Sabtu, 30 Juli 2016, 10:48

KEDUDUKAN MORAL DALAM MEMELIHARA POTENSI KEMANUSIAAN

Manusia adalah sosok makhluk Yang diciptakan Allah Swt dengan penciptaan yang paling sempurna, kesempurnaan manusia sebagai makhluk Allah Swt dapat dilihat dari keistimewaan yang diberikan lewat akal budi yang melahirkan potensi fikir, rasa, karsa dan cipta yang dimiliki manusia. Dengan potensi ini, manusia menjadi makhluk hidup yang berkebudayaan. Lewat akal budi yang dimiliki manusia, menjadikannya dapat menduduki atau memiliki martabat yang tinggi.

Yang paling istimewa bagi manusia adalah, disaat Allah Swt akan menciptakan manusia, dia tidak mengatakan kepada para malaikat bahwa dia akan menciptakan seorang hamba di muka bumi, walaupun pada prinsipnya manusia itu adalah sebagai hamba Allah Swt dibuminya. Tetapi Allah Swt lewat kalamnya yang mulia, telah terukir abadi untuk diingat sepanjang zaman dengan firmannya, SESUNGGUHNYA AKU AKAN JADIKAN DIBUMI SEORANG KHALIFAH (Q.S. 2 ; 30). Hal ini sebagai bukti bahwa, Allah Swt telah meletakkan jubah kehormatan itu dipundak manusia, diantara seluruh hamba-hamba yang telah Allah ciptakan di seluruh alam semesta ini. Jubah kehormatan itu adalah Kekhalifahan Manusia, dia memikul amanat yang besar sebagai wakil Allah Swt dibumi. Memahami Posisi manusia sebagai hamba Allah Swt sudah tentu menjadikannya sebagai budak, tetapi posisi manusia sebagai khalifah dipahami dengan menempatkannya sebagai pangeran yang telah Allah tunjuk menjadi wakilnya di muka bumi.

Ibnu Arabi memberikan pandangan istimewa bagi manusia sehingga Allah Swt memilih manuisa sebagai khalifah, bahwa manusia itu dikenal sebagai bayang bayang tuhan, sebab manusia adalah makhluk yang paling sanggup merekam sifat sifat kebesaran Allah Swt dalam apliukasi kehidupan, manusia memiliki ruh, punya lokus atau Arsy Allah Swt. Dalam Al-Quran disebutkan, setelah secara fisik alam raya dan manusia tercipta, kemudian Allah Swt berfirman, KEMUDIAN AKU TIUPKAN RUH-KU DALAM DIRI MANUSIA (Q.S. 15 : 29). Lewat ruh inilah kemudian manusia mampu menangkap dan menyerap sifat sifat Allah Swt, karena itulah makhluk Allah Swt yang paling mendekati sifat sifat Allah Swt adalah manusia, sedangkan selain makhluk manusia, tidak ada yang memiliki sifat sifat istimewa sebagaimana yang telah diberikan kepada manusia.

Jalaluddin Al-Rumi dalam sebuah sajaknya juga mengatakan, Manusia itu secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil yang hinggap diatas pohon, tapi dalam diri manusia yang kecil itu terdapat arsy tuhan yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit. Secara fisik memang dapat dilihat secara nyata, alam raya ini begitu besar dan cukup luas, tetapi secara substansial sesungguhnya bahwa itu sangat kecil jika dibandingkan dengan luasnya Arsy tuhan didalam diri manusia.

Allah Swt juga begitu tegas telah mengingatkan dalam Al-Quran, TELAH NYATA KERUSAKAN DIDARATAN DAN DILAUTAN DISEBABKAN ULAH TANGAN MANUSIA (Q.S. 30 : 41). Ini suatu ketegasan bahwa alam raya yang cukup luas terbentang ini, akan menjadi indah dan makmur, ataukah hancur dan binasa, itu semua diserahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diberikan Allah Swt potensi untuk dapat mewarnai dan menghiasinya. Kesempurnaan manusia dalam menggunakan potensinya terhadap alam semesta, akan menjadikan alam semesta ini menjadi alam yang makmur, sebagai alam yang disebut Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur.

Dalam pandangan Islam, sebagaimana legislasi yang telah diberikan Allah Swt dalam al-Quran, begitu juga bukti kehidupan yang terlihat dari kepribadian yang terlahir dalam diri nabi Muhammad Saw, menjadikannya sebagai sosok manusia yang hidup dalam kesempurnaan, baik secara Intelektualitas maupun secara moralitas. Nabi Muhammad Saw sosok manusia yang telah dapat memelihara dan menggunakan potensi yang Allah Swt berikan menjadi kehidupan yang Rahmatan Lilalamin, sehingga beliau adalah sosok yang telah teruji dan dapat diakui sepanjang zaman. Kepribadian yang sempurna pada diri nabi Muhammad Saw disebut Allah Swt dalam al-Quran adalah Kuwalitas Moral yang sangat tinggi, sebagaimana firman Allah Swt, SESUNGGUHNYA BAGI MUHAMMAD ADALAH AKHLAK YANG TINGGI LAGI MULIA (Q.S. 68 : 4).

