dapat melahirkan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.

Prilaku dalam melaksanakan salat berjamaah memiliki nilai yang sangat positif dalam membangun sistem Berkepimipinan yang baik, sebab imam merupakan seorang pemimpin dan makmum adalah yang dipimpin dalam menghadap dan beribadah kepada Allah Swt. Beberapa hal yang dapat diambil dari pelaksanaan salat berjamaah dalam membangun kepemimpinan yang baik dapat dilihat sebagai berikut:

1. Perintah meluruskan Shaf

Hal yang pertama didilakukan seorang imam tatkala semuanya sudah berdiri untuk melaksanakan salat berjamaah adalah melihat dan menginstruksikan kepada jamaah untuk meluruskan dan merapikan shaf, ini merupakan isyarat bahwa seorang pemimpin harus melihat kondisi anggotanya sebelum perintah ia berikan, tidaklah seorang pemimpin yang baik jika tidak pernah melihat kondisi dan keadaan anggotanya, ketidak serasian antara satu dengan yang lain akan menjadikan kinerja yang buruk dalam satu institusi.

Ketika shaf yang pertama telah penuh namun masih ada satu orang yang tersisa untuk shaf yang kedua, seorang itupun tidak boleh sendiri dishaf kedua tanpa ada seorang lagi bersamanya, sehingga satu orang dishaf yang pertama harus mundur ke shaf yang kedua, ini isyarat bahwa dalam satu komitmen untuk membangun kebersamaan dalam berkemimpinan tidak boleh ada yang diabaikan atau tersisih, kepemimpinan yang baik harus dapat menyatukan barisan yang dipimpin sehingga tidak ada yang terpisah dan terpecah antara satu dengan yang lain, seluruh anggota harus mejadi team work satu keutuhan dalam satu barisan yang teratur seakan seperti bangunan yang tersusun kokoh.

2. Makmum tidak boleh mendahului Imam dalam semua gerakan yang dilakukan ketika mengerjakan salat berjamaah

Seorang bawahan yang baik tidak boleh mendahului pimpinannya dalam segala hal yang berkaitan dengan aturan aturan baku yang harus dilaksanakan, seorang bawahan juga tidak boleh melakukan tindakan yang keluar dari koridor yang sudah diatur dan ditetapkan, tidak boleh mengambil sikap dan kebijakan diluar kendali pimpinan apalagi melakukan sesuatu yang salah dan mengatas namakan pimpinan, ini tentu merupakan penyakit yang berbahaya bagi satu institusi. Jika seorang meminta, mengutip atau mengambil sesuatu dari orang lain dengan mengatas namakan pimpinannya padahal pimpinannya tidak mengetahui tentu ini satu sikap yang sangat cepat menghancurkan satu insitusi dalam sebuah kepemimpinan.

3. Mengingatkan Imam dengan lafazh Subhanallah jika ada rukun yang tertinggal Seorang pemimpin yang baik bukanlah seorang pemimpin yang tidak boleh diingatkan jika ia salah, kesalahan itu bukanlah satu prinsip keburukan tetapi itu adalah sifat kemanusiaan, pemimpin juga harus menyadari bahwa siapapun juga pasti akan berpotensi untuk salah, tetapi harus siap untuk diingatkan siapapun juga walaupun yang mengingatkan itu orang yang berada dibawah kita. Mengingatkan seseorang apalagi seorang pimpinan tentu dengan ucapan yang baik dan tidak mengutarakan kesalahannya secara langsung, mungkin seseorang itu masih sangat tahu dan bisa merubah dan membenarkan kembali kesalahannya.

4. Menutup salat dengan melafazhkan Salam ke kanan dan kekiri Tidak hanya imam, tetapi setiap orang yang melaksanakan salat rukun penutupnya adalah mengucapkan Salam dengan menolehkan wajah ke samping kanan dan kiri, isyarat ini menunjukkan bahwa sebagai pemimpin yang baik, setelah selesai dari suatu pekerjaan harus mampu melihat kesejahteraan bagi bawahannya, demikian juga keseluruhan anggota yang ada dalam satu unit kerja yang sama melakukan sebuah pekerjaan, tidaklah hanya mengedepankan kepentingan pribadi masing- masing, tetapi harus tetap mengedepankan sikap kebersamaan dan saling memperhatikan kepeduliaan antara satu dengan lainnya.

Empat hal diatas merupakan bagian kecil dari begitu besarnya nilai ibadah salat berjamaah dalam membangun sifat kehidupan manusia terutama dalam membangun sikap berkepemimpinan yang baik, sebab Allah Swt sangat menyukai barisan yang kuat bagi manusia yang tersusun dengan rapi seakan seperti bangunan yang kokoh, demi mencapai keberhasilan dan kemenangan.

Ibadah Salat yang dilakasanakan dengan syarat-syarat, rukun-rukun dan aturan-aturan yang ditentukan, jelas mengandung pelajaran dan latihan yang sangat penting dalam menata kedisiplinan hidup terutama kedisiplinan rohani (spritual). Disiplin rohani akan membebaskan manusia dari penghambaan kepada dirinya sendiri yang bersumber dari hawa nafsu yang cenderung tidak terkendalikan terhadap godaan kehidupan material. Disiplin rohani sebaliknya akan menanamkan dalam diri hasrat dan rasa cinta hanya kepada tuhan, karena cintanya kepada tuhan maka manusia yang bersangkutan mengabdi (ibadah) hanya kepadanya, mematuhi hukum-hukumnya dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan melalui Rasulnya semata-mata untuk mencapai keridhaannya.

Manusia yang terdisplinkan rohaninya akan menjadi perwujudan dari kesucian, kesederhanaan dan keikhlasan. Dia akan mencapai kesempurnaan dalam segala tindakannya, karena semua kesenangan dan ketidak senangannya selalu diorientasikan sesuai dengan keinginan tuhan. Tingkatan pencapaian spiritual ini merupakan tingkatan yang tertinggi dalam Islam, yang disebut dengan tingkatan Ihsan yang berada diatas tingkatan Iman dan Islam.

Penulis : H Tuah Sirait, S.Ag (JFU Penyususn Bahan Pembinaan LPTQ Kanwil Kemenag Sumut)

Berita Lainnya
Sabtu, 30 Juli 2016, 09:50

KONSENSUS TENTANG KONVENSI MAKNA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIAKE-71 (Denotasi Istiqlal Indonesia Perspektif Islam)

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:40

FLEKSIBELITAS AYAT-AYAT ALQURAN DALAM NILAI KEHIDUPAN UNIVERSAL

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:29

KEAJAIBAN SALAM

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:14

PEMIMPIN BERWIBAWA IDAMAN KITA