Untuk memenuhi nilai kehidupan yang mulia, harus diawali dengan pembentukan kepribadian yang kuat dalam diri manusia. Kepribadian yang kuat akan dapat terbangun dilandasi dengan akhlak asasi yaitu rasa Cinta dan Kasih Sayang. Cinta dan Kasih Sayang adalah jiwa kehidupan dan tiang selamat bagi umat manusia. Jika kekuatan tarik menarik dapat menahan bumi dan bintang bintang dari benturan antara satu sama lain, hingga selamat dari berjatuhan, terbakar dan gugur, maka perasaan cinta dan kasih sayang itulah menjadi tali hubungan antara sesama manusia, agar tidak terjadinya benturan antara sesama yang dapat membawa pada kehancuran.

Misi utama nabi Muhammad Saw diutus Allah Swt tidak lain adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak bagi manusia. Rasulullah Saw juga telah meletakkan akhlak sebagai pondasi kesempurnaan iman seseorang dalam bingkai cinta dan kasih sayang, sebagaiman sabda Rasulullah Saw, Demi Allah yang diriku dalam kuasanya, kamu tidak akan masuk syurga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak dikatakan beriman sebelum kamu cinta mencintai dan sayang menyayangi satu sama lain. (H.R. Muslim). Rasulullah juga menegaskan dalam sabdanya, orang yang paling dekat denganku kedudukannya di syurga adalah orang yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling aku benci adalah orang orang yang pongah, sombong dan takabbur. Akhlak dalam diri seseorang pada prisipnya sangat menentukan terhadap kesuksesan seseorang dalam menjaga potensi yang Allah berikan padanya, bangunan akhlak yang baik dalam diri manusia akan menjadi nilai moral yang kuat dalam realitas kehidupan.

Konsep Islam dalam mencapai nilai kemuliaan dalam kehidupan tidaklah diawali dengan mengerjakan perbuatan baik, tetapi diawali dengan menyingkirkan keburukan yang akan menjadi penghalang nilai kebaikan yang dikerjakan, sebab itu Islam memperkenalkan kalimat At-Takhliyatu Muqaddamun Ala at-Tahliyah yaitu, menyingkirkan keburukan lebih utama daripada menghadirkan perbuatan baik, sebab perbuatan baik yang tidak terjaga dengan nilai moral yang kuat dalam diri seseorang sungguh akan menghapus nilai kebaikan yang dikerjakan. Akhlak yang buruk akan merusak amal sama seperti cuka merusak madu, kedengkian akan memakan kebaikan sama seperti api melayap kayu bakar.

Kita dapat melihat bagaimana setiap nilai ibadah yang dikerjakan seseorang harus tergantung pada nilai moral yang dia lakukan. Apa yang akan terjadi kalau seseorang melakukan ibadahnya dengan kesetiaan yang penuh terhadap fiqhnya, tetapi tidak terjaga dalam moral hidupnya? Sungguh semuanya akan sia-sia, tidak akan diterima menjadi satu ibadah yang ternilai disisi Allah Swt.

Ibadah Shalat yang dikerjakan akan tidak bernilai bahkan dibalas dengan neraka wail atau celaka jika orang yang melaksanakan Shalat dengan sifat riya dan tidak melahirkan jiwa penolong (Q.S. 107 : 4 7). Ibadah puasa diwajibkan untuk melatih orang orang menjadi Taqwa (Q.S. 2 : 183) dan nilai nilai ketaqwaan yang harus terwujud dari orang orang yang melaksanakan ibadah puasa adalah orang orang yang rela menginfakkan hartanya dalam keadaan senang maupun sulit, yang mampu menahan amarahnya, yang memaafkan orang lain dan yang berbuat baik (Q.S. 3 : 136). Ibadah Haji harus dilakukan dengan memelihara akhlak yang baik. Barang siapa yang melaksanakan kewajiban haji, maka hendaklah dia tidak berbicara kotor, tidak melakukan kefasikan dan tidak bertengkar (berbantah bantah) pada waktu berhaji (Q.S. 2 : 144). Ibadah Zakat menjadi sia sia apabila diikuti dengan kecaman dan kata kata yang melukai hati. Bagi orang orang yang beriman, janganlah menghilangkan pahala sedekah yang dikerjakan dengan menyebut nyebutnya dan menyakiti hati sipenerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (Q.S. 2 : 264).

Kerusakan umat hari ini ketika moral tidak lagi menjadi perhatian penting dan merupakan hal utama dalam memelihara prinsip kemuliaan bagi manusia. Dampak buruk yang sering terjadi adalah sikap individualistis dalam menilai dan menampakkan kemuliaan diri atau kelompok. Pemahaman terhadap Islam juga selalu terlihat dengan dua hal: pertama, pemahaman tentang Islam hari ini sangat kacau, tidak ada kesatuan pandangan, sebab setiap orang memiliki defenisi masing masing yang berbeda beda tentang Islam. Kedua, pemahaman masing masing tentang Islam sangat sempit dan parsial, sebab setiap orang sering kali mendefenisikan Islam hanya mengenai sebagian aspek saja, belum menyentuh secara esensial. Hal ini akan berdampak pada disintegrasi pemahaman dan pengamalan dalam agama. Tidak lagi menjadi hal yang berat bagi manusia untuk memberikan vonis kekafiran pada seseorang, egoisme dan mengikuti hawa nafsu juga telah menutup nurani manusia yang suci.

Perbedaan pemikiran yang menjadi warna yang tidak mungkin hilang dari manusia telah dirusak menjadi perbedaan yang dipengaruhi oleh akhlak yang tidak terpuji, luasnya wawasan dan tingginya pengetahuan terkadang menjadikan seseorang menganggap baginyalah kebenaran yang sesungguhnya. Yusuf al-Qardhawi mengatakan bahwa akal (fikiran) manusia boleh dianggap benar tetapi pada prinsipnya adalah salah, ini satu sikap untuk menghormati bahwa akal (fikiran) yang kita miliki dan yang dimiliki orang lain adalah sama sama ciptaan tuhan. Sesuatu yang telah menjadi hasil kemampuan manusia harus tetap dihormati walau tidak dapat diterima dengan kemampuan akal yang sama, penghormatan terhadap nilai kemanusiaan harus tetap dihormati sebagai anugerah yang sangat berharga bagi kehidupan.

Menelusuri jejak langkah kehidupan nabi Muhammad Saw dalam menata kehidupan sosial yang dikenal sebagai masyarakat yang berperadaban atau masyarakat Madani, masyarakat ini bercirikan antara lain, egalitarianisme, penghargaan terhadap seseorang berdasarkan prestasi bukan prestise (keturunan, kesukuan, ras dan lainnya), memberikan keterbukaan terhadap anggota masyarakat untuk berpartisipasi, penentuan kepemimpinan berdasarkan pemilihan bukan warisan kekeluargaan atau keturunan. Akan kah nilai nilai sejarah langkah kesuksesan manusia pilihan ini terkubur dalam motivasi kehidupan yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok, dengan mengabaikan hak yang harus diberikan terhadap seseorang dalam kapasitas yang sama, tentu menjadi satu jawaban dalam menentukan langkah umat masa depan yang penuh dengan cita cita dan harapan.

Prinsip syariat Islam pada dasarnya secara langsung akan memelihara hubungan kemanusiaan dan terjaganya moral kehidupan, hal ini telah menjadi tujuan dasar dari ketinggian syariat Islam. Sebab tujuan syariat yang sesungguhnya telah terbangun dalam bingkai Maqashid al-Syariyyah (Tujuan Syariat) yaitu:

1. Memelihara agama, tidak boleh ada ketetapan hukum yang menimbulkan rusaknya keberagamaan seseorang

2. Memelihara jiwa, tidak boleh ada ketetapan hukum yang menggangu jiwa orang lain atau menyebabkan orang lain menderita

3. Memelihara akal, tidak boleh ada ketetapan hukum yang mengganggu akal sehat, menghambat perkembangan pengetahuan, atau membatasi kebebasan berfikir

4. Memelihara keluarga, tidak boleh ada ketetapan hukum yang menimbulkan rusaknya sistem kekeluargaan seperti hubungan orang tua dan anak.

5. Memelihara harta, tidak boleh ada ketetapan hukum yang menimbulkan perampasan harta orang lain tanpa hak.

Nilai yang menjadi prinsip dasar syariat ini tentu menjadi landasan yang kuat sebagai moral kehidupan bagi setiap manusia, dalam potensi kemanusiaan yang telah Allah berikan dalam mencapai kehidupan yang indah dan mulia.. semoga Allah Swt meridhai langkah kehidupan ini.........

Penulis : H Tuah Sirait, S.Ag (JFU Penyususn Bahan Pembinaan LPTQ Kanwil Kemenag Sumut)

Berita Lainnya
Sabtu, 30 Juli 2016, 09:50

KONSENSUS TENTANG KONVENSI MAKNA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIAKE-71 (Denotasi Istiqlal Indonesia Perspektif Islam)

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:40

FLEKSIBELITAS AYAT-AYAT ALQURAN DALAM NILAI KEHIDUPAN UNIVERSAL

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:29

KEAJAIBAN SALAM

Sabtu, 30 Juli 2016, 09:14

PEMIMPIN BERWIBAWA IDAMAN KITA